
Laura terus memperhatikan Albian yang masih setia memejamkan matanya, yang terbaring lemah di brankar. Ia mengenggam tangan suaminya , dengan mata yang berkaca-kaca. Dokter mengatakan keadaan Albian kritis, dan di nyatakan koma karna luka di tubuhnya cukup dalam dan banyak kehilangan darah.
Laura mengusap air matanya kasar. Ia duduk di kursi dekat brankar Albian. Gadis itu menggenggam tangan suaminya erat , ia menempelkan bibirnya di punggung tangan Albian bersamaan dengan air mata yang jatuh membasahi tangan pria tersebut.
"Cepat sadar Kak. Jangan siksa aku seperti ini. Aku tidak bisa melihat kakak terbaring di sini dengan mata yang terpejam terus. Rasanya sakit melihat kakak seperti ini, " lirih Laura. Air mata semakin deras lagi keluar dari manik indah gadis itu. Rasa sesak yang begitu menyiksa.
"Kalau kakak, tidak cepat sadar , lalu siapa yang akan menjaga aku dan mengantarkan aku pergi kuliah. Aku tidak bisa tidur kalau tidak di peluk kakak , nanti kalau aku di ganggu Revan lagi, siapa yang akan nolong aku hiks.... "Laura makin kencang menangis, bersamaan dengan air mata yang semakin deras keluar. Dadanya begitu bergemuruh dan mata yang membengkak karna terlalu lama menangis.
Laura menenggelamkan wajahnya di kasur brankar. Membuat suara tangisannya tertahan.
Ceklek
Lily langsung masuk ke dalam ruang rawat. Ia berlari ke arah Laura yang menangis di dekat Albian. Wanita paruh baya itu langsung mendekap tubuh putrinya dari belakang dengan erat.
" Sabar sayang, "Lily memberikan usapan lembut di kepala Laura. Gadis itu berbalik ke arah mommy-nya dan membalas pelukannya. Tubuh Laura bergetar hebat dalam dekapan Lily.
" Albian, Mommy hiks..... Albian koma... Ini semua gara-gara aku, "Laura menangis histeris dan menyalahkan dirinya sendiri. Ia menganggap bahwa Albian seperti ini karna menyelamatkan dirinya .
Lily memejamkan matanya sejenak. Rasa sakit dan sesak menyeruak di dadanya melihat keadaan Albian dan juga pada Laura yang begitu terpukul.
" Ini bukan salah kamu, Laura. Ini salah Revan yang sudah mencelakai Albian. Putri Mommy tidak salah. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri, sayang. Albian melindungi kamu karna itu memang sudah kewajibannya sebagai suami dan Albian sangat mencintai kamu, dia tidak mau kamu kenapa-napa apalagi Revan yang sudah berani menyakiti kamu . Jangan buat pengorbanan Albian sia-sia dengan kamu menyalahkan diri kamu sendiri."Lily menguraikan pelukannya. Ia menghapus air mata yang membanjari wajah Laura.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu mengeluarkan sesuatu di papper bag berwarna hitam. Ia membelikan makanan kesukaan Laura, karna ia yakin pasti putrinya ini tidak makan apapun. Lily mengambil piring di meja yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit. Ia menumpahkan makanan ayam asam manis itu di piring dengan nasi yang terpisah.
"Laura ayo makan dulu, nak. Tenaga kamu pasti habis karna terus menangis, " Lily menarik pergelangan tangan Laura, menggiringnya ke sofa.
"Sekarang kamu makan dulu ya. Supaya tenaga kamu terisi, nanti kalau kamu tidak makan takutnya kamu sakit, nanti siapa yang menjaga Albian, " bujuk Lily.
Laura terdiam sejenak. Ucapan Mommy-nya memang benar. Kalau ia tidak makan, pasti ia akan sakit apalagi ia mempunyai penyakit maag. Laura membuka mulutnya, menerima suapan dari sang Mommy yang tersenyum senang, melihat dirinya yang menerima suapan Mommy-nya tersebut.
