
Albian memperhatikan penampilan dirinya di depan cermin, sambil menyisir-nyisir rambutnya. Ia tersenyum melihat tampilannya yang sempurna dan tampan. Pria itu juga memakai tuxedo berwarna hitam agar semakin gagah, berwibawa dan makin tampan ,agar Laura makin jatuh cinta padanya.
Albian tersenyum-senyum di depan cermin. Tidak lupa memakai parfum ber-aroma manly, milik Alvian kembarannya. Alvian yang baru masuk ke dalam kamarnya terkejut melihat Albian berada di kamarnya.
"Kamu ngapain di sini! " Sentak Alvian, membuat Albian kaget, mengusap-ngusap dadanya.
"Aku minjam tuxedo kamu sama minta parfum ya. Aku mau ,nanti pas pulang ke rumah, Laura melihat aku dan semakin cinta. " Ujar Albian percaya diri.
"Iya aku doa'in. Tapi kamu harus ingat jangan dekat-dekat lagi sama Ria. Kalau kamu sampai menjalin kedekatan sama Ria, sudah pasti kamu tidak akan bisa mendapatkan Laura, karna Ria mencintai kamu dan sudah pasti akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kamu, " peringat Alvian.
"Iya, itu pasti. Aku menyesal terlalu baik pada Ria dan percaya dengannya. Aku sadar tidak semua perempuan menganggap kebaikan yang di lakukan oleh seorang pria padanya, di anggap hanya sebuah pertolongan semata tapi juga menganggap bila pria itu menyukainya padahal tidak . " Ujar Albian, nampak menyesal, menyesal karna menghabiskan waktu untuk membantu Ria bukan mengejar balik Laura.
"Sekarang , kamu harus semangat. Pasti Laura mau memaafkan kamu dan semoga mau jadi istri kamu tanpa harus melakukan hubungan pacaran. Sebelum jalur kuning belum melengkung, masih halal bagi kamu merebut Laura dari Dafi, hahaha.... " Ujar Alvian tertawa di akhir ucapannya, dan menepuk-nepuk bahu Albian pelan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Albian dan Alvian duduk di kursi di meja makan. Cia mengangkat panci berisi soup daging yang di taruh di meja makan dan sudah di letakkan serbet, tempat meletakkan panci agar meja tidak rusak . Queen duduk di kursi di sebelah Alvian, mengumuti potong apel oleh Cia.
Albian menatap gemas pada Queen yang sangat mirip dengan Cia. Apalagi matanya yang persis seperti Alvian. Queen tersenyum kearah Albian, mengangkat tangannya , hendak memberikan potong apel di tangannya pada Albian.
"Pel... Ca... Oom(Apel mau oom)" tawar Queen pada Albian dengan bahasa bayinya.
"Apelnya buat Queen aja. Om mau makan soup aja, sayang. " Ujar Albian, mencium pipi Queen yang basah.
Cia menuangkan satu persatu soup pada masing-masing mangkok . Pertama ia berikan soup pada Alvian baru pada Albian.
"Ayo di makan dulu, " ujar Cia.
"Sayang, kamu nggak makan? " Tanya Alvian , menatap lekat istrinya.
__ADS_1
Cia tersenyum. "Aku nanti, mas. Queen belum makan. Setelah Queen sudah selesai aku makanin, baru aku makan. Gak tega aja kalau aku makan duluan tapi Queen belum. " Jawab Cia.
"Ya sudah ,nanti setelah aku selesai makan, nanti gantian. Kamu yang makan. Badan kamu kurus , sayang. Harus banyak makan ya? " Ujar Alvian yang di angguki Cia.
Albian memperhatikan interaksi suami-istri itu, rasanya ia ingin secepatnya menikah. Bukan hanya sekedar sebuah keinginan untuk menikah tapi umurnya yang beberapa tahun lagi akan memasuki kepala empat.
