Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Ektra part 2


__ADS_3

"Jangan ambil anak, aku!! " Teriak Ria memeluk erat Raja yang menangis kencang merasakan sakit tubuhnya yang di perebutkan. Rima yang merupakan orang tua Rayyan terus berusaha mengambil cucunya.


Ria jatuh terjungkal ke tanah ketika dua anak buah Rima mengambil Raja dengan paksa dalam pelukannya.


"Undaaa!!! " Teriak Raja menjulurkan tangannya pada Ria.


"Jangan ambil anak saya!! Kalian tidak hak  untuk mengambil anak saya!! " Teriak Ria dengan suara yang meninggi.


Rima yang mendengar itu berjalan mendekati Ria dan mencengkram dagu wanita tersebut dengan kasar, membuat Ria marintih kesakitan merasakan sakit di dagunya akibat cengkraman wanita paruh baya itu.


"Kamu harus ingat. Anak ini merupakan darah daging putra saya! Jadi saya sebagai Oma nya berhak mengambilnya dari kamu! " Bentak Rima dengan mata yang melotot.


"Undaaa!! Uhuk.... Uhuk... Hiks... " Raja menangis sesegukan sampai terbatuk-batuk menatap Ria . Sedangkan wanita itu menatap nanar pada putranya dengan hati yang begitu perih. Kenapa dunia begitu kejam padanya. Ia sudah kehilangan ibu nya, kehilangan Albian yang merupakan orang yang ia cintai dan sekarang anaknya yang merupakan satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupnya harus di ambil paksa. Dosa dan kesalahan apa yang pernah ia perbuat  hingga Tuhan memberikan masalah bertubi-tubi, yang perlahan menghancurkan hidup dan mentalnya.


Ria perlahan bangkit dan berdiri di hadapan Rima yang menatap angkuh padanya. Dengan tubuh yang bergetar hebat menahan tangis, ia menunjuk tepat di wajah Rima.


"Satu hal yang harus anda tahu. Rayyan sudah menolak kehadiran Raja saat masih dalam kandungan. Dengan tidak punya hatinya dia menyuruh saya untuk  menggugurkan Raja. Secara tidak langsung Raja dan Rayyan tidak memiliki hubungan selayaknya seorang ayah dan anak . Karna Rayyan sudah memutuskan hubungannya dengan darah dagingnya sendiri, yang masih dalam kandungan saya saat itu!! " Ujar Ria dengan penuh penekanan. Perlahan air mata yang menggenang di pelupuk mata Ria mengucur deras.


"Jadi_____Kembali kan putra saya. Anda tidak punya hak mengambil Raja dari saya! " Teriak Ria .


Plakk....


Tamparan yang begitu kencang, Rima berikan pada Ria, hingga wajah wanita itu terhempas dengan kasar ke samping. Ria memegangi pipi kanannya, merasakan perih dan sakit yang menjalar di wajahnya.


"Saat itu Rayyan tidak bisa mengontrol emosinya. Dan tidak sadar dengan ucapan yang dia lontarkan pada kamu. Anak saya ingin bertemu dengan putranya dan kamu tidak ada hak untuk melarang. " Rima layak beranjak pergi membawa Raja yang menangis semakin kencang.

__ADS_1


"Raja!!Kembalikan anak saya!! " Teriak Ria berlari mengejar mobil yang membawa anaknya. Tubuh wanita itu langsung meluruh ke aspal saat mobil tersebut menghilang dari pandangan matanya.


"Kembalikan putra saya. Jangan ambil dia, " ucap Ria dengan pelan.


"KEMBALIKAN ANAK SAYA!! RAJA, KEMBALI, NAK!!" Teriak Ria dengan histeris. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang bergetar hebat dengan tangisan yang tidak bisa ia rendam.


