Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Season 2:Eps 2


__ADS_3

Ceklek...


Suara pintu yang terbuka membuat perhatian Laura teralihkan ke arah pintu. Ia tersenyum melihat Albian yang masuk ke dalam ruangannya. Pria itu membawakan makanan yang entahlah, ia tidak tau apa isi dalam plastik putih tersebut.


Albian memilih untuk melihat keadaan Laura, karna Ria masih dalam proses melahirkan bayinya.


"Bagaimana keadaan kamu? Dokter mengatakan apa tentang kondisi kamu? " tanya Albian yang menatap lekat-lekat mata coklat Laura.


Laura mengalihkan pandangan matanya dari tatapan mata Albian pada dirinya. Ada rasa gelenyar aneh yang bergetar di dalam diri Laura.


"Dokter mengatakan, kalau aku cuma kecapean. " Jawab Laura.


"Yakin cuma itu? " Cerca Albian dengan pertanyaan lagi. Ia tidak yakin dengan jawaban Laura yang terkesan ada yang di tutupi.


Laura menganggukkan kepalanya. "Iya, cuma itu. Kakak bawakan apa untuk aku? "Tanya Laura melirik kantong plastik yang ada di tangan Albian.


" Ini, bakso. Kamu suka baksokan? "Tanya Albian yang berbicara lembut pada Laura.


" Iya, aku suka, "jawab Laura dengan senyuman manis dan mata yang berbinar-binar.


Albian menundukkan kepalanya, dengan sudut bibir yang terangkat, tersenyum. Tapi setelah itu kembali memasang wajah datarnya ketika menatap Laura.


" Ini, makan yang banyak ya. Supaya cepat sembuh. Nanti Mamah marah kalau kamu ketahuan masuk ke rumah sakit. "Ujar Albian, memindahkanΒ  bakso tersebut ke sebuah mangkok yang sudah di sediakan pihak rumah sakit.


" Aa.. Buka mulutnya . "Ujar Albian menyodorkan sendok berisi bakso yang sudah di potong kecil-kecil.


" Aku bisa sendiri, kak, "ujar Laura menolak.


" Diam! Saya ingin menyuapi kamu. Nanti blepotan kalau makan sendiri. "Ujar Albian beralasan. Laura membuka mulutnya menerimaΒ  suapan dari Albian. Pria itu begitu telaten menyuapi Laura.


Laura tertegun ketika jari Albian mengusap sudut bibirnya. Gesekan jari Albian di sudut bibirnya begitu lembut.Tapi ia bingung dengan sikap Albian, terkadang baik dan terkadang suka marah-marah padanya. Sangat sulit menebak sikap Albian yang terkadang seperti anak kecil.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Kamu mau lihat anak Cia dan Alvian? "Tanya Albian yang di angguki dengan antusias oleh Laura.


Albian keluar dari ruangan tersebut, beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa kursi roda. Pria itu mengangkat tubuh mungil Laura dan meletakkannya dengan hati-hati di kursi roda. Albian mendorong kursi roda tersebut, keluar dari ruang rawat.

__ADS_1


Laura menoleh kesamping sedikit mendongak menatap Albian yang menatap lurus sambil terus mendorong kursi roda yang di tempati Laura.


"Kak, apakah kakak mencintai aku? " Tanya Laura tiba-tiba, membuat Albian menghentikan langkah kakinya. Ia menundukkan kepalanya. Mata mereka berdua bertemu. Albian dan Laura saling berpandangan beberapa saat, hingga Albian memutuskan kontak mata mereka berdua , dan menatap kearah lain.


Ekm...


Dehem Albian untuk menghilangkan getaran yang begitu aneh di hatinya saat saling adu pandang dengan Laura.


"Kenapa bertanya seperti itu? " Tanya Albian.


Laura tersenyum, dan menatap kearah lain asal tidak menatap Albian.


"Kenapa kakak begitu baik dengan ku? Bukannya bila seorang laki-laki sangat baik dengan seorang wanita berarti memiliki perasaan lebih? " Ujar Laura.


"Saya tidak suka kamu.Dan kesimpulan yang kamu ucapkan salah. Setiap laki-laki yang berbuat baik pada seorang perempuan , pasti akan di salah artikan oleh perempuan tersebut. Dan itu kenapa jangan terlalu berharap lebih. Saya tidak melarang kamu mencintai saya tapi lebih baik hilangkan perasaan itu di hati kamu. Karna saya takut itu akan menyakiti hati kamu sendiri." Tutur Albian memberikan penjelasan.


Laura tersenyum masam, ucapan Albian begitu menyakitkan untuknya saat ini.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Lho? Laura kenapa ada di sini? Terus kenapa duduk di kursi roda? " Tanya Devia menatap kearah Laura .


