Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Season 2:Eps 21


__ADS_3

Laura tidak henti-hentinya meremas gaun pengantin yang kini sudah melekat di tubuhnya sekarang. MUA mengolesi make up di wajah gadis tersebut yang nampak begitu tegang dari raut wajahnya. Hari ini adalah hari yang begitu menegangkan bagi Laura dan juga menjadi momentum paling bersejarah baginya yang akan melepas masa lajangnya yang baru menginjak umur 20 tahun dan akan berstatus menjadi istri dari Albian Fraya Sadewa, beberapa jam lagi.


Pernikahan Laura dan Albian di laksanakan di sebuah gedung yang cukup besar dan luas untuk menampung banyaknya tamu undangan yang rata-rata rekan bisnis Skala dan Rian, ayah Laura. Teman-teman Albian dan juga Alvian yang kebanyakan seorang dosen juga datang ke pernikahan ini.


"Jangan tegang, Laura.Nanti make up kamu luntur, lihat wajah kamu berkeringat, " ujar Lily mengambil tissu dan melap dengan pelan wajah Laura yang tiba-tiba berkeringat dingin.


"Aku gugup banget Mommy, " jawab Laura, Lily tersenyum mendengar itu.


"Memang seperti itu Laura, kalau mau nikah ,pasti gugup dan juga tegang. Tapi kamu bawa tenang dan rileks ya. Kan yang mengucapkan ijab qobulnya Albian, kamu cukup duduk di samping Albian dan diam, " ujar Lily terkekeh menjelaskan  itu, membuat Laura mengerucutkan bibirnya.


"Iih, Mommy. Walaupun aku hanya diam dan duduk, tapi tetap gugup tahu, Mom, " gerutu Laura.


Lily membelai pipi putrinya yang baru selesai di make up oleh MUA, hanya tinggal memasang mahkota di kepala Laura.


"Dulu juga Mommy, gugup pas mau nikah sama Papih kamu. Bahkan Mommy saking gugupnya nggak sanggup untuk jalan karna kaki Mommy gemetaran, " tutur Lily, membuat Laura makin tertarik mendengar cerita sang Mommy, perlahan rasa gugupnya mulai mereda.


"Terus, terus , bagaimana Mommy bisa jalan, apakah Mommy di gendong? " Tanya Laura dengan raut wajah yang penasaran.Lily mencubit pipi putrinya dengan gemas.


"Bukan di gendong, tapi di papah sama Oma dan teman-temannya Mommy , termasuk tante Devia juga ikut . Mommy di papah sampai ke pelaminan karna benar-benar nervous. Jadi kamu jangan kayak Mommy, kalau bisa berusaha tenang ya, " ujar Lily yang menasehati Laura yang menganggukkan kepalanya.


"Sudah selesai, " ujar petugas yang memasang mahkota di kepala Laura.


Laura menatap pantulan bayangannya di cermin. Ia baru sadar sesudah di make up wajahnya begitu berubah, lebih cantik, nampak anggun dan lebih terlihat dewasa, karna pasalnya wajahnya ini tampak seperti anak remaja bila tidak memakai make yang sedikit tebal.


Devia masuk ke dalam kamar rias. Ia mendekati Laura dan Lily yang menatap ke arah pantulan cermin. Bahkan baju kebaya yang di gunakan Devia dan Lily sekeluarga sama persis karna memang itu kesepakatan mereka sekelut agar semua tamu undangan tahu bahwa mereka keluarga mempelai pria dan wanita. Kebaya yang berwarna gold dengan manik-manik yang menempel di kebaya menambah kesan elegan.Sedangkan para pria seperti Skala, Alvian dan Rian, menggunakan tuxedo berwarna gold juga agar nampak serasi saat bersama istri-istri mereka.


"Bagaimana? Apa sudah selesai riasnya, " tanya Devia, membuat Laura dan Lily menoleh.


