
Plak....
Laura syok dan kaget ketika seseorang langsung menampar pipinya. Ia memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu dan berdenyut nyeri.Laura menatap Bella dan antek-anteknya yang menatap sinis padanya.
"Kenapa kamu nampar aku? Aku salah apa? " Tanya Laura.
"Kamu masih tanya salah kamu apa?!" Ujar Bella menatap sinis.
"SALAH KAMU KARNA MEREBUT REVAN DARI AKU. REVAN PUTUSIN AKU..... DAN ITU KARNA KAMU!! " Teriak Bella mendorong Laura kasar.Gadis itu hampir jatuh tapi beruntung ia bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Semua orang yang ada di koridor kampus menonton pertengkaran itu tanpa ada yang ingin melerainya.
"Aku nggak merebut kak Revan. Dia yang tiba-tiba menyatakan perasaannya sama aku dan menginginkan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih . Tapi aku tidak menerimanya! Aku juga nggak tau kalau dia pacar kamu! " Jawab Laura penuh emosi. Napasnya turun naik dengan wajah yang memerah.
"Akh..... Sakit.. " Ringis Laura saat Bella langsung menyambak rambutnya. Dua antek-antek gadis itu memegangi kedua tangan Laura yang tidak bisa memberikan perlawanan.
"Dasar wanita penggoda!! " Cela Bella yang terus menjambak rambut Laura hingga beberapa rambut gadis itu rontok.
"Lepasin ,sakit... " Ringis Laura dengan wajah yang memohon.
"Apa sakit?! Aku nggak peduli. Ini hukuman buat kamu, bitc! " Ujar Bella mencengkram pipi Laura kasar.
"Akh.... Ampun Bella, sakit... A-ku berani sumpah nggak menggoda kak Revan atau merebut dia dari kamu! " Ujar Laura jujur.
"Aku nggak percaya, mana ada seorang pelakor ngaku! " Ujar Bella menekan kuku panjangnya hingga menusuk ke pipi Laura.
"Sakit, lepasin... Hiks... " Laura tidak bisa menahan tangisnya saat kuku itu menusuk ke pipinya.
Semua orang yang ada di sana hanya diam melihat itu . Mereka ingin menolong Laura tapi takut dengan Bella yang merupakan anak pemilik kampus ini .
🍁🍁🍁🍁🍁
Albian memarkirkan mobilnya di depan gerbang kampus tempat Laura kuliah sekarang. Ia di suruh sang Mamah untuk menjemput Laura.
__ADS_1
Albian sengaja membuka kaca mobil. Ia menghisap batang rokok yang terapit di jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Kasihan banget ya Laura di bully sama Bella"
"Iya, tapi salah dia juga sih goda pacar orang"
Albian yang mendengar dari mahasiswi yang keluar dari gerbang itu membuat ia segera membuat putung rokoknya di jalan. Ia turun dari mobil dan menghampiri dua gadis yang berkisaran 20-an.
"Maaf saya dengar kalian lagi membicarakan Laura ya? Memangnya Laura kenapa? " Tanya Albian.
Dua gadis itu mengkerutkan dahinya, bingung. Ada hubungan apa pria ini dengan Laura? Pikir dua gadis itu.
"Itu Laura lagi di bully sama Bella gegara ngerebut pacar Bella. " Jawab salah gadis itu.
Albian yang mendengar itu, membolakan matanya. Ia segera berlari masuk ke dalam kampus dengan jantung yang berdetak bertalu-talu. Antara khawatir dan panik, bisa habis dia dengan Devia, bila Laura kenapa-kenapa.
Bugh...
"Apa-apaan kamu! " Albian langsung mendorong Bella, menjauh dari Laura.
"Kamu nggak papa? " Tanya Albian.
Laura mendengus mendengar ucapan Albian. Sudah tahu keadaannya kacau seperti ini, tidak mungkin tidak apa-apa.
"Om, jangan ikut campur ya! " Sentak Bella pada Albian yang tengah menggendong Laura.
Albian mendengus geram dengan sebutan dari Bella "om".Setua apakah wajahnya hingga di panggil " om".
"Tentu saya harus ikut campur dengan masalah ini. Saya pastikan masalah ini akan saya adukan pada rektor dan melaporkan kamu ke kantor polisi! " Ancam Albian.
Bella melihat kedua tangannya di dada dengan wajah sombong dan angkuhnya.
"Siapa takut. Lagi pula kampus ini milik Papah aku! " Jawab Bella tidak mau kalah.
__ADS_1
Albian menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Bella, tidak habis fikir. Seharusnya anak rektor bisa memberikan contoh yang baik, bukan bangga dengan kelakuan buruknya , apalagi di depan anak kampus yang lain.
Albian langsung pergi dari tempat itu. Tidak memperdulikan teriakan Bella yang tidak jauh-jauh, membanggakan dirinya dan menghina Laura.
Sedangkan Laura menatap lekat Albian yang menatap kearah depan sambil menggendong dirinya.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Auwh... Sakit, kak, " ringis Laura saat Albian mengompres pipinya yang membiru.
"Makanya jangan jadi perusak hubungan orang lain. Pantas pakaiannya ketat dan sangat minim, ternyata mau jadi pelakor! " Celetok Albian tanpa berpikir.
Hati Laura terasa sakit mendengar ucapan Albian yang tidak benar sama sekali.
"Kenapa diam, apa ucapan saya benar? " Ujar Albian tersenyum sinis pada Laura.
Gadis itu langsung menepis tangan Albian kasar di pipinya. Membuat pria tersiap kaget. Ia menatap wajah Laura yang memerah dan mata yang sudah berkaca-kaca.
Laura bangkit dari tempat duduknya dan melepaskan jaket Albian yang melingkar di pinggangnya, untuk menutupi pahanya terekspos karna pakaian yang begitu minim.
"Kakak, jangan mengucapkan sesuatu yang belum benar adanya. Karna orang-orang mengatakan hal buruk tentang aku kakak langsung percaya, tanpa mau mencari kebenarannya" ujar Laura dengan napas yang menggebu-gebu.
Albian ikut bangkit dari tempat duduknya. "Memang benarkan? Kamu berpakaian kurang bahan seperti ini, sudah membuat orang menilai kamu seperti wanita murahan yang terkesan nakal atau penggoda" ujar Albian yang mengucapkan dengan enteng.
"IYA, AKU WANITA MURAHAN.AKU SENGAJA MEMAKAI PAKAIAN INI SUPAYA PRIA LAIN TERTARIK DENGAN AKU. BAHKAN AKU PERNAH TIDUR DENGAN SATU KASUR DENGAN PRIA. PUAS!! " Teriak Laura yang sudah benar-benar emosi. Dan yang ia ucapankan tentu tidaklah benar. Karna Laura benar-benar muak dengan Albian yang terus menuduh dan menyudutkannya.
Plak...
Albian langsung menampar Laura dengan kencang hingga wajah gadis itu terhempas ke samping .Albian memberikan tatapan tajam bagaikan ujung pedang yang menghunus kepada Laura. Hatinya merasa panas dan sakit hati mendengar ucapan Laura tadi.
Laura memegangi pipinya yang kini meneteskan darah di sudut bibirnya yang sobek. Air matanya menetes menatap Albian. Bukan hanya fisiknya yang terluka tapi juga hatinya.
Bersambung....
__ADS_1