
๐พPria menunjukkan rasa cintanya dengan memberikan sebuah perhatian yang tidak pernah dia berikan pada wanita lain. Sedangkan wanita menunjukkan rasa cintanya dengan bersikap manja~Winda~
"Tidak usah di tutupi, aku sudah melihat semuanya" ujar Alvian mengedipkan matanya genit.
"Pak Alvian!! " teriak Cia dengan suara meninggi, bahkan wajahnya sudah memerah antara malu dan marah. Ia baru tau ternyata Alvian berotak mesum.
โคโคโคโค
Cia langsung menyingkirkanย selimut yang menutupi tubuh polosnya.Ia langsung berjalan kearah pintu keluar dan mengunci pintunya dua kali , supaya pria itu tidak masuk lagi. Cia mengambil piyamanya yang tergeletak di lantai dan memakainya.
"Dasar dosen mesum! Muka aja datar ples cuek tapi otaknya mesum! " umpat Cia, berjalan menuju meja riasnya.
Cia duduk di kursi menghadap cermin. Ia mengambil skincare dan memakaikan di wajahnya dan mengusap secara merata di seluruh wajahnya. Walau wajahnya terlihat bersih, putih dan tidak ada jerawat satu pun di wajahnya kecuali saat akan datang bulan pasti dua atau satu jerawat akan muncul di dagu atau di dahinya tapi dia tetap harus memberikan perawatan pada wajahnya.
Ia merawat dirinya bukan untuk menyenangkan suaminya atau pria lainย agar terpesona dengan kecantikannya tapi untuk menyenangkan dirinya sendiri.
Cia bangkit dari kursinya setelah acara skincare'annya selesai. Ia memegangi perutnya yang tiba-tiba berbunyi minta di isi. Cia berjalan ke pintu keluar, sebelum membuka pintu kamar ia berpikir pasti Alvian akan menggodanya lagi karna kejadian yang membuat harga dirinya runtuh seketika. Tapi dia tidak bisa tidur dengan perut yang lapar.
Cia perlahan membuka pintunya. Ia menyembulkan kepalanya dari pintu dan menatap sekitar luar kamar yang nampak sepi. Cia mencium aroma makanan yang sangat familiar baginya dan itu membuat perutnya makin meronta-ronta untuk cepat di isi.
Alvian duduk di sofa sambil menikmati martabak telur yang dia pesan melalui gojek. Matanya terus terfokus pada layar televisi yang menampilkan pertandingan bola antara Indonesia dan Thailand. Ia memang sangat menyukai bola apalagi melihat pertandingan sepak bola. Alvian menoleh kesamping ketika merasakan pergerakan di sebelahnya.
Sudut bibirnya terangkat, tersenyum. Melihat Cia duduk di sebelahnya sambil mencomot satu martabak. Kini perhatiannya teralihkan pada Cia yang begitu lahap memakan martabaknya.Hanya wanita ini yang berhasil membuat seluruh dunianya teralihkan pada wanita yang sudah menjadi istrinya.
Cia mengangkat satu alisnya melihat Alvian menatapnya tanpa berkedip. Ia melambaikan tangannya di depan Alvian, membuat pria itu tersadar dari kekagumannya. Ia tersenyum pada Cia yang memberikan tatapan sengit. Gadis itu merasa Alvian tengah mengejeknya karna kejadian yang memalukan tadi.
"Kenapa, senyum-senyum? Mau aku taktongtang" ujar Cia sinis, kembali mencomot dan memakan martabaknya.
"Kenapa keluar kamar? Katanya lagi ngambek " goda Alvian tersenyum mengejek.
Cia mendelik sebal. Ia mengabaikan ucapan dari suaminya daripada harus mengeluarkan tenaganya untuk memberikan hujatan dan membalas ucapan Alvian. Cia terdiam saat jempol besar suaminya mengusap bibirnya dengan lembut , membuat ia perlahan menoleh menatap Alvian yang mengusap bibirnya. Waktu seakan tiba-tiba menjadi melambat.
Matanya langsung bertemu dengan mata Elang Alvian yang begitu teduh di pandang, membuat Cia mematung. Ia seperti terhipnotis dengan mata coklat berair itu. Cia membelalakan matanya merasakan benda kenyal dan basah itu ,entah sudah sejak kapan menempel di bibirnya.
Cia memperhatikan Alvian yang menciumnya dengan mata yang terpejam. Alvian mulai menggerakkan bibirnya , mencium lembut bibir Cia. Gadis itu terdiam, ia kurang berpengalaman kalau soal berciuman karna ini ciuman pertamanya.
