Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Penangkapan


__ADS_3

...Mencintai itu bukan sebuah pilihan tapi memiliki mu adalah sebuah keinginan **ku**...


...(**Albian**) ...


Happy reading


Alvian melepaskan tautan bibirnya. Ia mengusap kedua pipi Cia yang nampak bersemu, membuat ia tersenyum. Cia menundukkan kepalanya , rasa malu dan gugup , membuat ia enggan menatap netra hitam milik Alvian yang terus menatap dirinya intens.


"Kamu sudah makan? " tanya Alvian, membuat Cia perlahan menatap suaminya.


Cia menggelengkan kepalanya. Bagaimana ia bisa makan bila mengkhawatirkan Alvian yang tadi tengah melakukan penanganan. Alvian menyentuh perut rata Cia, membuat gadis itu merasakan hangat yang menjalar di hatinya. Sebuah usapan yang membuat ia merasakan nyaman.


"Kamu harus makan. Karna di perut kamu ada anak kita yang juga membutuhkan asupan makanan. Jangan di biasakan seperti ini" ujar Alvian yang nampak serius.


Cia menganggukkan kepalanya "Maaf.Aku sangat mengkhawatirkan keadaan bapak. Aku tidak bisa memikirkan diriku sendiri, bila belum mengetahui bagaimana keadaan bapak. Aku takut bapak kenapa-kenapa " sahut Cia dengan mata yang berkaca-kaca.


Alvian tersenyum lembut"Tapi jangan seperti ini lagi ya. Aku senang kamu mengkhawatirkan aku. Tapi jangan sampai kekhawatiran kamu, membuat kamu dan anak kita tidak sampai makan"ujar Alvian menarik Cia dalam pelukannya.


"Cia, aku boleh minta sesuatu sama kamu? " tanya Alvian. Cia melepaskan pelukan suaminya. Ia menatap mata Alvian lamat-lamat .


"B-boleh.Memangnya mau minta apa? " tanya Cia dengan gugup.


Alvian memajukan wajahnya,Hingga ujung hidung mancung pria itu menyentuh ujung hidung Cia. Gadis itu refleks memejamkan matanya. Ia mengira Alvian akan menciumnya lagiΒ  .


"Jangan manggil aku bapak, ganti panggilan yang lain " bisik Alvian di telinga Cia.Setelah mengucapkan itu Alvian menjauhkan wajahnya dari istrinya.


Blush...


Cia langsung membuka matanya dengan semburat merah di pipinya. Ia jadi salah tingkah, ia pikir Alvian akan menciumnya. Entah mengapa ia jadi kesal sendiri karna terlalu percaya diri.Alvian tertawa sedikit keras, membuat Cia menekukkan wajahnya dengan bibir melengkung kebawah.


"Kenapa? Kamu pikir aku mau cium kamu. Nanti ya setelah pulang dari rumah sakit. Sekalian olahraga ranjang hahaha... " Alvian tertawa puas melihat wajah Cia makin menekuk.Gadis itu mendengus kesal.


Bugh!


Cia melayangkan pukulan di bahu kiri Alvian tepat di lukanya, membuat pria itu meringis kesakitan.


"Wadaw! Sakit Cia! " ringis Alvian memegangi bahunya.


"Maaf.Aku enggak tau kalau bahu kamu itu luka. Sini aku mau lihat " ujar Cia melihat luka di bahu Alvian yang di perban.


"Maaf ya, pak " ujar Cia.


"Kata aku jangan panggil, aku bapak. Panggil dengan sebutan yang lain. Aku berasa tua kalau di manggil bapak " kesal Alvian.


"Terus mau di panggil apa? Om, mas, sayang atau akang. Akang Alvian hahaha... " ujar Cia dengan nada bercanda.

__ADS_1


"Ish! Jangan bercanda Cia . Panggil aku sayang, panggil aku sayang, Cia " rengek Alvian.


"Enggak, ah. Terlalu lebay " ujar Cia.


"Mau kamu masuk neraka gara-gara tidak menurut sama suami. Sekarang kamu panggil aku sayang atau mas, terserah yang penting tidak bapak " ujar Alvian merengkuh pinggang Cia.


"Sekarep mu'lah, mas " ujar Cia, membuat Alvian tersenyum-senyum sendiri. Membuat kedua matanya terpejam.


Ceklek


Suara pintu terbuka membuat Alvian dan Cia , bersamaan menatap kearah pintu. Albian tersenyum kikuk. Ia berjalan masuk ke dalam ruang rawat Alvian dengan menenteng kantong plastik hitam. Pria itu meletakkan kantong berisik makanan di meja di dekat brankar.


"Makan dulu. Aku sudah membelikan dua bungkus nasi goreng" ujar Albian.


"Kamu makan dulu ya" ujar Alvian yang di angguki Cia.


Alvian melepaskan rengkuhan tangannya di pinggang ramping sang istri. Cia mengambil piring kosong di meja dan memindahkan nasi goreng tersebut ke dalam piring.


"Mas, enggak makan? " tanya Cia.


"Nanti, setelah kamu selesai makan. Aku maunya di suapin sama kamu " ujar Alvian dengan nada manja. Albian yang melihat tingkah saudara kembarnya geleng-geleng kepala.


Cia menganggukkan kepalanya. Ia berjalan menuju sofa dan duduk di sana, menikmati nasi goreng yang di belikan Albian. Sebenarnya perutnya sudah keroncongan dari tadi tapi karna terlalu mengkhawatirkan Alvian membuat rasa laparnya tiba-tiba menghilang.