"Dia tadi pingsan, makanya aku bawa ke rumah sakit. " Jawab Albian.


Devia sedikit membungkuk badannya, mengusap pipi Laura lembut.


"Kamu kenapa sampai pingsan? " Tanya Devia. Ia takut terjadi apa-apa dengan anak sahabatnya ini yang di titipkan padanya. Dan dia memiliki tanggungjawab besar pada Laura.


"Cuma kecapean tante, " jawab Laura.


Devia mengangguk-anggukan kepalanya dan tersenyum. "Lain kali jangan terlalu memaksakan diri kamu untuk beraktivitas bila sudah kelelahan. " Nasehat Devia yang di balas senyuman tipis oleh Laura .


Laura menggerakkan kursi rodanya tapi ia tersentak ketika Albian mendorong kursi roda yang dia duduki mendekati brankar tempat Cia yang tengah menggendong Queen.


"Bayinya cantik kak. Namanya siapa? " Tanya Laura mengusap-ngusap pipi gembul Queen yang menggeliat dalam dekapan Cia. Mulut Queen tidak hentinya mengecap-ngecap sepertinya ingin meminum ASI lagi.


"Namanya Queenza, Laura. Queen memang cantik'kan dari bibit unggul. " Ujar Cia sedikit bercanda, membuat Laura terkekeh.

__ADS_1


Albian terus memperhatikan interaksi Laura dengan Cia yang begitu akrab.


"Aku jadi pengen punya anak seperti Queen. " Gumam Laura yang masih bisa di dengar Cia.


"Kamu kalau mau punya anak. Cepat-cepat nikah. " Sahut Cia.


"Tapi nikahnya sama siapa? Kan aku belum punya calon. " Ujar Laura.


"Alah kamu ini. Di sebelah kamu calonnya tinggal akad aja lagi. " Goda Cia tertawa pelan.


Laura menatap Albian yang ada di sebelahnya. Pria itu juga menatapnya dengan satu alis yang terangkat, seakan bertanya" ada apa".


"Mas, kenapa Albian lebih banyak diam?Biasanya cerocos terus , kan sifat dingin dan cuek bukan sifatnya? " Bisik Cia pada Alvian.


Alvian mengidikan bahunya , tidak tahu. Setahunya Albian akan menjaga sikap bila berada di dekat Laura. Dan tidak tahu maksud dari kembarannya yang bersikap seperti itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Ria tersenyum memperhatikan bayinya yang berjenis kelamin laki-laki yang baru ia lahirkan. Tangan Ria menyentuh dan mengusap pipi Rajandra yang terlihat begitu memerah. Wajah anaknya begitu tampan, dari fisik tubuh dan wajahnya sangat mirip dengan Rayyan yang masih mendekam di penjara.


Meski anaknya hadir dari hubungan yang salah tapi tidak sedikit pun Ria membencinya. Ia malah bahagia dengan kelahiran Rajandra yang akan menambah warna dalam kehidupannya.


Albian masuk ke dalam ruangan Ria. Sementara Laura ia tinggal di ruangan tempat Cia di rawat sekarang.


"Anak kamu laki-laki atau perempuan? " Tanya Albian mendekati brankar tempat Ria sekarang bersandar .


"Laki-laki, Al. Tampan ya? " Ujar Ria memperlihatkan wajah Rajandra yang sialnya sangat mirip dengan Rayyan, membuat Albian teringat dengan pria brengsek itu. Tapi apa boleh buat, Rayyan adalah ayah biologis Rajandra , pasti akan mengikuti gen ayah dari segi fisik dan wajah. Albian berharap Rajandra tidak mewarisi sifat brengsek Rayyan.


"Makasih ya Albian, sudah mau menolong aku. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bila kamu tidak menolong aku. " Ujar Ria tersenyum tipis.


"Iya, sama-sama. Aku sudah menganggap kamu seperti adik aku sendiri dan Rajandra adalah keponakan aku walau wajahnya mirip Rayyan. " Ujar Albian bercanda.


"Gimana lagi, Al. Ayahnya memang Rayyan. Kalau mirip kamu itu berarti anak kamu. " Timpal Ria.


"Apa kamu akan memberitahu Rayyan soal Rajandra? " Tanya Albian.


Senyuman di bibir Ria perlahan memudar. "Bagaimana pun Rayyan harus tahu bila anaknya sudah lahir. Aku tidak mau menutup-nutupinya, Al. Walau nantinya ia mungkin tidak akan mengakui Rajandra anaknya. " Jawab Ria yang terdengar sedih dari suaranya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2