Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Periksa kandungan


__ADS_3

...Cinta sejati tau kemanaΒ  ia harus pulang...


...(Winda)...


Hembusan semilir angin malam menerpa wajah pucat Cia yang berdiri di balkon kamar. Ia menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang begitu terluka. Pipinya yang chubby kini tampak begitu tirus, badannya yang berisi kini sangat kurus.


Satu minggu sudah Alvian telah meninggalkan dirinya. Harapannya Alvian akan kembali semakin menipis.Pria itu sudah mengingkari janjinya yang akan kembali. Apa ia harus mengakui bila Alvian memang sudah meninggal dunia dan menghilangkan harapannya bila Alvian akan kembali pelukannya.


"Mas, apa kamu memang benar-benar sudah meninggalkan aku untuk selamanya? Dan membiarkan aku menderita di sini tanpa kehadiran kamu. Kalau iya,maka aku tidak akan sanggup apalagi harus mengandung buah cinta kita seorang diri. Aku enggak sanggup mas harus membesarkan anak kita seorang diri hiks....Aku ingin seperti wanita lain saat hamil, suaminya selalu ada di sampingnya memberikan perhatian hiks.... Hiks.... " Cia menangis dengan tubuh bergetar hebat hingga tak mampu mengeluarkan suara isakan tangisan. Ini benar-benar sangat sakit.


Dia sangat merindukan perhatian Alvian. Ciuman, pelukan, perhatian , suara lembut suaminya dan aroma tubuh Alvian. Ia benar-benar tak berdaya saat ini, separuh hidupnya sudah pergi meninggalkan dirinya seorang diri.


"A-aku merindukan usapan lembut tangan hangat kamu mengusap perut aku, mas.Cepat pulang jangan jadikan harapan aku sia-sia menunggu kamu kembali. Jangan biarkan aku membesarkan anak kita seorang diri, mas " Cia menangis sesegukan dengan air mata yang sudah mengering di pipinya.


Nevia membekap mulutnya. Menahan isakan tangisannya di balik pintu balkon. Ia juga menderita melihat putrinya yang begitu terpuruk . Nevia tidak bisa membayangkan bila Cia membesarkan anaknya seorang diri tanpa ada figur seorang suami dan ayah bagi cucunya.


Tuhan memberikan ujian begitu berat pada Cia. Gadis yang selalu ceria kini begitu rapuh dan membutuhkan seorang Alvian yang mungkin tidak akan kembali.


🍁🍁🍁🍁🍁


Cia memperhatikan suami yang mengusap perut buncit istrinya dengan kasih sayang dan raut bahagia dari keduanya. Cia mengusap perutnya dengan air mata yang menetes . Iri,Β  melihat wanita yang memeriksa kandungannya di dampingi suaminya.


Sedangkan dirinya harus memeriksakan kandungannya seorang diri. Cia menghapus air matanya kasar. Rasa sesak dan hati yang begitu perih kembali menyergap. Apalagi sebagian besar wanita yang memeriksa kandungannya di temani suaminya.


"Mas, aku enggak sabar menunggu anak kita lahir " ujar wanita yang duduk di sebrang Cia.


"Iya, sayang. Tapi kamu jangan banyak beraktivitas ya" ujar pria tersebut mengusap rambut istrinya lembut.

__ADS_1


"Iya, mas.Pasti anak kita sangat mirip sama kamu kalau dia laki-laki, tampan" ujar wanita tersebut tertawa.


"Dan bila dia perempuan pasti sangat cantik seperti kamu " goda pria tersebut mencolek dagu istrinya.


Cia memalingkan wajahnya melihat pemandangan yang membuat hatinya makin sakit.


"IBU FELICIA!" panggil suster tersebut.


Cia berdiri dari tempat duduknya.


"Silahkan masuk, ibu Felicia" ujar suster tersebut .


Cia masuk ke dalam ruangan dokter spesialis kandungan. Yang dia lihat seorang dokter perempuan tersenyum ramah dan mempersilahkan dirinya duduk di kursi.


"Tidak bersama suaminya? " tanya dokter tersebut.


Cia hanya menanggapi dengan tersenyum tipis. Dokter itu mengangguk kepalanya seakan paham dengan senyuman Cia yang begitu nampak kepedihan dan terluka di balik senyuman tersebut.


"Kedua-duanya dokter" jawab Cia .


"Kalau begitu silahkan berbaring di brankar " ujar dokter.


Cia bangkit dari tempat duduknya. Ia berbaring di brankar di bantu oleh seorang suster. Dokter itu pun memberikan Gel di atas permukaan perut Cia sebelum melakukan USG.


"Perkembangan janin ibu lumayan baik" ujar dokter tersebut.


Cia tersenyum melihat janinnya yang masih berbentuk seperti segumpal darah belum berbentuk di layar monitor. Tapi senyuman itu perlahan memudar, andai Alvian ada di sini pasti pria itu juga akan bahagia melihat perkembangan buah hati mereka berdua.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


Seorang pria yang terbaring di brankar setelah koma satu minggu perlahan membuka matanya.Ia memgerjab-ngerjabkan matanya beberapa kali menyusaikan cahaya di ruangan tersebut. Bau obat-obatan begitu menusuk di indra penciuman.


Pria yang tidak lain adalah Alvian nampak meringis merasakan sakit di bagian perutnya dan alat-alat medis yang menancap di wajahnya. Alvian masih mengenakan selang oksigen.


"Syukur bapak sudah sadar " ujar suster yang telah selesai mengganti cairan infus milik Alvian.


"Saya panggil dokter Made dulu ya " ujar suster tersebut keluar dari ruangan tempat Alvian di rawat.


Alvian menatap langit-langit rumah sakit. Ia mengingat saat pesawat yang ia tumpangi akan jatuh ke laut. Alvian memegangi perutnya yang tertusuk kaca jendela pesawat. Saat pesawat akan jatuh ke permukaan laut, ia berusaha memecahkan jendela pesawat karna pintu darurat pesawat tidak boleh di buka oleh pramugari dengan alasan demi keselamatan.


Dalam pikirannya saat ini bayangan wajah Cia terus muncul . Ia tidak ingin meninggalkan istrinya apalagi dalam keadaan mengandung. Hanya doa dan lafal sholawat yang terus ia dengungkan sambil berusaha memecahkan jendela pesawat meski ia tau apa resikonya.


"Bagaimana keadaan tubuh anda? Apa ada yang sakit ? " tanya dokter Made.


"Perut saya sakit dok" jawab Alvian dengan suara yang serak dan lemas.


"Nanti suster akan memberikan obat penghilang rasa nyeri. Kalau boleh tau nama bapak siapa? " tanya dokter Made karna pihak rumah sakit tidak mendapatkan identitas Alvian ataupun barang seperti dompet atau KTP untuk menghubungi keluarga Alvian.


"Nama saya Alvian Fraya Sadewa" jawab Alvian.


"Baiklah bapak Alvian. Saya ingin memberitahukan bila anda di temukan oleh pelayan di pesisir pantai dengan keadaan perut yang terluka dan hanya menggunakan.... Boxer" ujar dokter Made sedikit menahan tawa.Pria dengan jas putih itu memang sedikit receh.


Alvian meringis mendengarnya . Ia melepaskan seluruh pakaiannya agar tubuhnya muat keluar dari jendela kaca pesawat.


Bersambung....

__ADS_1


SAYA & ALVIAN BELIKE:πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


SELAMAT ANDA KENA PRANKπŸ˜…


__ADS_2