Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Pertemuan


__ADS_3

...Mencintaimu di luar dayaku dan memilikimu adalah sebuah ketidakmungkinan. Lalu, bagaimana bisa Allah membuat hatiku bertekuk lutut padamu yang jelas-jelas pria miskin agama dan akhlak~Riani~...


Happy reading


Ria kembali memakai pakaiannya setelah melakukan tugasnya. Ia menatap Rayyan yang nampak duduk di balkon kamar di temani sebatang rokok yang terus ia hisap. Ia berjalan mendekati Rayyan dengan berjalan tertatih-tatih.


"Tuan... Saya mau minta bayaran yang tadi " cicit Ria dengan suara yang sangat pelan, namun bisa di dengar oleh Rayyan.


Pria itu berbalik dan memberikan selembar cek pada Ria.


"Ini kamu ambil, terserah kamu mau menulis berapapun nominal uang yang kamu mau" ujar Rayyan dengan muka datarnya.


Ria nampak kebingungan menatap cek di tangannya sekarang. Ia hanya wanita lulusan SD ,dan tidak tau menau apa itu cek atau rekening.


"Apa kalau saya berikan ini pada pihak rumah sakit, ibu saya bisa langsung di operasi?Saya tidak tau cara menggunakan kertas ini , biasanya saya kalau kerja di berikan uang bukan kertas..... Apa tuan mau menipu saya " tuding Ria menunjuk kearah Rayyan yang mengangkat satu alisnya. Pria berumur 36 tahun itu menggelengkan kepalanya.


"Ini kamu tulis uang yang kamu mau setelah itu kamu cairkan di bank. Kamu hidup di zaman Batu sampai tidak mengerti hal seperti ini " cela Rayyan dengan tenang namun begitu menohok bagi RiaΒ  .


"T-tapi saya tidak tau. Saya cuma lulusan SD jadi belum di ajarkan soal beginian tuan sama guru saya " jawab Ria dengan polos. Rayyan tertawa pelan.


"Ya sudah, sini biar saya suruh anak buah saya untuk mencairkan kertas ini dan setelah itu memberikan uang ini ke kamu . Jadi kamu mau bayaran berapa? " tanya Rayyan bersiap menulis nominal di cek tersebut.


"Dua puluh juta, tuan " jawab Ria membuat Rayyan membelalak mendengarnya.


"Tuan kenapa? Sepertinya terkejut mendengar ucapan saya?Saya mintanya kebanyakan ya?"tanya Ria memiringkan wajahnya, menatap Rayyan.


"Enggak.Kenapa cuma minta dua puluh juta, biasanya wanita yang saya tiduri minta 200 sampai 500 juta " ujar Rayyan menulis 300 juta di lembaran cek tersebut.


"Saya meminta uang sesuai kebutuhan saya, bukan sekendak saya" jawab Ria tersenyum dengan deretan gigi putihnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Suara riuh orang-orang di dalam kelas begitu jelas terdengar hingga luar kelas. Suara yang amat berisik itu tidak membuat Cia terganggu membaca novel yang dia baru beli kemaren . Azri tengah sibuk menghitung pesanan dari teman-temannya , untuk barang dagangannya.


Kini suara riuh dan berisik itu tiba-tiba langsung lenyap ketika seorang pria masuk ke dalam kelas dengan menenteng beberapa buku dan laptop. Mata semua orang yang berada dalam kelas menatap kearah pria berkaca mata tersebut dengan tatapan bertanya-tanya.


Pria itu meletakkan barang-barangnya di atas meja. Ia menatap semua murid-murid di dalam kelas tersebut dengan tatapan datar . Tatapan matanya jatuh pada Cia yang terlihat menatap pria itu intens seakan Cia pernah bertemu dengannya.

__ADS_1


"Perkenalkan saya Rayyan, dosen baru kalian. Saya menggantikan dosen Bimo untuk mengajar di kelas kalian. Ok, apa ada yang ingin di tanyakan? " ujar Rayyan yang terus menatap Cia yang nampak menegang setelah mendengar namanya.


"Bapak sudah nikah? "


"Bapak umurnya berapa? "


"Bapak tinggalnya dimana? "


"Nomor telpon bapak berapa? "


"Bapak mau beli pencukur kumis?! " tawar Azri dengan lantang, membuat semua orang menatap kearahnya .Merasa menjadi pusat perhatian Azri hanya cengengesan tak jelas menutupi kegugupannya.


Ekm...


Dehem Rayyan cukup keras, membuat mahasiswa kembali menatap kearah Rayyan.


"Umur saya 36 tahun. Saya belum menikah dan saya tinggal di kompleks Citra Garden. Untuk nomor telpon itu privasi tidak bisa saya sebutkan. Sekarang kita mulai pelajaran " ujar Rayyan.


Cia masih tidak bisa mengalihkan pandangannya pada Rayyan.Wajahnya begitu memucat dengan mata yang mulai berair, kejadian itu berputar-putar dalam ingatannya. Sudah 13 tahun berlalu semenjak kejadian itu, wajah Rayyan yang pernah menjadi kakak tirinya masih sama tidak berubah sama sekali.


