
Albian turun dari mobil, setelah sampai di depan rumah kontrakan Ria yang nampak ramai. Ia melirik kearah gadis yang menangis terisak-isak di tengah-tengah gerombolan ibu-ibu. Albian memilih tidak memperdulikannya, toh itu bukan urusannya dan ia ke sini untuk menemui Mamahnya yang pingsan setelah berkelahi dengan Ria .
"Permisi, tumpang lewat, " Albian menerobos kumpulan orang-orang yang memadati depan rumah, tempat Devia berada sekarang. Ia berjalan masuk ke dalam rumah kontrakan yang cukup besar.
"Mamah! " Albian langsung berjalan cepat kearah sang Mamah yang masih belum sadarkan diri , terbaring di sofa.Skala, mendekatkan minyak kayu putih di hidung istrinya agar cepat sadar.
"Pah, Mamah kenapa sampai seperti ini, memangnya Ria ngelakuin apa sama Mamah? " Tanya Albian, berjongkok di sisi sofa,menatap kearah Devia .Ia mencium punggung tangan Mamahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Albian memang begitu lemah bila sudah menyangkut tentang Mamahnya yang merupakan cinta pertamanya, setelah Laura.
Skala memberikan usapan lembut pada kepala Albian, layaknya memperlakukan putranya seperti anak kecil . Karna seperti ini cara Skala memberikan ketenangan pada Albian, putranya.
"Ria menarik hijab Mamah kamu, sampai Mamahku tercengkek karna tarikan Ria di hijabnya yang begitu kuat, " tutur Skala, menatap kearah Devia yang masih setia menutup matanya.
Urat-urat leher Albian begitu nampak dengan tatapan yang menajam. Emosi yang sudah di puncaknya dan siap untuk meledak. Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, memejamkan matanya, meresapi amarah yang sudah berapi-api. Albian langsung bangkit dan berjalan keluar dengan langkah cepat. Skala yang melihat kepergian putranya, berteriak memanggil Albian. Ia takut anaknya berbuat hal kasar pada Ria dan itu bisa saja jadi boomerang bagi Albian.
Pria itu berjalan kearah Ria yang masih di kerumuni oleh ibu-ibu yang tadi. Albian berjalan mendekati gadis tersebut dengan aura yang sangat menyeramkan , menerobos dengan kasar dalam gerombolan ibu-ibu yang hampir jatuh tersungkur karna dorongan Albian, yang memaksa mereka menyingkir.
Ria yang berjongkok dengan menangis terisak-isak, perlahan mengangkat kepalanya, mendongak ketika melihat seseorang berdiri di depannya. Senyuman terbit dari bibir Ria, ia langsung bangkit dan memeluk Albian erat.
"Albian, mereka jahat,mereka semua nyakitin aku, " adu Ria , menunjuk satu persatu ibu-ibu yang membully dan menyakiti dirinya.Sedangkan Rere berdecih sinis pada Ria.
Albian menatap datar Ria, yang masih memeluk dirinya.
Bukk....
__ADS_1
Ria jatuh , hingga tersungkur ke tanah , Albian tiba-tiba mendorong dirinya dengan kasar. Ia menatap Albian dengan air mata yang berderai.
"Ka-kamu kenapa dorong aku, Albian? Tanya Ria di sela tangisnya, seakan lupa atas perbuatan.
Albian berjalan cepat kearah Ria, lantas menarik kasar rambut panjang gadis yang tengah mengaduh kesakitan. Ria langsung bangkit dari tanah ketika Albian menarik rambutnya dengan kasar dan cengkraman yang kuat.
" Albian sakit...Hiks... Aku salah apa, sama kamu? "Tanya Ria , berusaha melepaskan tangan Albian di rambutnya.
Albian tersenyum miring, menatap Ria dengan kabut amarah yang begitu nampak di matanya. Senyuman yang cukup mengerikan bagi Ria yang sudah bergerak ketakutan.
"Jadi kamu bertanya, kamu salah apa? " Tanya balik Albian dengan intonasi pelan , mendekatkan wajahnya pada Ria yang langsung memalingkan wajahnya, takut dengan tatapan mata pria yang ada di depannya.
