
Laura berjalan menyusuri jalan raya yang sudah lumayan sepi. Ia berjalan dengan kaki pincang, dan menenteng dua sepatunya. Hidupnya tidak pernah jauh dari kata selalu sial.Uang yang di berikan Albian, habis dia belikan makan dan minum di restoran.Kalau tidak makan apa ia harus membiarkan magnya kambuh, begitu?
Tes...
Cairan kental itu kembali menetes dari hidung Laura. Ia menghela napas lelah dengan semua ini. Laura membuka tasnya, mengambil tissu, menyumpal hidungnya agar darah itu tidak mengenai bajunya.
"Kenapa hidup aku harus seperti ini? Aku hidup cuma menunggu kematian itu datang. Orang lain taunya aku bahagia, mereka tidak tau dengan keadaan aku. TUHAN AKU CAPEK!! SETIDAKNYA SEBELUM MATI, AKU INGIN MERASAKAN DICINTAI OLEH KAK ALBIAN!! " Teriak Laura di akhir kalimat.
Laura menghapus air matanya kasar. Ia kembali mencambut tissu yang menyumpal hidungnya yang sudah berubah menjadi warna darah keseluruhan karna terlalu banyak darah yang keluar. Ia kembali menyumpal hidungnya dengan tissu yang baru. Rasa pusing perlahan mendera, tapi ia harus kuat agar cepat sampai rumah. Bahaya bila pulang terlalu malam. Sebenarnya dia tidak enak tinggal di rumah tante Devia, padahal rumahnya juga ada di Jakarta. Tapi Maminya malah menitipkannya dengan tante Devia. Entah apa yang di rencanakan Maminya.
Laura mendongak, menatap ke langit yang mulai di tutupi awan hitam. Bintang dan bulan perlahan menghilang karna di tutupi awan yang sangat menghitam.
"Sial! Pasti mau hujan. Mana masih jauh jarak rumah tante Devia. Apa aku pulang ke rumah aku aja?" Monolog Laura.
Hujan tiba-tiba turun begitu deras, membuat Laura memekik kaget karna bajunya jadi basah dan umpatan kasar yang keluar dari mulutnya. Laura berlari ke sebuah halte dengan berlari terpincang-pincang. Ia mengusap wajahnya kasar.
Gadis dengan rambut pirang itu, memeluk dirinya yang mengigil kedinginan. Giginya bergemelutuk dan bibirnya bergetar, kedinginan. Laura mengusap-ngusap kedua telapak tangannya dan menempelkan ke pipi sekiranya memberikan kehangatan.
"Aduh! Mana ponsel aku kehabisan batre.Kenapa kesialan terus datang silih berganti? Uang aku sudah habis, batre ponsel habis, kedinginan dan sekarang apa lagi? " Ujar Laura kesal sendiri.
Jedarrrr...
Suara petir yang memekikan telinga membuat Laura berteriak ketakutan. Hal yang paling ia takuti adalah adalah suara petir. Gadis itu berjongkok di dekat kursi panjang halte dengan menyumpal kedua telinga dengan jari telunjuknya.
"MAMI, PAPI! LAURA TAKUT!! " Teriak Laura, terisak-isak menangis.
Suara gemuruh hujan,petir dan guntur yang saling bersahutan. Angin yang bertiup cukup kencang, membuat Laura semakin ketakutan. Bajunya sampai basah semua karna angin berhembus kearahnya membuat air hujan mengenainya.
Sebuah benda yang cukup hangat menutupi tubuhnya. Laura mendongak menatap Albian yang menutupi tubuhnya dengan sebuah jaket.
"Kenapa belum pulang. Saya sudah memberikan kamu uang! " Ucap Albian dengan sedikit ketus.
Laura langsung memeluk tubuh tegap Albian.Tidak memperdulikan bila pria ini akan mendorong atau memarahinya karna saat ini ia benar-benar ketakutan dan juga kedinginan.
Albian menghembuskan napas kasar. Ia menggiring Laura masuk ke dalam mobilnya dengan satu tangan yang memegangi payung . Ia membukakan pintu mobil depan.
"Cepat masuk ," suruh Albian dengan nada memerintah.Laura langsung masuk ke dalam mobil.
"Lutut kamu kenapa sampai luka? " Tanya Albian yang baru masuk mobil.
"Tadi jatuh. " Jawab Laura dengan kepala yang tertunduk. Albian menggelengkan kepalanya. Ia mengambil air mineral di sisi pintu mobil dan langsung meluruskan kaki Laura, menyiramnya sedikit dengan air, membuat Laura sedikit kaget.
__ADS_1
Albian memberikan obat merah, membuat Laura meringis kesakitan.
"Kak sakit, ssstt. " Ringis Laura, mengigit bibir bawahnya.
"Tahan sedikit lagi, " ujar Albian. Ia menempelkan hansaplast bergambar bintang.
"Lain kali jangan ceroboh." Ujar Albian datar .
"Iya, kak maaf sudah merepotkan kakak. " Ujar Laura tertunduk.
"Kamu memang selalu merepotkan, baru nyadar sekarang! " ketus Albian. Laura meringis mendengar ucapan Albian.
πππππ
Melahirkan.....
Cia menggenggam tangan Alvian erat, dengan butiran keringat yang membasahi dahinya. Alvian mengusap dahi Cia dengan lembut.
