Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Season 2:Eps 7


__ADS_3

Albian memarkirkan mobilnya di depan rumah. Ia menoleh, menatap Laura yang entah sejak kapan sudah tertidur dengan terus memeluk buket bunga pemberiannya. Sudut bibir Albian melengkung keatas, tangannya  terulur menyingkirkan rambut yang menutupi setengah wajah Laura.


Ia memandangi wajah Laura yang begitu damai saat tidur. Wajah yang begitu polos dan lugu, membuat jantungnya terus berdebar-debar saat memandangi Laura.Perlahan Albian mendekatkan wajahnya pada Laura , hingga ia bisa merasakan terpaan deru napas teratur Laura yang menerpa wajahnya.


Entah kerasukan setan apa, Albian menempelkan bibirnya di bibir merah muda Laura yang masih tertidur nyenyak . Ia sedikit ******* bibir mungil tersebut, apalagi Laura sedikit membuka mulutnya , membuat Albian semakin leluasa.


Sebuah erangan keluar dari bibir Albian,ia begitu menikmati apa yang di lakukan sekarang. Albian langsung menjauhkan wajahnya dari Laura dengan benang saliva yang menetes dari sudut bibir Laura .


"Eugh.... "


Suara lenguhan keluar dari mulut Laura. Albian dengan cepat mengusap bibirnya yang basah. Gadis itu perlahan membuka matanya, ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Mengucek-ngucek mata dengan tangannya, mengecap-ngecap beberapa kali.


"Sudah sampai ya? " Tanya Laura, melihat keluar kaca mobil. Albian langsung keluar dari mobilnya tanpa menjawab ucapan Laura. Wajah pria itu memerah dan merutuki ke bodohan dirinya yang tidak bisa menahan hasratnya.


Laura menatap heran pada Albian yang masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru.


"Kok aku tidurnya bisa sampai ileran? " Laura mengusap bibirnya dengan tissu, membersihkan air liur menetes dari dagunya. Biasanya ia sangat jarang bila tertidur sampai ileran tapi baru kali ini ia ileran tidur di mobil , mana banyak. Pasti Albian keluar dari mobil duluan karna jijik dengan dirinya tidur sampai ileran seperti ini, batin Laura.


Laura mengecap-ngecap, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari mulutnya apalagi bibirnya yang terasa kebas. Dan juga membengkak walau tidak terlalu nampak. Laura memperhatikan bibir bagian bawahnya di kaca mobil.


******


"Kenapa aku harus melakukan itu? " Albian berjalan menuju ke kamar dan tidak henti-hentinya merutuki kebodohannya.


"Mungkin ini gara-gara godaan syetan. Makanya sampai kebablasan, seperti ini. Pasti itu firt kiss Laura. " Gumam Albian  histeris, mengigit ujung jarinya. Ia termasuk pencuri, pencuri ciuman pertama Laura karna Mamahnya mengatakan Laura tidak pernah pacaran apalagi sampai....


Albian masuk ke dalam kamar mandi. Ia mencuci mukanya dengan air keran yang terus mengalir. Sekilar bayangan saat ia mencium Laura kembali muncul, membuat Albian menggeleng kepalanya , mengingat hal yang tak pantas dia lakukan.


Sama saja ini melakukan pelecehan.Dan itu termasuk dosa zina. Albian segera membuka seluruh pakaiannya. Ia harus mandi junub karna mengeluarkan air mani saat melakukan itu pada Laura dengan rasa nikmat (syahwat).


Air mani sendiri adalah cairan berwarna putih keruh yang di produksi pria saat ejakuasi .


Sekitar 20 menitan Albian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil berwarna putih. Beberapa bulan ini Albian berusaha untuk mempelajari tentang hukum-hukum dalam islam. Seperti apa saja yang di larang Allah dan yang di perintahkan Allah. Karna saat diri ini sudah dekat dengan Allah maka hidup yang  kita jalani akan terarah.


Dan mungkin hidupnya yang seperti ini karna kurang dekat dengan Allah. Apalagi sudah dua kali Albian gagal membina hubungan serius dengan wanita untuk menuju ke jenjang pernikahan tapi selalu gagal.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


"Albian! Albian!! " Panggil Devia dengan suara yang cukup keras.


