Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Tak bisa jauh


__ADS_3

...Orang lain takkan tau , bagaimana rasanya merindukan seseorang yang tak pernah ada di dunia ini ;)...


...(Korban fiksi)...


Cia masih berdiri mematung menatap Alvian yang menatap dalam matanya. Tubuh gadis itu bergetar hebat, menahan tangisan.


"Cia aku merindukan mu " kata itu yang kini keluar dari bibir Alvian.Ia merentangkan kedua tangannya, tidak menghiraukan rasa sakit di perutnya yang belum sembuh pasca operasi.


"Hiks..... Hiks.. " hanya suara isak tangis yang mewakilkan apa yang di rasakan Cia sekarang .


Buk....


Cia langsung menubruk tubuh Alvian yang dengan sigap merengkuh dan memeluk erat tubuh mungilnya. Pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Cia, menghirup  aroma tubuh Cia begitu rakus. Sedangkan gadis itu menangis terisak-isak dalam pelukan Alvian. Getaran tubuh Cia bisa Alvian rasakan.


Alvian menguraikan pelukannya. Ia menatap lamat-lamat wajah Cia yang terlihat cantik walau pipinya tidak chubby lagi, kantung mata yang menghitam di bawah kelopak matanya dan jerawat di wajah Cia tapi di mata Alvian gadis tetap begitu cantik dari pada wanita lain . Karna sejatinya mencintai itu tidak memandang fisik atau harta tapi dua hatinya yang sudah tertaut satu sama lain.


Jempol Alvian mengusap air mata di pipi Cia yang mendongak menatapnya dengan mata yang begitu berair, siap untuk meneteskan air mata lagi. Alvian menangkup wajah Cia, mencium bergantian kedua mata istrinya yang terpejam.Cia  merasakan benda kenyal nan hangat itu menempel di kedua kelopak matanya.


"Maaf" ucap Alvian.


Cia memukul-mukul dada kokoh Alvian dengan dua tangannya yang terkepal, meluapkan kekesalan dan kemarahan pada suaminya tersebut.


"Kamu jahat, meninggalkan aku sendirian dengan anak kita hiks... Aku, aku tersiksa saat kamu tidak ada bersama aku, mas. K-kamu tau aku begitu hancur ketika polisi mengatakan kalau kamu sudah meninggal hiks... " Cia memejamkan matanya merasakan air mata yang begitu hangat mengalir di pipinya.


Alvian memeluk tubuh Cia. Mengusap punggung gadis tersebut lembut. Rasa bersalah begitu membuncah di hati Alvian, apalagi mendengar ucapan Cia yang tersirat rasa terluka yang begitu mendalam. Dia merasa senang karna dirinya begitu berharga bagi Cia. Tapi dia sedih melihat Cia yang terpuruk setelah ia di anggap sudah meninggal oleh pihak polisi dan tim yang bertugas mencari mayat korban penumpang pesawat.Mungkin sangat di luar nalar bila ada yang selamat dalam kecelakaan pesawat itu tapi Tuhan masih memberikan kesempatan dirinya untuk tetap hidup dan selamat.


"Maafkan aku, sayang. Tapi sekarang jangan menangis lagi. Aku sudah ada di sini dan tidak akan meninggalkan kamu lagi " ujar Alvian yang masih memeluk Cia.


"Sekarang kamu masih marah sama aku, hmm? " tanya Alvian mengusap kepala Cia lembut.


Cia mendongakkan kepalanya menatap Alvian "Iya, aku masih marah sama, mas. Mas sudah ingkar janji, mas meninggalkan aku lebih dari satu minggu. Mas tidak tau bagaimana rasanya merindukan seseorang yang dinyatakan sudah meninggal. Itu sakit " lirih Cia melengkungkan bibirnya ke bawah.


"Walau aku ingkar janji tapi sekarang aku sudah pulang'kan? Jadi jangan menangis lagi " ujar Alvian.

__ADS_1


Pria itu menarik tangan Cia lembut, berjalan menuju brankar. Alvian mengambil setangkai bunga mawar putih yang sudah di siapkan. Ia bersimpuh di depan Cia yang memasang raut wajah kaget.


"Mungkin bunga mawar ini tak seberapa  bagi kamu. Tapi aku memberikannya dengan hati yang tulus dan selamat ulang tahun, sayang" ujar Alvian menyerahkan setangkai bunga yang di ambil oleh Cia dengan senyuman penuh air mata.


Gadis itu langsung merendahkan tubuhnya dan langsung memeluk leher Alvian yang bersimpuh di hadapannya. Ia melepaskan pelukannya, menatap Alvian dengan senyuman yang begitu manis syarat akan kebahagiaan.


