
"Apa ada yang ingin di tanyakan, sebelum saya mengakhiri pelajaran hari ini? " Tanya Albian, menatap seluruh mahasiswa yang hanya diam.
"Kalau tidak ada yang di tanyakan, saya akhiri pelajaran hari ini. Assalamu'alaikum".
" Walaikumsalam! "Sahut semua orang yang ada di dalam kelas dengan suara yang cukup keras.
Albian menganggukkan kepalanya samar. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kelas dengan menenteng beberapa barang seperti buku dan lainnya.
Tangan Albian, mengambil sesuatu dari saku celananya dengan terus melangkahkan kakinya. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Tangannya bergerak di layar ponsel, mencari kontak nomor Wasthapp seseorang. Albian langsung menghubungi orang yang akan dia telpon.
Tutt....
" H-hallo kak. Ada apa ya telpon aku? "Tanya Laura di sebrang sana, gugup.
" Ekm.... ", dehem Albian menetralkan detak jantungnya. " Kamu di mana? "Tanya Albian the poin.
" Aku masih di kampus, memangnya kenapa? "Tanya Laura.
" Jam berapa pulang dari kampus? "Tanya Albian datar.
" Emm.... Setengah jam lagi, "Jawab Laura.
" Okey. Nanti saya jemput. Jangan pulang bareng Dafi. "Peringat Albian yang langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak tanpa menunggu jawaban Laura.
Bugh
Albian tidak sengaja menabrak seseorang yang nampak terburu-buru.Ember yang di pegang oleh orang yang di tabrak Albian, jatuh ke lantai dengan air yang tumpah, merembes ,membasahi lantai koridor .
" Kamu nggak papa? "Tanya Albian memegangi tangan Ria. Gadis itu hampir oleng.
" Aku nggak papa. Cuma aku lagi buru-buru Albian, "jawab Ria dengan raut wajah panik.
Albian memperhatikan wajah Ria. " Muka kamu kenapa panik seperti itu? Apa ada masalah?"Tanya Albian, penasaran.
"Raja demam,barusan aku di telpon orang yang mengasuh Raja. Aku harus segera pulang . " Ujar Ria. Ia segera mengambil ember dan pel yang tergeletak di lantai. Ria mengepal lantai dengan cepat-cepat, agar tidak ada yang terpeleset karna lantai basah.
"Aku antar, " ujar Albian. Langkah kaki Ria terhenti, ia menoleh ke belakang,mensejajarkan posisinya yang kini berhadapan dengan Albian.
"Kalau itu tidak merepotkan kamu, aku mau. " Sahut Ria.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Mobil melesat begitu cepat, membelah jalan raya yang nampak begitu sepi. Ria terus menatap ke luar jendela kaca mobil dengan tangan yang tertaut. Dalam pikirannya saat ini adalah Raja, putranya. Albian memutar setir mobil, memarkirkan mobil di depan toko apotek.
"Kenapa berhenti di sini? " Tanya Ria.
Albian menoleh menatap Albian, tersenyum. "Raja demam'kan? " Tanya Albian yang di angguki dengan cepat oleh Ria.
"Aku sengaja berhenti di toko apotek, buat beliin obat penurun demam buat Raja. Supaya kamu tidak bolak-balik lagi buat beliin obat demam. " Ujar Albian. Pria itu keluar dari mobil sedangkan Ria tetap berada di dalam mobil.
Sudut bibir Ria terangkat , membentuk sebuah senyuman yang nampak manis. Albian begitu perhatian pada Raja, padahal Raja bukan anak Albian. Andai ia mempunyai suami seperti Albian, batin Ria.
Tidak berapa lama, Albian keluar dari dalam toko apotek dengan membawa plastik kecil. Ia masuk ke dalam mobil dan memberikan kantongan berisi obat demam pada Ria .
"Makasih ya Albian, " ujar Ria mengambil kantongan yang di sodorkan Albian.