"Ayo buk sedikit lagi, " ujar dokter yang tersebut.
"Aku nggak kuat hiks.... Sakit.... Mas. " Ringis Cia makin erat mengenggam tangan suaminya.
Pria itu mendekatkan bibirnya di telinga Cia, membacakan ayat suci Al-Quran yang dia hafal dan juga sholawat . Berharap Cia lebih tenang lagi dan semoga Allah mempermudah Cia untuk melahirkan.
Alvian juga tidak bisa menahan air matanya melihat Cia berjuang setengah mati untuk melahirkan buah cinta mereka berdua. Ia bisa merasakan apa yang di rasakan istrinya sekarang. Seakan genggaman tangan Cia pada tangannya, menyalurkan apa dia rasakan Cia sekarang.
"Ayo ibu.... Kepalanya sudah mau keluar!" Ujar dokter tersebut.
"Arrrggghhh.... " Cia mengejan begitu kuat dengan tenaga yang sudah hampir habis.
HoekkΒ hoekk
Suara tangisan bayi berjenis kelamin perempuan , menggema di seluruh ruangan tersebut. Bayi yang sangat gemuk, kulit putih bersih walau di penuhi noda darah. Alvian meneteskan air matanya melihat anaknya yang sudah lahir untuk pertama kalinya. Ia menatap Cia yang sudah tidak berdaya lagi.
"Sayang anak kita sudah lahir" Ujar Alvian mencium kening Cia. Gadis itu tersenyum dengan wajah yang nampak begitu pucat.
Suster menyerahkan bayi yang begitu mirip wajahnya dengan Cia. Alvian menyambut bayinya. Ia menatap anaknya dengan mata yang berkaca-kaca, terharu. Bayi itu mengecap-ngecap dengan mata yang masih terpejam seakan ingin meminum ASI. Alvian mencium pipi gembul bayinya dengan gemas. Tubuh bayi yang di balut kain berwarna biru itu di serahkan pada Cia yang ingin melihat wajah anaknya.
"Mas, anak kita cantik ya, " ujar Cia memperhatikan wajah bayi tersebut dengan saksama.
Devia, Skala, Dirga dan Nevia langsung masuk ke dalam ruangan persalinan setelah mendengar suara isakan tangisan bayi dan dokter juga sudah mengijinkannya.
__ADS_1
"MasyaAllah, cantiknya cucu nenek" ujar Devia menatap kagum pada bayi yang berada di Cia.
"Iya, wajahnya mirip seperti Cia ." Sahut Nevia memperhatikan setiap lekuk wajah bayi tersebut.
"Mamah mau gendong ,boleh ? " Tanya Devia yang langsung di angguki Cia.
"Iih, lucunya cucu nenek. " Devia mencium gemas pipi bayi tersebut.
"Kalian berdua mau namain anak kalian apa? " Tanya Skala yang memperhatikan Devia dan Nevia sibuk dengan cucu mereka berdua. Wajar bila dua wanita paruh baya itu sangat bahagia karna ini merupakan cucu pertama.
"Namanya Queenza Farasya Dewi ." Jawab Alvian.
"Nama yang sangat bagus dan sangat cocok untuk nama anak kalian berdua. " Ujar Skala.
"Queenza, cucu oma yang paling cantik. " Ujar Nevia.
Hoekk hoekk
Bayi itu menangis begitu kencang dengan wajah yang begitu memerah setelah Alvian memberikan nama untuknya.
"Cia kamu beri ASI dulu, mungkin dia haus. " Ujar Dirga yang di angguki Cia.
"Kalau begitu kami keluar. Biar Cia istirahat dan bayinya juga tenang, mungkin dia menangis karna suara kami yang begitu berisik. " Ujar Dirga yang di angguki semuannya.
"Jaga, Cia dan Queen baik-baik, " ujar Skala menepuk bahu Alvian pelan.
Mereka semua keluar dan kini tinggal Cia, Alvian dan bayi yang begitu kuat menyusu karna mungkin kehausan.
"Mas, kayaknya Queenza kehausan banget ya? " Ujar Cia yang terus memperhatikan Queenza.
"Iya, eh. Aku lupa mengazani Queenza. " Ujar Alvian.
Alvian mengambil Queenza dari Cia, membuat bayi itu menangis kencang karna belum puas meminum ASI. Alvian mengazani putri kecilnya dengan suara sedikit lantang. Bayi itu langsung tenang mendengar suara azan Alvian. Ia mengemuti jarinya seakan suara azan Alvian memberikan ketenangan.
Cia tersenyum memperhatikan putrinya. Ia mengusap air mata yang lolos tiba-tiba antara terharu dan bahagia. Bersyukur pada Allah yang telah memberikan anggota baru yang menambah kebahagiaan keluarga kecilnya.
...πΈTAMATπΈ...
***Saya ucapkan terima kasih yang sudah membaca cerita yang saya buat. Mohon maaf bila cerita saya tidak sebagus yang lain dan kepenulisan yang masih banyak kekurangannya untuk di perbaiki lagi . Dan saya minta maaf bila ada tulisan saya yang menyinggung perasaan kalian semua pada reader , tolong maafkan saya π.
Terima kasih untuk semuanya β€***
__ADS_1