"Sudah, Devia. Tinggal  keluar , menuju pelaminan. " Sahut Lily.


Devia mendekati Laura, memegangi kedua pundak calon menantunya. Memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung rambut penampilan Laura yang begitu cantik dan manis.Ia tersenyum menatap kearah Lily dan beralih melihat kearah Laura yang tersenyum kikuk.


"Kamu cantik, Laura  . Pasti Albian klepek-klepek kalau melihat penampilan kamu , " ujar Devia sedikit bersenda gurau. Lily menahan tawanya mendengar ucapan Devia, apalagi wajah Laura sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Ya sudah, ayo kita ke pelaminan. Para tamu undangan dan penghulu sudah menunggu, " ujar Devia.


"Albian sudah datang, tante?"Tanya Laura.


" Jangan panggil tante, tapi Mamah sayang. Sebentar lagi kamu jadi menantu Mamah, "terkekeh Devia.


" Maaf Mah. Aku lupa, "sahut Laura cengengesan.


" Jadi, Tan eh maksudnya Mah. Albian sudah datang? "Tanya Lagi Laura. Devia tersenyum.


" Albian sudah di jalan . Jadi kamu tunggu di pelaminan ya. Mungkin beberapa menit lagi sampai, "jawab Devia yang di balas anggukan oleh Laura.

__ADS_1


Gadis itu keluar dari kamar rias menuju ke lantai bawah, tempat resepsi dan akad pernikahan yang akan berlangsung. Laura berpegangan pada tangan Devia dan Lily yang berjalan beriringan di sisi kanan dan kirinya. Tiba-tiba rasa gugup perlahan mulai kembali menghinggapi . Ia seakan tidak sanggup berjalan karna kakinya begitu lemas, apalagi tiba-tiba ia sakit perut, karna saking gugupnya.Laura berkeringat dingin ketika para tamu undangan menatap kearahnya yang menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Bisa di lihat orang-orang menatap kagum pada dirinya yang mungkin memang benar-benar berbeda saat ini, terlihat sangat cantik. Rian, tersenyum melihat putrinya yang berjalan menuju ke pelaminan dengan penampilan yang  sangat cantik. Rasanya ia tidak bisa menahan air mata yang ingin menetes ,karna hari ini ia akan melepaskan Laura kepada Albian yang akan menjaga dan menjadi penanggung jawab kehidupan putrinya nanti.


Walau pun nanti Laura sudah resmi menjadi istri Albian. Ia akan tetap menganggap Laura,  putri kecilnya. Karna sejatinya sedewasa apa pun seorang anak di hadapan kedua orang tuanya, ia akan tetap  seperti anak kecil di mata kedua orang tuanya. Dan itu kenapa seorang ayah siap pasang badan ketika putrinya di sakiti. Dan ibu siap membela putrinya habis-habisan bila ada yang menyakiti. Jadi, tidak ada alasan untuk kita tidak berbakti pada mereka yang merupakan malaikat tidak bersayap bagi anak-anaknya namun memiliki kasih sayang dan cinta yang tulus.


Rian mengulurkan tangannya pada Laura yang langsung di sambut gadis itu saat akan naik ke atas pelaminan. Pria paruh baya itu menggiring putrinya duduk di kursi yang sudah di siapkan, menghadap kearah penghulu yang sudah siap untuk acara akad tersebut.


"Jadi, mana mempelai prianya, waktunya sudah tepat untuk segera akad, " ujar penghulu yang memakai jas berwarna hitam dengan peci.


Rian langsung terdiam, ia menoleh, menatap kearah Skala , Devia dan Lily yang berdiri di bawah pelaminan, seolah bertanya di mana Albian sekarang dengan isyarat mata.


"Mas, kamu sudah telpon Albian? " Tanya Devia .


"Sudah aku telpon, tapi tiba-tiba telponnya tidak aktif, " jawab Skala yang masih berusaha menelpon Albian,menempelkan ponselnya di telinga .