"Iya, sama-sama. " Balas Albian.
*****
Mobil yang di kendarai Albian sampai di depan kontrakan Ria. Terlihat seorang wanita paruh baya berdiri di depan kontrakan tersebut dengan menggendong Raja yang terus menangis dengan wajah yang nampak memerah.
Ria turun dari dalam mobil, di susul Albian yang juga keluar dari mobil.
"Tadi, tiba-tiba badan Raja demam, padahal tadi pagi baik-baik saja, Ria. " Tutur Asih.
"Iya, bi. Mungkin gara-gara kemaren kehujanan. " Ujar Ria.
"Kenapa bisa kehujanan? " Albian langsung melemparkan pertanyaan pada Ria.
"Kemaren aku beliin susu buat Raja. Jadi pas pulang dari mini market tiba-tiba hujan deras, awalnya aku dan Raja berteduh . Tapi hujan tidak kunjung berhenti jadi aku terobos hujan itu karna hari sudah mulai gelap, Albian. Aku takut kenapa-kenapa kalau pulang malam, lagipula jarak rumah tidak terlalu jauh. " Jelas Ria.
Albian menghela napas berat. "Jangan di ulangi lagi. Kasihan Raja. " Ujar Albian. Tangannya terulur mengusap rambut tebal Raja yang nampak menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ria.
"Apa mau aku antar ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Raja? " Tawar Albian.
"Tidak usah Albian. Aku sudah cukup merepotkan kamu. Nanti Raja, juga demamnya bakal sembuh kalau sudah minum obat . " Ujar Ria.
"Ya sudah kalau begitu. Aku pamit, " ujar Albian yang membuka pintu mobilnya, bersiap akan masuk.
Ria melemparkan senyuman yang langsung di balas Albian.
Kini mobil itu mulai meninggalkan pekarangan depan rumah kontrakan Ria. Gadis itu masuk ke dalam rumah setelah mobil Albian hilang dari pandangan matanya.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Laura berdiri di depan pintu gerbang kampus. Matanya melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah dua puluh menit dia berdiri di sini tapi Albian tidak kunjung datang-datang juga.
"Katanya mau jemput, kenapa nggak datang-datang." Gerutu Laura.
Ia seperti patung yang terus berdiri di depan gerbang, tapi yang di tunggu tidak datang-datang juga.
Titt...
Suara klakson mobil membuat perhatian Laura teralihkan. Ia menatap Albian yang perlahan membuka kaca mobilnya.
"Ayo, masuk! "
Laura segera mendekati mobil Albian dan masuk ke dalam.
"Sudah lama nunggunya? " Tanya Albian yang mulai menjalankan mobilnya .
"Iya, " jawab Laura singkat.
Albian sekilas melirik Laura yang ada sebelahnya dan kembali fokus menyetir mobil.
"Nih." Albian menyodorkan sebuah buket bunga besar pada Laura yang menampilkan wajah kaget dan melongo.
Buket bunga yang berwarna-warni yang nampak begitu cantik. Dan aroma bunga yang khas.
"Ambil, kenapa diam? " Ujar Albian sewot.
"Untuk aku? " Tanya Laura, menunjuk dirinya sendiri.
Albian menoleh kearah Laura. "Memangnya di dalam mobil ini ada orang lain , selain kamu! " Sewot Albian, yang di balas gelengan oleh Laura.
"Kenapa beliin aku bunga? " Tanya Laura.
"Kamu jangan kege'eran ya. Itu bunganya saya di kasih orang. Dari pada di buang mending saya kasih ke kamu. Tapi kalau kamu nggak suka sama bunganya,tinggal buang. " Ujar Albian.
"Jangan! Aku suka sama bunganya. Warna-warni. Harum lagi. " Ujar Laura menghirup aroma buket bunga tersebut.
Albian mengulum senyumnya.Hatinya berbunga-bunga ketika Laura menyukai buket bunga pemberian darinya.
Bersambung...
__ADS_1