Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Tetap menunggu


__ADS_3

...Aku tidak bisa membayangkan bila hidup tanpa kamu , membesarkan anak yang ada dalam kandungan ku seorang sendiri...


...(Felicia) ...


Bendera kuning terpasang di rumah Alvian dan Cia tempati sekarang.Semua orang datang berbondong-bondong ke rumah tersebut untuk melayat , sekedar mendoakan dan mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya menantu Dirga dan juga suami dari Felicia.


Cia meringkuk di kasur, memeluk baju Alvian untuk mengobati rasa rindunya yang kian makin menjadi-jadi. Mencium aroma tubuh Alvian yang masih melekat di kaos hitam yang di pakai Alvian terakhir kali sebelum berangkat ke bandara.


Sorot mata yang begitu kosong. Kantung mata yang menghitam begitu jelas terlihat di bawah mata Cia.Gadis ini semalaman belum tidur. Ia masih tidak percaya bila suaminya telah meninggal. Alvian sudah janji akan kembali satu minggu lagi dan dia yakin suaminya akan kembali. Yah, suaminya akan kembali.


"Mas , cepat kembali. Aku sangat merindukan kamu. Apakah kamu tidak merindukan aku dan anak kita " Cia mencengkram baju Alvian dengan dada yang begitu sesak.


Matanya menatap pada bingkai foto pernikahan mereka berdua di atas meja. Dulu dia memang tidak mengharapkan pernikahannya dengan Alvian dan ingin pisah dari pria itu tapi sekarang ia tidak bisa jauh dan hidup tanpa pria tersebut.


"Mas.... Hiks... Cepat pulang. Aku yakin kamu tidak akan mungkin meninggalkan aku. Tepati janji kamu, mas Alvian. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu hiks...." suara isakan tangisan mengisi ruangan yang kedap suara tersebut. Air mata sudah tidak keluar lagi dari mata Cia.


Tokk tokk


"Cia buka pintunya, nak. Kamu belum makan dari kemaren! " teriak Nevia dari depan pintu kamar putrinya dengan pakaian serba hitam.

__ADS_1


"Sayang buka pintunya. Jangan seperti ini, nak. Kamu harus makan, setidaknya demi anak dalam kandungan kamu, Cia! "Nevia makin mengeraskan ketukan pintunya.


" Bagaimana? Apa Cia belum mau membuka pintu? "tanya Dirga yang baru datang.


Nevia menggelengkan kepalanya dengan sorot mata yang begitu sedih . Dirga menghela napas kasar. Rasa khawatir dan gelisah mulai merayap di pikiran kedua orang tua Cia . Dirga takut putrinya akan berbuat macam-macam di dalam kamar yang membahayakan dirinya sendiri.


Tokk tokk


" CIA, BUKA PINTUNYA!! ATAU AYAH DOBRAK PINTUNYA CIA . CIA BUKA PINTUNYA!!"teriak Dirga begitu keras seraya menggedor-gedor pintu tapi tidak ada respon sama sekali.


Dirga membenturkan tubuhnya ke pintu kamar sang putri. Mendobrak pintu tersebut hingga terbuka.


Brakk


Nevia menarik Cia dalam pelukannya. Gadis itu seakan pasrah di peluk sang bunda. Cia seperti mayat hidup, tampak jelas di sorot matanya yang tidak memiliki gairah hidup. Dirga menengadahkan kepalanya keatas menghalau air mata yang akan jatuh. Hatinya berdenyut sakit melihat keadaan putrinya sekarang. Cia seperti tidak punya semangat hidup sama sekali.


"Sayang makan dulu, ya? Nanti kamu sakit, terus anak kamu juga butuh asupan makanan,nak" ujar Nevia mengusap perut Cia.


Cia menggelengkan kepalanya lemah di dalam pelukan Nevia.

__ADS_1


"Aku mau makannya di suapin mas Alvian. Aku mau mas Alvian yang nyuapin aku bunda hiks.... Aku enggak mau makan, aku maunya mas Alvian " tangis Cia kembali pecah dan terdengar sangat menyayat hati bagi yang mendengarnya termasuk kedua orang tua gadis tersebut.


Dirga mulai geram dengan tingkah Cia yang masih mengharapkan Alvian yang nyata-nyatanya sudah meninggal dunia. Pria itu menarik lengan Cia secara kasar membuat Nevia yang memeluknya tersentak kaget .


"Dengerin ayah, Cia " ujar Dirga menangkup wajah Cia yang menatap mata sang ayah dengan tatapan kosong "ALVIAN SUDAH MENINGGAL, ALVIAN SUDAH MENINGGAL, CIA!!APA YANG HARUS KAMU HARAPKAN LAGI, CIA. SADAR NAK ALVIAN SUDAH TIDAK ADA LAGI! JANGAN BOHONGIN DIRI KAMU SENDIRI DENGAN MENGANGGAP ALVIAN MASIH HIDUP! SAMPAI KAPANPUN ALVIAN TIDAK AKAN KEMBALI!!" teriak Dirga menyadarkan Cia yang terus mengharapkan Alvian.


Cia menepis tangan kasar ayahnya yang memegangi wajahnya. Ia menatap marah pada Dirga dengan mata yang memerah.


"MAS ALVIAN MASIH HIDUP AYAH! AKU YAKIN MAS ALVIAN AKAN KEMBALI! DIA SUDAH JANJI AKAN KEMBALI KEPADA KU ,JADI AYAH JANGAN MENGATAKAN KALAU MAS ALVIAN SUDAH MENINGGAL. POLISI DAN TIM SAR BELUM MENEMUKAN JASAD MAS ALVIAN ITU BERARTI MAS ALVIAN MASIH HIDUP!! " teriak Cia tak kalah nyaring dengan napas memburu .


Plakk


Dirga melayangkan tamparan begitu keras di pipi kanan Cia. Wajah gadis itu langsung terhempas ke samping dengan sudut bibir yang sudah robet dan mengeluarkan darah segar. Bekas tamparan yang dilayangkan Dirga begitu jelas di pipi gadis tersebut. Cia terdiam dengan wajah yang begitu syok, ia tidak pernah di tampar terutama dari Dirga, ayahnya yang selalu bersikap lembut padanya.


"Mas! " tegur Nevia yang menatap marah pada suaminya.


"Sayang kamu enggak papakan, nak? " ujar Nevia meraih wajah Cia menunduk. Air mata jatuh begitu saja melihat pipi kanan putrinya yang lebam dan luka di sudut bibir. Tangannya terulur mengusap darah yang menetes dari sudut bibir Cia.


"Mas, kamu boleh marah dengan sikap Cia yang seperti ini. Tapi tidak harus menyakiti dia. Bukan hanya luka di hatinya yang membuatnya sakit tapi luka fisiknya, mas!! Aku tau kamu ingin menyadarkan Cia, tapi tidak harus seperti ini. Kamu bukan hanya melukai Cia tapi juga aku " ujar Nevia menunjuk dirinya.

__ADS_1


Dirga menatap telapak tangannya. Ia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya.


Bersambung....


__ADS_2