Alvian melirik Cia sekilas dan beralih menatap Albian yang ada di sebelahnya.


Albian mengangkat satu alisnya mendapatkan pertanyaan dari Alvian "Memang kenapa?Papah berhak tahu bagaimana keadaan anaknya . Apalagi kamu sampai masuk rumah sakit " ujar Albian .


"Iya, aku tahu. Tapi aku tidak mau membuat Papah jadi banyak pikiran. Apalagi sekarang Papah sering sakit-sakitan dan masalah kantor juga sudah menjadi beban pikiran bagi Papah " ujar Alvian menunduk lesu.


AlbianΒ  menghembuskan napas panjang. Ia menatap keluar jendela, mengingat penyakit yang di derita sang Papah, Skala.Bagaimana pun ia dan Alvian harus menjaga kesehatan Skala dan juga tidak membebani pikiran pada Papahnya .


"Aku tidak akan mengatakan apapun pada Papah tapi kita berdua harus memgurus masalah Rayyan. Aku takut pria itu akan berbuat nekat lagi pada Cia. Apalagi istri kamu sedang mengandung" ujar Albian sekilas menatap Cia yang lahap memakan nasi gorengnya yang hampir habis di piring.


"Iya, kamu benar. Oh ya. Kamu sudah cek CCTV di ruangan aku? Supaya menjadi barang bukti untuk kita, agar bisa menjebloskan Rayyan ke penjara" ujar Alvian.


Albian menggelengkan kepalanya "Belum.Tapi nanti akan aku cek CCTV-nya , kamu tenang saja. Sekarang kamu fokus untuk pemulihan luka kamu,Alvian. Dan juga menjaga Cia" ujar Albian yang dan angguki Alvian dengan senyuman tipis.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Saya tidak mau! Sekarang pergi dari sini dan kalau bisa gugurkan bayi itu! Saya tidak sudi mempunyai anak dari kamu! Hanya wanita yang tepat yang boleh mengandung anak saya!! "bentak Rayyan dengan emosi yang begitu tersulut.


Ria hanya bisa menangis. Dadanya begitu sesak, mendapatkan penolakan penanggung jawaban dari Rayyan.


" Lagi pula kamu sudah meminum obat KB, bagaimana bisa kamu hamil? Saya tau kamu sedang ingin menipu saya , iyakan? "tuduh Rayyan.

__ADS_1


Ria menggelengkan kepalanya, cepat. Demi apapun ia tidak ada niat menipu Rayyan. Ia juga tidak tau kenapa ia bisa hamil, sedangkan ia sudah meminum pil penunda kehamilan.


" Saya juga tidak tau. Beberapa hari ini saya sering mual dan muntah-muntah. Saya pikir hanya masuk angin tapi setelah di periksa ke dokter ..... Saya hamil, tuan hiks... Demi Tuhan saya sudah meminum pil KB. Sekarang saya tidak tau harus minta pertanggungjawaban kepala siapa, kecuali kepala tuan. Ayah biologis dari anak yang saya kandung "ujar Ria menangis terisak-isak.


Brakk..


Rayyan melemparkan vas bunga yang hampir mengenai kepala Ria yang terlihat syok.


" Pergi kamu dari sini!! Saya tidak mau tau kamu harus mengugurkan janin yang ada di perut kamu. Saya tidak sudi keturunan saya lahir di rahim wanita miskin seperti kamu!! "bentak Rayyan.


Ria memegangi dadanya yang begitu sesak. Hatinya seperti di tusuk-tusuk duri. Begitu perih dan sakit.


" Kalau tuan tidak ingin bertanggungjawab. Saya tidak akan memaksa. Tapi izinkan saya membesarkan janin ini. Bagaimana pun yang salah adalah kita berdua melakukan dosa yang menghasilkan malaikat kecil yang hadir dari kesalahan kita berdua . Dia tidak salah tapi kehadirannya yang salah dan di waktu yang tidak tepat "ujar Ria lirih menahan sesak dan perih di dadanya.


Ria mengambil tasnya yang tergeletak di lantai. Ia menatap Rayyan yang memalingkan wajahnya seakan enggan menatap dirinya.


" Saya pamit tuan. Tapi perlu tuan ingat satu hal. Bila anak ini lahir maka ia tidak akan memiliki hubungan apapun dengan tuan. Dan jangan menyesal dengan pilihan tuan . Saya permisi "ujar Ria berbalik. Berjalan menuju pintu mansion sambil mengusap perutnya yang masih rata.


🍁🍁🍁🍁🍁


Cia menyuapi Alvian yang begitu lahap memakan nasi goreng tersebut.


" Makasih ya sayang "ujar Alvian.


Cup!


Alvian mencium pipi Cia dengan lembut. Gadis itu tersenyum dengan pipi yang memerah tersipu malu.


Tok tok


Suara ketukan pintu, membuat Cia terhenti menyuapi Alvian. Ia meletakkan piring di meja dan berjalan, membuka pintu tersebut.


Kening Cia berkerut melihat dua pria berseragam polisi.


"Ada keperluan apa ya, pak? " tanya Cia menatap dua polisi tersebut.


"Begini kami dari pihak kepolisian mendapatkan surat izin untuk penangkapan saudara Alvian Fraya Sadewa, atas penganiayaan yang di lakukan pada saudara Rayyan" ujar polisi tersebut.


Deg...


Cia menggelengkan kepalanya.


Bersambung....


Maaf ya ingkar janji. Aku lagi sibuk tadi hehee..

__ADS_1


Panggil aku Winda ya jangan thorβš‘πŸ”¨. Klu mau lebih akrab lagi panggil aja sayang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2