
"Kita mau ke mana? " tanya Ria yang masih setia melingkarkan tangannya di lengan Rayyan. Entah mau di bawa ke mana ia oleh pria tersebut.
Rayyan tersenyum tipis menoleh ke arah Ria. "Kita akan bertemu dengan dokter yang akan mengoperasi mata kamu, " ujar Rayyan.
Langkah kaki Ria terhenti. Ia diam sejenak. "Siapa yang rela mendonorkan matanya kepada ku? " tanya Ria. Sebab mustahil seseorang mau mendonorkan sesuatu yang sangat berharga dan kalau yang mendonorkan mata tersebut sudah meninggal pasti ada pertentangan dari keluarganya.
"Kamu tenang. Yang mendonorkan mata tersebut sudah meninggal. Dan keluarganya sudah setuju tentang hal itu, " ujar Rayyan bohong.
Senyuman Ria terukir begitu manis. Bersyukur, masih ada yang begitu baik padanya. Semoga yang mendonorkan matanya tersebut, di beri balasan yang begitu besar dan semoga keluarganya di limpahkan ke bahagian dan di beri ke sabaran atas meninggalnya orang yang begitu baik tersebut.
Rayyan dan Ria memasuki sebuah ruangan. Aldi menatap keduanya yang baru masuk. Ia menatap Rayyan yang menganggukkan kepalanya, menyakinkan bahwa ke putusannya sudah bulat. Lagi pula penyakit Autoimun yang ia derita tidak bisa di sembuhkanlah lagi. Penyakit itu sudah ia idap saat mendekam di penjara.
"Duduk, " Rayyan menarik Ria dan mendudukinya di kursi. Aldi memperhatikan Ria sejenak dan beralih menatap Rayyan.
"Ria, perkenalkan ini dokter Aldi yang akan melakukan pengoperasian mata kamu, " ujar Rayyan menarik tangan Ria agar berjabat tangan dengan Aldi.
"Aldi, " ucap Aldi.
"Ria, " sahut Ria dengan senyuman yang tak pernah luntur.
Rayyan duduk di sebelah Ria, dan menatap Aldi yang tampak masih ragu untuk melakukan ini.
"Jadi kapan Ria akan melakukan operasi? " tanya Rayyan. Aldi mengambil selembar kertas di laci dan memberikannya pada Rayyan.
"Ria harus mendatangi surat tersebut. Kalau sudah mendatanginya maka malam ini operasi akan segera di lakukan, " ujar Aldi menahan sesak. Ia memberikan pulpen pada Rayyan.
"Ria tanda tangani dulu surat ini," Rayyan memberikan surat tersebut dan menyuruh Ria untuk menandatanganinya.
__ADS_1
Ria mengambil pulpen tersebut, tangannya di arahkan Rayyan. Aldi menyandarkan tubuhnya di bahu kursi, memejamkan matanya. Adakah pria yang seperti Rayyan yang rela melakukan itu.Pria hyper s*x, kasar dan tidak ada kelembutan dalam dirinya____Kini berubah saat bersama Ria, karna rasa penyesalan yang begitu membuncah membuat dia menjadi sosok begitu berbeda.
"Ini, sudah. " Rayyan memberikannya pada Aldi yang mengambil lembaran surat itu dengan ragu-ragu.
*********
"Sekarang kita ke taman, jalan-jalan dulu. Supaya kamu tidak tegang saat akan menjalani operasi, " ujar Rayyan terkekeh. Ria tersenyum tipis. Entah kenapa rasa bencinya perlahan memudar pada Rayyan. Munkin karna ke baikan yang di lakukan padanya. Ternyata seseorang tidak selamanya selalu jahat, contohnya Rayyan ia bisa berubah menjadi pria yang begitu baik dan manis pada dirinya.
Inilah yang Ria inginkan, di berikan perhatian oleh seorang pria yang memperlakukan dirinya istimewa. Perhatian yang ia harapkan dari Albian tapi pria itu membenci dirinya. Dulu Ria pernah berpikir, apakah ada pria yang mau menjadikan dirinya istri. Bila dilihat dari masa lalunya yang sangat buruk.
"Mau es krim? " tanya Rayyan yang tidak sengaja melihat penjual es krim di taman. Ria mengangguk kepalanya kuat.
Rayyan menarik tangan Ria yang tampak tersenyum bahagia. Hanya membeli es krim tapi berefek besar bagi Ria yang selalu di hantam oleh banyak masalah. mungkin sesuatu yang kecil tapi teramat membahagiakan bagi wanita tersebut. Karna untuk mendapatkan kebahagiaan bukan berarti harus memiliki kemewahan dan harus kaya raya tapi ke sederhanaan.
"Enak? " tanya Rayyan. Pria itu terkekeh geli melihat wajah Ria yang cemot dengan es krim. Tangannya terulur mengusap bibir Ria, membuat wanita tersebut diam, dengan tubuh yang menegang.
"Kamu blepotan makan es krimnya, " ujar Rayyan, Ria tersenyum kikuk dan mengusap bibirnya yang sudah di bersihkan oleh Rayyan.
"Supaya kamu tidak tegang saat operasi atau pun nanti tiba-tiba takut, " gurau Rayyan yang di balas dengan senyuman tipis oleh Ria.