"Akhh... Sakit, " ringis Ria, merasakan sakit di pipinya yang di cengkram Albian begitu kuat.
"Aku penyesal telah membantu seseorang yang merupakan parasit , menghancurkan semuanya termasuk sudah berani menyakiti Mamah ku!! " Bentak Albian yang begitu emosi.
"Aku bukan parasit atau seorang penghancur. Aku hanya membela diri, apakah aku harus diam saja saat Mamah kamu menyakiti aku, hah?! " Bentak Ria balik dengan air mata yang terus berguguran.
"Kau... " Albian menatap geram pada Ria, yang seolah adalah korban.
Albian mengangkat tangan kanannya , siap mendaratkan tamparan pada Ria. Tapi sebelum tangan itu menyentuh gadis tersebut yang nampak memejamkan matanya, seolah pasrah dengan tamparan yang akan di berikan Albian padanya.
"Albian!! " Panggil Skala ,berteriak .Ia yang berjalan kearah Albian , yang perlahan menurunkan tangannya, menatap kearah sang Papah.
__ADS_1
"Albian, Papah tidak pernah mengajari kamu untuk berbuat kasar pada seorang perempuan. Sesalah apapun Ria, bukan berarti kamu boleh berbuat kasar padanya termasuk menampar. Kamu bisa saja jadi tersangka atas kasus menganiayaan, " tegur Skala, menatap kearah Ria yang nampak kacau dan berantakan, entah apa yang di lakukan putranya pada gadis tersebut.
"Papah, kenapa membela dia?Ria telah berani menyakiti Mamah, dia harus mendapatkan yang setimpal dengan perbuatannya, " ujar Albian tidak terima dengan ucapan sang Papah.
Skala menghela napas panjang, menepuk-nepuk bahu Albian.
"Kita serahkan ini semua dengan pihak berwajib, " ujar Skala. Ria langsung membulatkan matanya. Ia tidak mau masuk penjara, apalagi harus mendekam di sana untuk waktu yang cukup lama.
Albian dan Skala tersentak kaget, saat Ria tiba-tiba bersimpuh di depan mereka berdua, dengan melipat kedua tangannya, memohon.
"Om, saya mohon jangan penjarakan saya. Kalau saya di penjara bagaimana nasib anak saya, Raja. Dia masih kecil, dia tidak punya siapa-siapa selain saya,om. " Mohon Ria memegangi kaki Skala.
Albian menatap sinis pada Ria, "Kamu pikir memohon seperti ini, akan membuat kami iba, hah?! Apalagi membawa-bawa anak kamu dengan masalah ini , agar kami kasihan dan melepaskan kamu begitu saja..... Maka jawabannya tidak! Aku akan memastikan kamu berada di penjara seperti Rayyan." Tunjuk Albian tepat di wajah Ria.
Sedangkan, seseorang yang terus mengamati itu, mengepalkan tangannya kuat. Bibirnya berdesis, menyebut nama Albian dengan penuh dendam.
Skala nampak diam, seolah memikirkan tentang anak Ria, bila gadis ini di penjara maka Raja tidak ada yang menjaga. Apalagi Raja seumuran dengan cucunya, Queen. Ada rasa tidak tega di benak Skala untuk memenjarakan Ria. Apalagi melihat gadis ini memohon-mohon seperti ini.
Albian mengambil ponselnya yang ada di saku celana, ketika berbunyi notifikasi yang masuk ke ponselnya. Senyuman langsung memancar dari wajah tampan Albian ketika mendapatkan pesan dari Laura.
Ia tersenyum-senyum dengan balasan chat Laura. Sepertinya ada harapan, yang akan menjadi kenyataan, bila ia bisa mendapatkan Laura yang akan menjadi istrinya.Skala mengkerutkan dahinya melihat Albian yang awalnya marah-marah, sekarang tersenyum-senyum seperti orang yang tengah di mabuk cinta. Ria menatap kearah Albian, seakan penasaran, siapa yang sedang berchatan dengan pria itu, hingga Albian bisa berubah moodnya yang tadi marah sekarang tersenyum-senyum.
__ADS_1