Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Kenangan buruk


__ADS_3

-Mau sukses jadi penulis, kok plagiat punya orang!!


-Hanya mental pencuri yang berani plagiat karya tulis punya orang lain. Tanpa memikirkan perasaan penulisnya yang hanya bisa menangis dan mengelus dada sabar.


-Sindiran


Sebaik-baiknya bacaan, adalah Alquran 📖


Happy Reading


Semua orang tersenyum, tak terkecuali Alvian. Pria itu berharap semoga dengan adanya janin yang tumbuh di rahim Cia, gadis itu mulai membuka hatinya dan semoga hubungan mereka semakin dekat.


*****


Mulut Cia begitu penuh dengan makanan yang terus di masukkan ke mulutnya oleh Devia,ibu mertuanya. Pipinya mengembung dan itu sangat menggemaskan bagi Alvian yang bersandar di tembok dengan satu tangan yang di masukkan saku celana,memperhatikan.


Senyuman yang begitu manis terus terbit di bibir Alvian, memperlihatkan lesung pipinya di sebelah kanan. Ia begitu bahagia hari ini dan lebih bahagia lagi Cia menerima kehamilannya.


"Sudah, Mah. Cia sudah kenyang " tolak Cia mendorong tangan Devia pelan, saat sang mertua akan menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Lah?Kamu harus banyak makan, nak. Apalagi kamu sedang hamil, jadi porsi makan kamu harus di tambah dua kali lipat. Dulu pas Mamah hamil, Papahnya Alvian sering menyuruh Mamah makan yang banyak, iyakan mas? " tanya Devia pada Skala yang duduk di sebelahnya.


"Iya, tapi ibu hamil juga tidak boleh berlebihan makannya ,sayang.Nanti bisa-bisa operasi caesar karna bayi tumbuh sangat besar dalam kandungan sang ibu. Aku menyuruh kamu banyak makan itu sudah aku atur takarannya saat kamu mengandung waktu itu" ujar Skala tersenyum lembut.


Devia menganggukkan kepalanya paham dengan penjelasan sang suami.


"Aku setuju dengan ucapan Papah" sahut Alvian yang berjalan mendekat kearah ketiga orang yang dia sayangi itu.


Alvian duduk di sebelah Cia yang nampak mengunyah sisa makanan di mulutnya.


"Ooh, iya. Kamu'kan lagi hamil. Apa kamu akan tetap kuliah, Cia? " tanya Devia. Yang mengingat dirinya yang saat mengandung di larang keras oleh Skala untuk kuliah.


Cia menganggukkan kepalanya "Iya, Cia mau tetap kuliah. Paling-paling Cia bakal ambil cuti kuliah kalau kandungan Cia sudah memasuki usia sembilan bulan" jawab Cia.


Devia menganggukkan kepalanya paham.


"Tapi kamu tanya dulu sama suami kamu. Apa dia ngizinin kamu tetap kuliah saat mengandung seperti ini. Mamahnya cuma takut kandungan kamu kenapa-kenapa, Cia. Apalagi kamu sedang hamil muda, biasanya retan keguguran" ujar Devia mewanti-wanti.


Cia menoleh menatap kearah Alvian yang duduk di sebelahnya dengan tatapan bertanya. Bagaimana pun apa yang dia inginkan harus mendapatkan persetujuan Alvian, sebagai pemimpin , iman dan menanggung jawab kehidupannya.


Alvian yang paham dengan tatapan sang istri berdehem mencairkan suasana yang tiba-tiba hening  , karna menunggu jawaban darinya.

__ADS_1


"Kalau aku mengizinkan Cia tetap kuliah, asal dia bisa menjaga  kandungannya dengan baik dan aku juga bekerja di sana ,jadi mudah untuk memantau keadaan, Cia" ujar Alvian.


Cia tersenyum menatap suaminya dengan mata yang berbinar-binar. Ah, suaminya ini memang tau apa yang dia inginkan.


