
Laura memegangi kepalanya yang benar-benar sakit. Kamarnya begitu berantakan, barang-barang yang ada di kamarnya berserakan di lantai. Laura membuka laci dan lemari, mengeluarkan benda yang ada di dalam sana,mencari obat pereda nyerinya.
"Obat aku mana? Arrrggghhh" Laura meringis memegangi kepalanya . Ia terduduk di lantai dengan kedua tangan memegangi kepalanya yang semakin menjadi-jadi sakit yang dia rasakan sekarang.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Hallo, ada apa Ria? " tanya Albian di sambungan telpon.
"Albian tolong, sstt... "Ringis Ria di sebrang sana.
" Kamu kenapa Ria? "Tanya Albian yang terdengar panik .
" A-aku mau melahirkan Albian. Tolong aku hiks...."Jawab Ria dengan suara isakan.
"Aku akan segara kesana, kamu tenang ya. " Ujar Albian yang langsung mematikan sambungan telponnya.
Albian langsung bangkit dari kasur ,mengambil jaketnya yang tergantung di belakang pintu. Pria itu menyambar kunci mobil yang ada di meja kerjanya. Kamar Albian langsung bercampur dengan ruangan tempat biasanya dia bekerja.
Albian kaget saat membuka pintu kamar, ia melihat Laura berdiri di depannya dengan wajah yang nampak pucat dan rambut yang berantakan .
"Laura kamu kenapa? " Tanya Albian yang nampak jelas raut khawatir di wajahnya.
"Ak----" Belum sempat menjawab pertanyaan dari Albian, tubuh Laura langsung ambruk, tapi dengan sigap Albian menangkap tubuh mungil Laura.
"Laura bangun, hey Laura, " Panggil Albian menepuk-nepuk pipi Laura pelan tapi tidak ada respon sama sekali.
Tidak ada pilihan lain , ia harus membawa Laura ke rumah sakit karna suhu tubuh Laura begitu panas. Lagi pula di rumah tidak orang sama sekali karna semuanya ke rumah sakit, Cia tengah melahirkan. Dan dia tinggal di rumah atas perintah Devia untuk menjaga Laura. Albian berlari kecil ke pintu ke luar. Ia langsung memasukkan tubuh mungil Laura di kursi penumpang. Pria itu langsung masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikiran Albian terbagi dua, dia khawatir memikirkan Laura dan juga panik karna Ria akan melahirkan.
Mobil Albian belok ke sebuah gang yang cukup muat mobil masuk ke dalam sana. Ia memberhentikan tepat di depan kontrakan Ria. Albian langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah tersebut. Beruntung pintu rumah ini tidak di kunci.
"Ria! " Panggil Albian yang melihat Ria yang meringkuk di kasur, menahan kontraksi pada perutnya. Albian langsung mendekat dan sekuat tenaga mengangkat tubuh Ria. Gadis itu mengalungkan tangannya di leher Albian.
Albian memasukkan Ria ke jok depan. Dan langsung menjalankan mobilnya.
__ADS_1
"Albian cepat, sakit hiks... " Ria mencengkram paha Albian yang meringis kesakitan karna cengkraman Ria sangat kuat.
Albian menjalankan mobilnya seperti orang kesetanan. Ia melirik ke kaca mobil, melihat keadaan Laura yang ada di belakang.
Mobil itu tidak berapa lama sudah sampai di depan rumah sakit yang sama di tempat Cia yang juga sedang melahirkan. Albian langsung keluar dari mobil dan berteriak memanggil suster maupun dokter sambil mengeluarkan Ria dari mobilnya.
Dua orang suster bergerak cepat dengan membawa brankar. Albian langsung membaringkan Ria di brankar yang tengah meringia ke sakitan . Ria langsung di bawa ke ruang bersalin oleh dua suster tadi.
Sementara Albian kembali membuka pintu mobil belakang. Mata pria itu membulat melihat darah begitu banyak keluar dari hidung Laura hingga mengenai piyama tidurnya. Ia langsung mengeluarkan Laura dari mobil dan menggendongnya.
