Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)

Istriku Mahasiswiku(Seasons 2)
Ektra part 11


__ADS_3

...**Hanya orang yang tulus ,yang rela mengorbankan kebahagiaannya. ...


...{Rayyan**}...


"Kamu gila, Rayyan! Hanya karna rasa bersalah, kamu ingin mendonorkan mata kamu pada Ria! " ujar Aldi tak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya itu.


Pria dengan setelan pakaian kantor tersebut, menatap lurus menerawang. Guratan dari raut wajahnya yang tampak begitu banyak beban masalah yang harus ia tanggung. Rayyan menghela napas berat. Menatap Aldi yang menggelengkan kepalanya membalas tatapannya, tanda tidak setuju dengan pilihannya yang akan berimbas sangat besar pada kehidupannya.


"Lalu , aku harus bagaimana lagi? Aku tidak sanggup melihat Ria dalam kondisi seperti itu, " ujar Rayyan putus asa.


Aldi berdecih. Ia merasa Rayyan sangat berubah. Sahabatnya ini tidak pernah berputus asa seberat apapun masalah yang di hadapi tapi sekarang di depan matanya sendiri Rayyan seperti berada di titik terendah, seolah tidak ada jalan keluar untuk menyelesaikannya. Hanya karna menyesal dan bersalah pada wanita itu ,ia rela memberikan sesuatu yang sangat berharga yang ada pada dirinya.


"Apa kamu mencintainya? " tanya Aldi serius . Karna mustahil bila Rayyan ingin mendonorkan matanya hanya karna ingin menebus semua kesalahannya.


Rayyan terdiam, mendadak lidahnya kelu. Ia pun bingung dengan perasaannya. Tapi yang ia tahu semua perhatiannya pada Ria dan rasa ingin melindungi adalah bentuk dari tanggung jawabannya.


"Kamu jangan gegabah mengambil keputusan, Rayyan. Memangnya kalau kamu mendonorkan mata pada Ria.Apa kamu akan menjamin dia tidak benci lagi pada kamu. Lalu bagaimana Mamah kamu yang mungkin akan menyiksa dan menyakiti Ria lebih brutal lagi, sebab karna dia kamu harus buta.Sementara kamu tidak berbuat apa-apa lagi, karna keterbatasan kamu yang tidak bisa melihat. Sebelum kamu mengambil keputusan lihat dulu ke depannya, pikirkan lagi dengan pilihan kamu itu, " nasehat Aldi.


Pria dengan balutan jas putih tersebut menatap sendu pada Rayyan.


"Kalau aku sudah mendonorkan mata untuk Ria. Tolong____Nikahi Ria, " ujar Rayyan dengan suara yang tersekat di tenggorokan.


"What!! " Aldi melotot mendengarnya.


"Kamu gila, Rayyan!Aku tidak ingin menikahi wanita bekas pelac____" Aldi langsung menjeda ucapannya. Sadar ucapannya akan membuat sahabatnya marah atau pun tersinggung.

__ADS_1


"Kenapa? Ria bukan pelacur. Karna keadaan yang memaksanya melakukan itu. Dan itu karna aku penyebabnya. Pria akan selalu mempermasalahkan kesucian wanita, seolah wanita yang tidak perawan lagi tidak memiliki masa depan cerah dan tidak pantas mendapatkan suami yang bisa membimbingnya ke jalan yang benar dan mencintainya dengan tulus, " tutur Rayyan.


Aldi begitu tertohok mendengarnya, ucapan Rayyan begitu menusuk di hatinya begitu tajam.


"Kalau kamu tidak mau, tidak masalah. Aku akan mencari dokter yang lain, " ujar Rayyan yang langsung beranjak meninggalkan Aldi yang bergeming. Menatap punggung lebar sahabatnya yang mulai menghilang dari pandangannya.


Aldi menunduk, melepaskan kaca bulatnya.Pria yang bernama Tengku Aldi merupakan dokter spesialis mata. Ia merupakan sahabat Rayyan, mereka sudah bersahabat sejak SMA. Aldi merupakan keturunan Cindo(Cina-Indonesia).


