Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Season 2:Eps 12


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Laura, dok? " Tanya Devia, saat dokter tersebut keluar dari ruangan tempat Laura di rawat.


Dokter pria itu menghela napas kasar. "Begini, keadaan pasien semakin melemah dan kritis karna penyakit yang di derita semakin menggerogoti seluruh tubuh pasien.Jadi------Pasien harus secepatnya di operasi, walau kami tidak menjamin 65% pasien akan selamat, tapi kami akan usahakan yang terbaik. " Ujar dokter tersebut.


Devia, memejamkan matanya. Di satu sisi ia ingin Laura sembuh tapi di sisi yang lain, ia takut bila menyetujui,melakukan tindakan operasi akan membuat mereka harus kehilangan Laura. Devia sudah menganggap gadis tersebut seperti putrinya sendiri, bagaimana ia tidak terpukul dengan semua yang menimpa Laura.


"Sayang, sebelum kita mensetujui tindakan operasi pada Laura. Sebaiknya kamu telpon Lily untuk meminta izin. Bagaimana pun orang tua Laura harus tahu semua ini. Dan keputusan Laura di operasi atau tidak itu ada di tangan Lily. " Ujar Skala memberi saran.


Devia mengangguk kepalanya, mengiyakan ucapan suaminya. Mungkin Lily juga tidak mengetahui penyakit yang di derita Laura. Gadis ini terlalu pintar menyembunyikan apa yang ia rasakan termasuk penyakit yang mematikan ini.


šŸšŸšŸšŸšŸ


Albian memperhatikan gadis yang terbaringĀ  lemah dengan wajah yang begitu pucat. Ia meraih tangan Laura yang terasa dingin, dan mengenggam.Yang di rasakan Albian saat ini takut kehilangan Laura. Ia takut setengah mati bila harus kembali di tinggalkan oleh orang yang ia cintai, walau ia tau rezeki, jodoh dan maut ada di datang Tuhan, tapi ia tetap belum siap harus merasakan kehilangan yang kedua kalinya.


"Saya tidak tahu harus berkata-kata apalagi sama kamu ,Laura. Tapi ,bilaĀ  kamu bisa mendengar apa yang saya katakan, maka saya mohon jangan tinggalkan saya..... Saya cinta sama kamu Laura. Nanti kalau kamu sudah sembuh, saya janji bakal segera menikahi kamu, mewujudkan apa yang kamu impikan, yaitu menikah dengan saya ".


Albian menghapus air matanya kasar. Sekuat-kuatnya seorang pria untuk menahan air matanya agar tidak menetas ,bila sudah di hadapkan oleh orang ia cintai yang tidak berdaya di hadapannya,maka robohlah pertahanan dirinya yang selalu tegar dan kuat di hadapan semua orang. Mungkin perempuan selalu menganggap pria itu selalu terlihat tegar dan kuat menghadapi penderitaan dan hati yang terluka tapi nyatanya, tidak.


Bahkan patah hati yang dirasakan seorang pria lebih menyakitkan daripada seorang perempuan yang mudah melupakan semua rasa sakit patah hatinya dan sangat mudah juga untuk move on dari pasangannya. Sedangkan pria tidak, mereka butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mengobati rasa sakit patah hatinya, apalagi di tinggal mati oleh pasangannya.


Albian mengeluarkan sebuah kotak merah kecil di saku celananya. Ia membuka kontak tersebut, dan mengambil cincin emas yang nampak sederhana tanpa ada berlian tapi bila di lihat lebih jeli lagi di permukaan cincin itu terukirĀ  nama Albianā¤Laura, yang sengaja di pahat oleh Albian , yang ia beli pada penjual emas yang bisa mengukir nama.

__ADS_1


Albian memasang cincin yang begitu pas di jari manis Laura.


"Cincinnya sangat cantik, apalagi di sematkan di jari manis kamu, semakin cantik, " puji Albian pada Laura yang memejamkan matanya.


Cup!


Albian mengecup punggung tangan Laura, hingga terdengar dari sebuah kecupan yang di layangkan Albian. Ia terus mengenggam tangan Laura , tak mau lepas berang di sedikit pun.


