
"Albian kamu mau kemana? Jangan tinggalin aku di sini. " Ujar Ria, menahan lengan Albian yang hendak pergi dari rumah sakit.
Pria itu melepaskan tangan Ria yang memegangi lengannya.
"Aku mau cari Laura. Dia pulang jalan kaki, apalagi malam-malam seperti ini, sangat jarang taksi yang lewat. " Jawab Albian.
"Lagian Laura juga sudah dewasa. Kan dia bisa pesan taksi online atau ojek online . Salah dia sendiri ngambekan banget, cuma di suruh pindah duduk ke belakang apa susahnya sih. " Gerutu Ria.
Albian menatap tidak suka pada Ria yang mengatakan sesuatu yang jelek pada Laura.
"Maksud kamu apa, mengatakan Laura ngambekan? Wajar dia ngambek dan marah, karna dari awal memang dia sudah duduk di depan. Terus kamu mengatakan,Laura pesan taksi atau ojek online.Kamu sendiri juga tidak mau pesan taksi atau ojek online dengan alasan takut kenapa-kenapa, "ujar Albian sudah mulai tersulut emosi.
Ria menatap kearah lain. Ia merasa takut melihat tatapan tajam Albian yang tampak marah padanya. Sepertinya ia salah dalam berucap.
" Kamu pulang naik taksi online.Aku mau mencari Laura."Ujar Albian, berbalik, melangkahkan kakinya.
"Albian, tapi... "
Albian membalikkan badannya menghadap Ria yang hendak mengejarnya tapi terhenti, ketika ia berbalik badan menghadap Ria.
"Albian aku, mau kam... "
Ucapan Ria terjeda saat Albian menampilkan telapak tangannya di depan Ria, untuk stop bicara .
"Please Ria. Jangan bergantung pada aku terus. Kamu bisakan melakukannya sendiri tanpa harus bergantung dengan aku. Apa-apa aku, sedikit-sedikit aku . Apalagi kita tidak memiliki hubungan apapun, dan tidak baik juga bila aku terus berduaan dengan kamu yang bukan mahrum bagi aku. Aku memang menganggap kamu seperti adik aku sendiri tapi ada batasannya, Ria. " Albian memberikan pengertian pada Ria agar paham dengan posisinya.
Ria menundukkan kepalanya sejenak, dengan air mata yang menetas. Ia kembali mengangkat kepalanya, menatap Albian.
"Ta-tapi Albian, aku tidak punya siapa-siapa lagi ,selain kamu yang paling dekat dengan aku. Aku sadar dengan posisi aku dan tidak seharusnya selalu bergantung dengan kamu. Tapi aku harus bagaimana lagi Albian, cuma kamu yang bisa aku mintakan tolong. " Lirih Ria.
"Maaf Ria. Tapi mulai hari ini aku tidak bisa membantu kamu lagi. Kamu harus belajar mandiri, kamu harus menjadi wanita kuat yang tidak selalu bergantung dengan aku. Aku tidak mau Laura salah paham lagi. " Albian memelankan ucapannya di akhir kalimat tapi itu masih bisa di dengar Ria.
__ADS_1
"Kenapa Laura? Jadi kamu memutuskan tidak mau membantu aku lagi karna Laura! Memangnya kamu dan Laura mempunyai hubungan,kah?" Ria menatap lirih pada Albian.
"Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Laura. Tapi aku mencintainya".
Jedarrr
Bagai di tembak petir, tubuh Ria langsung menegang. Air mata langsung luruh membasahi pipinya. Ia mundur beberapa langkah menjauh dari Albian, kakinya seakan melemas tidak bertulang mendengar penuturan Albian.
" Ja-jadi kamu mencintai Laura...... Bukan aku, "Ria menunjuk dirinya sendiri dengan tangan bergetar.
Albian mengeryitkan dahinya, mendengar ucapan Ria.
" Iya, aku mencintai Laura. Ooh, aku tau jadi kamu mengira aku suka sama kamu karna selalu membantu kamu dan selalu ada untuk kamu..... Jadi kamu mengira bila aku mencintai kamu, begitu? "Albian menatap kedua mata Ria yang berair.
" Maaf Ria. Sepertinya kamu salah mengartikan semua kebaikan aku . Dan aku mohon kamu hapus perasaan cinta kamu ke aku yang jelas-jelas hanya mencintai Laura, aku pergi. "Albian langsung meninggalkan Ria yang menatap kepergian pria itu dengan tatapan nanar.
