Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Kejutan


__ADS_3

...Seseorang yang tidak pernah merasakan mencintai. Maka ia tidak akan tau bagaimana rasanya di tinggal oleh orang yang di cintai:(...


...(Felicia) ...


Cia perlahan membuka matanya,memgerjab-ngerjabkan matanya beberapa kali,menyesuaikan cahaya matahari yang menembus jendela kaca yang memancarkan sinarnya di sela-sela gorden.Seperti biasa ,Cia enggan untuk menjalani kehidupannya hari ini selalu hampa dan hambar. Tidak ada gairah untuk menjalani hari-harinya yang menurutnya akan selalu menoton semenjak Alvian tidak ada di sisinya lagi.


Matanya menatap sekitar ruangan kamarnya. Dan menatap kasur di sebelahnya , dengan senyuman pilu yang tercipta dari wajahnya yang nampak terlihat cantik walau pipinya begitu tirus dan tak terawat , beberapa jerawat begitu nampak di wajahnya di bagian dahi dan pipinya karna sangat jarang menggunakan krim di wajahnya yang selalu dia lakukan untuk melakukan perawatan.


Cia menyingkirkan selimut yang menutupi separuh tubuhnya. Pasti bundanya yang sudah menyelimuti dirinya tadi malam saat terlelap. Gadis itu masuk ke kamar mandi untuk sekedar membasuh muka dan gosok gigi.Selang beberapa menit Cia keluar dari kamar mandi, ia mendudukkan bokongnya di sofa.Ia duduk termenung , tangannya mengusap perutnya yang mulai membesar. Tatapan matanya begitu kosong seperti biasa .


Ceklek


Nevia masuk ke dalam kamar Cia dengan membawa roti bakar dan susu ibu hamil untuk putrinya.Wanita paruh baya itu menghela napas berat melihat Cia yang hanya melamun seperti biasa .Cia lebih memilih memendam apa yang ia rasakan sekarang daripada harus berbagi cerita pada orang lain yang mungkin akan membuat ia sedikit tenang bila meluapkan keluh kesahnya pada orang terdekatnya.


"Cia makan dulu, nak " ujar Nevia membuat gadis yang tengah melamun itu menoleh kearah Nevia.


"Iya, bunda " jawab Cia datar.


Cia mengambil roti bakar tersebut dan memakannya dua gigitan , meletakkan roti itu kembali  ke piring setelah itu meminum susunya hingga tinggal setengah gelas .


"Cia kenapa cuma sedikit makan rotinya?Harus sampai habis makannya,nak. Yang membutuhkan asupan makanan bukan hanya kamu tapi anak yang ada dalam kandungan kamu, Cia" ujar Nevia lembut, dengan tatapan sendu.


"Aku sudah kenyang bunda. Percuma juga aku makan yang banyak kalau nanti di muntahin lagi " jawab Cia datar.


Nevia kembali menghela napas berat.


"Bunda tahu, tapi kamu harus tetap harus makan yang banyak, Cia. Bisa-bisa badan kamu makin kurus lagi dan itu akan berpengaruh pada kesehatan anak dalam kandungan kamu. Sampai kapan kamu akan menyiksa diri kamu sendiri?Dulu saat awal-awal  hamil kamu banyak makannya walau sering mual dan muntah " ujar Nevia berdiri menatap sendu pada Cia yang menatap lurus.


"Itu dulu bunda saat ada mas Alvian , sekarang ini beda " lirih Cia dengan mata yang memanas.


Nevia menatap kearah lain dengan senyuman miris melihat Cia yang jauh berbeda dari yang dulu.


Tokk tokk


Atensi keduanya teralihkan oleh suara ketukan pintu. Bi Ina masuk ke dalam kamar setelah mengetuk pintu.

__ADS_1


"Maaf nyonya, anda di suruh tuan Dirga ke ruang tamu sama nona Cia juga di suruh ke ruang tamu " ujar bila Ina .


"Memang ada tamu ya bi?" tanya Nevia.


Bi Ina menganggukkan kepalanya "Iya nyonya. Ada pak Skala dan ibu Devia yang ingin bertemu " jawab bi Ina.


Nevia terdiam sejenak. Buat apa orang tua Alvian ke sini?Apa ada hal penting yang membuat mereka berdua berkunjung ke sini atau hanya ingin menjenguk Cia , pikir Nevia.


🍁🍁🍁🍁🍁


Nevia dan Cia berjalan ke ruang tamu beriringan. Tiga orang yang tengah mengobrol terhenti ketika mendengar suara langkah kaki yang saling bersahutan , membuat ketiganya menatap kearah dua orang yang berjalan mendekati mereka.


Devia bangkit dari tempat duduknya. Ia langsung memeluk Cia yang terlihat semakin kurus,setelah tiga hari lalu ia berkunjung ke rumah besannya untuk melihat keadaan menantu dan cucunya yang masih dalam kandungan.


Cia membalas pelukkan Devia.Walau sangat menyakitkan, apalagi melihat tatapan mata mertuanya yang sama persis seperti Alvian.


"Gimana kabar kamu, nak? Kenapa badan kamu makin kurus seperti ini? Apa kamu kurang banyak makannya, Cia? " Devia melontarkan beberapa pertanyaan pada Cia, matanya menatap menantunya itu dari atas sampai bawah.