Kenapa ia tidak bisa bahagia seperti orang lain? Kenapa semua orang yang dia cintai pergi meninggalkan dirinya sendirian?  dosa dan kesalahan apa yang pernah ia lakukan? Kenapa Tuhan tidak adil pada dirinya. Dia benar-benar berada di titik terendah sekarang dan harus menghadapi masalah ini seorang diri tanpa ada orang yang menguatkan dirinya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Laura turun dari mobil berwarna hitam tersebut. Ia menatap kampus yang akan menjadi tempat kuliah barunya. Ia tersentak ketika sebuah tangan kekar merengkuh pinggang rampingnya. Laura menoleh, menatap Albian yang ada di samping, menatap lurus ke depan.


"Ayo masuk. Nanti akan aku perkenalkan kamu kepada mahasiswa lainnya, " ujar Albian.


Albian memegangi kedua bahu sang istri. Membuat posisi Laura berdiri menghadap pria yang menatap sendu padanya.


"Kalau kamu kuliah di kampus ini. Saya jadi mudah untuk memantau kamu. Memangnya kamu bisa menjamin kejadian kemaren tidak terulang lagi. Mungkin Revan sudah mendekam di penjara tapi bisa saja kan orang terdekatnya kembali mencelakai kamu, " ujar Albian dengan tatapan yang begitu serius.


Laura menganggukan kepalanya, "Iya, kak, " sahut Laura, paham dan mengerti dengan apa yang di lakukan Albian demi kebaikan dirinya.


Albian meraih tangan Laura , menggenggam dan menarik lembut tangan sang istri. Ia membawa gadis itu tersebut ke ruangannya dahulu karna mereka datang terlalu pagi. Sedangkan di koridor kampus mereka berdua berpapasan dengan beberapa mahasiswa yang lainnnya .


Albian membuka pintu ruangannya. Ia membawa masuk Laura ke dalam sana.


Gadis tersebut terus menatap sekitar ruang kerja Albian yang cukup luas. Aroma maskulin yang semerbak tercium di indra penciuman Laura yang membuat ia merasa tenang mencium aroma tersebut.

__ADS_1


"Sayang, duduk dulu." Ujar Albian, membuat Laura tersentak kaget. Ia berjalan duduk di sebuah sofa yang cukup empuk. Sedangkan suaminya mengeluarkan sesuatu dalam kulkas.


"Kak, kok di ruang kerja kakak ada kulkas. Memangnya boleh? " Tanya Laura. Pasalnya ia tidak pernah melihat dosennya yang dulu memiliki kulkas pribadi di ruang kerjanya. Albian meletakan minuman dingin di meja, di depan Laura.


"Kamu lupa___Kalau kampus ini milik Papah aku. Jadi bebas aku mau mengisi dengan apa saja di ruangan ini. Aku bahkan punya TV sendiri. " Ujar Albian menyalahkan remot TV, membuat Laura menganga tidak menyangka.


Cup!


Albian mengecup pipi Laura. Membuat lamunan gadis itu buyar. Pria itu tertawa melihat wajah keterkejutan sang istri.


"Sayang, " Albian menggeser tubuhnya untuk semakin merapat pada tubuh Laura. Sepertinya penyakit manja Albian kembali kambuh lagi.


"A-apa, kak? " Tanya Laura gugup dan juga merasa geli dengan kecupan yang Albian berikan pada lehernya.


"Kita buat anak yuk. Mumpung aku belum ngajar, " ujar Albian dengan muka memelasnya.


"Kakak gila ya! Nanti kepergok sama mahasiswa lain gimana?Nanti mereka mengira kita bermesuman. Apalagi aku mahasiswi baru di sini, " ujar Laura menolak.


"Kamu istri aku. Ya terserah aku mau apa. Sudah halal, " ujar Albian langsung memeluk tubuh mungil Laura. Dan memelilitkan kakinya di paha sang istri. Seperti ular yang tengah melilit mangsanya dan siap untuk di terkam.


"Kakak... " Laura berusaha menghindari ciuman Albian di bibirnya. Ia cuma takut suaminya tidak ingat waktu bila sudah bermain .


Bersambung....


Maklum masih bau-bau pengantin baru😂

__ADS_1


__ADS_2