
...Bila kau mencintainya tulus. Maka kamu tidak akan mempermasalahkan dari mana ia berasal. Entah dari kasta atas, kasta bawah bahkan kasta terendah pun. Karna sejatinya cinta tak memandang status, fisik maupun kasta. ...
...(Albian) ...
Ria berjalan kaki dengan menenteng barang dagangannya di sebuah wadah lumayan besar . Ia mendudukkan dirinya di kursi di pelataran rumah kontrakannya. Ria terdiam dengan tatapan kosong, ia memikirkan nasib ibunya yang sekarang tinggal sendirian di rumah tanpa di temani siapapun. Sebenarnya ia tidak mau meninggalkan ibunya tapi ia tidak mau menjadi aib buruk baik keluarganya. Yang jadi pikiran saat ini, kenapa ia bisa hamil padahal ia sudah meminum pil KB sebelum melakukan itu . Tidak mungkin kan karna pil KB itu tidak kadaluwarsa lagi. Seharusnya ia keracunan bila pil itu kadaluwarsa.
"Heh! Ria!! " seru Marni yang menatap sinis pada Ria yang langsung menghapus air matanya.
"Iya, bu Marni ada apa? " tanya Ria lembut.
Marni mendengus kesal. Ia melirik jualan Ria yang terlihat tinggal sedikit. Rasa benci, kesal dan iri mulai membuncah merayap di hati Marni. Ia menatap barang dagangan yang masih tersisa banyak bahkan jualannya sama dengan jualan yang di jual Ria.
"Saya peringatkan kamu ya. Berhenti berjualan seperti saya! Kamu tahu,semenjak kamu jualan seperti saya. Pelanggan saya mulai berkurang dan lebih memilih membeli dagangan kamu.Lihat barang dagangan kamu tinggal sedikit pasti ini karna semua pelanggan saya belinya di kamu'kan? " tuding Marni menunjuk kearah Ria dengan tatapan bengis. Ria menggelengkan kepalanya cepat.
"Enggak bu. Tadi barang dagangan saya tumpah berserakan di jalan karna saya hampir di tabrak mobil.Lagi pula rezeki setiap mahkluk sudah di atur oleh Allah dan tidak mungkin tertukar atau di ambil orang lain. Kalau saya tidak jualan , lalu bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan saya " sahut Ria lirih.
Marni mendelikkan matanya.
"Alah, enggak usah sok ceramahi saya kamu. Kamu masih bau kencur, jadi enggak usah ceramihi saya yang lebih tua dari kamu. Kalau besok kamu masih jualan, jangan salahkan saya kalau nanti semua orang yang ada di gang ini akan tau kalau kamu sedang mengandung anak haram, hasil perbuatan mesum kamu , entah dengan pria mana itu .Lebih kamu jual diri aja gih dari pada mematikan rezeki orang " ujar Marni tersenyum sinis. Dengan tatapan jijik pada Ria.
Air mata langsung lolos dari manik mata Ria. Hatinya berdenyut sakit mendapatkan hinaan terlebih lagi pada jiwa yang tengah tumbuh di rahimnya.
"Maksud ibu Marni apa? S-saya tidak hamil. Yang ibu tuduhkan itu salah " kilah Ria berusaha tegar walau tidak terasa air mata terus mengalir.
"Oh ya. Kalau begitu saya panggilkanΒ pak RT sebagai saksi dan menyuruh kamu periksa ke dokter kandungan kalau kamu itu memang hamil. Enggak nyangka selain jualan kue kamu punya kerja sampingan yaitu jual diri " cibir Marni begitu pedas.
__ADS_1
"Stop bu Marni!! Saya tidak hamil!! " bentak Ria yang langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan kasar.
Ria menyandarkan punggungnya di pintu. Badannya meluruh ke lantai dengan air mata yang terus keluar. Ia menatap perutnya, mengusap perutnya lembut.
"Maafkan aku. Seharusnya kamu tidak hadir dan tumbuh di rahim ku . Apakah ini hukuman untuk hamba ya Allah atas perbuatan hamba yang melakukan zina. Maafkan hamba, ampuni hamba hiks... " Ria hanya bisa terisak-isak menahan sesak dan sakit di hatinya yang makin membuncah.
πππππ
Cia mengusap-ngusap tangan besar Alvian yang melingkar di perutnya. Ia dapat mendengar dengkuran halus dari Alvian yang tertidur sangat nyeyak, mungkin pria ini sangat kelelahan. Cia menatap langit-langit kamar . Ia tak menyangka pernikahan yang awalnya yang ia anggap sebuah kesalahan ternyata berakhir sebahagia ini. Rasa cinta yang begitu besar pada Alvian diam-diam merayap di hatinya. Ia tidak ingin jauh dari suaminya, ia ingin selalu bersama pria yang berhasil mengikis cintanya pada Albian.
