Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Season 2:Eps 18


__ADS_3

Albian , duduk di sebelah Devia yang sudah tersadar dari siumannya. Ia mengusap-ngusap punggung Mamahnya, begitu lembut. Apalagi melihat sang Mamah yang masih merasakan sakit pada bagian lehernya yang masih terlihat memerah.


"Minum , dulu, " ujar Skala menyodorkan segelas air putih pada Devia. Wanita itu meminum air putih itu hingga tersisa setengah gelas, dan kembali memberikannya pada Skala.


"Ada yang sakit, Mah? " Tanya Albian , melihat Devia yang terlihat meringis kesakitan.


"Cuma leher Mamah, sakit banget, " jawab Devia.


"Ya sudah, sekarang kita ke rumah sakit ,periksa keadaan kamu, sayang. Aku tidak mau terjadi hal buruk dengan kamu, " ujar Skala.


"Betul kata Papah, Mah. Jangan di anggap halΒ  yang sepele tentang leher Mamah . Kita periksakan ke dokter ya, setidaknya nanti di kasih salep atau obat untuk menyembuhkan memar di leher Mamah. " Timpal Albian, yang begitu nampak khawatir di raut wajahnya.


Devia tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Ia begitu bersyukur memiliki suami dan putra yang sangat menyayangi dan begitu khawatir pada dirinya.Devia langsung mengalungkan tangannya refleks di leher Albian yang tiba-tiba langsung mengangkat tubuhnya, sedangkan Skala menenteng tasnya.


"Mamah, nggak usah di gendong Albian, " ujar Devia yang hendak turun tapi Albian langsung menahannya.


"Mamah lagi sakit. Aku takut nanti Mamah belum sanggup berjalan, karna badan Mamah yang masih lemah atau mau di gendong sama Papah? " Ujar Albian yang langsung di balas gelengan oleh Devia. Mana tega ia pada suaminya yang menggendong dirinya apalagi Skala juga tidak bisa mengangkat yang berat-berat di umurnya yang sudah tua .


Albian kembali melanjutkan langkah kakinya. Ia seakan tidak keberatan menggendong sang Mamah yang menurutnya sangat ringan.Albian menghentikan langkah kakinya di depan Ibu yang sudah bersedia memperbolehkan Devia untuk beristirahat saat pingsan tadi.


"Terima kasih ya Bu, sudah memperbolehkan Mamah saya untuk beristirahat di rumah Ibu , " ujar Albian dengan sopan, berdiri di depan Ibu yang tersenyum.


"Iya, sama-sama. Tapi boleh minta foto berdua sama kamu, " pinta Ibu tersebut dengan wajah yang nampak malu-malu. Albian mengernyitkan dahinya dengan senyuman kikuknya.


"Kenapa harus minta foto?" Tanya Albian . Jujur ia sangat tidak suka berfoto, apalagi nanti fotonya di simpan.


Wanita itu nampak langsung memasang wajah sedihnya melihat Albian nampak tidak suka ia meminta foto. Ia mengusap-ngusap perutnya begitu membuncit saat memegangi perutnya, karna baju yang ia pakai adalah daster yang cukup besar membuat ia tidak kelihatan bila sedang hamil.

__ADS_1


Devia yang melihat hal itu langsung mencubit dada Albian yang langsung memekik kesakitan dan juga kaget.


"Mamah, sakit, " ringis Albian merasakan cubitan sang Mamah yang lumayan sakit .


"Lebih baik kamu turutin permintaannya, Albian. Dia sepertinya sedang hamil, mungkin lagi ngidam mau foto sama kamu, " ujar Devia setengah berbisik.


Albian menghela napas berat. Ia menatap Ibu tersebut yang di perkirakannya berumur 30 tahunan, yang masih memasang wajah sedihnya .


"Mana ponselnya, Bu, " ujar Albian , membuat wanita itu menatap Albian dengan raut wajah yang kebingungan.


Lagi-lagi Albian kembali menghela napas. "Katanya mau minta foto sama saya, " ujar Albian.


"Beneran boleh, mas? " Tanyanya sekali lagi untuk menyakinkan.Albian langsung menganggukkan kepalanya. Wanita itu langsung memasang wajah yang begitu berseri-seri setelah mendapatkan jawaban dari Albian tadi.Ia langsung mengeluarkan ponselnya yang ada di saku baju dasterya dengan merek ponsel Soppo.


Devia sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu yang di papah oleh Skala. Mereka berdua lebih dulu berangkat menuju ke rumah sakit, meninggalkan Albian yang tiba-tiba menjadi artis dadakan.