"Balas ciuman aku, Cia " ujar Alvian di sela-sela ciumannya.
Seakan terhipnotis, Cia membalas ciuman Alvian. Membuka mulutnya memberikan akses bagi Alvian. Ia mengecap dan menyesap sebisanya. Pria itu menahan tengkuk istrinya untuk memperdalam ciumannya yang sudah mulai menuntut dan menginginkan lebih. Tangannya bergerilya ke tubuh Cia. Ia menyingkap kaos yang di pakai istrinya dan meraba perut rata Cia .Tangannya merambat naik ke bagian yang sudah menjadi incarannya .
Sebelum tangan Alvian meraba ke gundukan gunung kembar. Cia langsung mendorong tubuh Alvian dari atas tubuhnya. Dia seakan tersadar dengan apa yang akan dia lakukan dengan Alvian.
"Kenapa? " tanya Alvian yang tampak kecewa.
"Pakai tanya kenapa-kenapa,lagi!seharusnya aku yang tanya,bapak kenapa kurang ajar sama aku?!Tiba-tiba langsung nyosor kaya bebek" gerutu Cia, mengusap bibirnya yang sudah membengkak dan itu sangat sexy bagi Alvian.
"Soalnya aku ke tagihan pengen lagi. Kita lanjut di kamar yuk" ajak Alvian dengan wajah penuh harap.
Cia berdecak kesal. Ia bangkit dari sofa dan memberikan tatapan membunuh bagi Alvian yang terlihat santai tak terpengaruh dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Jangan harap aku bakal kasih jatah buat, bapak " ujar Cia yang langsung melenggang pergi dari hadapan Alvian yang membelalakan matanya mendengar ucapan keramat itu.
Alvian langsung menyusul Cia yang sudah hendak masuk kamar. Ia mencekal tangan istrinya, membuat Cia menoleh menatap Alvian.
"Apa! " ketus Cia.
"Aku minta, maaf. Tadi kamu juga menikmati " ujar Alvian sambil mengulum senyumannya.
Cia meneguk ludahnya dengan susah payah. Ucapan Alvian benar-benar membuat ia ingin pergi ke bulan saja.
"I-itu karna aku lagi khilaf" ujar Cia gugup, berusaha terlihat tenang.
"Berarti aku juga khilaf melakukan itu" sahut Alvian. Membuat mata Cia melotot menatap suaminya yang tiba-tiba menjadi menyebalkan seperti ini.
"Terserah, bapak mau ngomong apa apa. Aku tidak peduli " ujar Cia yang langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Cia, kenapa pintunya di kunci, aku mau masuk Cia! " teriak Alvian dari depan pintu kamar.
Ceklek
Cia kembali membuka pintu kamar, membuat senyuman di bibir Alvian mengembang.
"Ini, selimut buat bapak " ujar Cia menyerahkan selimut dan bantal pada Alvian.
"Kamu buka pintu kamar cuma ngasih selimut buat aku. Tapi aku maunya masuk ke kamar, aku ngantuk, mau tidur " ujar Alvian belasan.
"Enggak! Pokoknya bapak tidur di luar. Ini hukuman untuk bapak yang sudah kurang ajar sama aku !" ujar Cia dengan nada ketus .
๐๐๐๐๐
Cia terus membalikkan tubuhnya di kasur. Kadang terlentang, miring ke kanan kiri dan terkadang tengkurap. Ia menatap kasur sebelahnya yang kosong. Biasanya di sampingnya ada Alvian tapi dia masih mengambek membuat ia tidak bisa menurunkan egonya.
Cia menatap jam dinding yang menunjukkan jam 12 malam. Ia jadi khawatir dengan Alvian. Apa pria itu bisa tidur dengan nyenyak di luar. Ia sedikit menurunkan egonya untuk melihat keadaan Alvian sekarang.
Gadis itu keluar dari kamar dan melihat sekitar ruangan yang nampak gelap hanya cahaya remang-remang saja. Ia berjalan menuju ruang tamu melihat, apa pria itu benar-benar berada di sana dan juga memastikan keadaannya.
Cia bernafas lega, melihat Alvian tertidur dengan nyenyak dengan tubuh meringkuk di sofa. Ia berjongkok dan mengusap rambut tebal suaminya yang berbau aroma shampoo mint.
