
Setelah dokter yang memeriksa Laura keluar. Kini hanya ada Albian dan Laura dalam ruangan yang tiba-tiba langsung hening.Pria itu mendekati Laura yang menatap dirinya dengan mata yang begitu sayu. Tangan Albian perlahan memegang dan mengenggamnya dengan erat ,tangan Laura, yang nampak terkejut apa yang dilakukan Albian.
Tes...
Air mata Laura perlahan menetes dari sudut matanya.Ini pertama kalinya ia melakukan kontak fisik dengan Albian, sesuatu yang pernah ia inginkan.
"Maaf..... " Satu kata yang keluar dari mulut Albian, membuat Laura menatap lekat pria yang menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya. Yang selalu menyakiti kamu,dan saya juga yang sengaja membuat tembok besar di antara kita berdua,agar kamu tidak menaruh semakin dalam perasaan kamu dengan saya, dan agar kamu menjauh dari saya. Dan sekarang....Saya menerima karmanya. Saya tidak bisa jauh dari kamu, saya cinta kamu, dan saya mau, kamu jadi istri saya. Menjadi wanita pertama dan terakhir bagi saya. Menjadi wanita yang menemani saya menikmati sisa umur saya, " Albian perlahan menatap mata Laura yang nampak terkejut.
Gadis itu menatap dalam mata Albian. Seakan mencari kebohongan di balik mata pria yang masih setia mengenggam tangannya.Laura menarik paksa tangannya dari Albian, membuat pria itu menatap nanar.
"Setelah kamu menyakiti hati aku sehancur-hancurnya. Sekarang kamu baru menyesal. Aku seperti wanita murahan yang mengejar-ngejar kamu, seperti wanita rendahan yang mengemis-ngemis cinta , kamu. Sekarang kamu baru menyesal, Albian, " Laura dengan suara yang bergetar menahan tangis dan sesak di dadanya yang makin menjadi-jadi.
Mendengar itu Albian semakin merasa bersalah dan menyesal teramat dalam. Ia kembali mengenggam tangan Laura, walau gadis itu menolak .
"Maafkan saya, saya mohon. Kamu boleh minta apapun. Asalkan kamu mau memaafkan saya, " Lirih Albian dengan mata yang memerah, berair.
"Apapun?" Ulang Laura, yang dengan cepat di angguki Albian.
Laura memejamkan matanya sejenak, untuk mengucapkan satu permintaan pada Albian yang tidak sabar menunggu permintaan Laura.
"Menjauh dari aku, " Ujar Laura dengan suara yang begitu serak.
Albian menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tidak bisa mengabulkan permintaan Laura yang ini. Karna bila ia menuruti permintaan Laura, sama saja ia akan kehilangan gadis tersebut dan perlahan hatinya akan kembali terluka dan hancur.
"Kamu boleh minta apapun, tapi jangan menjauh dari saya....... Saya tidak mau!" Ujar Albian meninggikan suaranya di akhir kalimat.
Albian langsung memeluk Laura dengan erat. Gadis itu bisa merasakan tubuh besar Albian yang bergetar. Dan merasakan lelehan air mata yang membasahi lehernya. Apakah secinta itu Albian padanya? Atau ini hanya sandiwara Albian, batin Laura .
Sesaat kemudian, Albian perlahan menguraikan pelukannya. Ia menatap mata Laura yang juga membalas tatapan matanya, dengan jarak yang begitu dekat. Hingga keduanya bisa merasakan hembusan napas masing-masing yang saling beradu.
Tangan Albian, terulur, memberikan usapan lembut di pipi Laura yang seolah enggan memalingkan wajahnya, untuk menyudahi kontak matanya dengan Albian. Tatapan yang tidak pernah ia dapatkan dari pria yang ia cintai. Tatapan lembut, penuh cinta.
"Kamu boleh minta apapun, asalkan jangan tinggalkan saya.Apa yang harus saya buktikan agar kamu percaya dengan saya, Laura. Saya benar-benar mencintai kamu, bahkan melebihi mencintai diri saya sendiri , " ucap Albian dengan suara paraunya.
__ADS_1
Laura memalingkan wajahnya. Ia meremas sprei dengan kuat,hingga kukunya memutih.Dia juga tidak mau menjauh dari Albian, tapi ia tidak mau menghancurkan hatinya lagi. Laura hanya takut, di berikan harapan palsu oleh Albian . Ia takut di nomor duakan dan Ria selalu di utamakan oleh pria tersebut.
"Bukankah , itu yang kamu mau. Aku menjauh dari kamu. Sekarang aku sudah menuruti apa yang kamu mau, " Ujar Laura.
Flashback....
Laura berjalan mendekati Albian yang berada di sebuah restoran di dalam mall. Terlihat pria itu duduk seorang diri sembari menikmati makanannya. Dengan menenteng belanjaannya, Laura berjalan cepat kearah Albian dengan senyuman yang terus terukir di wajah cantiknya.
"Kak Albian," panggil Laura, membuat Albian dengan cepat menoleh kearah Laura yang ada di sebelahnya.
"Ngapain kamu ke sini? " Tanya Albian dengan ketus dan tatapan yang tidak suka pada Laura.
Deg...