Kenapa pria itu harus kembali. Hidupnya sudah tenang dan bahagia setelah terlepas dari keluarga yang sudah menghancurkan kehidupannya di masa lalu dan mengambil semua harta warisan ayahnya yang memang harus jatuh padanya bukan pada keluar Rayyan.


Tangan pria itu mengusap-ngusap punggung Cia dengan sangat lembut. Semua orang-orang tidak memperhatikan kearah Rayyan, mereka sibuk mencatat tulisan yang ada di papan tulis. Cia tidak bisa membendung air matanya, tubuhnya benar-benar bergetar ketakutan apalagi tempat duduknya paling belakang dan paling pojok membuat orang-orang tidak bisa melihat apa yang di lakukan Rayyan padanya.


"Kamu makin cantik, baby. Aku suka " ujar Rayyan mencium pipi Cia cukup lama .Gadis itu tidak bisa bergerak, tubuhnya seperti terkunci.


Tetesan air mata terus mengalir dari kelopak matanya.


Tokk tokk


Suara ketukan pintu membuat atensi semua orang yang ada di dalam kelas teralihkan termasuk Rayyan yang tengah asyik bermain dengan mantan adik tirinya.


"Permisi pak Rayyan. Saya ingin menjemput istri saya" ujar Alvian, masuk kedalam kelas. Berjalan mendekati Cia yang terunduk.


Rayyan mengumpat dalam hati. Ia baru ingin memulai bermain dengan Cia tapi langsung terganggu dengan kedatangan Alvian yang tiba-tiba.


"Cia,apa yang sakit? " tanya Alvian berjongkok di depan Cia yang tertunduk. Tiba-tiba saja Alvian mendapatkan pesan dari Cia bila ia tak enak badan.

__ADS_1


"K-kepala aku pusing, sama pengen muntah " jawab Cia yang menatap Rayyan sekilas dan kembali menunduk.


Alvian bangkit, menatap kearah Rayyan yang langsung memberikan senyuman.


"Saya minta maaf,pak Rayyan. Sepertinya Cia tidak bisa mengikuti pelajaran pak Rayyan. Karna keadaan Cia yang tidak memungkinkan untuk mengikuti pelajaran dengan kondisinya seperti ini " ujar Alvian, berharap Rayyan dapat mengerti.


"Baiklah, tak apa. Tidak baik juga bila memaksakan Cia untuk ikut pelajaran saya. Semoga dia cepat sembuh " ujar Rayyan yang tersenyum ramah.


"Terimakasih" ujar Alvian.


"Kita ke rumah sakit ya " ujar Alvian menenteng tas milik Cia dan mengenggam tangan istrinya dengan lembut , dan itu tidak luput dari tatapan Rayyan yang mengeraskan rahangnya dengan tangan yang terkepal kuat.


"Enak ya jadi Cia, sudah suami dosen, rektor kampus dan juga bisa dengan mudah izin tidak mengikuti pelajaran" bisik Rima pada Angel.


"Iya, aku juga mau kalau begitu tap-" ucapan Angel langsung terpotong.


"Diam kalian berdua! " bentak Rayyan yang nampak tak suka dengan obrolan dua mahasiswi ini.


Rima dan angel langsung tertunduk takut, melihat aura menyeramkan pada Rayyan.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Kamu kenapa nangis, hmm? Apa kepala kamu sangat pusing, kalau begitu kita ke rumah sakit ya" tawar Alvian yang di balas gelengan lemah oleh Cia.


"Enggak usah, pak. Cuma pusing sedikit " ujar Cia, memeluk Alvian dengan erat.


Alvian memberikan usapan lembut dan sesekali mencium pucuk kepala Cia.


"Pak aku takut " ujar Cia dengan nada pelan. Alvian menghentikan usapan di kepala Cia . Ia menatap mata coklat istrinya yang nampak masih berair.


"Kamu takut kenapa? Apa ada yang menganggu kamu. Kalau iya, coba katakan siapa yang berani menganggu istri ku ini ?" ujar Alvian dengan sedikit nada godaan .


Cia terdiam, ia memilih kembali memeluk Alvian dengan mata yang terpejam menikmati aroma tubuh suaminya yang begitu menguar ke indra penciumannya .


Alvian menghela napas panjang, mungkin Cia memang sedang menyembunyikan sesuatu. Sejak kejadian tadi malam gadis ini lebih banyak melamun. Tapi Alvian akan menunggu sampai Cia mau menceritakan masalahnya.


"Kamu tunggu di ruangan aku sebentar ya. Aku mau menyelesaikan ngajar dulu di kelas sebelah. Jangan keluar dari ruangan aku dan kalau kamu butuh apa-apa, telpon Albian atau Agatha" ujar Alvian yang di angguki pelan oleh Cia yang duduk bersandar di sofa .

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2