
Cia duduk di sisi ranjang membelakangi Alvian yang menatap sendu istrinya tersebut. Ada rasa sakit melihat Cia yang terisak-isak menangis. Hampir setengah jam mereka tidak mengeluarkan suara,suasana yang begitu hening hanya suara tangisan yang terdengar jelas di telinga Alvian. Ia berjalan mendekati Cia yang masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Greb
Alvian memeluk Cia yang makin menjadi-jadi menangis dalam pelukannya.
"Bapak kenapa lakuin ini sama aku hiks.. Aku tau kok bapak mau menolong aku , tapi kenapa harus dengan cara ini. Aku benar-benar tidak siap menjadi istri bapak seutuhnya hiks... Aku belum mencintai bapak" Cia mengeluarkan semua yang dia pendam.
Alvian terus memeluk Cia walau ada rasa sakit yang begitu mendalam mendengar ucapan Cia. Hatinya begitu teriris perih, apa setidak ikhlas itu Cia ketika dirinya menjamah tubuh Cia padahal dia berhak atas itu. Alvian tersenyum kecut dengan sorot mata yang begitu kecewa dan terluka namun berusaha di tutupi.
"Maafkan aku Cia, otak ku buntu untuk menolong kamu dengan cara apa lagi selain dengan cara itu. Kita juga sudah menikah dan tidak ada salahnya kita melakukan itu. Kamu jangan terus memikirkan perasaan kamu tentang mencintai atau tidak " ujar Alvian merenggangkan pelukannya. Ia menangkup wajah Cia yang sudah banjir air mata.
"Aku akan membahagiakan kamu, bukan hanya itu aku akan membuat kamu mencintai aku dan kamu juga mencintai aku. Kita jalani dulu pernikahan ini, lambat laun kita akan saling mencintai" tutur Alvian menghapus air mata Cia yang menatap lekat dirinya.
Cia memalingkan wajahnya, dia memejamkan matanya merasakan lelehan air matanya yang terjun bebas di pipinya. Gadis itu kembali menatap Alvian yang menunggu jawabannya .Cia mengangguk kepalanya walau ada rasa ke raguan di benaknya. Senyuman di bibir Alvian mengembang sempurna. Ia memeluk Cia begitu erat dan memberikan ciuman di pipi chubby gadis itu.
"Terima kasih, Cia. Aku janji akan membuat kamu bahagia sampai kapan pun. Aku mencintai aku Cia " ujar Alvian.
Cia mematung mendengar ucapan akhir Alvian. Ia menatap intens netra coklat suaminya. Napasnya tersekat beberapa saat.Rasa gugup itu makin menjadi-jadi saat Alvian mencium bibirnya sekilas membuat Cia cengo menatap suaminya.Alvian malah tertawa melihat raut wajah keterkejutan Cia yang menurutnya sangat lucu.Ia memeluk istrinya erat memberikan kecupan di leher Cia yang begitu harum dengan aroma bunga sakura yang sudah menjadi candunya mulai hari ini.
🍁🍁🍁🍁
"Menurut kamu orang yang jatuh cinta sama seseorang itu cirinya kek gimana sih? " tanya Cia sambil menyedot minumannya.
"Ketika mulut kamu ingin pengatakan cinta sama orang yang kamu suka " jawab Darfi dengan bangganya. Azrielli menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Darfi yang tentunya asal.
"Emang benar ya, Zri? " tanya Cia pada Azri dengan polosnya. Azri tertawa renyah sebelum menjawab ucapan temannya.
"Kalau setau aku cinta itu ketika kamu merasa aman, tenang dan nyaman bersama orang yang kamu cintai. Kamu selalu bahagia saat bersama orang tersebut.Contoh kamu mencintainya adalah kamu cemburu dia bersama wanita lain " tutur Azri dengan seksama.Cia yang mendengarnya manggut-manggut mengerti.
"Kenapa kamu tanya kaya gitu sih, Cia? " tanya balik Azri.
"Soalnya aku bingung sama perasaan aku sendiri. Apa aku mencintai bapak Alvian atau enggak" jawab Cia apa adanya.
Uhukk uhukk
__ADS_1
Azrielli langsung tersedak , membuat minuman di mulutnya hampir muncrat ke wajah Darfi yang tengah asyik makan ,karna posisi azrielli dan Darfi duduk bersebrangan.
"Masa kamu tidak tau sama perasaan kamu sendiri sih?Padahal umur sudah 23 tahun "ujar Azrielli yang mengusap bibirnya dengan tissue.
Cia menggelengkan kepalanya dengan wajah polosnya. Azrielli membenarkan posisi duduknya dan sedikit memajukan wajahnya . Ia menatap intens Cia .
" Kenapa? "tanya Cia dengan alis terangkat.
" Kamu tiba-tiba gugup tidak saat berdua sama pak Alvian atau pernah marah saat melihat pak Alvian bersama wanita lain? "tanya Azrielli.
Cia terdiam sejenak, sedetik kemudian menganggukkan kepalanya" Iya, tiba-tiba gugup kalau berdua sama pak Alvian apalagi kalau dia menatap wajah aku dengan pandangan yang berbeda. Aku juga tiba-tiba suka marah kalau ada wanita lain mendekati bapak Alvian "jawab Cia .
Brakk
Azrielli mengebrak meja lumayan keras membuat semua orang yang berada di kantin menatap kearahnya terutama Darfi yang sudah memegangi dadanya karna terkejut.
