Jasminka/Orchidea

Jasminka/Orchidea
mencoba memiliki


__ADS_3

Justin menyelesaikan dengan segera untuk meeting hari ini. ia memerintahkan Alan untuk kembali duluan ke kantor cabang yang Di Bdg. agar Alan bisa membantunya menyiapkan acara spesial untuk Namira malam ini.


"saya akan hubungi kamu segera begitu selesai urusan saya yang disini". ucap Justin begitu keluar dari ruang meeting tersebut


"baik pak". jawab Alan.


maka ia pun pergi dan melaksanakan yang diperintahkan bossnya.


Justin kembali ke ruangannya. dan berkutat dengan laptopnya. setelah cukup lama. akhirnya ia mampu menyelesaikan semua masalah yang ada di kantornya sekarang. ia pun tersenyum senang.


ting.


notifikasi dari email yang masuk begitu banyak yang belum sempat dibuka oleh Justin. di tambah lagi beberapa pesan chat yang menumpuk dalam satu aplikasi. Justin membuka pesan chat yang berasal dari Namira.


Namira


"kak. hari ini aku udah tujuh belas tahun lho. jadi aku bukan bocil lagi".


Justin tersenyum membaca pesan dari Ochinya lalu ia membalasnya.


" malam ini ikuti perintah Alan dan tunggu kakak disana".


Namira


"iya".


setelah membalas pesan tersebut. tiba tiba ponsel Justin berdering. ia melihat panggilan masuk dari sekretarisnya dan segera menerimanya


"pak bukannya jadwal pidato peluncuran produk terbaru dimajukan sore ini kan?". kok bapak belum datang?".ujar Denia sekretarisnya bertanya cemas.


"ah ya saya lupa. baiklah saya segera kesana". Justin menyudahi telponnya dan berjalan cepat keluar dari kantornya


Ia memasuki lift menuju parkiran dan langsung menstarter mobilnya dengan kecepatan tinggi.


...----------------...


Justin berdiri di podium menyelesaikan tugasnya siang ini. dikarenakan mengejar waktu. ia pun tidak mengikuti acara tersebut hingga selesai.


"justin". seorang pria tua keturunan jepang memanggilnya. ia adalah salah satu investor terbesar di perusahaan Justin.


"oh mr aqio. apa kabar? ". terima kasih masih bertahan disini dengan permasalahan tadi." Justin menyapa ramah.


"ah itu sudah biasa bukan". mau kemana buru buru kita minum minum sejenak". ajak mr aqio.

__ADS_1


"ahh mister saya janji akan mentraktir mr lain kali". tolak Justin.


"hmm sepertinya ada hal penting ya?. baiklah lain kali saya akan menagih janjinya". ucap mr Aqio seraya beranjak dari hadapan Justin.


Justin menganggukkan kepalanya. dan melangkah pergi setelah mr. Aqio menghilang di balik dinding Aula.


ia melewati beberapa koridor kamar hotel untuk menuju lift yang terhubung di parkiran bawah tanah. hingga dirinya tiba selangkah di depan lift .


tiba tiba dari arah samping kirinya seseorang menyemprotkan sesuatu kehadapannya. lalu pandangannya menghitam dan gelap.


...----------------...


tangan Dea begitu gemetaran ketika harus membuka satu persatu kain yang menutupi tubuh Justin.


jika biasanya ia begitu mudah melucuti pakaian pria nakal. tetapi saat ini entah kenapa ia begitu takut melakukan hal ini kepada Justin. pria yang selama tiga bulan ke belakang ia incar.


sejak ia putuskan mengikuti cara Celine. agar bisa mendapati laki laki yang mau menikahi nya. minimal menjadikannya istri simpanan yang bisa menjaminkan hidupnya hingga tua. atau setidaknya hanya ada satu pria yang melihat dan menyentuh tubuhnya.


Dea mendekati ranjang di mana pria yang ia incar selama ini kini berada di genggaman nya. Dea begitu terpukau dengan tubuh Justin yang bagi wanita manapun yang melihatnya akan tergiur untuk tidur dengannya.


Dea memejamkan matanya mencium aroma yang berasal dari tubuh Justin beraroma citrus. lalu dengan segera ia pun men take beberapa foto dengan ponselnya.


ia berdiri disamping ranjang sembari menatap Justin yang tertidur lelap. Dea membuka kain penutup tubuhnya helai demi helai. hingga di bagian akhir tanpa pembatas apapun. kali ini Dea benar benar mempolos kan dirinya sendiri di hadapan lelaki yang belum tentu jika sadar akan menerima dirinya.


setelah selesai dengan ponselnya ia menyimpan rapi di mini bagnya yang ia sembunyikan di suatu tempat. awalnya ia ingin berpakaian kembali dan bergegas pergi dari kamar yang telah ia boking sebelumnya. akan tetapi hasrat Dea ingin menyentuh wajah Justin lebih besar dari rasa takutnya saat ini.