"Kalau Alvian ngizinin, Mamah sama Papah juga setuju. Tapi kalau kamu tiba-tiba rapat mendadak di kantor atau harus pergi keluar kota,gimana?Siapa yang jagain, Cia" ujar Devia.


"Tinggal suruh Albian yang menjaga Cia" sahut Skala.


"Enggak" sahut Alvian cepat dengan nada suara yang tak suka.


"Aku masih bisa menjaga Cia. Kalaupun aku harus pergi keluar kota untuk melakukan pekerjaan, Cia akan aku bawa dari pada harus menitipkannya dengan Albian yang jelas-jelas ingin merebut Cia dari aku " ujar Alvian yang merengut. Mendengar ucapan Papahnya,bila Albian yang akan menjaga Cia saat dia pergi keluar kota,hanya ucapan tapi sudah membuat dia terbakar cemburu, apalagi membayangkan bila kembarannya itu berusaha mengambil posisinya.


Skala dan Devia terkekeh melihat kecemburuan putranya. Lain halnya dengan Cia yang tersipu malu, bisa-bisanya, ia langsung di luluh lantakan oleh ucapan suaminya yang spontan itu. So sweet! Secinta itukah Alvian padanya?


🍁🍁🍁🍁🍁


Cia keluar dari kamar mandi, setelah melakukan ritual mandi. Ia baru bisa beristirahat setelah mertuanya pulang, sedangkan kedua orangnya sudah pulang lebih dulu karna urusan pekerjaan.


Drrrt  drrrt


Suara dering ponsel yang menunjukkan sebuah notifikasi masuk di ponselnya yang terletak di atas nakas.Cia mengambil benda pipih itu dan membuka pesan masuk dari nomor asing tersebut, dahinya mengkerut melihat  nomor asing yang mengirim pesan yang belum di baca.


Mata Cia membulat, air mata langsung menggenang di pelupuk matanya. Wajahnya tiba-tiba langsung memucat setelah membaca pesan dari nomor asing tersebut.


Hanya dua kata tapi mampu, membuat tubuh Cia menegang.Pasukan udara tiba-tiba mulai menipis di dadanya. Masa lalunya yang sudah dia kubur dalam-dalam, kenapa harus kembali lagi.Atensi Cia kembali teralihkan ketika pesan nomor asing itu kembali masuk.


Sudah lama tidak mencicipi tubuh mu itu, sayang 😘


Cia langsung melempar benda pipih itu ke lantai. Tubuhnya bergetar ketakutan , lelehan air mata kini jatuh membasahi pipinya.Kenangan masa lalu yang begitu buruk itu kenapa harus kembali lagi. Cia langsung mengambil pakaian di lemari dan langsung memakainya dengan tergesa-gesa.


Gadis itu keluar dari kamar . Ia berjalan mencari Alvian. Cia sudah menyusuri setiap ruangan tapi suaminya itu tidak ia temukan. Sepintas ia terpikir, bila dia belum memeriksa ruang kerja Alvian.


Cia berjalan menuju ruang kerja suaminya dengan air mata yang tiba-tiba lolos dari manik matanya . Ia benar-benar ketakutan setengah mati setelah mendapat pesan itu dan ia tau siapa pengirim pesan tersebut.


Brakk


Cia langsung membuka pintu dengan kasar, membuat Alvian yang tengah sibuk dengan laptopnya terlonjak kaget. Cia langsung berlari kearah Alvian dan memeluk pria yang berkaca mata bening itu yang nampak terheran-heran dengan sikap istrinya.


"Hey, kamu kenapa, Cia? " tanya Alvian hendak melepaskan pelukan Cia, ingin meminta penjelasan kenapa gadis ini tiba-tiba seperti ini. Ia sangat  jarang melihat wajah ketakutan Cia.


"Jangan di lepas, aku mau peluk bapak sebentar saja " lirih Cia dengan nada memohon. Alvian menghela napas pelan.

