Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Ekstra part 13


__ADS_3


Happy reading


Sebaik-baik bacaan adalah Alquran


Rima menangis meraung-raung menatap putranya di masukkan ke dalam liang lahat. Semua orang termasuk rekan kerja dan teman Rayyan hadir dalam pemakaman tersebut. Mengantarkan Rayyan untuk ke peristirahatan terakhirnya.


"Rayyan!!Jangan kubur anak ku, dia masih hidup! " Rima berteriak menahan penggali yang mengubur jasad Rayyan. Wanita paruh baya itu begitu hancur sangat hancur, putra kandungnya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Ibu mana yang tidak hancur dengan ke pergian putranya. Ke pergian yang meninggalkan luka yang sangat mendalam baginya.Separuh nyawanya seolah menghilang karna ke pergian Rayyan. Tubuh Rima meluruh ke tanah Merah yang basah karna hujan  gerimis yang memgiringi tangisannya.


"Kamu kenapa meninggalkan Mamah sendirian Rayyan, Mamah tidak sanggup hidup tanpa kamu hiks......, "


"Mamah sudah ke hilangan Papah kamu dan kamu___Sekarang ninggalin  Mamah," Rima menangis berderai, memeluk nisan Rayyan. Baju putih yang di pakai Rima berubah menjadi kotor.


Ke pergian Rayyan menyisakan duka bagi orang-orang yang menyayanginya. Hanya sesal yang kini menggerogoti hati Rima. Sekarang ia sendirian dan hanya bisa mengingat semua hal tentang ke bersamaannya dengan putranya, Rayyan semasa hidup . Ke hilangan,untuk ke dua kalinya dan bahkan ini lebih menyakitkan setelah ke hilangan suaminya.


"Sudah, tante yang sabar ya. Menangis seperti ini tidak akan membalikkan keadaan, ikhlaskan Rayyan supaya dia tenang di alam sana, " ujar Siska yang juga terpukul dengan ke pergian Rayyan.


Siska  memeluk Rima dari samping. Wanita paruh baya itu menutup matanya dengan tangisan yang sesegukan. Tubuhnya begitu lemas. Ke pergian Rayyan membuat ia tidak berdaya lagi. Tidak ada gairah untuk menjalani hidup ini tanpa sosok putranya yang sangat ia sayangi.


Aldi juga hadir dalam pemakaman tersebut. Air mata terus menetes dari balik kaca mata hitam. Sekuat apa pun ,dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis apa lagi berusaha kuat.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sudah dua hari  Ria di rawat di rumah sakit untuk proses pemulihan pasca operasi mata. Dan hari ini perban di matanya akan di buka. Rasanya tidak sabar untuk melihat lagi tanpa tahu seseorang yang telah mendonorkan matanya telah pergi untuk selamanya tanpa Ria ketahui.


Aldi perlahan membuka perban di mata Ria, dengan rasa sesak apa lagi saat melihat mata Rayyan yang di donorkan pada Ria,membuat pria itu semakin mengingat almarhum sahabatnya itu .Kini ,membuka penutup terakhir di mata wanita tersebut.


"Buka matanya perlahan, " ujar Aldi. Ria perlahan membuka matanya, penglihatan yang awalnya buram kini perlahan mulai jelas.

__ADS_1


"Aku bisa melihat, " ujar Ria girang. Ia menoleh menatap Aldi yang menatap dirinya datar tanpa ada senyuman di bibirnya, membuat Ria perlahan mengalihkan pandangannya ke arah lain, seraya menelisik ruangan di sana mencari keberadaan Rayyan.


"Rayyan, mana? " tanya Ria melihat Aldi yang menatap dirinya lekat seolah mencari sesuatu di balik matanya.


Brak....


Suara pintu yang di buka dengan kasar membuat Ria mau pun Aldi menatap ke arah asal suara . Di ambang pintu Rima berdiri dengan wajah yang memerah dan aura kemarahan yang terpancar di wajahnya.


Ria menatap takut pada Rima dengan tubuh bergetar, mengingat bagaimana wanita paruh baya itu menyakitinya.


