
Albian bersandar di tembok,sesekali melirik ke ruang operasi yang tertutup rapat. Devia meremas tangan Skala yang terus memberikan usapan lembut pada bahunya.Tangan wanita paruh baya itu begitu berkeringat dingin, ia harap-harap cemas.
"Jangan terlalu tegang, sayang. Perbanyak do'a, agar operasi berjalan lancar dan Laura secepatnya sembuh , " ujar Skala.
Devia langsung memeluk Skala, ia memejamkan matanya dengan air mata yang tidak bisa terbendung lagi. Bagaimana bisa ia tenang sedangkan Laura bertarung nyawa antara hidup dan mati.
"Aku merasa gagal dalam menjaga Laura, mas. Lily menitipkan Laura pada aku, tapi aku.... Sampai tidak menyadari bila Laura sedang sakit. Mas aku takut".
" Sayang, jangan berpikiran negatif dan jangan terus menyalahkan diri kamu sendiri, itu tidak akan mengubah apapun . Yang Laura butuhkan adalah do'a dari kita. Hanya Allah yang bisa memberikan kesembuhan pada Laura..... Yang terpenting kamu yakin operasi ini berhasil dan Laura sembuh, "tutur Skala.Devia mengangguk kepalanya. Suaminya selalu bisa memberikan ketenangan pada dirinya.
Albian berjalan mendekat kedua orang tuanya yang duduk di kursi panjang , di sisi ruang operasi.
" Mah, Pah. Aku mau sholat dulu, di mushola rumah sakit. Nanti kalau operasi Laura sudah selesai, panggil aku ya, "ujar Albian yang di angguki Skala.
🍁🍁🍁🍁🍁
Seorang pria yang tak lain adalah Albian, merentangkan sajadahnya di mushola yang nampak begitu sepi, mungkin karna jam sudah menunjukkan pukul 21:00 malam, jadi sangat jarang bahkan tidak ada pengunjung rumah sakit atau petugas rumah sakit yang ada di mushola ini.
Albian memulai sholat Isya-nya. Pria tersebut begitu khusyu merapalkan bacaan sholat. AC berhembus begitu kuat, tepat menghadap Albian yang membaca attahiyat terakhir.
Albian mengucapkan salam ,menoleh ke kanan dan ke kiri, menandakan sholat sudah selesai. Ia mengusap wajahnya, dan mengubah posisi duduknya menjadi duduk bersila. Albian menengadahkan kedua tangannya, keatas langit-langit.
Sebelum meminta kepada sang pemilik semesta dan segala isinya. Albian mengawali doa terlebih dahulu mengagungkan Allah Yang Maha Esa. Sebagaimana yang di ajarkan dalam Islam. Setelah itu mendoakan atau bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW.
" Ya Allah, hamba mohon, jangan engkau mengambil Laura dari hamba. Hamba sadar dengan apa yang hamba lakukan.Bukan hamba menentang apa yang engkau sudah tetapkan...
. Tapi Laura sangat penting bagi hamba. Jangan biarkan hati hamba kembali hancur untuk kedua kali, "lirih Albian, menundukkan kepalanya, dengan dada yang begitu sesak. Air mata menetes membasahi baju koko yang di pakai pria itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Tittt....
Layar monitor menampilkan garis lurus. Perlahan detak jantung Laura melambat dan menghilang. Sedangkan operasi baru saja selesai.
" Suster cepat ambil alat pacu jantung!! "Teriak dokter tersebut dengan wajah yang begitu panik.
__ADS_1
" Baik dokter, "
Dokter itu menempelkan alat pacu jantung di permukaan dada Laura , agar jantung kembali berdetak. Tubuh Laura seperti tersetrum saat alat itu menempel di dadanya, membuat tubuhnya sedikit terangkat.
Sedangkan detak jantung Laura tidak kembali berdetak setelah melakukan pacu jantung untuk ketiga kalinya. Layar monitor masih menampilkan garis lurus. Dokter itu memberikan alat jantung itu pada suster yang nampak sedih karna pasien yang baru saja berhasil melakukan operasi tidak bisa di selamatkan.
"Suster cabut semua alat medis yang menancap di tubuh pasien. Saya akan memberitahukan kabar duka ini. " Ujar dokter tersebut, berjalan dengan lesu ke pintu keluar.