" Kamu apaan sih, Zri?Gebrak-gebrak meja kaya orang lagi ngelabrak pelakor"cibir Darfi menahan kesal.
"Maaf refleks" sahut Azri tersenyum cengengesan membuat Darfi memutar bola matanya malas.
Cia tidak menjawab ucapan Azri. Ia bingung harus berkata apa lagi karna ucapan temannya itu memang benar. Akhir-akhir ini dia merasa nyaman, tenang dan merasa aman saat bersama Alvian. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan saat bersama Albian.
🍁🍁🍁🍁
Cia fokus menatap kearah dosen barunya yang tengah menjelaskan materi. Ameli Agatha begitu lancar menjelaskan yang dia bahas pada mahasiswinya tersebut . Wanita berumur 30 tahunan itu baru bekerja sebagai dosen di kampus yang cukup popular di Jakarta.
Cia bukan fokus pada pembahasannya tapi fokus menatap wajah cantik Agatha. Wanita itu begitu penawan dan anggun dengan balutan kemeja putih dan rok pensil sebatas lutut. Ada rasa iri melihat kecantikan Agatha dengan riasan wajah yang tak begitu mencolok tapi terkesan natural.Bahkan laki-laki di kelas ini menatap Agatha terkagum-kagum dan menatap dengan tatapan memuja . Cia menjatuhkan bibirnya ke bawah🙁. Bila mahasiswa di sini langsung jatuh hati pada Agatha lalu bagaimana bila pak Alvian juga jatuh hati pada dosen cantik itu.
"Ssst..... Kamu kenapa? " tanya Azrielli yang duduk tidak jauh dari Cia.
"Aku tidak papa cuma tidak enak badan" jawab Cia asal dan kembali menatap kearah Agatha.
Azrielli menyipitkan matanya curiga . Dia tak percaya dengan ucapan Cia karna nampak jelas wajah gadis itu terlihat sedih.
Akhirnya pembelajaran ketiga sudah selesai. Semua orang yang ada di kelas berhamburan ke luar kelas. Cia memasukkan buku dan bolpennya ke tas. Ia tidak langsung keluar dari kelas namun duduk melamun sambil menopang dagu, entah sedang memikirkan apa. Sedangkan Azrielli dan Darfi pulang duluan karna ada urusan penting .
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Cia tengah berjalan kearah parkiran. Ia mengkerutkan dahinya melihat mobil Alvian sudah tidak ada di parkiran. Padahal suaminya mengajaknya pulang bareng tapi apa? Dia malah di tinggal. Lama berdiri di koridor kampus , seseorang menepuk bahu Cia yang tersentak kaget. Ia menatap orang yang menepuk bahunya. Tatapan yang biasa kini berubah menjadi tatapan sinis pada orang yang berdiri di depannya.
"Kamu kenapa berdiri di sini ? Tidak langsung pulang? " tanya Albian dengan satu tangan di masukkan ke saku celana.
"Terserah saya mau pulang atau tidak! Itu bukan urusan bapak! " ketus Cia. Ia hendak beranjak pergi tapi dengan cepat Albian menahan pergelangan tangan mantan calon istrinya itu.
"Apaan sih, lepasin tangan saya! " sentak Cia, menatap tajam pada Albian yang tak melepaskan cekalan di pergelangan tangannya.
"Alvian menyuruh saya mengantarkan kamu pulang" ujar Albian.
"Tidak mungkin bapak Alvian nyuruh bapak ngantarin saya. Kalau pun iya dia akan menelepon saya dan beritahu itu " sahut Cia dengan nada yang lebih ketus lagi.
"Tapi-"ucapan Albian di potong.
"Saya lebih baik pulang naik taksi" ujar Cia meninggalkan Albian yang diam mematung dan menatap gadis itu dengan tatapan sendu.
Cia turun dari taksi setelah membayar ongkosnya. Ia menatap heran melihat mobil Alvian sudah terparkir di halaman rumah. Kenapa suaminya pulang ke rumah tanpa mengajak dirinya, pikir Cia. Sebelum tangannya menyentuh tuas pintu suara yang begitu dia kenal terdengar sangat jelas.
"Ahh, Alvian pelan-pelan jangan kasar iih" lenguh seorang wanita dari dalam rumah tersebut.
"Ini sudah pelan-pelan Agatha. Tahan sedikit nanti enakan. Kamu diam biar aku yang bekerja " ujar Alvian dari dalam rumah karna pintu rumah itu tidak tertutup rapat membuat suara di dalam rumah itu terdengar jelas dari luar.
Air mata Cia lolos begitu saja. Pikiran negatif mulai bermunculan dalam benaknya. Dadanya seperti di tusuk belati dengan begitu dalam hingga menembus tubuhnya.Tangan yang hendak membuka pintu perlahan jatuh. Ia mundur perlahan hingga menabrak dada kokoh seseorang.
"Kamu kenapa Cia? " tanya Albian menatap Cia yang sudah menangis terisak-isak.
Albian sengaja mengikuti Cia. Hanya memastikan gadis itu pulang dengan selamat.
Cia tidak menjawab dia langsung berlari meninggalkan Albian dengan tangisan yang begitu pilu. Albian yang melihat itu langsung menyusul Cia. Ia tidak tau penyebab gadis itu menangis seperti itu.
Bersambung...
Maaf baru update karna beberapa hari ini tidak enak badan.
__ADS_1