Rima berjalan cepat ke arah Ria dengan emosi yang menggebu-gebu.....


Plakk


Tamparan yang begitu kuat Rima layangkan  pada wajah Ria yang terhempas ke samping dengan darah yang tiba-tiba keluar dari robekan sudut bibir Ria.


"Pembunuh! Kamu pembunuh anak ku, Rayyan! Gara-gara mendonorkan mata pada kamu, Rayyan meninggal!!" Rima menjambak rambut Ria seperti orang ke setanan. Aldi melerai Rima yang tak mau melepaskan jambakannya pada Ria yang awalnya bahagia kini menangis dengan hati yang begitu remuk.


Plakk


"Kamu wanita pembawa, sial! Rayyan meninggal gara-gara kamu! Aku harus ke hilangan anak ku!! "ujarnya dengan suara yang bergetar menahan tangis.


" Rayyan, tidak mungkin meninggal hiks.... Dia tidak mungkin meninggal, "Ria menggelengkan kepalanya kuat, tidak percaya dengan pernyataan yang di lontarkan Rima.


Air mata tidak bisa di bendung lagi oleh Ria. Memukul-mukul dadanya yang begitu sesak, menahan sakit dan kembali merasakan ke hilangan orang yang mulai ia sayangi untuk ke sekian kalinya.


" Tante lebih baik keluar. Dan saya katakan sekali lagi, Rayyan meninggal karna penyakit yang sudah lama dia idap, dan bukan Ria penyebab Rayyan meninggal, "ujar Aldi.


Rima menatap nyalang pada Aldi, dengan mata yang memerah dan sembab.


" Apa pun penyebabnya yang membuat Rayyan meninggal, tetap wanita itu yang membuat RAYYAN MENINGGAL!! "Teriak Rima di akhir kalimat.

__ADS_1


Rima berjalan ke pintu keluar. Sebelum benar-benar pergi dia menatap ke arah Ria yang menatap kosong.


" Aku peringatkan pada kamu Ria. Aku akan membalas semuanya termasuk akan mengambil penglihatan yang sudah Rayyan berikan pada kamu, "ancam Rima penuh penekanan dan ucapannya yang penuh luka.


Ria menatap nanar ke pergian Rima dengan hati yang begitu perih seperti di iris-iris. Air matanya numpah begitu banyak, hatinya hancur berkeping-keping. Lebih baik dia yang mati dari pada harus ke hilangan Rayyan.


" Obati dulu di bibir kamu, "ujar Aldi menarik wajah Ria agar menghadap ke arah dirinya.


" Aku tidak mau di obati! "Ria menggelengkan kepalanya,menghindari kapas yang sudah di olesi alkohol untuk di usap pada sudut bibirnya.


" Yang luka bukan hanya fisik aku tapi hati aku. Aku lebih mati saja dari pada hidup tapi di benci semua orang!"


Aldi menatap geram pada Ria. Dia bukan tipe seperti Rayyan yang bisa sabar menghadapi seorang wanita yang kekanak-kanakan seperti Ria.


Pria itu mengambil pisau di meja yang biasanya untuk memotong buah.


"Ini ambil!Sekarang silakan bunuh diri!" Aldi memberikan pisau pada Ria .


"Dan Raja akan menderita hidupnya karna tidak ada yang menjaga mau pun menyayanginya. Mungkin Raja akan di buang ke panti asuhan oleh tante Rima, " ujar Aldi, membuat Ria tampak berpikir dengan pernyataan Aldi.


"Ayo, sekarang ambil pisaunya, katanya mau bunuh diri, " ujar Aldi, Ria menggelengkan kepalanya.


"Jangan buat pengorbanan Rayyan sia-sia," ujar Aldi yang meletakkan pisau tersebut ke tempatnya.


Dengan gerakan cepat pria itu langsung mengusap sudut bibir Ria yang luka tadi.


Bersambung...


**Jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, komen, vote atau hadiah.


Terima kasih😆**

__ADS_1


__ADS_2