"Kamu harus bertahan demi saya atau demi kedua orang tua kamu. Maaf , saya sering nyakitin kamu, Laura. Maaf juga ,saya langsung mencap kamu buruk saat pertama kali kita bertemu. Karna pakaian yang kamu kenakan terlalu terbuka, " ujar Albian terkekeh.


"Tapi nanti, kalau kamu sudah jadi istri saya, kamu tidak boleh memakai pakaian yang terbuka ya?, "


Albian memainkan jari jemari Laura. Seorang suster masuk ke ruangan tersebut, untuk memeriksa keadaan pasien. Suster tersebut menggantik cairan obat infus yang sudah habis dan menyuntikkan sesuatu yang Albian tidak apa ituĀ  .


Albian yang tengah asyik-asyiknya memainkan jari jemari Laura, sedikit terkejut mendengarnya. Karna Devia, sang Mamah tidak memberitahu Laura akan di operasi secepat ini.


"Suster kata siapa Laura akan di operasi?? " Tanya Albian dengan pertanyaan anehnya itu.


Suster itu tersenyum,"Keluarga pasien sudah menyetujui untuk tindakan operasi pada pasien dan sudah menandatangani surat yang menjelaskan bahwa bila pasien tidak selamat maka pihak rumah sakit maupun dokter yang melakukan tindakan operasi tidak bertanggung jawab ."jelas suster tersebut.


Napas Albian seakan tersekat di tenggorokan mendengar pernyataan suster tersebut. Jantungnya seakan berhenti berdetak beberapa detik.

__ADS_1


Albian segera keluar dari ruangan tersebut. Ia berjalan mendekati Devia yang duduk bersandar di tembok, sedangkan Skala pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan.


"Maksud Mamah apa, setuju dan menandatangani surat perjanjian yang gila itu? Aku nggak mau kehilangan Laura Mah! Mah ,Laura bisa melalukan pengobatan kemo terapi. Tadi aku telpon teman aku , dokter spesialis yang bisa menyembuhkan penyakit yang di idap Laura sekarang, " ujar Albian dengan emosi yang menggebu-gebu, tak habis pikir dengan apa yang Mamahnya lakukan.


Devia bangkit dari tempat duduknya , mendekati Albian yang menyandarkan tubuhnya di tembok, meremas rambutnya yang sudah kusut dan berantakan.


Devia memegangi bahu kanan Albian, "Orang tua Laura, tante Lily sudah menyetujui agar mengambil tindakan untuk mengoperasi Laura, Albian. Mamah, tadi sudah menelpon tante Lily dan menceritakan semuanya,Mamah tidak bisa berbuat apa-apa. Laura, anak teman Mamah dan yang berhak mengambil keputusan Laura di operasi adalah hak kedua orang tua Laura . Jadi Mamah tidak berhak ikut campur, mungkin ini yang terbaik untuk Laura dan semoga Laura secepatnya sembuh dari penyakitnya. " Tutur Devia .


Albian meluruhkan tubuhnya, hingga berjongkok. Ia memejamkan matanya,sambil mendongakkan kepalanya ke atas langit-langit.


Suara langkah kaki yang bersahutan dan decitan roda brankar yang berjalan , membuat Albian dengan cepat membuka matanya. Ia melihat beberapa suster mendorong brankar ke ruangan operasi.


Albian, bangkit. Ia berlari mengejar suster tersebut. Pria itu hendak meraih tangan Laura yang tiba-tiba tergantung di brankar hingga cincin yang tersemat di jari manis gadis itu jatuh ke lantai.


Albian menatap nanar pada ruang operasi yang sudah tertutup rapat , sebelum ia melihat Laura entah terakhir kalinya atau.......


Pandangan mata pria itu tidak sengaja melihat pada cincin yang tergeletak di lantai. Ia mengambilnya.


"Pertanda apa ini ya Allah?"Lirih Albian.


Bagaimana bisa cincin yang sudah pas terpasang di jari manis Laura terlepas. Semoga ini bukan pertanda buruk.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2