
Albian duduk di sofa, memperhatikan Devia , sang Mamah, yang nampak begitu bahagia melihat Laura kembali hidup. Wanita paruh baya itu,menyuapkan makanan ke mulut Laura, yang nampak lahap. Senyuman gadis itu merekah dan sangat manis bagi Albian yang juga ikut tersenyum.
"Albian kamu ada masalah dengan Laura? " Tanya Skala yang duduk di sebelah Albian.
Pria itu menoleh, menatap Papahnya dengan wajah yang nampak lesu . Albian menganggukkan kepalanya tak bersemangat, membenarkan ucapan Skala.
Skala tersenyum, mengusap punggung Albian, lembut. "Papah, harap kamu segera menyelesaikan masalah kamu dengan Laura.Jangan sampai berlarut-larut seperti ini. Kalau Papah boleh tahu, masalah apa yang membuat Laura yang enggan berbicara dengan kamu? " Tanya Skala .
Albian menghela napas berat. Ia mulai menceritakan permasalahannya pada sang Papah, yang nampak mengeryitkan keningnya dan langsung memejamkan matanya sejenak , menahan amarah dan emosi dengan apa yang di lakukan Albian pada Laura yang memang sangat keterlaluan.
"Sesalah apapun seorang perempuan, bukan berarti kamu boleh membentak atau berbuat kasar, Albian. Apalagi Laura jadi sasaran fitnah Ria, dan kamu begitu mudah untuk percaya, tanpa melihat kejadian sebenarnya. Coba kamu fikir, mana mungkin Laura bisa berbuat kasar pada Ria, sedangkan saat itu Ria tengah menggendong anaknya. Dan tidak mungkin Laura menampar Ria di depan anaknya, yang mungkin akan trauma dan ketakutan bila melihat adegan kekerasan di depan matanya. " Tutur Skala , dan itu membuat Albian semakin menyesali semuanya. Kenapa ia begitu bodoh?
"Ayo makan lagi, Laura, " ujar Devia, menyodorkan bubur di depan Laura yang menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah kenyang tante, sudah ya tante . Lihat perut aku sudah kembung banget, " ujar Laura, mengusap-ngusap perutnya yang sedikit membucit.
Devia mengusap pucuk kepala Laura, "Ya sudah. Tapi nanti siang harus banyak makannya. Supaya cepat pulih dan bisa pulang ke rumah. Dira sama Dila , kangen banget sama kamu, " ujar Devia yang di angguki cepat oleh Laura yang tersenyum tipis.
"Mah, " panggil Skala , membuat Devia menoleh kearah suaminya.
"Kenapa? " Tanya Devia.
"Aku mau bicara sebentar, " ujar Skala. Devia meletakkan mangkok bubur di meja, dan berjalan mendekati suaminya yang bangkit dari sofa.
Skala menarik pergelangan tangan Devia, keluar dari ruangan tempat tersebut. Kini Albian dan Laura, hanya tinggal berdua di ruangan tersebut. Tidak ada yang memulai berbicara.
Suara dencitan roda brankar membuat Albian yang sok menyibukkan dirinya dengan ponsel. Perlahan menatap kearah Laura yang nampak kesusahan hendak turun dari brankar.Mungkin gadis itu hendak ke kamar mandi.
"Saya bantu, " ujar Albian menawarkan bantuan, tapi Laura nampak acuh, tak menghiraukan tawaran bantuan Albian.
Gadis itu berjalan ke kamar mandi dengan membawa tongkat infus . Dan itu tidak luput dari pandangan Albian, yang terus memperhatikan, hingga Laura hilang dari pandangan matanya saat pintu kamar mandi itu tertutup.
Brak....
__ADS_1
Suara benda jatuh di dalam kamar mandi, membuat Albian yang hendak duduk, langsung berlari ke arah kamar mandi tersebut dan langsung membuka pintu tersebut. Laura terjatuh di kamar mandi, hingga ia tersungkur di lantai yang nampak masih basah.
"Laura..... "
Albian langsung mengangkat tubuh mungil Laura yang nampak meringis kesakitan.Albian keluar dari kamar mandi dengan menggendong gadis yang nampak diam, tidak memberontak . Dengan satu tangan yang menahan berat tubuh Laura, memegangi kantong infus.
Pria itu meletakkan dengan pelan tubuh Laura di brankar, setelah itu Albian kembali masuk ke kamar mandi, mengambil tongkat infus yang sengaja ia tinggal. Karna tidak mungkin menggendong Laura sambil membawa tongkat infus yang cukup berat.
"Saya sudah menawarkan bantuan untuk kamu, tapi kamu menolak. Lihat sekarang..... Kamu terpeleset di kamar mandi, " omel Albian sembari menggantungkan kantong infus.
