
"Bangun, kamu! " Rima menarik rambut Ria dengan kuat, tak memperdulikan ringisan wanita tersebut.
"Sekarang pergi dari sini!Saya tidak sudi menampung wanita pelacur seperti kamu! " bentak Rima menarik Ria keluar dari kamar, berjalan menuju pintu keluar tanpa melepaskan tarikan tangannya pada rambut Ria.
Para pekerja yang ada di sana menatap iba pada Ria. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi keadaan wanita yang cukup mengenaskan dengan darah yang terus mengalir di hidungnya.
Rima mendorong kasar RiaΒ ke teras, hingga jatuh tersungkur. Wanita itu berusaha bangkit dengan bibir yang bergetar , merintih sakitan pada tangan kanannya terluka.
"Kamu harusnya mati! Tidak ada gunanya kamu hidup! Hanya menyusahkan orang lain!! " sembur Rima begitu pedas. Ria memegangi dada nya yang begitu sesak bercampur perih di hatinya. Ucapan Rima seperti ujung tombak yang menebus ke dada nya.
"Mamah!!!" teriakan Rayyan, membuat Rima langsung menatap anaknya yang keluar dari mobil. Terlihat jelas raut ke marahan dari Rayyan yang begitu kentara.
Pria itu berjalan cepat kearah Ria. Ia langsung mengeluarkan sapu tangannya dan menutupi hidung Ria, sedikit menekan. Agar darah tidak terus keluar.
"Mamah, keterlaluan!! Dia ibu dari anak aku. Tidak seharusnya Mamah melakukan ini pada Ria. Kalau Mamah tidak suka dengan Ria tidak masalah, tapi jangan main fisik seperti ini, " ujar Rayyan penuh penekanan.
"Kamu gila atau apa Rayyan!Membela wanita sampah seperti Ria. Tidak ada untungnya kamu membela wanita ini.Mamah tidak mau tahu kamu buang wanita itu! Mamah tidak sudi melihat wajahnya itu!! "Rima menatap tajam pada Rayyan tak kalah tajam menatapnya.
Ria hanya bisa menangis pilu mendengar ucapan Rima yang di tujukan padanya. Setiap kata-kata wanita paruh baya itu seperti pisau yang menusuk-nusuk di dadanya. Rayyan mendekap Ria, dengan tangan yang masih menahan sapu tangan di hidung wanita tersebut yang menangis terisak-isak dalam dekapannya.
" Mamah terus menghina Ria tapi tidak merasakan di posisi, Ria sekarang! "Setelah mengucapkan itu Rayyan membawa masuk Ria ke dalam, tidak memperdulikan Rima yang mematung dengan tangan terkepal kuat.
******
Rayyan mendudukkan Ria di sisi ranjang. Mereka berdua berada di kamar tamu, kamar milik pria itu kasurnya basah dan tidak mungkin untuk di tiduri.
__ADS_1
Rayyan mencelupkan handuk kecil di baskom kecil yang berisi air hangat. Ia mengusap pelan tangan kanan Ria dengan sangat lembut, membersihkan darah yang hampir mengering di tangan wanita yang menatap kosong ke depan. Rayyan menghela napas kasar melihat keadaan Ria yang hanya diam dengan wajah yang begitu pucat.
" Maaf atas perlakuan Mamah aku, "ucapan Rayyan membuat Ria tersenyum getir.
" Kamu kenapa harus membohongi aku, kalau kamu itu sebenarnya Rayyan. Apa ini termasuk rencana kamu untuk membuat aku semakin hancur lagi, "ujar Ria dengan suara pelan yang masih bisa di denger Rayyan.
Rayyan menggelengkan kepalanya, membantah. " Aku tidak pernah ada niat untuk menyakiti kamu atau pun menghancurkan kamu. Aku menolong kamu karna ingin menebus semua kesalahan yang pernah aku perbuat. Aku menyesal telah menyakiti kamu Ria, "lirih Rayyan menggengam tangan kiri Ria dengan erat.
Namun wanita itu menarik tangannya dari genggaman Rayyan dengan kasar. Pria itu tersentak dengan perlakuan Ria. Ia menatap nanar.