Ceklek
"Bagaimana dengan Laura, operasinya berhasil? Apa Laura sudah sembuh dokter? " Albian langsung melontarkan pertanyaan pada dokter itu, saat baru keluar dari ruangan. Terlihat jelas wajah Albian yang berseri-seri , berharap operasi berhasil dan Laura di nyatakan sembuh .
Devia dan juga Skala tak sabar menunggu jawaban dokter tersebut.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin......Tapi pasien tidak bisa kami selamatkan. " Jawab dokter tersebut, dengan wajah yang tertunduk.
Bugh.....
Albian melayangkan pukulan pada dokter tersebut hingga, jatuh tersungkur ke lantai. Sedangkan Devia langsung tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya yang hampir jatuh bila Skala tidak segera merengkuh tubuhnya.
"Albian cukup! " Skala menarik Albian agar menjauh dari dokter tersebut.
"Lepasin, aku Pah!Dokter itu harus bertanggung jawab. Laura tidak boleh meninggalkan aku...... Hiks.. " Albian menangis dalam dekapan Skala.
Devia duduk di kursi dengan tatapan mata yang begitu kosong. Bagaimana ia mengatakan ini semua pada Lily?
"Albian dengarkan, Papah, " Skala menangkup wajah Albian . "Ini sudah takdir, nak. Kamu tidak bisa memaksakan Laura untuk kembali.Ikhlaskan Laura. " Ujar Skala.
"Tidak, Pah! Aku tidak mau. Laura harus hidup kembali..... Laura tidak boleh meninggalkan aku, Pah.... Hiks.. ".
" Albian, jangan menangis seperti ini, kamu itu laki-laki harus kuat. Jangan cengeng hanya karna Laura , nak. Kamu menangis hingga air mata habis pun tidak akan mengubah keadaan,kalau Laura sudah meninggal"Ujar Skala, memberikan pengertian.
🍁🍁🍁🍁🍁
Albian menatap pilu pada jenazah Laura yang terbujur kaku di brankar dengan wajah yang di tutup kain putih. Perlahan tangannya membuka kain tersebut, air matanya kembali menetes melihat wajah yang begitu pucat . Wajah yang selalu terlihat ceria dan selalu tersenyum, sekarang begitu pucat pasih.
__ADS_1
"Kamu dendam sama saya, Laura? Hingga pergi meninggalkan saya untuk selama-lamanya..... Saya tahu dulu saya selalu menyakiti kamu.... Tapi kenapa kamu harus memberikan hukuman seperti ini, saya tidak mau di tinggalkan kamu.... " Albian menangis dengan posisi memeluk Laura.
Bukan hatinya yang hancur tapi dunianya dan separuh nyawanya seakan ikut menghilang.
Uhukk... Uhukk...
Suara batuk yang cukup keras, membuat Albian, melepaskan pelukannya. Ia kaget melihat Laura tiba-tiba batuk dan mengeluarkan darah di mulutnya.
"Laura kamu masih, hidup, " ujar Albian kesenangan.
Albian langsung memeluk Laura, dan menguraikan pelukannya.
"Tunggu, saya panggil dokter dulu, " ujar Albian yang keluar ruangan tersebut.
Laura menatap keatas langit-langit, badannya terasa sangat lemas, tak bertenaga. Dan tidak berapa lama, Albian datang dengan menyeret dokter yang tengah di obati para suster.
"Cepat periksa, Laura, " ujar Albian, yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Dokter itu nampak kaget, melihat pasien yang di nyatakan meninggal, kini kembali hidup lagi.
"MasyaAllah, kamu hidup kembali. Sungguh ini mukjizat, " ujar dokter tersebut.
"Cepat periksa dia, takutnya ada yang sakit, " ujar Albian dengan tidak sabaran.
Dokter tersebut memeriksa jantung Laura yang berdetak dengan normal. Ia memegangi denyut nadi Laura yang juga normal.
"Apa yang kamu rasakan? " Tanya dokter tersebut.
"L-lemas, dok. " Jawab Laura dengan suara yang pelan, tak bertenaga.
Albian tidak henti-hentinya memandangi wajah Laura dengan senyuman lebar yang tidak pernah luntur. Ia akan memberitahu pada kedua orang tuanya yang tengah menyiapkan pemakaman Laura.
Pasti Papah dan Mamahnya juga akan terkejut bila mendengar Laura hidup. Kembali.
Bersambung...
__ADS_1