Rasa sakit yang teramat, di hati Laura dengan ucapan ketus Albian. Tapi gadis itu kembali mengukir senyumannya yang makin merekah, menepis rasa sakit hatinya . Bukankah untuk mendapatkan cinta seseorang harus banyak berkorban termasuk sakit hati yang selalu di torehkan Albian padanya.
"Aku belanja keperluan aku, kak. Kan aku tinggal di rumah kakak. Aku senang banget bisa tinggal satu atap sama kakak, " ujar Laura dengan semangat. Albian memutar bola matanya malas, dan kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. Tanpa merespon ucapan Laura yang masih setia berdiri di sampingnya.
"Albian, " panggil Ria yang berjalan kearah Albian yang melemparkan senyuman pada gadis yang menggendong Raja.
"Sudah lama nunggunya?" Tanya Ria, sembari meletakkan tasnya di kursi kosong di sebelahnya.
"Baru aja, ooh iya. Kamu mengajak aku ketemuan, kenapa? " Tanya Albian yang tidak memperdulikan Laura yang masih setia berdiri di sebelahnya.
Sesekali Laura menyeka air matanya yang hendak jatuh. Rasanya sangat sakit di abaikan oleh orang yang di cintai. Ria menatap sinis pada Laura menundukkan kepalanya.
"Aku mau ke toilet dulu ya, " ujar Albian yang di angguki oleh Ria.
Melihat Albian sudah tidak ada lagi. Ria bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah Laura.
"Kasihan kamu ya, mati-matian mengejar Albian tapi tidak di hargai sama sekali cinta kamu sama Albian. Kalau aku kayak kamu lebih baik menjauh, dan mencari pria lain. " Ujar Ria, membuat Laura menatap tajam pada gadis yang berdiri di depannya.
"Kamu tidak usah ikut campur dengan urusan aku. Ini urusan aku, bukan urusan kamu. Mau Albian tidak menghargai perasaan aku, aku tidak peduli, yang terpenting aku sudah berusaha untuk mendapatkan cintanya." Sahut Laura dengan penuh penekanan.
Ria tersenyum meremehkan pada Laura. Ia menepuk-nepuk pipi kanan Laura dengan pelan yang langsung di tepis kasar oleh gadis tersebut.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kamu itu. Seharusnya kamu yang menjauh dari Albian, bukan aku. Kamu sudah punya suami'kan. Seharusnya kamu fokus membesarkan anak kamu dan memikirkan nasib suami kamu yang ada di penjara. Bukannya malah bersenang-senang, dan berlagak lemah dan paling tersakiti di hadapan Albian".
" Memangnya kenapa, hah?! Kalau dengan cara itu aku bisa mendapatkan simpati Albian, kamu bisa apa?Karna dengan cara yang licik aku bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa kamu dapatkan. Bahkan aku bisa membuat Albian menampar kamu, "ujar Ria dengan senyuman miringnya.
Plakk... Plakk...
Ria menampar kedua pipinya bergantian. Hingga lebam dan memerah. Laura menatap aneh dan bingung dengan apa yang Ria lakukan. Tapi hati kecilnya mengatakan bila ini adalah rencana licik Ria.
Ria memeringis, namun tersenyum smirk di depan Laura. Sedangkan Raja menangis di gendongan Ria.
" Kamu kenapa nampar aku, Laura hiks... "Ria mulai melakukan sandiwaranya saat Albian terlihat berjalan mendekati mereka berdua.
" Ria kamu kenapa? "Tanya Albian khawatir. " Ini pipi kamu kenapa lebam? "Tanya Albian.
" Laura nampar aku, hiks... Dia tidak suka melihat kedekatan aku sama kamu , Albian, "adu Ria sembari terisak-isak.
Albian langsung menatap tajam pada Laura yang menggelengkan kepalanya, membantah ucapan Ria.
" Aku nggak nampar dia, kak. Ria yang menampar pipinya-----"
Plakk....
Albian melayangkan tamparan begitu kasar pada Laura. Hingga wajah gadis itu terbuang kesamping. Laura memegangi pipinya, menatap kearah Albian dengan wajah yang nampak syok dan air mata yang terus berguguran. Tubuh mungil Laura bergetar sempurna.
"PERGI KAMU DARI SINI, LAURA. SAYA TIDAK MAU MELIHAT WAJAH KAMU. KALAU BISA MENJAUH DARI KEHIDUPAN SAYA!! " Bentak Albian, menjadi pusat perhatian pengunjung restoran yang ada di sana.
Ria tersenyum puas di balik tangisan palsunya.
Off flashback....
Albian menggelengkan kepalanya, ia makin kuat mengenggam tangan Laura. "Saya minta maaf Laura. Anggap saja ucapan saya dulu adalah kekhilafan saya. Saya tidak mau jauh dari kamu, " Albian menangis di depan Laura, bersimpuh di samping brankar.
"Saya memang bodoh ,Laura. Saya bodoh, karna mudah termakan ucapan Ria. Maafkan saya Laura, "Albian makin terisak-isak menangis. Tidak peduli harga dirinya sebagai seorang laki-laki hancur hanya karna satu orang perempuan yang sudah bertahta dalam hatinya saat ini.
Bersambung...
__ADS_1
MATA SAYA BENGKAK, GARA-GARA ALBIAN.