" Aku tidak mau memaafkan orang yang sudah menghancurkan aku!Kamu pikir dengan kata maaf semua penderitaan yang aku rasakan bisa menghilang begitu saja, hah?! "ujar Ria dengan tangisan yang tertahan.
" Aku capek hiks...... "Ria menangis terisak-isak. Batinnya begitu tersiksa dan lelah dengan semuanya. Orang-orang tidak pernah peduli dengan apa yang dia rasakan. Mereka sibuk menghakimi dirinya selalu di anggap salah dan menjijikkan sebagai seorang wanita.
Rayyan langsung memeluk Ria dari samping.Seakan pelukan yang di berikan pria itu bisa menenangkan wanita yang benar-benar tertekan dengan semua keadaan yang dia alami sekarang. Rayyan mungkin tidak mengalami apa yang Ria rasakan tapi ia bisa merasakan kesedihan Ria yang teramat dalam.
Siska membanting tas nya ke kasur. Ia menggeram kesal dengan Rayyan yang tiba-tiba meninggalkan dirinya di restoran begitu saja. Pria itu langsung meninggalkannya setelah mendapatkan pesan, entah dari siapa. Ia bisa melihat raut kekhawatiran dan ke panikkan Rayyan.
Gadis itu menuliskan pesan pada Rima. Mengadukan sikap Rayyan padanya.Ia benar-benar tidak terima di tinggal begitu saja. Tapi ia harus memikirkan cara agar Rayyan bertekuk lutut padanya. Ia benar-benar tertarik dengan Rayyan dan tidak mau melepaskannya begitu saja.
πππππ
Rayyan tersenyum menatap Ria yang duduk bersandar di ranjang. Ia berjalan mendekati wanita tersebut dengan menggendong Raja.
"Unda..... Unda..... " Raja memanggil-manggil Ria dengan wajah yang terlihat senang, tersenyum hingga dua giginya terlihat.
__ADS_1
Ria mendengar suara anaknya yang memanggil, tidak bisa menyembunyikan ke bahagianya. Tubuh Ria menegang ketika Rayyan meletakkan Raja di pangkuannya .
"Raja.... Ini kamu, nak. Bunda kangen kamu sayang, " wanita itu memeluk dan mencium wajah putranya. Walau tidak bisa melihat wajah Raja.
"Bunda sangat merindukan kamu. Kamu baik-baik saja'kan. Bunda benar-benar tidak sanggup terpisah dari kamu, " Ria tidak berhenti berucap seolah Raja paham dengan apa yang ia ucapkan.
Rayyan terharu melihatnya. Beberapa hari ini Raja sakit karna mungkin terpisah dari Ria.
Balita itu mendusel-dusel dada , menarik kancing baju Ria. Karna sudah beberapa hari ini Raja minum susu formula. Biasanya ia akan menyusu pada Ria.
"Kalau begitu kamu susui Raja. Aku akan keluar, " ujar Rayyan. Sedangkan Ria hanya diam.
******
"Kamu kenapa meninggalkan Siska di restoran? Kamu harus ingat bila Siska itu calon istri kamu, " ujar Rima pada Rayyan mendudukkan dirinya di kursi, meja makan.
Pria itu menoleh menatap sang Mamah dengan tatapan tak suka dengan ucapan yang di lontarkan itu.
"Aku tidak mau menikah dengan Siksa. Aku tidak mencintainya. Bagaimana bisa aku bahagia bersama dengan wanita yang tidak aku cintai. Yang ada pernikahan itu akan terasa hambar, " sahut Rayyan.
"Masalah cinta itu gampang. Kamu jalani pernikahan kamu dengan Siska, seiring berjalannya waktu kamu akan mulai mencintainya, " ujar Rima.
Rayyan memcebikkan bibirnya, "Aku tetap tidak mau! Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita yang tidak ku cintai. Mamah jangan mengatur-ngatur, seolah-seolah Mamah mengetahui yang baik untuk aku. Kalau Mamah tetap memaksa aku menikahi Siksa yang lihat saja apa yang akan aku lakukan dengan gadis itu, " Rayyan langsung meninggalkan Rima yang menatap marah.
Rayyan berjalan ke kamarnya tidak peduli dengan teriakan Rima yang memanggilnya.
__ADS_1
Bersambung.....