Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Ektra part 5


__ADS_3

...Kematian adalah jalan terbaik bagi seseorang yang sudah tidak sanggup dengan dunia yang begitu kejam yang menyengsarakan bagi dirinya. Andai dia berpegang teguh pada Allah,tidak mungkin dia memilih mengakhiri hidupnya sebagai jalan terbaik. ...


...{Windanor}...


Seorang wanita yang terbaring di sebuah brankar, perlahan membuka matanya. Pertama kali yang  ia lihat adalah kegelapan.


"Kenapa gelap?Tolong nyalakan lampu di ruangan ini! Aku takut gelap!" Teriak wanita itu. Seorang dokter di ikuti oleh suster masuk ke ruangan tempat wanita tersebut berada. Wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ria meraba-raba pada benda sekitarnya ketika mendengar suara pintu terbuka dan langkah kaki yang mendekat.


"Aku di mana? Dan kenapa di sini gelap? Tolong nyalakan lampu nya, " pinta Ria. Dokter dan suster tersebut terdiam.


"Maaf___Saya harus mengatakan hal ini, mungkin anda tidak akan bisa menerimanya tapi anda mengalami kebutaan total akibat kecelakaan yang anda alami, " ujar dokter tersebut.


Ria menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya dengan ucapan dokter tersebut. Pasti dia bohong tidak mungkin ia buta.


"Jangan bohong! Aku tidak mungkin buta. Pasti kalian ingin menipu'kan?! Jawab! " Bentak Ria dada yang begitu sesak .


Dokter pria tersebut tertunduk, dengan wajah yang nampak sedih. "Kami tidak berbohong, anda memang mengalami kebutaan, " jawab dokter tersebut dengan rinci. Ria langsung menangis histeris memegangi bagian matanya.


"Aaaa!! Aku tidak mau buta! Kenapa  semua ini harus menimpa aku, Tuhan. Kenapa aku tidak mati saja hiks.....Aku lebih tersiksa hidup dengan kebutaan ini. "


Ria berteriak , menangis meraung-raung meratapi nasib buruk yang menimpa dirinya. Air mata begitu deras keluar dari manik indah wanita tersebut.Badannya bergetar begitu hebat, wajahnya memerah. Dadanya seperti di hantam batu yang begitu besar menimpa.


"Ibu hiks...... Aku capek, aku lelah . Kenapa aku harus selamat? Kenapa tidak mati saja, itu jauh lebih baik dari pada harus hidup dengan segala penderitaan yang harus aku tanggung. " Ria hanya bisa meringkuk di brankar seperti bayi.


Lalu bagaimana ia bisa menjalani kehidupannya dengan mata yang buta seperti ini. Ia tidak memiliki keluarga satu pun. Ia sebatang kara. Entah bagaimana ia bisa menyambung hidupnya.


Suara pintu yang terbuka lagi, membuat tangis Ria terhenti. Langkah kaki berjalan mendekat. Membuat  wanita itu berusaha bangkit dari brankar tapi sebuah tangan besar menahannya, kembali membaringkan tubuh Ria.


"Kamu siapa? Apa ini dokter atau suster? " Tanya Ria. Tidak ada jawaban dari orang tersebut, tapi yang ia dapatkan adalah sebuah pelukan  hangat yang memberikan kenyamanan pada dirinya.


"Kamu siapa? " Tanya ulang Ria meraba wajah orang tersebut. Ia langsung melepaskan tangannya dari orang asing tersebut .


"K-kamu pria? Apa yang kamu inginkan?! " Tanya Ria ketus. Ia bisa merasakan bulu-bulu halus yang menumbuhi sekitar dagu pria tersebut. Apalagi dirinya yang buta seperti ini sangat mudah menjadi korban kejahatan.


"Aku adalah orang yang menyelamatkan kamu, " jawab pria bertubuh tegap itu.


Bukannya senang atau pun berterima kasih. Ria langsung mendorong kasar tubuh pria itu. Matanya menatap marah.


"Kenapa kamu menyelamatkan aku?! Seharusnya kamu biarkan saja aku mati, meregang nyawa di tempat kecelakaan dan itu lebih baik dari pada aku harus hidup dengan segala penderitaan ini!"


"Kematian bukanlah jalan terbaik untuk mengakhiri sebuah masalah dan penderitaan yang kamu tanggung. Itu namanya kamu lari dari sebuah kenyataan yang harus kamu hadapi, " tutur pria tersebut.

__ADS_1


Ria memalingkan wajahnya, menatap kearah lain agar pria itu tidak melihat wajahnya yang sudah basah dan memerah. Orang lain bisa dengan mudah mengatakan hal itu tapi tidak tahu bagaimana bila dia berada di posisi dirinya sekarang. Sebatang kara, miskin, dan buta. Lengkap sudah penderitaannya.


"Bagaimana aku tidak menginginkan kematian. Anak ku di ambil dengan paksa, aku sebatang kara dan____Buta, " sahut Ria dengan suara parau.


"Kamu jangan berpikiran seperti itu. Masih ada aku, anggap saja aku adalah keluarga mu. Dan kamu tidak sendiri lagi. Kita hadapi semuanya bersama-sama, " pria itu menggenggam tangan Ria erat.


Ria langsung menghempaskan tangan pria asing tersebut, berdecih sinis .