"Suster tolong!!" Teriak Albian yang menatap wajah Laura yang makin memucat.
"Mohon bersabar pak, " ujar perawat laki-laki.
"SAYA TIDAK BISA BERSABAR. CEPAT BERI PENANGANAN UNTUKNYA!! KALAU DIA KENAPA-KENAPA RUMAH SAKIT INI AKAN SAYA BAKAR!! " Ancam Albian dengan wajah merah padam, menahan amarah . Ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Laura.
"M-mari ikuti saya ," ujar perawat itu, membawa Albian ke ruang UGD.
"Silakan taruh istri bapak di brankar. " Ujar perawat tersebut. Albian tertegun mendengar ucapan perawat tadi, istri?
"Maaf anda bisa keluar. Saya akan memeriksa pasien. " Ujar dokter tersebut.
Albian menganggukkan kepalanya. Ia langsung keluar dari ruangan tersebut, sebelum keluar dari ruangan itu Albian menatap Laura sejenak setelah itu berlalu pergi.
"Maaf pak tolong isi data formulir istri bapak yang akan melahirkan. " Ujar suster yang memberikan selembar formulir.
Albian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung bagaimana mengisi data formulir Ria. Tapi gadis itu juga tidak punya siapa-siapa di kota ini, Albian terpaksa mengisi data formulir Ria setahunya saja yang penting terisi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Albian duduk di samping ruangan persalinan, menunggu Ria melahirkan bayinya.
"Bapak nggak mau ikut masuk ke ruangan ini?Setidaknya memberikan istrinya semangat dan kekuatan ?" Tegur suster yang baru keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"S-saya takut darah. " Jawab Albian bohong. Suster itu hanya ber"oh"saja dan langsung berlalu pergi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Laura perlahan membuka matanya. Yang pertama kali menyambutnya setelah siuman adalah bau obat-obatan yang benar-benar Laura benci. Ia kurang suka mencium bau obat-obatan yang begitu menusuk di indra penciumannya.
"Akhirnya kamu sadar, " ujar dokter yang menangani Laura. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan dokter muda tersebut.
"Emm.... Dokter siapa yang membawa saya ke sini? " Tanya Laura.
"Ooh.Yang membawa kamu ke sini, suami kamu 'lah. " Jawab dokter itu terkekeh.
"Suami? " Beo Laura mengeryitkan dahinya.
"Iya, suami kamu. Masa kamu lupa bila sudah memiliki suami yang ciri-cirinya tampan, tinggi dan juga wajahnya yang sedikit ke bule-bulean. " Ujar dokter tersebut.
Sudut bibir Laura terangkat ke atas. Ada rasa kebahagiaan di hati Laura. Itu menandakan Albian khawatir dengan keadaannya dan membawanya ke rumah sakit.
"Heh! Kenapa senyum-senyum? " Tegur dokter tersebut membuat lamunan Laura buyar .
"Enggak kok dokter. " Kilah Laura dengan wajah yang memerah karna malu.
"Oh iya. Saya sarankan kamu menyegerakan untuk melakukan operasi karna penyakit yang kamu derita bukan hal yang main-main. " Ujar dokter tersebut dengan mode serius.
Wajah Laura langsung berubah menjadi suram.
"Beri saya waktu dok. S-saya belum siap, " Ujar Laura.
Terdengar jelas bila dokter itu menghela napas kasar.
"Jangan di tunda-tunda. Karna ini tentang nyawa. Bila penyakit kamu sudah memasuki stadium tiga sangat mustahil untuk di sembuhkan, kecuali ada keajaiban. " Ujar dokter tersebut.
"Iya, dokter. Tapi saya sangat minta tolong. Tolong jangan beritahu siapapun dengan penyakit yang saya derita.Saya tidak mau membuat orang terdekat saya sedih dan khawatir. " Mohon Laura dengan wajah yang memelas. Tampang wajah gadis itu seperti tatapan anak kucing yang minta makan.
__ADS_1
Dokter yang melihat itu tidak tega dan merasa kasihan, ia terpaksa menganggukkan kepalanya, membuat Laura tersenyum manis.
Bersambung....