Albian berjalan mendekati sang Mamah dengan langkah cepat ke ruang tamu. Ia melirik Laura yang duduk di sebelah Devia. Albian menundukkan kepalanya dengan pipi yang bersemu karna menahan malu, setelah kejadian tadi sore.


"Albian antar Laura ke apotek ya. Dia mau beli sesuatu. " Suruh Devia.


Albian perlahan menatap sang Mamah. "Kenapa harus aku? Dira sama Dila ada, kenapa tidak mereka berdua yang di suruh menemani Laura ke apotek. Lagi pula mereka berdua bisa menyetir mobil. " Ujar Albian.


"Albian.Mamah takut kenapa-kenapa sama mereka bertiga kalau ke mini market malam-malam  seperti ini . Kalau kamu yang nganterin Laura, setidaknya Mamah tenang dan kamu pasti bisa menjaga Laura. Kalau kamu tetap nggak mau, Mamah telpon Dafi aja buat nemenin Laura".


" JANGAN!! Biar aku saja yang mengantar Laura,tidak usah menelpon si Dafi itu. "Ujar Albian dengan dengan nada suara tidak suka.


" Aku ambil jaket dulu. "Albian kembali masuk ke dalam kamarnya mengambil jaket karna tidak mungkin pergi hanya memakai kaos putih saja.


" Ayo berangkat. "Ujar Albian, mengambil kunci di meja, berjalan menuju pintu keluar.


Laura mengikuti Albian dari belakang. Ia masuk ke dalam mobil saat Albian sudah menyalahkan mesin mobil.


" Emm... Kak maaf ya soal yang di mobil tadi. "Ujar Laura yang mulai membuka suara.


Albian menoleh menatap sekilas Laura dan kembali fokus melihat kearah depan.


" Minta maaf soal apa? "Tanya Albian, bingung. Perasaan Laura tidak berbuat salah padanya di mobil.


Laura mengigit bibir bawahnya keluar, memainkan ujung jarinya.


" Aku tau kakak keluar dari mobil duluan karna jijik ya lihat aku ketiduran sampai ileran gitu".


Deg....


Albian menoleh kearah Laura yang juga melihat kearahnya. Wajah pria itu sudah pucat pasi.


"N-nggak.S-saya keluar dari mobil duluan karna kebelet. " Jawab Albian terbata-bata.

__ADS_1


"Kakak sakit? " Laura hendak menyentuh dahi Albian,karna wajah pria itu nampak begitu pucat. Tapi dengan cepat Albian  menghindar sebelum Laura menyentuh.


"Jangan pegang-pegang! " Ketus Albian. Laura menundukkan kepalanya, takut.


Drrrrt...


Suara dering ponsel membuat fokus Albian teralihkan. Laura sedikit melirik nama sang penelepon di layar ponsel yang bertuliskan nama Ria.


"Hallo, ada apa? " Tanya Albian di sambungan telpon.


".......... "


"Kamu tunggu di sana, sebentar lagi aku sampai. "


Laura menajamkan pendengarannya. Ia penasaran dengan obrolan yang di ucapkan Ria di sambungan telpon pada Albian.


"Kita ke rumah Ria dulu baru ke apotek. " Ujar Albian.


Laura menggelengkan kepalanya cepat. "Aku mau ke apotek dulu kak. Aku mau beli obat. Obat itu penting banget buat aku. " Ujar Laura memohon.


"Laura, kamu jangan egois. Ria lagi butuh saya.Kamu jangan mikirin diri kamu sendiri. Memangnya kamu beli obat apa? ".


Laura terdiam membisu. Ia tidak mungkin mengatakan membeli obat penghilang nyeri sakit kepala yang ia derita.


" Laura, kenapa diam. Kamu beli obat apa?Kalau tidak terlalu penting kita ke rumah Ria.Nanti sekali periksa keadaan kamu dan minta resep dokter. "Ujar Albian.


Laura meremas kuat bajunya. Ia takut Albian akan tau penyakit yang ia derita sekarang. Apa yang harus ia lakukan?


" Kak, turunin aku di depan toko itu. Biar aku sendiri yang ke apotek, naik taksi. "Ujar Laura,menunjuk toko kue di sebelah kiri.


"Jangan! Bahaya. Lagi pula jam segini tidak ada taksi yang lewat".


Laura meluruhkan bahunya, menerima penolakan Albian.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2