
...Kemenangan selalu berpihak pada orang yang benar...
...(Windanor) ...
"Ada apa, Cia? " tanya Alvian yang tiba-tiba muncul dari belakang.
Alvian menatap dua orang polisi yang menatap kearah dirinya.
"Polisi ini mau menangkap kamu, mas. Rayyan melaporkan kamu atas dasar penganiayaan, dia membalikkan fakta yang sebenarnya. Aku enggak mau kamu masuk penjara. Rayyan benar-benar licik" adu Cia dengan mata yang berkaca-kaca pada Alvian yang membalas tatapan matanya yang sendu.
Alvian mengusap-ngusap punggung Cia lembut. Mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Cia memeluk Alvian erat, bagaimana pun caranya polisi ini tidak boleh membawa suaminya.
"Apa anda yang bernama Alvian Fraya Sadewa? " tanya Anton, salah satu polisi tersebut.
Alvian menganggukkan kepalanya tanpa ada rasa takut yang tersirat di wajahnya . Karna ia benar dan buat apa dia takut tapi Rayyan yang memfitnah dirinya.
"Kami mendapatkan surat izin untuk menangkap anda atas dasar penganiayaan pada saudara Rayyan. Kamu juga mendapatkan bukti dari salah satu saksi yang berada di TKP saat anda menganiaya saudara Rayyan. Jadi mari ikut kami " ujar polisi tersebut mengeluarkan borgol.
Cia menggelengkan kepalanya. Ia langsung merampas borgol tersebut dari Anton yang hendak memborgol kedua tangan suaminya.
"Suami saya tidak salah!! Yang salah itu Rayyan! Polisi macam apa kalian, hanya mendengar penuturan salah satu saksi kalian langsung percaya. Rayyan bisa saja membayar orang lain agar mengaku melihat pria itu di aniaya suami saya,padahal kenyataan itu tidak benar!! " bentak Cia dengan napas yang memburu.
"Tenang, Cia. Kamu telpon Albian sekarang. Karna hanya dia yang mempunyai rekaman CCTV itu saat kejadian tadi " ujar Alvian.
Polisi itu merebut borgol dari tangan Cia dan memborgol kedua tangan Alvian yang nampak tenang tidak melawan sama sekali.
"Jangan borgol tangan suami saya!! Dia bukan penjahat!! " teriak Cia berusaha merebut kunci borgol tersebut dari tangan Anton.
"Maaf mbak, jangan menghambat kerja kami " ujar Ari .
"Sayang, tenang . Aku tidak papa, kamu telpon Albian ya, suruh di ke kantor polisi, membawa rekaman CCTV itu agar kejadian sebenarnya terkuak. Mereka tidak akan mendengar kata-kata kamu meski untuk benar, mereka hanya perlu bukti " ujar Alvian lembut.
Cup!
Alvian mencium kening Cia lembut. Dua polisi itu langsung membawa Alvian yang menatap sendu Cia yang diam mematung.
Cia menggelengkan kepalanya seakan sadar dari lamunannya "Mas Alvian!! Jangan bawa suami aku! Mas Alvian" teriak Cia, berlari mengejar dua polisi yang membawa Alvian.
Cia menangis histeris melihat mobil polisi yang membawa suaminya sudah pergi dan perlahan menghilang dari pandangan matanya. Tubuhnya meluruh ke aspal dengan bulir-bulir air mata yang menetes membasahi bajunya.
__ADS_1
"Mas Alvian hiks...... "Cia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Semua orang yang melihatnya menatap iba.
" Cia kamu kenapa? "tanya Albian yang tiba-tiba muncul. Pria itu pergi sebentar untuk mencek CCTV di kampus di ruangan Alvian.
Cia mendongak menatap Albian dengan mata sembabnya. Ia bangkit dari aspal di bantu oleh Albian yang menatap bingung pada istri kembarannya.
" Cia kamu kenapa menangis? Dan Alvian mana? "tanya Albian melihat ke sekeliling sekitar.
Cia menangis sesegukan dengan tubuh yang bergetar" Mas Alvian di bawa ke kantor polisi "jawab Cia dengan suara serak .
Albian yang mendengar itu terperangah "Kenapa di bawa ke kantor polisi? Jawab Cia?! " tanya Albian mendesak memegangi kedua bahu Cia, sedikit menguncang.
Cia menangis menatap Albian. Dadanya benar-benar sesak.
"Cia jawab jangan hanya menangis!! " bentak Albian yang benar-benar gusar. Cia tersentak mendapatkan bentakan Albian.
"R-rayyan melaporkan Alvian atas kasus penganiayaan. Rayyan membalikkan fakta yang sebenarnya. Tadi mas Alvian mengatakan kamu harus ke kantor polisi dengan membawa rekaman CCTV agar polisi itu percaya apa yang kita katakan dan membebaskan mas Alvian" ujar Cia dengan nada suara yang sesegukan.
Albian yang mendengar itu menggeram kesal. Ia mengumpat dalam hati pada Rayyan. Sial! Ia tidak menyangka pria brengsek dan bajingan itu bergerak cepat tentang masalah ini.
"Kamu tenang, Cia. Aku akan ke kantor polisi mengurus masalah ini " ujar Albian.
"Kamu tidak usah ikut, Cia. Biar aku yang kesana. Kamu tetap disini dan aku janji Alvian akan pulang bersama ku nanti" bujuk Albian yang di balas gelengan oleh Cia, menolak.