"Aku tidak mengharapkan bantuan kakak.Bahkan minta di tolong pun saat aku jatuh di kamar mandi, tidak ada sama sekali, " sahut Laura.
"Jadi jangan sok membantu , kalau akhirnya aku yang selalu di salahkan . Oh iya. Aku memang selalu salah di mata kakak. " Sindir Laura .
Albian , memejamkan matanya, meredam sesuatu yang mulai tersulut. Ia harus sabar menghadapi Laura, agar gadis itu perlahan membuka hatinya dan memaafkan dirinya.
"Saya bukannya menyalahkan kamu.... Tapi saya khawatir dengan kamu, Laura. " Ujar Albian, memberikan penjelasan.
Laura hanya memutar bola matanya malas. Tidak minat mendengar ucapan Albian. Hatinya sudah sangat terluka dan sangat sulit memaafkan perlakuan Albian yang dulu-dulu. Dan mungkin ia akan memilih untuk mundur dan melupakan perasaan cintanya pada Albian.
Ceklek....
Suara pintu yang terbuka, membuat atensi keduanya teralihkan pada Dafi yang baru masuk ke dalam ruangan tersebut, dengan membawa buah-buahan dan juga membawa boneka beruang. Senyuman Laura mengembang sempurna. Sedangkan Albian menatap tajam pada Dafi, ada rasa panas di hatinya melihat Laura tersenyum begitu manis pada Dafi.
"Gimana keadaan kamu? " Tanya Dafi, meletakkan buah-buahan yang ia bawa ke meja.
"Baik, " jawab Laura dengan senyuman yang tidak pernah luntur. "Iih, bonekanya lucu banget. " Laura menatap gemas pada boneka yang di bawa Dafi.
"Ini untuk kamu, " ujar Dafi menyerahkan boneka beruang itu pada Laura, yang langsung memeluknya erat.
Napas Albian turun naik, dengan wajah yang memerah.Marah dan cemburu bercampur menjadi satu. Tangan Albian terkepal dengan kuat hingga kukunya memutih dan rahang yang mengeras.
"Laura bukan anak kecil yang di berikan boneka! " Ucap Albian ketus pada Dafi.
__ADS_1
"Apaan sih, kak! Aku malah suka Dafi ngasih aku boneka!" Sentak Laura lebih ketus lagi.
Deg....
Dada Albian rasanya sangat sesak di balas dengan ketusan oleh Laura, hanya untuk membela Dafi. Albian mengigit bibir dalamnya dengan mata yang memerah, berair. Rasanya sangat sakit. Albian tidak berkata-kata apa lagi dengan apa yang hatinya rasakan saat ini.
Dafi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tidak ada niatan untuk membuat keduanya bertengkar seperti ini.Apalagi membuat Albian cemburu seperti ini.
"Dafi aku mau, buah, " rengek Laura, mengoyang-goyangkan tangan Dafi.
Albian yang melihat pemandangan itu ,semakin terbakar api cemburu.Ia menatap sinis pada Dafi yang mengupas buah jeruk, setelah sebelumnya mencuci tangannya. Seharusnya ia yang melakukan itu pada Laura bukan Dafi . Apa ini karma untuknya? Apa seperti ini juga yang Laura rasakan saat melihat dirinya bersama Ria.
🍁🍁🍁🍁🍁
Tok..... Tok...
Suara ketukan pintu dari luar , membuat Ria yang tengah sibuk menyapu lantai terhenti. Ia berjalan ke pintu keluar dan....
Plak....
Baru saja membuka pintu, Ria langsung mendapatkan sebuah tamparan begitu kuat oleh Devia yang menatap bengis pada gadis yang telah membuat Albian dan Laura tidak bersama.
"IBU APA-APAAN YA! TIBA-TIBA DATANG DAN LANGSUNG MENAMPAR SAYA!! " Teriak Ria tidak terima dengan perlakuan Devia.
"Seharusnya, saya yang tanya . Kamu itu punya malu apa tidak?! Menggoda anak saya dan selalu meminta bantuan anak saya. Kamu itu dasar wanita ular, selalu membuat Laura sengsara!! "Bentak Devia.
" Anak? Maksudnya apa ya. Kalau ngomong itu yang jelas Bu! "Ledek Ria, membuat Devia makin memggeram kesal.
" Albian , Albian itu anak saya. Dia itu calon suami Laura. Tapi gara-gara kamu.....Hubungan Albian dan Laura merenggang! "Devia dengan napas menggebu-gebu .
Deg....
Dari raut wajah Ria, nampak kaget. Ia baru tau kalau Devia merupakan orang tua Albian. Tapi hatinya bersorak gembira mendengar hubungan Albian dan Laura merenggang . Itu malah membuat ia sangat mudah mendapatkan Albian tanpa harus di halangi Laura lagi.
__ADS_1
Bersambung...
Maaf saya ingkar janji ya🙏