Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Ektra part 4


__ADS_3

"Baiklah, apa ada yang ingin di tanyakan sebelum saya akhiri pelajaran hari ini? " Tanya Albian menatap seluruh mahasiswa yang tampak diam.


"Kalau tidak ada yang di tanyakan saya akhiri pelajaran hari ini, " Albian membereskan buku dan peralatan miliknya sebelum keluar dari kelas . Ia menggaruk wajah dan beralih ke lehernya yang timbul bercak-bercak kemerahan.


Tubuhnya terasa sangat gatal dan panas. Laura memperhatikan suaminya yang tampak aneh sepanjang pelajaran dari tadi karna selalu menggaruk-garuk. Ia mendekati Albian setelah mahasiswa yang lain keluar dari kelas untuk istirahat dan pergi ke kantin.


"Kakak kenapa? " Tanya Laura menyentuh wajah Albian yang sudah banyak bintik-bintik, hingga mata pria itu juga memerah.


"Tidak tahu, sayang . Tapi badan aku gatal dan juga panas , " adu Albian yang terus menggaruk-garuk wajah dan lehernya.


"Jangan di garuk terus nanti malah lecet, " larang Laura menahan kedua tangan Albian.


"Ssstt.... Tapi ini sangat gatal, Laura, " Albian semakin menggaruk-garuk wajahnya hingga menimbulkan bekas goresan kukunya sendiri.


"Sudah jangan di garuk, kak. Ayo kita ke ruangan kakak. Pasti ini alergi. Memangnya kakak tadi makan apa sih sampai timbul bintik-bintik seperti ini? " Tanya Laura yang menarik tangan suaminya keluar dari kelas.


Albian terdiam. Mengingat-ingat apa yang ia makan tadi. Mata pria itu langsung membulat sempurna, baru ingat kalau ia memakan nasi goreng yang terdapat udang . Albian alergi udang sama persis seperti Mamahnya, Devia.


"Itu pasti gara-gara aku makan nasi goreng seafood. Aku alergi udang, " celetuk Albian. Laura membelalakan matanya, menghentikan langkah kakinya, berbalik kearah suaminya.


"J-jadi kakak alergi udang? Kenapa tidak mengatakannya tadi? Saat aku hendak menyuapi kakak nasi goreng seafood kakak kenapa tidak menolaknya,hah? Dan alergi kakak kambuh itu gara-gara aku____Maaf, " Laura tertunduk merasa bersalah. Albian tersenyum, mengangkat dagu Laura, agar menatap wajahnya.


"Kamu tidak salah ,sayang.Ini salah aku karna menerima suapan dari kamu, " ujar Albian menatap lekat Laura yang sudah berkaca-kaca.


"Kenapa tidak menolak saja, saat aku akan menyuapi kakak nasi goreng itu. Seharusnya kakak tolak atau mengatakan kalau kakak alergi udang. Sekarang badan kakak jadi bintik-bintik seperti ini, " Laura melengkungkan bibirnya ke bawah.


Albian segera mengusap air mata yang membasahi pipi Laura, lembut, "Sudah jangan menangis. Ini salah aku, bukan kamu. Aku tidak bisa menolak makanan yang kamu berikan pada ku. Aku tidak ingin kamu sedih karna hal sepele ini.Setiap hari aku siap makan udang, kalau itu membuat kamu senang, " ujar Albian tersenyum lebar, walau badannya sudah terasa sangat gatal dan panas.


"Tapi itu namanya seni menyakiti diri kakak sendiri. Nanti bilang sama aku kalau ada makanan yang kakak tidak suka dan juga membuat kakak alergi. Aku tidak ingin kakak seperti ini, " Laura memeluk Albian erat . Tangan pria itu mengusap kepala sang istri lembut. Memberikan kecupan mesra di kening Laura.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Ayo minum dulu obatnya, " Laura memberikan obat yang bisa mengatasi alergi pada Albian. Pria itu memberikan gelas yang sudah kosong pada Laura, setelah meminum obatnya.


