Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Kabar bahagia


__ADS_3

Selamat tahun baru untuk para readers 😆🎉


Kalian tahun baru kemana? Kalau aku tahun baru update cerita! Karna tempat ternyaman bagi aku adalah kamar dan sambil berhalu😅


Semoga di tahun 2022 ini kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi .Dan apapun yang kita inginkan segera terwujud di tahun 2022,aamiin😌


Karna percuma ngomong, semoga di tahun 2022 menjadi lebih baik lagi, kalau sholat shubuhnya masih bolong, canda bolong😂😂


Sebaik-baiknya, bacaan adalah Alquran 📖


Happy Reading


Rama mengangkat tubuh mungil Cia yang sudah tidak sadarkan diri . Wajah Cia sudah pucat, namun suhu tubuhnya masih normal setelah di cek oleh Rama. Pria itu membawa Cia ke parkiran, ia berniat ingin membawa gadis ini ke rumah sakit.


Rama berjalan dengan tergesa-gesa melewati beberapa  mahasiswa yang menatap penasaran kearah mereka berdua di sepanjang koridor kampus.Suara bariton yang cukup keras, membuat langkah kaki Rama terhenti. Semua mahasiswa menatap kearah Alvian termasuk Rama yang diam membeku. Aura yang cukup menyeramkan mulai menyeruak dari Alvian yang memasang wajah dingin, datar dan tatapan mata yang mengarah pada satu arah dengan tatapan tajam, yaitu pada Rama yang sudah beberapa kali meneguk ludahnya kasar.


Alvian berjalan dengan langkah lebar mendekati Rama. Para mahasiswa memberikan jalan pada dosen yang terkenal akan ke pelitan nilai dan peraturannya yang luar biasa ketat.


"Kamu apa'kan dia? " tanya Alvian dengan tenang namun penuh penekanan.


"Dia tiba-tiba pingsan, pak. Jadi saya berniat membawa dia ke rumah sakit " jawab Rama berusaha tenang walau rasa gugup lebih mendominasi.


Alvian menyipitkan matanya, mencari kebohongan dari mata Rama. Tapi yang dia dapatkan adalah ke jujuran dari Rama.


"Kalau begitu, berikan Cia pada saya. Biar saya yang membawa dia ke rumah sakit " ujar Alvian hendak mengambil Cia dalam gendongan Rama.


"Tidak usah, pak. Biar saya saja " tolak Rama mundur satu langkah.


Alvian mendengus "Biar saya yang membaca Cia ke rumah sakit!" ujar Alvian merebut Cia secara paksa dari gendongan Rama.


"Tapi pak-" ucapan Rama terpotong.


"Apa?!Cia sudah menjadi tanggung jawab saya. Dan terimakasih sudah menolong dia " ujar Alvian melenggang pergi, menggendong Cia.


Rama menatap heran dan bingung pada dosennya, sejak kapan dosen tersebut begitu perhatian pada mahasiswinya.


Alvian membawa istrinya ke parkiran dan memasukkannya ke dalam mobil. Ia meletakkan tubuh Cia sangat hati-hati di jok mobil bagian depan . Alvian langsung bergegas masuk ke dalam mobil dan mengendarai  mobilnya dengan cepat .


"Kamu kenapa sampai pingsan seperti ini, Cia? " lirih Alvian menyentuh dahi Cia, memastikan suhu tubuh istrinya normal.

__ADS_1


Alvian kembali fokus menyetir, ia terus mengenggam tangan Cia dan satu tangannya menyentir mobil. Raut khawatir begitu jelas di wajah Alvian yang beberapa kali menatap istrinya yang masih belum sadar.


Mobil yang di kendarai Alvian memasuki area rumah sakit. Pria itu turun dari mobil dan mengeluarkan Cia dari mobil dengan hati-hati.


"Suster!! Dokter!! " teriak Alvian dengan suara yang cukup keras, membuat para pengunjung rumah sakit menatap  kearah Alvian.


"Ada yang bisa saya bantu, pak? " tanya suster itu dengan sopan.Alvian menatap suster tersebut dengan tatapan tajam.


"Apa kamu tidak lihat, istriku pingsan!" ujar Alvian dengan suara yang meninggi.


Suster itu nampak ketakutan melihat wajah menyeramkan Alvian "M-mari ikuti saya, pak. Ke ruangan pemeriksaan" ujar suster tersebut dengan suara yang terbata-bata.


Alvian mengikuti suster itu dari belakang .


"Bertahan  ya sayang " ujar Alvian dengan suara yang begitu lembut , menatap Cia dalam gendongannya.


Alvian masuk ke ruang pemeriksaan dan membaringkan tubuh Cia di brankar.


"Tunggu sebentar ya  pak. Saya panggilkan dokter Rey dulu " ujar suster tersebut.


Alvian langsung memincingkan matanya, mendengar ucapan suster tersebut. Bila yang akan memeriksa istrinya adalah dokter pria.


