
Rayyan turun dari mobil. Ia langsung mengeluarkan Ria dari dalam mobil dengan hati-hati. Pria itu memilih membawa Ria ke rumahnya. Rayyan masuk ke dalam rumahnya. Ia berjalan ke arah kamarnya dan membaringkan Ria di kasur dengan pelan.
"Abi, kita di mana? " tanya Ria, mengenggam tangan Rayyan yang hendak Pergi . Iya, Rayyan menyembunyikan identitas aslinya dari Ria karna perempuan tersebut begitu membenci dirinya, sangat benci . Ia memperkenalkan dirinya sebagai Abi.
"Kamu ada di rumah aku. Kamu tunggu di sini . Aku akan memanggil Bibi untuk mengganti pakaian mu, " ujar Rayyan yang beranjak meninggalkan Ria.
Riaย bersyukur ,Abi yang tidak lain Rayyan telah menyelamatkan dirinya. Kalau tidak ada pria itu entah apa yang akan terjadi padanya. Mungkin ia sudah di jamah banyak pria itu memuaskan nafs* mereka.
*******
Rayyan kembali masuk ke dalam kamar setelah bibi Murni mengganti pakaian Ria. Ia berjalan mendekati Ria yang duduk di tepi ranjang, tampak melamun. Tangan besarnya menyentuh pundak wanita tersebut yang langsung terkejut.
"Kamu sedang memikirkan apa, hmm? " tanya Rayyan duduk di sebelah Ria.
Wanita tersebut tersenyum. Lebih tepatnya senyuman yang tersirat akan luka yangย begitu dalam di hati nya yang begitu rapuh. Ia memikirkan bagaimana nasib anaknya yang sudah lama berpisah darinya. Apalagi ia harus mengalami ke butaan mata seperti ini. Rasanya ia ingin mati saja. Tidak ada guna nya hidup yang ada hanyaย merasakan penderitaan dalam hidup ini.
"Aku hanya memikirkan nasib ku ke depannya. Aku sudah tidak berharga lagi sebagai seorang perempuan. Hidup ku selalu di hiasi penderitaan dan tangisan. Semua orang yang aku sayang di ambil satu persatu. Lalu apa alasan ku untuk tetap bertahan hidup, " lirih Ria dengan air mata yangย lolos begitu saja.
Rayyan menatap Ria dengan rasa bersalah yang begitu membuncah. Hatinya begitu perih pendengar ucapan Ria. Paru-paru nya seperti di remas begitu kuat , membuat ia merasakan sesak. Kalau boleh meminta, timpakan'lah semua kesedihan dan penderitaan Ria padanya. Kalau perlu matanya ia donorkan pada perempuan tersebut agar bisa melihat kembali.
"Kamu jangan merasa sendiri. Ada aku, kita hadapi semuanya bersama. Jangan jadikan semua masalah yang kamu hadapi adalah akhir dari segalanya. Setiap masalah pasti ada solusinya dan penderitaan yang kamu rasakan tidak akan mungkin selalu menerpa ke hidupan kamu terus. " Rayyan menggengam tangan mungil Ria.Ia bisa merasakan gejolak yang berbeda di hatinya saat bersentuhan fisik dengan tangan Ria seperti aliran listrik yang menyengat ke seluruh tubuhnya.
Pandangan Rayyan jatuh pada bibir ranum Ria, merah alami, tipis dan mungil. Ia seolah tergiur dengan bibir yang sudah beberapa kali ia cicipi.Rayyan meneguk saliva nya susah payah. Apalagi mulut Ria sedikit terbuka. Ia akui kalau ia mudah tergoda dengan sesuatu yang membuat hasratnya bangkit. Bukan karna ia nafs*an tapi hyper s*x yang ia derita.
Info:
Hiperseksualitas atau hyper s*x adalah gangguan yang membuat seseorang mengalami kecanduan s*x. Seseorang dengan kondisi ini memiliki dorongan seksual yang sangat kuat dan terobsesi pada hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas seksual, tidak hanya hubungan s*x.
Rayyan yang sudah tidak tahan lagi mendekatkan wajahnya pada Ria yang masih belum sadar dengan terpaan hembusan napas Rayyan pada permukaan wajahnya. Hingga......
Tubuh Ria langsung mematung. Dengan mata yang membola sempurna. Sebuah benda padat dan lembab menempel sempurna di bibirnya.Hingga hidung Ria dan Rayyan bersentuhan.
__ADS_1
Ria yang mulai tersadar langsung mendorong dada kokoh Rayyan, hingga pria itu jatuh terjungkal di lantai. Meringis kesakitan, memegangi pinggangnya. Sementara Ria mengusap bibirnya dengan kasar.
"Kamu jangan kurang ajar! Bukan berarti karna aku buta, kamu bisa berbuat semaunya dengan ku! " Ria meraba-raba barang yang ada di meja untuk berjaga-jaga bila Rayyan kembali menyerangnya.