🍁🍁🍁🍁🍁
Albian turun dari mobilnya yang berhenti di depan pelantaran rumah. Ia berjalan menuju pintu masuk dengan buket bunga yang baru ia beli sebelum pulang ke rumah ini. Albian masuk ke dalam rumah, ia mengkerutkan dahinya melihat dalam rumah yang sangat kosong. Biasanya Mamah atau adik-adiknya selalu berada di ruang tamu atau ruang keluarga.
Pria itu menyusuri setiap sudut rumah , tidak menemukan satu orang pun dalam rumah ini.
"Den Albian " Panggil Daus, yang merupakan sopir pribadi Skala.
Albian menoleh, menatap kearah Daus.
"Pak Daus, Semuanya kemana? " Tanya Albian.
"Anu den,semuanya pada ke rumah sakit. Non Laura di larikan ke rumah sakit. " Jawab Daus, takut Albian ayok.
Albian menjatuhkan buket bunganya mendengar pernyataan Daus. Tanpa pikir panjang, pria itu berlari ke luar rumah dengan wajah yang nampak panik, khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan Laura.
*****
Devia berlari,memegangi tangan Laura yang mulai dingin. Darah terus keluar dari hidung Laura, hingga menodai baju gadis tersebut.
Laura langsung di masukkan ke dalam ruangan UGD oleh suster.
"Maaf, bapak dan ibu di larang masuk. " Suster tersebut menutup pintu ruangan tersebut. Devia menatap nanar.
__ADS_1
Albian berlari masuk ke rumah sakit. Ia hampir terjatuh karna ingin segera bertemu dengan Laura. Langkah Albian terhenti melihat Mamahnya yang menangis di pelukan sang Papah, membuat jantung Albian semakin berdegub kencang, takut terjadi hal yang buruk pada Laura . Ia mendekati kedua orang tuanya dengan langkah yang pelan.
"Mamah, Papah, " panggil Albian, membuat keduanya menoleh.
Devia langsung berlari kearah Albian, memeluk tubuh putranya dengan isakan tangisan.
"Laura, Albian, Laura hiks... "
"Laura , kenapa, Mah? " Tanya Albian membuncah tubuh Devia.
Devia menatap Albian dengan mata yang begitu sembab.
"Laura, menderita menyakit Leukimia, stadium tiga. Dokter mengatakan, Laura harus segera di operasi hiks... " Jawab Devia terisak-isak.
Albian yang mendengar itu seakan tidak bisa menghirup oksigen beberapa detik dengan pernyataan Devia. Rasa bersalah makin menyelimuti hati Albian yang dulu selalu menyakiti Laura dan sekarang gadis itu bertarung nyawa antara hidup dan mati.
"Dokter juga mengatakan, operasi tidak menjamin Laura akan selamat. Mamah bingung Albian, bila tidak di operasi penyakit itu akan semakin menggerogoti Laura tapi..... Bila di operasi untuk berhasil cuma 35%."
Albian meluruhkan tubuhnya ke lantai, hingga bersimpuh di depan Devia. Tatapan matanya kosong dengan air mata yang menetes. Ia menggelengkan kepala cepat, tidak ingin kehilangan Laura.
******
Suster sibuk memasang alat di tubuh Laura. Suster tersebut menatap layar monitor yang menampilkan gambar detak jantung pasien mulai melemah.
Suster itu segera keluar dari ruangan.
Albian, Devia dan Skala melihat suster yang keluar dari ruangan tempat Laura di tangani dengan wajah yang nampak panik . Albian ketakutan setengah mati , takut Laura kenapa-kenapa.
Seorang dokter dan suster berjalan bersamaan masuk ke dalam ruangan itu kembali. Albian meremas ujung jasnya dengan kuat.
__ADS_1
"Ya Allah selamatlah Laura. Hamba janji akan segera menikahi dan membahagiakan Laura .Jangan ambil Laura dari Hamba. " Batin Albian.
Bersambung...