
Tiga hari berlalu . Dan Albian belum juga membuka matanya, Laura selalu setia menemani suaminya. Berang sedikit pun ia tidak pernah meninggalkan Albian. Bahkan untuk makan pun terkadang Lily atau Devia yang sering mengantarkan ke rumah sakit untuk Laura yang tidak mau keluar dari ruang rawat Albian.
"Kakak kapan sadar dari koma?Sudah tiga hari kakak menutup mata. Apa sebegitu nyamannya hingga kakak tidak mau membuka mata kakak? Jangan buat aku makin khawatir dan takut kak. Dokter mengatakan kakak hanya koma selama dua hari___Tapi ini sudah tiga hari. "Ujar Laura mengenggam tangan Albian.
Gadis itu menunduk. Menumpukan kepalanya di punggung tangan Albian. Ia hanya bisa menangis dan berdoa semoga suaminya cepat sadar dan sehat kembali. Kenapa Tuhan memberikan ia cobaan saat kebahagiaan itu baru ia dapat. Kenapa kesedihan selalu menghinggapi dirinya terus-menerus. Apakah karna dosa dan kesalahan yang pernah ia perbuat hingga tidak ada habis-habisnya masalah datang.
Sebuah usapan yang begitu pelan di kepala Laura. Membuat gadis itu tersentak, ia perlahan mengangkat kepalanya. Air mata yang tadinya menggenang di pelupuk mata, kini berjatuhan.
" Kakak, "lirih Laura menatap Albian yang perlahan membuka matanya.
Gadis itu langsung bangkit dari kursinya. Ia memencet bel di samping brankar agar suster ataupun dokter untuk segera datang ke sini.Laura beralih menatap Albian dengan air mata yang mengucur.TanganΒ Laura bergemetar saat menangkup wajah sang suaminya yang menatap sayu padanya.
" Kakak, "Laura mencium kening Albian dan menempelkan dahinya pada dahi pria itu.
Ceklek....
Suster dan dokter masuk ke dalam ruangan tersebut. Laura langsung menjauhkan dirinya dari Albian. Ia mengusap air matanya dengan senyuman yang terukir di wajahnya. Dokter langsung memeriksa keadaan Albian yang diam tanpa mengeluarkan suara.
" Alhamdulillah. Keadaan pasien baik-baik saja. Hanya perlu masa pemulihan pada luka yang ada di bagian perut pasien, "ucap dokter tersebut. Laura menganggukan kepalanya, tidak lupa mengucapkan syukur sebanyak-banyaknya pada Tuhan .
" Iya, dok. Terimakasih, "ucap Laura lirih.
" Kalau begitu saya pamit undur diri. Nanti suster akan mengantarkan obat pereda nyeri, karna luka di perut pasien bisa saja menimbulkan rasa sakit tiba-tiba. "Pungkas dokter tersebut. Laura menganggukan kepalanya.
" Akhirnya kakak sadar, "Laura memeluk Albian yang masih diam.
" H-haus. "Ucap Albian dengan terbata-bata.Laura melepaskan pelukannya. Ia dengan segera mengambil gelas air putih dan membantu Albian bangkit untuk bisa minum.
Laura kembali meletakan gelas tersebut ke tempatnya. Ia mengenggam tangan Albian dengan senyuman syarat akan kebahagiaan.
" K-kamu siapa? "Tanya Albian dengan wajah bingungnya menatap Laura yang langsung melunturkan senyumannya.
" Aku istri kakak. Aku, Laura. Apa kakak hilang ingatan? "Tanya balik Laura yang sudah panik.
__ADS_1
" Kamu bukan istri saya.Bahkan saya merasa tidak pernah menikah, "timpal Albian dengan suara yang pelan.Laura langsung terdiam tak bergeming lagi.
" Aku istri kakak, "Laura menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis terisak-isak. Baru saja ia bahagia dan sekarang___Kebahagiaan itu hilang seketika.
" Aku bercanda, kenapa malah menangis? "Ucap Albian terkekeh. Laura perlahan menurunkan tangannya.
" Bercandanya nggak lucu! "Laura langsung memukul bahu Albian lumayan kencang. Membuat pria itu merintih kesakitan.
" Sudah, Laura. Jangan di pukul lagi. Aku baru sadar , seharusnya di peluk atau di cium, "ucap Albian yang memegangi kedua tangan Laura yang terkepal.
" Makanya jangan bercanda. Aku takut kakak benar-benar amnesia, "Laura mengerucut bibirnya. Ia duduk di samping brankar Albian yang menatap dirinya.
" Ternyata kamu mencintai aku ya. Sampai matanya bengkak seperti ini, "ujar Albian, perlahan mengulurkan tangannya mengusap pipi Laura.