"Maaf ya, pak. Sifat aku memang seperti anak kecil, mudah ngambek dan gampang marah. Aku cuma syok dan salah tingkah aja tadi " ujar Cia pada Alvian yang tertidur.
Cia bangkit dan hendak pergi tapi tangannya langsung di cekal. Refleks ia menoleh menatap Alvian yang perlahan membuka matanya dan tersenyum dan itu benar-benar membuat Cia terpesona di buatnya, apalagi lengsung pipi yang di miliki Alvian menambah kadar ke tampannya.
Alvian langsung menarik Cia yang langsung jatuh ke pelukannya.
"Iih, bapak apaan sih. Aku mau ke kamar " ujar Cia berusaha melepaskan tangan besar Alvian yang melingkar di perutnya.
Alvian memeluk Cia seperti guling, membuat gadis itu tidak bisa kemana-mana apalagi bergerak.
"Diam, sekarang temani aku tidur " ujar Alvian makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Cia.
__ADS_1
"Tapi, di sini sempit " ujar Cia belasan agar bisa lepas dari pelukan Alvian.
"Ssst... Tidur Cia, ini sofanya muat untuk kita tidur berdua " ujar Alvian yang sudah memejamkan matanya.
Cia menghela napas pasrah, percuma melawan Alvian tidak akan melepaskannya. Perlahan gadis itu mulai menutup matanya karna kantuk yang sudah mulai mendera.
********
Cia perlahan membuka matanya. Menoleh menatap Alvian yang masih setia memeluk tubuhnya.
"Pak bangun, lepasin pelukan bapak di badan aku " ujar Cia dengan suara khas bangun tidur.
"Eugh.... " Alvian hanya melenguh dan melepaskan pelukannya pada Cia yang langsung bangun dari sofa.
Cia merenggangkan tubuhnya yang benar-benar remuk dan sakit karna tidur di sofa semalaman. Ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar untuk mandi, mengambil air wudhu dan setelah itu baru membangunkan Alvian. Entah jam berapa suaminya itu tidur hingga tidur senyenyak itu.
๐๐๐๐๐
Cia menatap lembaran kertas yang ada di tangannya dengan berisi angka dan tulisan yang benar-benar membuat Kepalanya pusing . Ia menatap Alvian yang memperhatikan dan mengawasi mahasiswa yang berbuat curang atau mencontek saat ulangan.
Matanya menatap Cia dengan tatapan yang sulit terbaca namun dengan memasang wajah datar dan dingin seakan Cia dan mahasiswa yang lain sama baginya. Gadis itu mendengus kesal, ia benar-benar geram pada Alvian. Bisa-bisanya ada ulangan tidak memberitahu dia . Kalau di beritahu hari ini ada ulangan,dia bisa belajar dan mempersiapkan diri, entah mau balas dendam dengan kejadian tadi malam atau apa?
"Waktu habis " ujar Alvian menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Lah, saya belum selesai, pak " protes Cia dengan suara yang cukup keras.
"Itu salah kamu dari tadi banyak melamun. Sekarang cepat kumpulkan " ujar Alvian.
Cia bangkit dari kursi dengan kasar. Ia berjalan menuju Alvian yang sibuk memeriksa kertas ulangan yang belum mengumpul.
"Ini, pak " ujar Cia memberikan kertas ulangannya pada Alvian yang terus fokus dengan keras ulangannya.
"Langsung taruh di meja, apa kamu tidak lihat saya lagi sibuk " ujar Alvian dingin.
Cia dongkol melihat Alvian yang tiba-tiba dingin seperti ini padanya.Hatinya tiba-tiba sesak dan tak suka bila Alvian bicara dengan nada yang datar dan dingin.
"Kamu kenapa masih berdiri di sini? Cepat kembali ke tempat duduk kamu " perintah Alvian.
Cia melengkung bibirnya ke bawah dan berjalan menuju ke tempat duduknya.
"Kenapa kamu, Cia. Muka kamu jadi demek gitu? " tanya Azri.
"Enggak kenapa-kenapa" jawab Cia asal yang terus menatap Alvian.
Bersambung....
"Niatku hanya ingin memergoki calon suamiku berselingkuh dengan wanita lain di club , tapi aku malah berakhir di ranjang dengan pria asing yang tak ku kenal"~Queenza Fraya Sadewa.
__ADS_1
Sebenarnya ini sequel dari istri ku mahasiswi ku(seasons 2) tapi mungkin akan aku publish di aku aplikasi oren(Watt**d) .