Cia hanya tersenyum tipis.Skala mendekati Cia dan mengusap kepala menantunya dengan lembut dengan guratan senyuman yang tercipta di wajah tampannya.


Satu alis Cia tersangkat. Ia menatap wajah Skala dan Devia nampak bahagia, tidak ada sedih-sedihnya setelah kepergian Alvian.


"Memangnya aku mau di ajak kemana? " tanya Cia yang merasa enggan keluar rumah atau sekedar menghirup udara segar di luar. Ia lebih nyaman menghabiskan waktunya di kamar.


"Kamu ikut aja Cia. Kan Papah Skala mau memberikan kamu kejutan , masa harus bilang mau pergi kemana. Kalau dia memberitahu kamu, namanya bukan kejutan tapi jalan-jalan" ujar Dirga tersenyum lebar.


"Ya sudah aku mau ganti baju dulu " ujar Cia. Setelah mengucapkan itu gadis tersebut beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kamarnya.


"Kalau boleh tau Cia mau di bawa kemana? " kini Nevia mulai membuka suara.


Dirga, Skala dan Devia saling memandang satu sama lain dengan mengulum senyum. Gerak-gerik mereka bertiga membuat Nevia merasa ada yang di sembunyikan.


Devia berjalan mendekati Nevia dan membisikkan sesuatu pada besannya. Nevia membelalakan matanya setelah mendengar bisikan Devia. Ia menatap kearah Devia dengan pandangan yang tak percaya.


"Alvian masih hidup?!" tanya Nevia  memastikan .

__ADS_1


"Iya, tapi jangan keras-keras bicaranya. Biar ini menjadi kejutan untuk Cia. Dan maaf kami baru memberitahu sekarang. Karna saat itu kami sangat terlampau senang setelah mendapatkan kabar bila Alvian masih hidupnya dan di rawat di rumah di Bali " ujar Devia.


"Tidak papa. Yang penting Alvian masih hidup dan ini kabar yang sangat membahagiakan" ujar Nevia dengan mata yang berbinar-binar, mengenggam tangan Devia.


🍁🍁🍁🍁🍁


Cia menautkan alisnya, bingung. Mertuanya membawa dirinya ke rumah sakit, untuk apa?


Kini mobil Alphard berwarna hitam tersebut memasuki area rumah sakit.Dan Cia termenung, memikirkan kejutan apa yang akan di berikan oleh mertuanya dengan membawa dirinya ke rumah sakit? Apa ingin memeriksa kandungannya? Karna rumah sakit ini tempat dia biasanya memeriksa kandungan.


Devia membuka pintu mobil belakang.Menatap Cia yang melamun.


"Cia, turun nak. Sudah sampai" ujar Devia mengenggam tangan Cia seraya tersenyum.


Cia turun dari mobil dengan tangan Devia yang terus menggenggam tangannya.Mereka berdua berjalan beriringan di ikuti oleh Skala, Dirga dan Nevia dari belakang.


Cia melihat Albian yang duduk di kursi tunggu dan juga Shalla ,Dira yang tersenyum kearahnya di balas senyuman simpul oleh Cia. Matanya menatap ruang rawat nomor 234.


"Sekarang kamu masuk ke ruangan ini, nak. Ada seseorang yang sedang menunggu kamu" ujar Devia. tersenyum.


Cia mengeryitkan dahinya mendengar ucapan Devia. Siapa yang ingin bertemu dirinya? Dan kenapa harus di rumah sakit?Gadis tersebut menatap semua orang yang menatap kearahnya dengan senyuman dan menganggukkan kepalanya agar ia masuk ke dalam ruangan tersebut.


Cia mendorong pintu dengan nomor ruangan 234 yang tertulis di depan pintu. Ia melangkahkan kakinya berjalan masuk ke dalam. Cia di suguhkan dengan ruangan yang begitu kosong dan di brankar tidak ada orang yang berbaring di sana lantas siapa yang akan dia temui. Apakah semua orang ingin mengerjai dirinya karna dia ulang tahun.


Tubuh Cia membeku ketika sebuah tangan kekar memeluk dirinya dari belakang. Aroma tubuh yang begitu familiar untuknya. Cia langsung melepaskan lilitan tangan yang memeluknya dan membalikkan badannya ke belakang.


Deg...


Tubuh Cia menegang.Mata gadis itu tiba-tiba berembun. Pandangan matanya mulai memburam dengan genangan air mata yang sudah menampung di kelopak matanya. Alvian tersenyum kearah Cia dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia sangat merindukan istri kecilnya yang sudah dia tinggalkan lebih dari satu minggu tersebut. Sungguh kerinduan ini sangat menyiksa keduanya karna terpisah cukup lama bagi Alvian maupun Cia.


"Cia, sayang" panggil Alvian lirih.


Cia memundurkan tubuhnya menjauh dari pria yang sudah meninggalkan dirinya lebih dari seminggu.Matanya terus menatap Alvian dengan air mata yang menetes membasahi wajahnya.


Bersambung....

__ADS_1


Sampai sini dulu ya. Nanti malam saya lanjut. Mohon maaf bila cerita saya banyak kekurangannya karna dalam proses belajar dan tandai bila ada yang salah, ok😉


__ADS_2