Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Season 2:Eps 8


__ADS_3

"Albian!! " Ria langsung memeluk Albian yang baru turun dari mobil. Sedangkan pria itu kaget mendapatkan pelukan mendadak dari Ria.


Laura menatap tak suka pada Ria dari dalam mobil.Hatinya merasakan sakit yang luar bisa melihat pemandangan yang begitu menyakitkan. Laura memalingkan wajahnya kearah lain asal tidak melihat Ria memeluk Albian, itu sangat menyakitkan. Ia memejamkan matanya, bersamaan dengan air mata yang turun.


"Kamu apaan sih, peluk-peluk, Ria," ujar Albian, mendorong Ria agar melepaskan pelukannya. Ia merasa tidak suka.


Ria melepaskan pelukannya. Ia menatap Albian dengan mata yang berkaca-kaca.Ria meraih tangan Albian, menggenggamnya, membuat kening pria itu berkerut.


"Raja sakit. Aku minta tolong antarkan aku dan Raja ke rumah sakit ya. Kamu tau'kan aku nggak punya suami, apalagi untuk mengantarkan ke rumah sakit tidak ada,cuma kamu yang bisa aku harapkan. " Ujar Ria dengan wajah yang memelas.


Albian menghela napas panjang. "Kenapa tidak pesan ojek online, untuk mengantarkan kamu dan Raja ke rumah sakit? ".


Ria terdiam seribu bahasa, ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. " I-itu, A-aku takut Albian. Nanti kalau aku di apa-apain sama ojek onlinenya gimana, apalagi malam-malam begini . Kan aku nggak tau siapa saja orang yang akan berniat jahat sama aku, apalagi aku perempuan. "Ujar Ria, yang masih menggenggam tangan Albian.


Albian terdiam sejenak, seolah membenarkan ucapan Ria." Sekarang mana Raja?Supaya cepat di bawa ke rumah sakit. "Ujar Albian.


" Di dalam, tunggu aku ya. "Ujar Ria, berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


Tidak berapa lama Ria menggendong Raja yang terus menangis sesegukan, dengan wajah yang memerah.


" Cepat masuk. "Ujar Albian, membukakan pintu mobil belakang. Sedangkan Ria hendak membuka pintu depan.


" Aku mau duduk di depan Albian. "Ujar Ria.


" Di kursi depan ada Laura, kamu duduk di kursi belakang. "Sahut Albian.


Ria sedikit kaget mendengar nama Laura.


" Tapi aku mau duduk di depan Albian. Aku bisa mual-mual kalau duduk di belakang. "Kekeh Ria mengerucutkan bibirnya.


Terpaksa Albian membuka pintu depan. Laura menatap Albian dengan tatapan dongkol.


" Laura kamu pindah ke belakang. Ria mau duduk di depan, soalnya kalau Ria duduk di belakang bisa mual-mual sampai mau muntah. "Ujar Albian menyuruh Laura berpindah.

__ADS_1


Laura menatap Albian dan beralih menatap Ria yang memasang wajah polosnya.


" Aku nggak mau!Aku juga suka mual kalau duduk di belakang. "Tolak Laura. Ria merengut menatap Laura.


" Laura please kamu ngalah.Jangan memperpanjang masalah ini. "Ujar Albian.


" Ya sudah. Aku naik taksi aja. "Ujar Laura turun dari mobil. Ia mendorong Albian yang menghalangi jalannya.


" Laura kamu mau kemana?Jangan naik taksi. Kamu ikut bareng saya. "Albian mencekal pergelangan tangan Laura.


Ria memperhatikan Laura dan Albian dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia mengusap-ngusap kepala putranya yang mulai tenang.


" Lepas! Kamu urus pacar kamu itu!! "Teriak Laura mendorong Albian. Ia benar-benar tidak bisa menahan rasa sesak di dada dan cemburunya .


Laura langsung berlari meninggalkan Albian yang mengejarnya.


Bug...


Laura tersandung batu karna tidak terlalu hati-hati, membuat ia jatuh terjungkal ke depan.Di gang ini pencahayaan juga minim.


" Lepasin aku! Aku nggak mau ikut kakak! Sana samperin pacar kakak!!".


Tangis yang sudah di tahan Laura akhirnya pecah. Ia menelungkupkan wajahnya di kedua telapak tangannya dengan tubuh yang bergetar hebat di sertai suara isakan tangisan yang keluar dari bibir mungilnya.


Albian berjongkok di depan Laura. Ia menyingkirkan tangan yang menutupi wajah Laura. Tapi Laura tetap mempertahankan tangan menutupi wajahnya.