"Maaf tadi aku khilaf, " ujar Rayyan merebut vas bunga dari tangan Ria yang siap melempar tepat di wajahnya. Sudut bibir Rayyan melengkung, melihat wajah ketakutan Ria yang malah tampak menggemaskan.
"Sini, " Rayyan menarik tangan Ria.
"Lepas! Apa yang kamu lakukan. Jangan kurang ajar, " Ria memukul tangan Rayyan yang memegangi pergelangan tangannya.
Wanita itu langsung terdiam ketika Rayyan membawanya ke dalam pelukan pria tersebut. Rayyan mengusap punggung Ria dengan lembut, yang perlahan membuat wanita yang tengah di peluk tersebut merasakan kenyamanan yang tidak bisa di ungkapan dengan kata-kata. Jantungnya berdegup begitu kencang dengan rasa gugup yang mendominasi.
"Maaf.... " Satu ucapan yang terlontar di bibir Rayyan dengan suara yang dengar serak dan berat, membuat Ria yang mendengar itu meremang.
๐๐๐๐๐
Seorang gadis yang tengah duduk di kursi, menatap jam yang melingkar di tangannya. Hari ini ia akan bertemu dengan pria yang akan di jodohkan dengan dirinya. Tentu, iya sangat senang sekali, apalagi pria yang akan di jodohkan dengan dirinya memiliki wajah yang sangat tampan sesuai dengan kriteria nya.
"Maaf terlambat, "
Suara bariton seorang pria yang begitu berat dan serak membuat Siska perlahan mendongak. Matanya melebar melihat Rayyan berdiri di sampingnya. Ia refleks bangkit dari kursi.
"Iya tidak apa-apa. Silahkan duduk, " ujar Siksa begitu gerogi. Ia membenarkan rambutnya yang terurai untuk menghilangkan rasa gugup yang menerpa.
Rayyan mendudukkan dirinya di kursi. Tepat berhadapan dengan Siska yang tersenyum malu-malu. Pria itu hanya memasang wajah begitu datar, kalau bukan paksaan sang Mamah ia tidak mungkin menemui gadis ini.
"Kamu mau apa? Biar aku pesankan, " ujar Siksa yang terus tersenyum.Gadis itu menggerakkan tangannya memanggil pelayan .
"Jadi___Kamu pesan apa? " tanya Siksa, agar semakin akrab dengan Rayyan yang lebih banyak diam. Tapi itu tidak masalah bagi Siska. Toh , nanti setelah mereka menikah pasti pria ini akan mulai merubah sikapnya yang dingin menjadi lebih hangat pada dirinya.
๐๐๐๐๐
__ADS_1
Byurrr...
Air langsung menghempas ke tubuh Ria yang tengah terlelap di tidurnya, hingga baju yang di kenakan nya basah kuyup. Wanita itu mengaduh kesakitan, merasakan tarikan yang begitu kuat dan kasar di rambutnya.
"Bagus ya! Seharusnya kamu tidak muncul lagi tapi tiba-tiba tidur dengan enaknya di rumah saya! " Rima mendorong kasar kepala Ria.
Sedangkan wanita tersebut tidak asing dengan suara itu. Suara wanita yang telah merebut anaknya dan orang tua dari Rayyan. Pria yang sangat ia benci.
"Raja, Raja mana?! Anak saya mana!Kembalikan Raja, " Ria meraba-raba sekitar.
Rima tersenyum sinis pada Ria.
Plakk
Bukannya jawaban yang ia dapat tentang anaknya. Tapi sebuah tamparan yang sangat keras mengenai pipi Ria yang langsung jatuh tersungkur ke lantai.
"Akh...... Sakit...Sst... " Ria meringis kesakitan merasakan telapak tangannya yang di injak oleh Rima, menekan begitu kuat hingga darah keluar dari tangan Ria karna sepatu hak tinggi milik Rima.
"Ampun.... Sakit hiks..... Sakit...."
Rima makin menekan lebih kuat lagi.
"Kamu lebih pantas mati Ria. Tidak ada gunanya kamu hidup. Dunia tidak pantas untuk wanita kotor dan menjijikkan seperti kamu, "
Buk...
Rima menendang wajah Ria hingga darah segar keluar dari hidung wanita tersebut. Ia mencengkram dagu Ria dengan kasar.
"Sekarang pergi dari sini! Kalau perlu kamu mati! Gara-gara kamu Rayyan melawan dengan saya, karna membela kamu Rayyan berani membentak saya , sialan! " Rima menghempaskan wajah wanita tersebut dengan kasar.
Air mata Ria meluruh begitu deras. Bibirnya bergetar.Jadi pria yang merawat dan menolongnya itu adalah Rayyan bukan Abi. Ria memukul-mukul dadanya begitu kuat,meluapkan rasa sakit hatinya. Kenapa hidupnya harus seperti ini. Kenyataan yang begitu menyakitkan. Kenapa semesta kembali mempertemukan dirinya dengan pria yang sudah menghancurkan semuanya.
__ADS_1
Bersambung...