"Aku mau ikut. Aku mohon, aku mau ikut " mohon Cia menyatukan kedua telapak tangannya dengan pupple eyesnya membuat Albian menghela napas berat dan terpaksa mengangguk.
Percuma ia melarang Cia akan tetap bersikeras untuk ikut.
πππππ
Rayyan menatap Alvian yang berada dalam penjara tersenyum remeh. Seakan menyatakan bila yang menang dalam masalah ini.
"Sangat mudah bagiku untuk mendapatkan Cia bila kamu berada di penjara . Tidak sabar untuk bermain-main dengan istri mu itu " ujar Rayyan memancing emosi Alvian.
Alvian langsung menarik kerah baju Rayyan kasar dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"Sedikit saja kau menyentuh istri ku.... Maka kau habis di tangan ku. Tidak akan aku biarkan seorang pria pun menyentuh milik ku termasuk kamu " ujar Alvian penuh penekanan.
Alvian melepaskan cengkramannya di kerah baju Rayyan dan mendorong kasar Rayyan hingga mundur beberapa langkah. Andai saja ia tidak berada di dalam jeruji besi ini maka ia pastikan ia sudah menghajar Rayyan habis-habisan sampai dia puas.
__ADS_1
Tidak beberapa lama seorang polisi datang dan membukakan pintu jeruji besi itu membuat kening Rayyan mengernyit. Sedangkan Alvian tersenyum, ia yakin pasti Albian sudah datang.
"Kenapa dia di keluarkan dari penjara? " tanya Rayyan dengan nada suara tak terima.
"Ada yang ingin bertemu dengan saudara Alvian" jawab polisi itu membawa Alvian . Rayyan mendengus, ia mengikuti Alvian yang di bawa polisi tersebut.
Albian dan Cia menoleh bersamaan saat mendengar suara langkah kaki. Gadis itu langsung bangkit dari kursi, ia berlari kearah suaminya dan memeluk Alvian erat. Menenggelamkan wajah di dada bidang Alvian menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya. Sepanjang jalan ia mual dan ingin muntah tapi ia tahan. Sekarang rasa mualnya sudah hilang setelah memeluk Alvian yang membalas pelukannya dan memberikan usapan lembut di kepalanya. Cia memejamkan matanya merasakan sensasi yang berbeda saat memeluk Alvian , kehangatan yang merayap ke hatinya.
Rayyan yang melihat adegan itu menggeram kesal. Tapi sebuah senyuman smirk muncul di wajah tampannya. Karna sebentar lagi Cia juga akan menjadi miliknya. Ia akan menuntut Alvian seberat-beratnya kalau bisa seumur hidup memdekam di penjara.
πππππ
Albian mendekati polisi yang tengah mengawasi Alvian yang tengah berpelukan dengan Cia. Sebuah tepukan di bahu polisi dengan tubuh gempal itu membuat ia menoleh menatap Albian yang tersenyum ramah.
"Maaf saya ingin menanyakan di mana ruangan inspektur polisi? " tanya Albian.
"Ada hal apa ingin menemui inspektur Wahyu? " tanya polisi itu dengan menyipitkan matanya.
"Saya ingin membicarakan masalah kasus penganiayaan pada Alvian pada Rayyan " ujar Albian.
Polisi itu menganggukkan kepalanya. Ia memanggil rekannya untuk mengantarkan Albian ke ruangan inspektur Wahyu yang bertugas menangani kasus kriminal.
Albian mengikuti polisi dengan kumis tebal di bawah hidungnya. Ia menatap sinis pada Rayyan yang tak kalah sinis menatapnya. Pria itu mengikuti anggota polisi tersebut hingga sampai di ruangan inspektur yang tengah menerima sebuah telpon.
"Ada yang ingin bertemu dengan anda. Ingin membahas kasus penganiayaan tersangka Alvian pada saudara Rayyan " ujar polisi tersebut dengan nada tegas yang di angguki inspektur Wahyu.
"Silahkan duduk " ujar Wahyu setelah berjabat tangan dengan Albian.
"Saya langsung ke intinya ya, pak. Jadi laporan yang di adukan Rayyan adalah palsu. Dan saksi yang mengatakan melihat Alvian melakukan penganiayaan pada Rayyan itu juga bohong. Saya punya buktinya bila bapak tidak percaya bahkan saksi yang melihat Rayyan di aniaya Alvian tidak ada di tempat itu" ujar Albian yang menyodorkan sebuah flashdisk pada Wahyu yang langsung ia terima.
Inspektur itu sedikit ragu pada Albian. Tapi ia langsung saja menghubungkan flashdisk itu ke laptopnya. Wajah Wahyu sedikit mengkerut melihat rekaman CCTV. Ia menatap kearah Albian yang nampak tersenyum seakan tau apa yang dia pikirkan sekarang.
Inspektur itu langsung mengambil telpon dan memencet beberapa angka dan terhubung dengan anak buahnya.
"Tolong bawa saksi yang mengatakan melihat kejadian saat tersangka Alvian menganiaya saudara Rayyan. Dan bawa juga korban yang bernama Rayyan ke ruangan saya, secepatnya! " ujar inspektur Wahyu yang kembali menonton rekam CCTV itu.
Bersambung....
Puas enggak, say. Panggil saya Winda jangan thorπ
__ADS_1