"Sekarang kakak istirahat ya. Aku mau masak makanan dulu. Nanti kalau sudah selesai masak baru aku panggil  kakak, " ujar Laura hendak beranjak. Albian dengan cepat mencekal pergelangan tangan sang istri.

__ADS_1


"Jangan tinggalin aku.Di sini saja temani aku. Nanti soal makanan kita delivery saja. Aku mau di peluk kamu, sayang, " Albian merentang kedua tangannya, minta peluk. Laura terkekeh mendengar permintaan Albian yang sepertinya  ingin  bermanja.


Laura menjatuhkan dirinya di sebelah kasur Albian yang  dengan sigap memeluknya. Pria itu memeluk erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri. Laura bisa merasakan terpaan hembusan napas Albian yang terasa hangat dan gesekan kumis tipisnya yang membuat ia kegelian.


Gadis tersebut memperhatikan Albian yang sudah menutup matanya, rapat. Hidung mancung, bibir tebal yang berwarna pink alami dan wajah yang sangat tampan. Tangannya terulur mengusap-ngusap rambut tebal Albian yang berwarna agak kecoklatan. Ia merasa beruntung mendapatkan suami seperti Albian walau perjuangannya tidak'lah mudah untuk bisa mendapatkan pria yang sangat ia cintai.


*******


Laura mengkerutkan keningnya memperhatikan Albian yang tampak mencari sesuatu di dalam kulkas. Pria itu terlihat menggaruk kepalanya seolah sedang bingung karna barang yang ia cari tidak dapat. Albian berdecak kesal dan langsung menatap kearah Laura yang langsung menatap kearah lain.


"Laura kamu melihat susu kotak rasa coklat punya aku . Seingat ku tadi ada di dalam kulkas dan tinggal satu kotak? " Tanya Albian dengan tatapan mengintimidasi.


Yang di tanya terlihat gugup , sebenarnya ia memang meminum susu coklat milik Albian karna benar-benar menginginkannya.


"Tadi aku yang minum, soalnya aku ke pengen minum susu itu____Tapi kakak sejak kapan suka minum susu ? " Tanya balik Laura. Albian langsung menghempaskan tubuhnya di samping Laura yang duduk di sofa.


"Aku tidak tahu. Akhir-akhir ini suka minum susu coklat dan juga suka lapar kalau tengah malam, " jawab Albian, yang tidak mengerti dengan perubahan dengan dirinya sendiri. Padahal ia sangat membenci meminum susu  coklat atau pun susu rasa vanilla.


"Ya sudah nanti kita super market, beli susu buat kakak ya, " ujar Laura. Albian mengangguk dengan semangat di sertai mata yang berbinar-binar seolah mendapat harta paling berharga


Cup


Albian mencium pipi Laura singkat dan langsung merebahkan kepalanya di paha Laura, membuat gadis itu kaget.


"Sayang elus-elus kepala aku, lagi ke pengen, " pinta Albian sedikit merengek seperti anak kecil.Laura tertawa serta gemas dengan ekpresi suaminya yang seperti anak kecil.


"Kakak ini seperti anak kecil. Sekarang kenapa makin manja sih? " Laura mencubit gemas pipi Albian.


"Wajar kalau manja sama istri sendiri. Kecuali manja sama istri orang lain, baru itu tidak wajar, " ujar Albian seraya menggesekkan wajahnya di perut rata Laura.


"Sayang, kapan kamu hamil? " Entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulutnya. Ia sangat menginginkan kehadiran seorang anak di tengah-tengah mereka berdua. Apalagi umurnya yang sudah hampir 36 tahunan. Teman-teman juga sudah menikah dan memiliki anak.


Laura terdiam sejenak , kemudian tersenyum."Kalau sudah rezekinya pasti aku akan segera hamil___Tapi tidak tau kapan, "jawab Laura mengidikan bahunya.