"Pasti ada maksud buruk dari sikap baik mu itu kepada ku! " Tuding Ria mengacungkan jari telunjuknya di depan, sedangkan pria itu berada di sampingnya.


Pria itu menurunkan tangan Ria.


"Aku ikhlas untuk membantu kamu. Dan aku janji akan mencarikan pendonor mata pada mu agar bisa melihat seperti dulu, " pria itu tersenyum lebar. Mengusap kepala Ria lembut.


Sedangkan Ria terdiam. Merasakan sentuhan pria tersebut. Entah kapan ia di perlakukan dengan baik oleh orang lain, yang ada hanya hinaan dan cemoohan.


******


"Apa ini? " Tanya Ria memegangi sebuah boneka beruang berukuran sedang. Pria itu tersenyum mendengarnya.


"Ini boneka beruang. Supaya kamu tidak kesepian, " ujar pria tersebut yang tidak lain Rayyan.


Rayyan tersenyum, menggenggam tangan Ria lembut.


"Kamu tidak usah mengkhawatirkan hal itu. Biaya perawatan kamu, aku yang tanggung, " sahut Rayyan.


"Kamu kenapa begitu baik dengan ku. Kita tidak kenal sebelumnya. Waktu kamu terbuang sia-sia karna mengurus wanita buta seperti aku, " ujar Ria.


Rayyan terdiam sejenak. Entah sebenci dan semarah apa bila Ria tahu bila tahu siapa dirinya. Entah ia harus bersyukur atau harus sedih dengan kebutaan wanita ini. Karna ia bisa mendekati Ria.


"Tidak ada alasan seseorang untuk tidak berbuat baik pada orang lain, " jawab ringkas Rayyan.


Kini Ria yang terdiam.


"Aku pergi sebentar. Nanti sore aku akan ke sini lagi. Kalau kamu membutuhkan sesuatu pencet bel di sini, " Rayyan menyentuh tangan Ria dan membawanya pada bel yang ada di samping wanita tersebut.


"Sekarang kamu tahu kan apa yang di lakukan bila membutuhkan sesuatu, " ujar Rayyan. Ria menganggukkan kepalanya, di sertai senyum tipis.


*********


Albian berjalan pelan sambil mendorong trolli belanjaan. Laura mengambil cemilan yang ia sukai dan memasukannya pada trolli.

__ADS_1


"Kakak katanya mau susu coklat ya? " Tanya Laura yang menatap rak susu berbagai jenis rasa yang berjejer.


"Iya, sayang. Aku mau rasa coklat, " Albian mengambil satu persatu susu kotak tersebut dan memasukannya ke trolli.


"Sepertinya sudah cukup kita belanja nya, " ujar Laura menatap trolli yang sudah penuh dengan cemilan dan susu.


"Ya sudah. Sekarang kita ke kasir, " Albian mendorong trolli dan mengenggam tangan Laura meletakannya di pegangan trolli agar bisa terus menggenggam tangan sang istri.


"Kamu duduk saja, sayang di bangku, antriannya cukup panjang nanti kaki kamu pegel kalau berdiri terlalu lama, " ujar Albian.


"Tapi kakak___"


"Aku tetap berdiri di sini. Nurut sayang, sekarang duduk di bangku sana, " ujar Albian tegas namun tetap lembut. Laura mengerucutkan bibirnya dan berjalan ke kursi panjang tersebut.


Albian menatap sekitar, pengunjung supermarket di sini sangat ramai. Mungkin karna hari minggu dan banyak diskon di supermarket ini. Mata Albian terfokus pada siluet Rayyan yang berdiri tidak jauh darinya. Tapi yang jadi pertanyaan Albian saat ini, anak siapa yang di gendong pria tersebut. Mereka berdua nampak sangat dekat.Tidak mungkin pria itu memiliki anak, sedangkan dia tidak menikah.


Lagi pula ia tidak bisa melihat wajah anak yang di gendong Rayyan karna tertutup topi beruang.


"Rayyan kamu bawa Raja ke mobil. Sepertinya dia sangat mengantuk, " ujar Rima yang baru selesai memilah-milah belanjaannya. Rayyan mengangguk dan keluar dari supermarket.


Albian beralih memperhatikan pada Rima yang mengantri paling belakang.


********


Kini Albian dan Laura sudah berada di dalam mobil. Setelah menunggu lama mengantri.


"Kakak mau mencoba, " Laura menyodorkan cemilan kripik pada Albian.


"Suapin, " pinta Albian yang fokus mengendarai mobilnya. Ia membuka mulutnya, menerima suapan dari Laura.


"Kita ke rumah sakit ya, " ujar Albian, membuat Laura langsung menoleh menatap dirinya.


"Buat apa ke rumah sakit? " Tanya Laura dengan kening mengkerut.


Albian menggelengkan kepalanya seraya menghela napas, "Kamu lupa tadi pagi muntah-muntah terus . Takutnya kamu sakit, sayang, " ujar Albian.


"Emm.... Itu cuma masuk angin. Kakak lupa tadi malam kita keluar cari makan. Pasti itu penyebabnya, " bantah Laura.


"Jangan bantah!Kalau aku bilang ke rumah sakit ya ke rumah sakit! " Ucap Albian ketus.


Laura menundukkan kepalanya. Matanya sudah berkaca-kaca. Baru kali ini di bentak Albian setelah sekian lama.

__ADS_1


__ADS_2