__ADS_1


"Iya, tapi setelah itu ceritakan, kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? " ujar Alvian yang di balas deheman oleh Cia.


Cia mempererat pelukannya, ia duduk di pangkuan Alvian yang sibuk memeriksa email masuk dari kantor . Tangan Alvian mengusap punggung istrinya dengan lembut. Entah mengapa dia penasaran, apa yang membuat Cia seperti ini. Jangan di sentuh, di peluk saja Cia selalu menolak saat ia menginginkannya.


Satu jam sudah Alvian berkutat dengan laptopnya. Ia melepaskan pelukan Cia yang sudah tertidur begitu pulas. Tangan Alvian telurur mengusap bekas air mata di pipi Cia.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Cia. Kenapa kamu seperti ini? " gumam Alvian menyandarkan kepala Cia di dada bidangnya. Ia mencium kening Cia dengan penuh cinta.


🍁🍁🍁🍁🍁


Alvian membawa istrinya ke kamar dan membaring tubuh mungil Cia di kasur dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin mengusik tidur nyenyak istrinya. Wajah Cia nampak damai dan begitu cantik di pandangan Alvian.


Alvian mengeryitkan dahinya melihat ponsel Cia tergeletak di lantai. Ia mengambil ponsel tersebut yang sudah retak bagian layarnya.


"Kenapa sampai retak seperti ini, apa mungkin jatuh dari meja? Tapi tidak mungkin, apa Cia yang membanting ponsel ini ? " monolog Alvian memperhatikan bagian ponsel tersebut.


Alvian mengidihkan bahunya, mungkin Cia tak sengaja menjatuhkannya.


Drrt drrt


Suara pesan masuk ke ponsel Cia, membuat Alvian yang hendak meletakkan ponsel itu di atas nakas terhenti. Ia menatap nomor asing yang sudah mengirim banyak pesan di ponsel Cia. Rasa penasaran mulai merasuki diri Alvian. Tangannya terukur hendak membuka pesan tersebut.


"Bapak, ngapain? " tanya Cia dengan suara serak.


Alvian yang mendengar itu, meletakkan ponsel itu ke nakas dan mendekati Cia, duduk di bibir ranjang mengusap kepala istrinya lembut.


"Bapak ngapain tadi? " tanya Cia lagi.


"Tadi ponsel kamu bunyi terus, aku lihat banyak pesan masuk dari nomor asing, tapi kenapa ponsel kamu retak bagian layarnya? " tanya Alvian mengangkat satu alisnya.


Cia gelagapan, ia mengigit bibir bawahnya kelu. Bagaimana ini? Ia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya. Kalau Alvian tau, apa pria yang sudah berstatus sebagai suaminya bisa menerima masa lalu yang begitu buruk.


"Hey, kamu kenapa? " tanya Alvian, membuat lamunan Cia buyar.


Cia tersenyum "Aku enggak papa, emm... Aku mau peluk bapak boleh? " tanya Cia.


Satu alis Alvian terangkat mendengar itu "Tentu boleh, kita sudah sah jadi suami -istri. Mau cium juga boleh bahkan lebih dari itu juga sangat boleh " goda Alvian mengedipkan satu matanya genit.


Cia memukul lengan Alvian, dengan senyuman yang terkesan malu-malu. Alvian terkekeh melihat semburat merah di pipi sang istri.Ia merebahkan tubuhnya di sebelah Cia dan menarik gadis itu kepelukannya.


Cia membalas pelukan suaminya. Ia merasa ketakutannya mulai melenyap saat Alvian di dekatnya. Ia merasa aman dan terlindungi. Cia menghirup aroma tubuh Alvian dengan rakus, aroma maskulin yang begitu khas membuat ia tidak ingin jauh dari suaminya. Mungkin ini dari jabang bayi yang tidak mau jauh dari ayahnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2