Tubuh Ria meluruh ke lantai.
" Albian aku cinta sama kamu hiks.... Albian aku cinta sama kamu, jangan tinggalkan aku hiks.... Arrrggghhh... "Ria mengacak-ngacak rambutnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Albian menatap ponselnya, melacak keberadaan Laura dengan nomor telpon. Ia melajukan mobilnya menuju ke sebuah cafe yang tidak jauh dari sini. Pria itu menginjak pedal gas mobil itu dengan kuat. Melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.Mobil yang di kendarai Albian melesat begitu cepat , membelah jalan yang sangat lengang.
Albian menghentikan mobilnya di sebuah cafe yang biasanya di datangi para anak muda. Ia keluar dari mobil. Albian masuk ke dalam cafe, matanya langsung melihat selueit bayangan Laura .
Kaki panjang Albian berjalan cepat kearah Laura. Wajahnya merah padam , hatinya tiba-tiba mendidih ,melihat Dafi mengusap sudut bibir Laura yang nampak menegang.
" Jangan pegang-pegang! "Bentak Albian mendorong kasar tangan Dafi untuk menjauh dari wajah Laura.
Kedua orang itu tersentak kaget dengan kemunculan Albian yang tiba-tiba.
__ADS_1
" Ayo, pulang. "Albian menarik pergelangan tangan Laura.
" Aku nggak mau! Aku pulangnya bareng Dafi. "Ketus Laura, menghempas tangan Albian. " Dan kakak kenapa ke sini, hah?!! Bukannya kakak sedang bersama pacar kakak itu? "Laura menatap sinis pada Albian.
Jangan tanyakan kenapa sikapnya seperti ini. Itu karna sakit hatinya dan kekecewaan yang mendalam terhadap Albian. Jadi buat apa ia mengharapkan seseorang yang menganggap kehadiran pun tidak ada.
" Laura kamu salah paham. Aku tidak punya hubungan apapun dengan Ria. Dia bukan pacar aku!! "Bantah Albian penuh penekanan.
Laura bersedekap dada memutar bola matanya malas, mendengar ucapan Albian yang hanya dianggap angin lalu.
" Terus aku harus percaya begitu! Kakak pikir aku tidak tau, Ria selalu menatap kakak dengan tatapan yang berbeda seperti menaruh perasaan lebih dengan kakak. Dan kak Albian pun juga sangat perhatian pada Ria dan aku selalu di nomor duakan oleh kakak.Itu artinya kakak dengan Ria , sama-sama saling mencintai! "Ujar Laura dengan napas turun-naik, menatap Albian.
" Aku tidak mencintai Ria. Aku hanya mencintai kamu Laura. Aku sangat mencintai kamu."Ujar Albian menarik lembut tangan Laura, tapi lagi-lagi gadis itu menghempaskan tangan Albian kasar.
Dafi memperhatikan pertengkaran antara Laura dan Albian. Ia tidak mau ikut campur kecuali Albian berbuat kasar terhadap Laura, baru ia turun tangan.
" Terus aku harus percaya dengan ucapan omong kosong kakak itu. Kakak fikir dengan mengungkapkan perasaan kak Albian , aku bakal luluh dan langsung memaafkan kakak...... Itu salah besar!Karna aku sudah tidak mencintai kakak lagi. Sudah cukup aku terluka terlalu dalam karna mencintai kak Albian".
Albian menatap nanar kearah Laura dengan hatinya tersayat-sayat mendapatkan ucapan yang di lontarkan oleh Laura padanya . Gadis itu berjalan mendekati Dafi dan memeluk lengan Dafi dengan mesra, dan itu tidak luput dari perhatian Albian yang mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras karna terbakar api cemburu.
Laura menatap tangan Albian yang mengepal dan tatapan matanya yang syarat akan kemarahan.
"Maaf kak, aku harus melakukan ini, agar kakak bisa sadar dengan kesalahan yang kakak lakukan terhadap aku. Aku hanya ingin kakak merasakan apa yang aku rasakan.Menahan sakit hati dan cemburu. "Batin Laura.
Laura dan Dafi, pergi meninggalkan Albian yang menatap kepergian mereka berdua dengan tatapan sayu.
Brakk
" Arrrggghhh...... ".
Albian membanting gelas kaca ke lantai,hingga pecah dan berserakan di lantai . Ia menggambil pecahan gelas kaca paling tajam di lantai.
__ADS_1
Albian mendekatkan pecahan beling itu ke pergelangan tangannya.
Bersambung....