" Berarti kita lebih berusaha lagi untuk proses pembuahannya, "Albian cekikikan tertawa. Laura tersenyum malu-malu mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


" Mamah ini anak aku? "Tanya Rayyan yang tersenyum lebar. Matanya terus menatap kearah Raja yang duduk di sisi brankar miliknya, Rima memegangi balita tersebut agar tidak jatuh.


" Iya. Kamu'kan yang minta dan mama mengabulkan itu. Dia sangat tampan dan persis seperti dirimu di waktu kecil, "ujar Rima terkekeh. Raja sibuk mengemuti pisang yang di berikan Rima agar tidak menangis lagi.


" Namanya siapa, Mah? "Tanya Rayyan yang mencubit pelan pipi chubby anaknya, gemas.


" Namanya kalau tidak salah Raja iya Raja, "jawab Rima. Ia bahagia melihat Rayyan yang tampak terlihat senang dengan kehadiran Raja. Dan Rima lebih bersyukur lagi karna Cia maupun Alvian mau mencabut tuntutannya pada Rayyan.


" Ria mana?Kenapa cuma Raja yang Mamah bawa ke sini? "Tanya Rayyan menatap sayu pada Rima yang bergeming, tidak bisa menjawab.


" Sudah, jangan bahas wanita pelacur itu. Lebih baik kamu fokus untuk pemulihan kamu, nak. Nanti Mamah bakal mencari pengasuh untuk menjaga Raja, "ujar Rima. Rayyan terdiam, ada rasa bersalah yang merasuk di benaknya mengingat gadis yang pernah ia tiduri hingga hamil dan mengusir gadis ketika meminta pertanggung jawaban.


*******


Di tempat lain Ria berjalan menyusuri jalan, menggenggam foto Raja yang sudah rusuh . Tidak henti-hentinya ia menangis mencari keberadaan anaknya yang di bawa wanita yang mengaku orang tua Rayyan. Pria kejam itu sudah merenggut semuanya dan sekarang merebut anaknya yang susah payah ia rawat dari saat mengandung dan melahirkan.


" Aku benci dengan hidup ku hiks..... Kenapa aku harus seperti ini? Semuanya sudah habis dan sekarang anak ku di ambil. Kemana lagi aku mencari putra ku, Tuhan? "Ria terduduk di trotoar menangis tersedu-sedu. Tangisan wanita itu berhenti ketika melihat sopir yang mengantar wanita paruh baya itu .


" Aku yakin pasti dia tahu di mana wanita itu membawa anak ku, "Ria menghapus air matanya kasar . Ia melangkahkan kakinya menyebrang jalan, berlari.


Tittt.....


Tanpa Ria sadari sebuah truk melaju ke arahnya. Belum sempat menghindar tubuh wanita itu langsung terpental jauh dan kepalanya langsung membentur trotoar begitu kencang. Darah mengalir dari kepalanya, bau amis darah yang begitu menguar. Orang-orang langsung mendekati kearah Ria untuk segera memberikan pertolongan termasuk sopir Rima.


Sebagian yang lain langsung menahan sopir truk yang menabrak Ria hendak kabur. Jalan mulai timbul kemacetan,karna peristiwa kemacetan ini.


" Raja.... Anak ku mana, "lirih Ria yang masih dalam ke sadarannya.


Ria bisa melihat bayangan Bapak dan Ibunya yang mengulurkan tangan padanya seolah ingin membawa ia pergi. Tanpa ia sadar sudut bibirnya terangkat tersenyum, melihat kedua orang yang sudah tiada kini hadir. Bila ini sudah waktunya kematian menjemputnya ia ikhlas, toh apa yang ia cari di dunia yang begitu kejam padanya,dan kehidupan yang begitu sengsara.Ria berharap Raja bisa di jaga dengan baik oleh Rima dan Rayyan.


Perlahan pandangan Ria menggelap, dan ke sadarannya mulai menghilang bersamaan dengan matanya yang sudah tertutup rapat . Napasnya yang tersengal kini perlahan teratur.


" Selamat tinggal...... "

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2