"Kenapa menangis? Ada yang sakit? Kaki kamu luka, hmm? " Tanya Albian dengan nada suara yang sangat lembut. Ia memeriksa kaki dan badan Laura yang terlihat baik-baik saja.


Perlahan Laura menurunkan tangannya. Ia menatap Albian yang juga menatap dirinya. Pandangan mata mereka berdua terkunci beberapa detik. Perlahan tangan Albian menghapus air mata yang membasahi pipi Laura yang kemerahan.Ada rasa sakit yang sangat menyakiti hati Albian, saat melihat Laura menangis. Seolah ia bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Laura.


"Kenapa, hmm?" Tanya Albian. Seakan sadar, Laura langsung mendorong Albian yang langsung terjungkal ke belakang.Ia bangkit dan hendak pergi tapi lagi-lagi Albian dengan cepat menarik tangannya.


"Laura kamu mau kemana? ".

__ADS_1


" Aku mau naik taksi. Kakak lebih baik balik ke Ria. Dia lebih penting dan sangat kakak prioritaskan di banding aku. Ups... Aku lupa aku bukan siapa-siapa dan tidak punya hubungan apapun sama kakak, hahaha.. "Ujar Laura di akhiri tertawa hambar.


Albian terdiam. Hatinya seperti di tikam belati di ulu hati hingga tembus ke luar,saat mendengar kata " bukan siapa-siapa "entah mengapa itu sangat menyakitkan dan Albian tidak suka itu. Walaupun itu memang benar.


Laura langsung berlari meninggalkan Albian yang terdiam mematung menatap kepergian Laura yang mulai menghilang dari pandangan matanya.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Hiks... Kamu jahat hiks.... Aku salah besar mencintai kamu kak. Aku salah besar telah menaruh hati aku sama kamu. Seharusnya aku sadar diri dan tidak terlalu berharap dengan kamu,kak.Aku hanya seorang figuran dalam kehidupan kamu dan Ria, Ria pemeran utamanya yang sangat kamu prioritaskan. "Laura berjalan menyusuri jalan yang remang-remang dalam ke gelapan. Satu mobil atau pengendara pun tidak ada yang lewat di jalan ini.


Laura mengangkat tangannya, melindungi matanya dari sorot cahaya lampu mobil yang tiba-tiba datang dari arah berlawanan dan berhenti di depannya. Seorang pria turun dari mobil, berjalan mendekati Laura.


" Kamu ngapain malam-malam di tempat sepi seperti ini?"Dafi menampilkan wajah panik dan khawatir. Ia memperhatikan Laura dengan mata sembab dan penampilan yang kacau.


Laura langsung menubruk tubuh kokoh Dafi, memeluknya erat. Ia benar-benar dalam titik yang begitu tidak berdaya dalam hatinya yang kini di buat terluka begitu dalam oleh Albian.


"Eh, kamu kenapa nangis Laura. Apa ada orang yang nyakitin kamu? Mana orangnya biar aku kasih pelajaran? " Ujar Dafi, mengusap-ngusap punggung Laura lembut.


Gadis itu tidak menjawab hanya tangisan yang mewakili perasaannya saat ini. Dafi yang mengerti dengan hal itu, menggiring Laura masuk ke dalam mobilnya dengan posisi yang masuk memeluk Dafi.


Pria itu membukakan pintu mobil dan menyuruh Laura masuk ke dalam.Setelah Laura masuk Dafi langsung menyusul masuk ke dalam mobil.


"Minum dulu, agar kamu sedikit tenang . " Dafi memberikan air mineral yang sudah ia bukakan tutup botolnya agar Laura tinggal meminumnya.


Laura mengambil botol minum itu dan langsung meneguknya hingga air dalam botol itu tandas. Dafi terus memperhatikan Laura.


"Makan dulu ya. Kita ke cafe.Pasti tenaga kamu terkuras gara-gara jalan kaki tadi. " Ujar Dafi dengan sedikit bergurau agar Laura tidak terlalu larut dalam kesedihannya.


Bunyi suara perut Laura yang keroncongan, seolah mengiyakan ucapan Dafi. Laura menundukkan kepalanya, menahan malu. Dafi tersenyum.


Bersambung....


**Terimakasih 500K- nya , teman-teman🎊🎊🎊

__ADS_1


Saya juga gedeg banget sama Ria tapi itulah yang harus saya tulis . Mengikuti alur cerita yang sudah saya buat di buku tulis πŸ˜‚**


__ADS_2