"Terima kasih, mas. Walau cuma setangkai bunga , aku tetapi bahagia. Dan terimakasih sudah mau menepati janji untuk kembali " ujar Cia. Alvian menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


Pria itu mengusap perut buncit Cia , lembut dan memberikan kecupan di balik perut yang tertutup kain itu.


"Daddy kangen sama kamu, nak. Maafin daddy  meningggalkan kalian berdua cukup lama. Tapi sekarang daddy sudah kembali " lirih Alvian,memeluk pinggang Cia.


"Iya, daddy. Tapi jangan tinggalin aku dan mommy lagi, ya " sahut Cia dengan suara yang di buat seperti anak kecil, membuat Alvian tertawa bersamaan dengan Cia.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Lebih baik  kita biarkan Alvian dan Cia berduaan di ruangan ini. Biarkan mereka berdua melepaskan rindu " ujar Skala yang di angguki semua orang.


"Di dekat rumah sakit ada restoran. Lebih baik kita kesana untuk mengisi perut " ujar Devia.


"Sana kamu, saya nggak suka sama kamu. Jangan dekat-dekat " ujar Albian mendorong Laura yang tak mau lepas dari lengannya seperti lintah.


"Aku maunya sama kakak" sahut Laura .


Albian berdecih sinis, menatap Laura. Gadis yang kini sekarang juga sudah mengganti rambutnya dengan warna pirang, memang tidak konsisten sama sekali.


Devia yang melihat itu menggelengkan kepalanya. Ia mendekati keduanya.


"Albian kamu nggak boleh seperti itu pada Laura. Ingat dulu kamu juga pernah memperlakukan Cia seperti ini . Tapi apa..... Kamu baru menyesal setelah Cia menikah dengan Alvian. Jangan sampai kamu menyesal kalau Laura nanti Mamah jodohin dia sama Dafi, adiknya Elang " ancam Devia.


"Betul itu. Nanti nyesal baru tau rasa " timpal Laura.


"Diam kamu! " bentak Albian yang langsung pergi meninggalkan keduanya.

__ADS_1


"Sabar ya nak. Albian memang seperti itu " ujar Devia yang di angguki Laura.


🍁🍁🍁🍁🍁


Alvian menyuapi Cia yang nampak begitu lahap menerima suapannya. Albian, kembarannya sudah mempersiapkan semuanya termasuk beberapa makanan di meja.


"Kamu makannya lahap tapi kenapa badannya kurus seperti ini, hmm?Apa saat aku tidak ada kamu jarang makan? " tanya Alvian menyipitkan matanya menatap Cia.


Cia menggelengkan kepalanya pelan"Aku nggak berselera makan semenjak kamu ninggalin aku. Kamu'kan tau sendiri anak kamu itu rewel ,dia mau,daddynya yang nyuapin aku makan"jawab Cia .


"Alasan kamu " ujar Alvian, mencubit pipi Cia.


"Lain kali kamu paksakan untuk makan. Kasihan anak kita, dia juga butuh makan, sayang " nasehat Alvian yang di angguki Cia.


"Ayo makan lagi yang banyak . Aku suapin kamu sampai gendut kayak kemaren " ujar Alvian terkekeh.


Cia tersenyum. Tangannya tak pernah lepas memegangi ujung baju Alvian. Rasa kehilangan yang pernah ia rasakan membuat gadis ini sangat ketakutan bila Alvian akan meninggalkannya lagi.


"Cia aku mau toilet dulu ya, mau pipis" ujar Alvian, meletakkan piring di atas meja.


Pria itu turun dari brankar,berjalan menuju kamar mandi. Dahinya mengeryit ketika pintu kamar mandi tidak bisa di tutup . Alvian langsung kaget melihat Cia yang sengaja mengganjal pintu tersebut dengan sendalnya.


"Kamu ngapain? " tanya Alvian, bingung.


"Aku mau ikut. Nanti kamu ninggalin aku lagi " jawab Cia yang langsung masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.


Alvian hanya menghela napas panjang. Ia membelakangi Cia untuk buang air kecil. Cia menatap punggung Alvian. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di tembok, matanya menatap sekeliling kamar mandi.


"Cia,kamu mau pipis? " tanya Alvian yang membenarkan celananya.


"Nggak " jawab singkat Cia.


Bersambung....

__ADS_1


Maaf ya ingkar janjinya, soalnya aku ke tiduran, hehehe...


Jangan lupa Al-Kahfi dan sholawat di hari jumat ya. Kita saling mengingatkan, ok😉


__ADS_2