Pria selalu mementingkan kesucian seorang wanita dan bagaimana masa lalu sang wanita. Lalu bagaimana dengan sebagian wanita yang pernah menjadi korban pemerkosaan, pelecehan dan menjual keperawanannya karna keadaan yang mendesak? Apakah tidak memiliki masa depan lagi? Sedangkan pria yang tidak perjaka lagi masih memiliki masa depan. Dan tidak di permasalahan oleh wanita yang akan di nikahi maupun keluarganya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Rima berusaha membuka pintu kamar tamu. Wanita paruh baya itu menendang pintu berwarna coklat tersebut yang terkunci.


Sedangkan wanita yang ada di dalam kamar, tubuhnya bergetar ke takutan. Takut Rima berhasil membuka pintu itu dan kembali menyiksa dirinya.


Ria memeluk erat Raja yang ada dalam dekapannya . Balita tersebut tertidur nyenyak dalam pelukan sang Bunda tanpa merasa terusik dengan keributan di luar.


"Bibi Murni! Bi Murni! " teriak Rima dengan napas yang memburu.


Bibi Murni berjalan setengah berlari mendekati Rima dengan berjalan tergopoh-gopoh, takut di marahi bila lambat.


"Iya, nyonya ada apa? " tanya bibi Murni dengan kepala tertunduk.


"Mana kunci cadangan pintu kamar ini? " tanya Rima menatap tajam.

__ADS_1


"Maaf nyonya. Kunci cadangan itu sudah di ambil tuan Rayyan. Dan yang mengunci pintu ini juga tuan Rayyan, " jawab bibi Murni dengan kepala yang tertunduk.


Rima mendengus. Mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku nya memutih . Wajah wanita itu memerah menahan emosi dan kesal yang menjadi satu.


********


"Mungkin ini yang terbaik, " gumam Rayyan memegang selembar kertas. Ia tinggal menandatangani ini dan operasi mata itu akan segera di lakukan.


"Ini tidak akan cukup menebus ke salahan yang pernah aku perbuat pada kamu, Ria. Tapi dengan aku mendonorkan mata aku, setidaknya kamu tidak terlalu menderita. Biarlah aku yang kali ini berkorban, " monolog Rayyan. Ia mengambil pulpen di meja. Tangannya sudah bersiap menandatangani surat tersebut.


Rayyan terperanjat kaget.Ia langsung menatap tajam Aldi yang merampas surat tersebut dan merobeknya tanpa ada ragu.


"Kamu jangan asal ambil keputusan! Kamu pikir dengan mendonorkan mata kamu, Ria akan memaafkan kamu dan tidak akan membenci kamu? Tidak, bodoh! " umpat Aldi yang mengikuti Rayyan dari tadi.


Rayyan bangkit dari tempat duduknya. Menarik kasar kerah baju Aldi. Dengan mata yang menajam.


"Ini bukan urusan kamu! Kamu tidak merasakan di posisi aku yang setiap hari harus tersiksa melihat keadaan Ria yang seperti itu! Anak aku butuh kasih sayang seorang Ibu! Dan karna keterbatasan itu Ria yang tidak bisa melihat membuat dia tidak leluasa merawat anak aku. "


Cengkeraman di kerah baju Aldi perlahan melonggar. Rayyan terduduk di lantai, lemas. Tubuh besar itu bergetar, satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Rayyan. Aldi berjongkok, menatap sendu pada sahabatnya.


"Aku titip Ria, Aldi. Umur ku juga tidak lama lagi. Kamu pria baik dan orang yang tepat menjadi figur suami dan ayah bagi Ria dan anak aku. Setidaknya sisa umur ku berguna dengan memberikan mata ku pada Ria. Dari mata itu aku bisa melihat Ria dan anak ku setelah aku tidak ada lagi di samping mereka, " lirih Rayyan tersenyum getir.


Mata Aldi memanas mendengar ucapan Rayyan yang seperti pasrah dengan keadaannya. "Kamu pengecut, Rayyan! Seharusnya kamu obati penyakit kamu itu, bukan pasrah dengan semuanya. Pendonor mata aku bisa mencarikan. Tapi aku tidak ingin kehilangan sahabat seperti kamu. " liriknya dengan nada pilu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2