"Saya tidak mau yang memeriksa istri saya dokter pria!Harus dokter wanita yang memeriksa keadaan istri saya" ujar Alvian dengan nada tak suka dan tidak bisa di bantah.


Alvian terdiam sejenak tengah berpikir, ia menatap Cia sebentar dan menatap kearah suster tersebut seraya mengangguk kepalanya dengan paksa.


Suster itu segera keluar dari ruangan setelah mendapat persetujuan oleh Alvian, bila yang memeriksa pasien adalah dokter pria.


🍁🍁🍁🍁🍁


Dokter Rey masuk ke ruang pemeriksaan. Ia langsung mengambil alat-alatnya yang sudah di sediakan oleh suster. Alvian terus memperhatikan gerak-gerik dokter tersebut.


Dokter Rey memang alat testoskop di kedua telinganya. Ia membuka satu kancing baju Cia bersiap untuk memeriksa tapi tangannya langsung di cekal oleh Alvian dengan memberikan tatapan membunuh pada dokter tersebut.


" Kamu jangan kurang ajar dengan istri saya! Kamu mau apakan dia?! "bentak Alvian pada dokter berumur 29 tahun itu.


" Saya ingin memeriksa keadaan istri bapak. Saya harus memeriksa detak jantungnya, normal atau tidak. Saya juga tidak akan berbuat macam-macam pada istri bapak. Saya berkerja dengan profesional "ujar dokter Rey.


" Awas kamu macam-macam dengan istri saya. saya patahkan leher kamu "ancam Alvian, yang melepaskan cekalan tangannya di pergelangan dokter Rey.

__ADS_1


Dokter itu kembali memeriksa keadaan Cia,dalam pengawasan Alvian yang bersedekap dada.


" Bagaimana, keadaan istri saya?"tanya Alvian yang langsung mengancingkan baju atas Cia.


Dokter Rey menggelengkan kepalanya melihat ke posesifan Alvian. Baru kali ini dia menemui suami seposesif ini pada seorang istri.


"Anda tidak usah khawatir dengan keadaan istri anda. Karna setelah saya periksa .... Istri anda tengah mengandung. Ini masih diagnosa saya, kalau ingin lebih detil lagi anda bisa periksakan pada dokter kandungan" ujar dokter Rey.


Alvian diam mematung sejenak. Sebuah senyuman mereka di wajah tampannya. Raut bahagian tidak bisa di sembunyikan oleh Alvian.


"Istri saya hamil?! " tanya Alvian lagi, memastikan.


"Iya, istri anda hamil" jawab dokter Rey.


Alvian langsung memeluk dokter Rey karna saking bahagianya.Sedangkan pria berjas putih itu hampir tak bisa bernapas karna pelukan erat Alvian.


"Terimakasih dokter, atas kabar bahagia ini " ujar Alvian melepaskan pelukannya.


Alvian langsung mendekati brankar. Ia mencium kening Cia dengan lembut "Terimakasih, sayang. Aku mencintaimu " bisik Alvian di telinga Cia.


"Kalau begitu, saya permisi dulu " ujar dokter Rey yang di angguki Alvian.


Cia perlahan membuka matanya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali,menyesuaikan cahaya di ruangan ini.Bau obat-obatan yang begitu menusuk di indra menciuman ,Cia,membuat dia tau di mana dia berada sekarang. Orang pertama yang di lihat adalah Alvian yang nampak tersenyum sumringah menatapnya.


Cia memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing.


"Apa yang sakit, sayang? Aku panggilkan dokter ya? " ujar Alvian yang di balas gelengan oleh Cia.


"A-aku mau minum" ujar Cia suara yang begitu serak.


Alvian dengan cekatan mengambil segelas air putih di atas nakas dan membantu Cia bangun dari brankar untuk bisa dengan mudah meminum air putih.


Cia kembali di baringkan oleh Alvian dengan hati-hati di brankar. Pria itu tak henti-hentinya tersenyum, membuat kening Cia berkerut melihat tingkah suaminya yang nampak berbeda.


"Bapak kenapa? " tanya Cia heran.


"Tidak apa-apa" ujar Alvian mengusap kepala Cia dengan lembut.


Sedangkan Cia merasa ada yang di sembunyikan oleh Alvian. Tidak mungkin suaminya itu terlihat sangat bahagia, karna sangat jelas dari raut wajah Alvian, kecuali ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.

__ADS_1


Alvian akan mengabarkan berita bahagia ini pada seluruh keluarganya terutama keluarga Cia. Ia juga akan mengatakan hal ini pada istrinya setelah sampai di rumah. Sebenarnya Alvian tampak ragu mengatakan ini pada Cia. Ia hanya takut gadis ini tidak menerima bila tengah mengandung anaknya. Alvian ingat betul, saat Cia sangat marah bila dirinya sudah menggauli gadis ini. Bisa saja'kan Cia juga tidak menerima bila dirinya tengah hamil.


Bersambung...


__ADS_2