" Tapi sangat mencintai kakak, lebih tepatnya.Aku tidak ingin kehilangan kakak, "ucap Laura. Albian tersenyum tipis mendengar pernyataan sang istri yang entah mengapa malah membuatnya bahagia.
πππππ
" Akhirnya kamu sadar juga dari koma. Kami berdua sampai membatalkan Honeymoon, setelah mendengar kamu masuk rumah sakit, "ujar Alvian yang berdiri di samping Albian.
" Ya, tidak mungkin aku tega, pergi bersenang-senang dengan Cia.Sedangkan kamu bertarung antara hidup dan mati. Tapi untung kamu masih hidup, kasihan Laura bila jadi janda muda, "gurau Alvian yang langsung di tatapan tajam Albian.
" Mamah, liat Alvian, "adu Albian layak seperti anak kecil. Devia tertawa dan mengusap kepala Albian..
" Jangan bicara seperti itu Alvian. Seharusnya kamu mendoakan Albian supaya cepat sembuh dan segera pulang ke rumah, "ucap Devia bijak.
" Iya, Mah, "sahut Alvian dengan wajah bersalahnya.
" Abang ini makan dulu, buahnya."Dira menyodorkan satu potong buah jeruk yang sudah di kupas. Pria itu langsung memakannya.
"Terima, adik ku Dira, " ucap Albian dengan senyuman yang mengembang.
"Papah mana? " Tanya Albian yang tidak melihat keberadaan Skala.
__ADS_1
"Papah kamu di kantor polisi. Karna Revan berhasil di tangkap. Kemaren pria itu melarikan diri keluar kota. Untung polisi dengan cepat menemukannya, kalau tidak___Bisa saja si Revan itu kembali berulah, " ujar Devia. Sedangkan Albian manggut-manggut.
"Alhamdulillah.kalau Revan di tangkap. Jadi aku tidak was-was lagi. Aku hanya takut pria itu kembali menyakiti Laura. " Ujar Albian menatap lurus menerawang.
"Abang mau makan apa? Nanti Shalla belikan." Tawar Shalla berdiri di samping Albian.
"Tidak usah. Abang sudah kenyang, " ujar Albian mencubit pipi adik ke-tiga nya itu pelan.Shalla tersenyum dan membalas mencubit pipi Albian dengan pelan. Ia memeluk pria itu erat.
"Abang jangan sampai luka seperti ini lagi ya?Aku dan semuanya takut kehilangan abang, " ujar Shalla perlahan melepaskan pelukannya.
"Iya, sayang. Maaf membuat kalian semua khawatir, " ujar Albian menatap semua orang termasuk kepada Laura yang tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
πππππ
Satu minggu berlalu. Albian di perbolehkan pulang dari rumah sakit, karna kondisinya yang sudah mulai pulih. Pria itu hanya cukup banyak-banyak beristirahat dan di usahakan untuk tidak mengangkat beban berat karna luka di perutnya yang masih belum sembuh total.
Laura membuka pintu apartemen . Ia mendorong kursi roda yang di duduk Albian yang belum kuat untuk berjalan. Gadis itu membantu Albian bangkit dari kursi roda dan membaringkannya di kasur. Ia juga melepaskan sepatu yang melekat di kaki Albian.
"Terima kasih, sayang. Sudah sabar merawat aku, " ujar Albian, membuat gerakan Laura yang tengah meletakan sepetu ke lantai terhenti.
"Ini sudah ke wajiban aku sebagai seorang istri, kak. Jadi jangan terus mengucapkan terima kasih terus, " ujar Laura beralih duduk di samping Albian yang sudah duduk bersandar di bahu ranjang.
"Aku sangat beruntung mendapatkan kamu, Laura. Setelah banyak luka yang aku torehkan di hati kamu, " ujar Albian meletakan jari telunjuknya dada Laura.
Gadis itu menurunkan tangan Albian, dan menggenggamnya.
"Aku lebih beruntung lagi mendapatkan kakak. Dan jangan mengingat masa lalu yang membuat kakak jadi merasa bersalah. Lebih baik kita menatap masa depan kita nanti . Dan semoga aku secepatnya mendapatkan Albian junior, " ujar Laura mengusap perut ratanya.
"Sepertinya aku hanya harus lebih ebtra lagi, agar kamu segera hamil, " ujar Albian yang di akhiri tawa.
"Ish, kakak, " Laura mengulum senyumannya dengan pipi yang sudah memanas karna tersipu malu.
Pria itu menarik Laura dalam pelukannya. Ia mencium pucuk kepala sang istri yang menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya.
__ADS_1
Tandai bila typo ya:))
...πTAMATπ...