Cia membalikkan tubuhnya menghadap Alvian. Ia memeluk suaminya erat dan mulai memejamkan matanya. Dengan perasaan yang begitu menghangat dan nyaman dalam dekapan Alvian.
πππππ
Alvian meraba kasur sebelahnya yang nampak kosong. Ia langsung membuka matanya dan menatap ke sebelahnya. Kasur kosong. Alvian bangun dari kasur. Ia menatap sekitar kamar yang tidak menampakkan siluet istrinya. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintu tersebut.... Kosong tidak ada siapa pun. Lalu ke mana Cia?Pikiran negatif mulai merasuk di benak Alvian. Apa Cia kabur darinya? Karna tidak biasanya ia bangun sepagi ini dan biasanya juga ia yang bangun lebih dulu dari pada Cia.
Seperti mendapatkan angin segar. Alvian langsung mendekati Cia dan melingkarkan tangan besarnya di perut sang istri. Cia sedikit tersentak dan kembali melanjutkan memasaknya seakan tau siapa pelakunya.
"Kamu kenapa masak, hmm? Kamu lagi hamil kalau kenapa-kenapa bagaimana, bisa saja terpeleset, jatuh atau..... " ucapan Alvian langsung di potong oleh Cia.
"Aku mau menjalankan kewajiban aku sebagai seorang istri, mas. Aku harus bisa melayani kamu dengan baik. Aku malu kalau sebagai seorang istri tidak bisa melayani suaminya termasuk memanjakan perut kamu " ujar Cia kematian kompor dan berbalik menatap Alvian yang menatap lekat dirinya.
"Aku beruntung mendapatkan kamu. Walaupun kamu tidak bisa memasak atau tidak bisa mencuci pakaian,cinta aku tidak akan berkurang" ujar Alvian sambil memdusel-dusel hidungnya di ceruk leher Cia yang beraroma bunga sakura dan ia sangat menyukainya.
Cia terkikik geli. Ia mendorong kepala Alvian untuk menjauh dari ceruk lehernya.
__ADS_1
"Kali aja cinta kamu makin bertambah sama aku kalau aku bisa menjadi istri yang serba bisa termasuk memasak , membersihkan rumah dan mencuci pakaian" ujar Cia tersenyum manis.
Alvian langsung meraub bibir ranum Cia. Ia sudah dari tadi menahan untuk tidak mencium istrinya tapi seakan gairahnya di pagi hari begitu besar. Cia masih diam merasakan Alvian mengulum bibir mungilnya bahkan menyesapnya. Tapi perlahan ia membalas ciuman Alvian yang mulai memantik sesuatu dalam dirinya yang mulai bangkit.
Suara decapan dan erangan begitu kentara terdengar jelas di dapur. Beruntung mereka belum memperkerjakan pembantu. Entah mau di taruh di mana wajahnya bila kedapatan bermesraan dengan Alvian.
Cia mendorong Alvian yang begitu tidak ikhlasnya melepaskan bibirnya yang sudah terasa kebas dengan benang saliva yang putus . Ia menatap mata Alvian yang nampak sayu menahan gairah yang sudah memuncak.
Suara azan shubuh membuat Cia mendorong Alvian agar makin menjauh darinya.
"Mas, sudah azan. Ayo kita sholat shubuh " ajak Cia yang berjalan lebih dulu tapi tangannya langsung di cekal Alvian.
Cia menoleh menatap Alvian yang masih memasang wajah sayu dengan kabur gairah di matanya .
"Apa boleh setelah sholat shubuh aku minta hak aku, Cia? " tanya Alvian dengan suara seraknya yang membuat bulu kuduk Cia merinding.
Jantung gadis itu berdegup bertalu-talu. Ia meneguk salivanya kasar . Cia mengigit bibir bawahnya kelu.Kalau ia menolak permintaan Alvian pasti suaminya akan kecewa dan menganggap dirinya belum mencintai Alvian tapi bayangan Rayyan yang hampir memperkosa dirinya di kampus selalu terbayang-bayang dalam pikirannya saat ini .
Alvian yang melihat wajah Cia yang nampak berpikir membuat ia mendesah kecewa. Pasti Cia tidak mau melayani dirinya.
"Ya sudah tidak papa kalau kamu tidak mau memberikan hak aku" ujar Alvian tersenyum masam.
"Bukan begitu tap.... " ucapan Cia terjeda saat Alvian meninggal dirinya di dapur.
Bersambung....
__ADS_1
Cerita Alvian dan Albian aku campur ya?