Ceklek ceklek ceklek


"Sudah," ujar Albian mendorong pelan wanita tersebut yang sedang memasang pose hendak mencium pipinya.


Albian langsung beranjak pergi meninggalkan wanita tersebut yang mengerucutkan bibirnya tapi sedetik kemudian ia tersenyum menatap layar ponselnya yang penuh dengan wajah Albian dan dirinya.


"Semoga ke tampanan-nya nular ke kamu, nak. " Ujar wanita tersebut tersenyum seraya mengusap-ngusap perutnya.


******


Sebelum menuju ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari kontrakan Ria, Albian berjalan mendekati gadis yang duduk di teras rumah dan terlihat melamun dengan keadaan yang begitu kacau, setelah menjadi bulan-bulanan ibu-ibu kampung.

__ADS_1


"Jangan kamu pikir, Papah aku tidak melaporkan kamu ke pihak berwajib atas tindakan kamu terhadap Mamah aku , kamu bisa hidup dengan tenang, " ujar Albian, membuat Ria yang mendengar itu perlahan mendongakkan kepalanya menatap pria yang berdiri di depannya.


Albian menatap kearah lain, tidak sudi menatap wajah Ria .


"Dan mulai hari ini, kamu aku pecat dari petugas kebersihan di kampus," ujar Albian datar. Setelah mengucapkan itu ia langsung pergi dari hadapan Ria.


Gadis itu melihat kepergian Albian dengan satu tetes air mata yang lolos.Bibir Ria bergetar, hingga terdengar suara isakan tangisan yang keluar dari bibirnya. Merasakan kehancuran dalam hidupnya. Di hina , di usir dari kontrakan dan sekarang di pecat dari pekerjaannya.Ria menelungkupkan wajahnya, menangis dengan tubuh yang bergetar hebat.


Karna ambisi dan cinta terhadap Albian , membuat ia harus merasakan kehancuran ini. Hati yang tercabik-cabik dengan sikap penolakan Albian pada cintanya dan juga kebencian pria itu yang bahkan tidak sudi menatap wajahnya barang sedikit pun. Ini bukan hanya sebuah karma tapi balasan yang telah ia lakukan pada Laura dahulu dan kini menimpa dirinya bahkan lebih sakit daripada ia lakukan pada Laura.


🍁🍁🍁🍁🍁


Laura berusaha meraih gelas air putih yang ada di meja di sebelah brankarnya yang terletak cukup jauh untuk bisa ia jangkau. Sedikit lagi tangannya bisa meraih gelas tersebut. Tenggorokan benar-benar sangat kering, dan ia butuh air putih karna juga sangat haus.


Brak....


Laura meringis kesakitan, saat badannya jatuh dan berbenturan dengan lantai keramik. Ia memegangi pinggangnya yang cukup keras terbentur. Gadis itu nampak kaget ketika badannya tiba-tiba seperti melayang. Ia di buat kaget sekagetnya saat menyadari bahwa Albian'lah yang tiba-tiba mengangkat badannya. Matanya tidak bisa berpaling dari menatap wajah tampan pria tersebut dengan tatapan memuja. Ketampanan Albian semakin bertambah saat ia masih mengenakan peci dan baju koko yang melekat di tubuhnya, mungkin pria tersebut baru selesai sholat.


"Seharusnya kamu kalau butuh apa-apa pencet bel di sebelah brankar kamu, " ujar Albian, seraya meletakkan Laura di brankar dengan sangat hati-hati seperti layaknya meletakkan barang yang mudah rapuh bila meletakkannya sembarangan.


Laura menggigit bibir bawahnya kelu. Entah mengapa aliran darahnya semakin deras mengalir dan jantungnya yang berdetak begitu menggila.


"Tadi sampai jatuh dari brankar, kamu mau apa, hmm? " Tanya Albian dengan jarak wajah yang begitu dekat dengan Laura, entah memang pria itu sengaja atau memang sedang menjalankan modusnya (Modal dusta).


Laura langsung menunjuk gelas air putih yang terletak di meja dan langsung memutuskan kontak matanya dengan Albian yang terus menatap matanya begitu dalam seakan mencari sesuatu di netra coklatnya. Pria itu mengikuti arah tangan Laura yang menunjuk kearah gelas. Albian tersenyum, dan mengambil gelas air putih tersebut,memberikannya pada Laura yang langsung mengambilnya.


Suara tegukan air yang di minum Laura, menunjukkan bila gadis itu benar-benar kehausan. Albian meneguk salivanya susah payah,memperhatikan air putih itu sampai membasahi dagu dan turun ke leher Laura.

__ADS_1


Bersambung...


Lanjut nggak nih??


__ADS_2