Di sela-sela mengunyah makanannya. Laura menatap kearah Albian. Ada rasa sakit yang teramat, melihat orang yang di cintai terbaring lemah, tidak sadarkan diri di brankar. Ingin rasanya bertukar posisi dengan Albian. Lebih baik ia yang harus mendapatkan luka tusukan itu daripada harus duduk menyaksikan sang suami yang terbaring di brankar dan mengalami koma.
"Mommy.Mamah Devia, Papi dan Papah Skala di mana? Kenapa mereka tidak ke sini? " Tanya Laura, menatap Lily.
"Mamah Devia, sudah di perjalanan ke sini. Sedangkan Papi dan Papah Skala ke kantor polisi melaporkan tindak kejahatan Revan. Karna kita tidak akan membiarkan orang yang sudah mencelakai dan hampir menghilangkan nyawa Albian, bebas begitu saja di luaran sana. " Tutur Lily.Sedangkan Laura manggut-manggut, mengerti dan setuju. Revan harus bertanggung jawab dan harus di hukum seberat-beratnya, batin Laura.
"Laura, kamu ganti pakaian ,gih. Pakaian kamu penuh bercak darah, " ujar Lily memperhatikan penampilan putrinya. Laura menatap bajunya yang begitu banyak noda darah. Entah mengapa melihat darah Albian yang menempel di pakaiannya membuat ia mengingat kejadian yang mengerikan itu.
Laura menganggukan kepalanya, "Tapi, Mommy. Aku tidak membawa pakaian ganti, " ujar Laura.
"Mommy sudah bawakan pakaian ganti untuk kamu. Sekarang kamu ke kamar mandi sekalian bersihkan badan kamu ya, " ujar Lily , menyerahkan pakaian ganti dan peralatan mandi, seperti sabun dan shampo yang di bawa dari rumah .
"Makasih ya Mommy, " ujar Laura, tersenyum tipis.
__ADS_1
Sebelum masuk ke kamar mandi, Laura berjalan mendekati Albian. Ia mengusap-ngusap kepala suaminya lembut. Pandangan matanya terus memperhatikan Albian. Ia tersenyum tipis di balut rasa sakit yang di tutupi dengan senyuman.
"Cepat sadar ya, kak. Semua orang sangat menyayangi kakak. Dan berharap kakak secepatnya sadar dan kembali seperti dulu, " Laura mengecup sudut bibir Albian cukup lama. Sebelum beranjak pergi ia melirik alat medis yang menancap di tubuh suaminya dan selang pernapasan yang menempel dalam mulut Albian. Kondisi suaminya saat ini cukup membuat hati ini selalu perih saat melihatnya.
Lily yang memperhatikan Laura, menatap iba dan berkaca-kaca. Ia berdo'a semoga Albian cepat sadar.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Saya tidak mau tahu, hari ini juga Revan harus di tangkap dan harus di hukum seberat-beratnya, " tegas Skala pada di rektor polisinya langsung.
"Lagi pula, barang bukti, seperti pisau yang di gunakan Revan untuk menusuk anak saya Albian, ada sidik jari Revan. Dan menurut saya itu sudah cukup sebagai barang bukti! " Ucap Skala dengan napas menggebu-gebu. Terlihat jelas raut emosi yang tergambar di wajah pria tersebut.
"Betul apa yang di katakan pak Skala. Kalau bisa secepatnya kasus ini di proses. Bisa saja Revan akan melarikan diri, bila lambat dalam penangkapan pria biadab itu! " Timpal Rian dengan intonasi suara yang cukup tinggi. Ia sangat benci pada orang-orang yang berani menganggu ketentraman keluarganya termasuk menyakiti putri dan menantunya.
"Baik Pak. Secepatnya kami akan memproses kasus ini.Dan kami janji akan segera menangkap pelaku yang bernama Revandra. " Ucap di rektor polisi tersebut.
Skala dan Rian menganggukkan kepalanya bersamaan.
"Kalau bisa di hukum mati, " celetuk Rian.
Bersambung....
__ADS_1
Maaf ya baru update🙏. Saya tidak menyangka bila ada yang nunggu-nunggu cerita ini untuk update 😊