"Kenapa aku harus takut?Sesuatu yang sangat aku takutkan sudah terjadi. Aku sudah ke hilangan Ibu dan Bapak, aku sudah terbiasa dengan rasa sakitnya kehilangan. Dan sudah terbiasa berjalan dengan membawa sakit hati yang selalu di berikan orang-orang. Aku wanita yang tidak memiliki masa depan, karna sudah hancur. Dan tidak akan ada pria yang sudi memperistri wanita bekas pelacur seperti aku, " ujarnya dengan air mata yang meluncur begitu saja.
Rayyan menggenggam tangan Ria. "Kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Kamu pantas mendapatkan ke bahagian dan mendapatkan pria yang baik yang tulus mencintai kamu. Wanita yang sudah pernah di rusak di ibaratkan seperti berlian dalam kubangan lumpur. Meski sudah di penuhi oleh lumpur tapi masih saja ada yang mengambilnya dan membersihkannya hingga kembali seperti berlian yang begitu cantik dan memiliki harga jual yang mahal, " tutur Rayyan.
"Kamu jangan merendahkan diri kamu karna mengingat diri kamu di masa lalu. Tapi kamu seharusnya memikirkan masa sekarang agar kamu bisa menjadi lebih baik lagi. " lanjutnya.
Rayyan menarik Ria dalam pelukannya. Mengusap kepala wanita tersebut dengan lembut. Pria itu memejamkan matanya menikmati waktunya bersama Ria yang akan menjadi sebuah kenangan yang terindah bagi Ria atau pun menjadi kepedihan bagi wanita tersebut saat ia sudah pergi.
*******
__ADS_1
Ria membaringkan tubuhnya di brankar. Tanpa ia tahu sang pendonor mata yang menatap dirinya dengan mata yang berkaca-kaca dengan senyuman yang berbalut bahagia, sedih dan takut tidak akan menjadi pelindung wanita yang begitu rapuh dan butuh seseorang yang memahaminya.
Keduanya di bawa masuk ke ruangan operasi. Aldi masuk ke dalam sana dengan pakaian operasi dan beberapa dokter yang lainnya.Rayyan dan Ria di suntik bersamaan sebelum menjalani operasi. Perlahan pandangan Rayyan menggelap dengan rasa sakit di kepalanya yang luar biasa karna penyakit yang sudah mulai kambuh. Tapi ia tidak ingin memberi siapa pun apa tentang hal ini.
*******
Rima langsung merasakan pusing. Matanya berkaca-kaca dengan tangan yang bergetar. Awalnya ia ke kamar Rayyan ingin mencari sesuatu tapi yang ia dapat surat diagnosa penyakit di idap Rayyan. Tubuh wanita itu langsung jatuh ke lantai.
"Autoimun, " lirihnya.Rima menggelengkan kepalanya kuat.
"Ini tidak mungkin, Rayyan tidak mungkin mengidap penyakit ini. Pasti ini bukan surat diagnosa punya Rayyan, "Rima mengusap air matanya kasar. Ia akan ke rumah sakit menanyakan ke beneran ini semua. Tidak mungkin putra kandung mengidap penyakit mematikan ini.
******
Ria di bawa beberapa suster ke ruang rawat untuk memulihan setelah melakukan operasi yang menghabiskan waktu 1 jam lebih. Sedangkan Rayyan......
Aldi menatap kosong pada Rayyan yang terbaring kaku di brankar dengan wajah yang begitu pucat . Saat menjalani operasi semuanya baik-baik saja tapi setelah operasi selesai detak jantung Rayyan sudah tidak berdetak lagi. Aldi berjalan mendekati Rayyan, mengusap rambut tebal pria tersebut .
" Aku masih tidak rela kamu meninggal secepat ini. Bagaimana aku mengatakan semuanya pada Mamah kamu dan Ria, "Aldi mengusap kasar air matanya.
Wajah pria yang sudah tak bernyawa tersebut tampak begitu damai.Tugasnya sudah selesai , dan sudah menebus semua kesalahan yang ia perbuat pada Ria. Kematian ini merupakan obat bagi Rayyan agar tidak tersiksa dengan penyakit yang menyerangnya tiba-tiba, membuat ia tersiksa setiap waktunya.
Aldi mengambil sebuah surat di saku kantongnya. Sebelum melakukan operasi Rayyan memberikan surat pada dirinya dan juga pada Ria.
Mungkin kamu membaca surat ini setelah aku tidak ada lagi. Aku mohon jangan bersedih dengan kepergian ku , ini pilihan yang terbaik.
Aldi, aku mohon jaga Ria dan anakku Raja. Tolong bawa mereka berdua keluar dari kota ini. Aku tidak ingin Ria mendapatkan kekerasan lagi dari Mamah ku yang sudah di tutupi rasa kebencian pada Ria. Aku percaya dengan kamu yang pasti akan menepati janji. Termasuk menikahi Ria, jangan biarkan ia menikah dengan pria lain yang belum tentu bisa menjaga dan memperlakukannya dengan baik.
Terima kasih, atas semuanya Aldi.
__ADS_1
Bersambung...
Selamat jalan Rayyan. Setelah Dafa dan Adif yang pergi,kini dirimu pun pergi dengan membawa duka bagi yang menyayangi mu.