"Kenapa tadi Albian tidak di rias di sini saja daripada di hotel, " gerutu Devia yang sudah panik. Ia tidak tahu kenapa Albian menolak untuk di rias di gedung pernikahan dan kamar rias yang sama dengan Laura.


Laura menatap kearah Papihnya yang menganggukkan kepalanya, seakan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Gadis itu meremas gaun pengantin dengan kuat -kuat, bisik-bisik para tamu undangan mulai berseliweran.


"Apa jangan-jangan calon mempelai prianya kabur, seperti yang lagi viral itu lho," bisik salah satu para tamu undangan yang tidak jauh dari Laura dan masih bisa di dengar oleh gadis itu.


"Mohon tunggu sebentar, calon mempelai pria tengah menuju kemari, sebentar lagi akan sampai, " ujar Skala , berbicara menggunakan microphone agar semua orang yang ada di sana mendengar.


"Bagaimana ini?Kenapa Albian tidak datang -datang, " ujar Rian yang turun dari pelaminan dan berjalan mendekati Skala.


"Mungkin sebentar lagi, sebelumnya Albian mengabarkan sudah di perjalanan, menuju kesini. Albian juga bersama Alvian dan juga Cia. InsyaAllah sebentar lagi mereka akan datang, " ujar Skala yang berusaha tenang. Walau hatinya begitu panik, karna Alvian maupun Cia juga tidak bisa di hubungi.


Setengah jam berlalu tapi tidak ada tanda-tanda Albian akan datang. Laura terus menatap kearah pintu masuk dengan harapan Albian datang. Laura menggigit bibir bawahnya kelu,matanya memanas, berkaca-kaca. Ia seperti hendak menangis dengan hati yang begitu risau dan gelisah. Apalagi semua orang menatap kearahnya, sambil ber bisik-bisik, tentu tengah membicarakannya.


"Maaf saya terlambat! " Albian berdiri di ambang pintu dengan wajah yang nampak lebam di bagian pipi dan pelipis, dan di sampingnya Alvian dan Cia berdiri.


Semua orang menatap kearah Albian yang nampak tersengal-sengal seperti orang yang habis berlari. Ia berjalan mendekati ke pelaminan tempat Laura sekarang duduk. Gadis itu nampak tidak bisa menyembunyikan senyumannya, setelah pikiran-pikiran buruk menghinggapinya tentang Albian yang tidak datang.


Pria itu naik ke pelaminan dan duduk di sebelah Laura yang terus memperhatikan calon suaminya.


"Ini kenapa? " Tanya Laura menyentuh luka yang membiru di pipi Albian,membuat sang empu meringis kesakitan.


"Tidak papa, cuma di jalan sedikit ada kendala, " jawab Albian tersenyum pada Laura.


"Kenapa matanya berair, nangis? " Tanya Albian.


"Ini gara-gara kakak. Lama banget datangnya, aku takut kakak kabur di hari pernikahan kita, " jawab Laura lirih.


"Sekarang kamu tidak usah takut, sekarang saya ada di sini dan siap untuk menghalalkan kamu. " Albian menatap lekat Laura yang tersenyum manis dengan kepala yang tertunduk dengan pipi yang memanas.


"Bisa kita mulai, " ujar penghulu, membuat Albian dan  Laura menghentikan obrolan mereka berdua.

__ADS_1


"Bisa, pak, " jawab Albian.


Rian duduk di sebelah penghulu, menghadap Albian, karna akan menjadi wali nikah putrinya. Sedangkan Skala duduk di tengah-tengah antara Albian Rian di sisi meja.


"Sebelum akad di mulai, apakah Albian menikahi Laura karna saling mencintai? " Tanya penghulu.


"Saya sangat mencintainya sebaliknya juga Laura. " Jawab Albian menatap kearah Laura yang membalas tatapan matanya.


"Apakah kamu hafal doa sebelum berhubungan suami-istri?"Timpal Rian pada Albian yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Hafal,"jawab Albian gugup seolah tidak yakin dengan jawabannya sendiri.


"Bagaimana do'anya, saya mau dengar, " pinta Rian. Albian meneguk ludahnya begitu kasar, ia lupa menghafal do'a tersebut.


"Bacaannya,bismillahirrahmanirrahim, " jawab Albian yang di sambut gelak tawa semua orang termasuk Laura yang tertunduk menyembunyikan wajahnya sudah memerah menahan tawa. Skala menggelengkan kepalanya mendengar jawaban sang putra. Devia menepuk dahinya pelan.


"Bukan itu do'anya. Itu terlalu singkat sedangkan proses buat anak tidak sesingkat itu. Bagaimana bisa mendapatkan keturunan yang sholeh dan sholehah bila do'anya seperti itu. Kamu tidak akan mendapatkan pahala bila tidak membaca do'a . Karna sama halnya saat makan,tidur dan melakukan apapun di wajibkan selalu berdoa,sama halnya berhubungan yang wajib baca itu"nasehat Rian. Albian menggangguk-anggukan kepalanya paham.


" Saya juga berharap kamu bisa menjaga putri saya dengan baik dan penuh kasih sayang. Dari kecil sampai dewasa saya selalu menjaga dan mengawasi Laura. Selalu melimpahkan kasih sayang pada Laura. Kalau putri saya melakukan kesalahan yang fatal sekalipun suatu hari nanti tolong nasehat dia dengan kata-kata yang lembut, bukan dengan ucapan yang menyakitinya , apalagi berbuat kasar dengannya. Kamu boleh bawa dia kemana pun, bahkan ke tempat yang jauh sekalipun. Tapi saya hanya minta satu hal tolong jangan biarkan dia sampai lalai dengan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk mengerjakan sholat, perkara-perkara yang di perintahkan Allah,"tutur Rian. Laura tidak bisa menahan tangisnya mendengar penuturan sang Papih.


"Saya berjanji.Dan ,bahkan semarah apapun saya pada Laura saya tidak akan berbuat kasar dan tidak akan mengatakan hal-hal yang menyakiti hatinya. Dan saya janji akan membimbing Laura untuk mendekat lagi pada Allah SWT, walau saya juga baru belajar untuk memperdalam tentang, " jawab Albian.


"Kalau begitu mari kita mulai akadnya,, " ujar penghulu yang di angguki Albian dengan semangat.


Albian menjabat tangan Rian yang terulur padanya. Rasa gugup, tegang dan takut tidak hafal dengan ijab qobul mulai menerpa Albian yang sudah keringat dimgin.


"Bismillahirrahmanirrahim.Ananda Albian Fraya Sadewa bin Skala Fraya Sadewa, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya , bernama Laura Adrilia Amini binti Rian Prakasa Putra dengan seperangkat alat sholat di bayar tu-nai".


" Saya terima nikah dan kawinnya, Laura binti Rian Prakasa Putra dengan seperangkat alat sholat di bayar tu-nai!"Ucapan Albian dengan lantang tanpa hambatan.


"Bagaimana para saksi? " Tanya penghulu pada semua tamu undangan.


"Sah! "


"Sah!"


Sahut para tamu undangan dengan suara yang nyaring dan menggema di ruangan tersebut.Albian langsung mencium kening Laura dan mencium pipi gadis yang sudah sah menjadi istrinya.


Pletak


Devia langsung memukul paha Albian yang langsung meringis kesakitan.


"Do'a, dulu. Baru cium. Di ciumnya cuma di kening bukan di pipi. " tegur Devia yang tiba-tiba berada sebelah Albian yang cengengesan mendapatkan teguran sang Mamah. Laura sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ia hampir tidak bisa bernafas karna takut Albian salah mengucapkan ijab qobul.


Bersambung...

__ADS_1


Ini sudah 2000 kata, apa masih kurang juga??


__ADS_2