Dea memasuki selimut Justin yang sempat ia selimuti sebelumnya. ia memiringkam tubuhnya menghadap Justin dan menatap dalam ke wajahnya yang memang benar benar tampan.


ia menyentuh wajah tersebut. lalu mendekati wajahnya hingga hidung mancung mereka saling bersentuhan. mata Dea mengarah ke bibir Justin dan mengecup lembut disana. jantung Dea berdetak tak karuan. ia menggigit bibir bawahnya. lalu merebahkan tubuhnya dekat disamping Justin.


Dea terus menatap wajah laki laki bertampang maskulin ini sambil memainkan jari jemarinya di dada bidang yang berkulit putih tersebut. hingga rasa kantuk mendera karena efek tak langsung dari cairan yang di semprotkan ke arah Justin tadi. dan Dea terlelap disana dengan wajah bahkan hidung mancungnya yang menyentuh bahu Justin.


...----------------...


Justin membuka kelopak matanya secara perlahan. ia merasakan hembusan hangat dari arah kanan menyentuh bahunya. bahkan dadanya juga merasakan sesuatu yang sama menyentuh kulitnya.


ia melirik ke dadanya. sebuah tangan yang kecil berkulit coklat terang tergeletak di atasnya. ia mengangkatnya dan melihat ke arah samping sambil memiringkan tubuhnya mencari hembusan hangat tersebut berasal.


ia melihat seorang wanita dengan rambut keriting berwarna coklat. sedang terlelap pulas di sampingnya. sontak dadanya bergemuruh. ia bangkit berdiri seraya memaki memungut pakaiannya yang berserak di lantai. serta mencari ponselnya.


"s**t". makinya. ia menghidupkan ponselnya. dan melakukan panggilan.


Dea mengerjap matanya perlahan. suara gaduh terdengar samar di telinganya. ia melihat di hadapanya pria yang bersamanya tadi telah tiada. ia bangun seraya menutupi tubuhnya dengan selimutnya. memunguti pakaiannya yang masih tergeletak di lantai kamar hotel tersebut.

__ADS_1


"kau sudah bangun rupanya". tanya Justin pelan tapi begitu menekan.


Dea yang sedang memakai pakaian terakhirnya sontak terkejut dan berpaling ke belakang di mana suara itu berasal.


"Mana ponselmu!". pinta Justin menatapnya tajam dan mendekatinya selangkah demi selangkah


Dea menggeleng pelan. sambil bergerak mundur. hingga terhenti karena dinding dibelakangnya. sementara Justin menghimpit tubuhnya serta mencengkeram kuat dagunya.


"mana ponselmu J****g!!!". teriak Justin tepat di wajahnya. sorot matanya begitu tajam terpancar kebencian yang terdalam.


Dea tetap tak bergeming. meskipun kini Justin mulai mencengkram dalam batang lehernya. ia tetap mempertahankan apa yang harus ia perjuangkan meskipun ia tahu itu adalah kesalahan besar.


ponsel Justin berdering. ia mengangkatnya. dengan tangan kanannya yang masih erat mencengkram batang leher Dea. Dea kesulitan bernafas karenanya.


"bereskan masalah di kamar ini sekarang". titah Justin seraya menatap tajam Dea.


Alan tiba di kamar tersebut dan mengangguk hormat padanya.


"pastikan tidak ada bukti yang tertinggal". dan cari tau siapa dalang dari semua ini. aku yakin ini ada kaitannya dengan kejadian dua tahun lalu". ucap Justin.


lalu ia pun bergegas pergi menuju Rooftop dari hotel tersebut dimana Helicopternya kini menanti untuk membawanya kembali kepada gadis kecilnya. Justin memang berniat di hatinya mencoba memilikinya hari ini untuk selamanya.


...----------------...


Namira terus menatap ke arah pintu lift rooftop di sebuah resto mewah. matanya terkadang melirik jam tangan berwarna silver di tangan mungilnya. sementara waktu akan segera berakhir di hari istimewanya ini.


rasa dingin mulai menyeruak tembus ke kulitnya dari celah dress selutut berbahan ciffon. meskipun rambut panjang nya sengaja di urai tetapi tetap saja tidak menutupi rasa dingin yang menghinggapi lehernya.


"kak. aku udah di tempat ni". tulis Namira di pesannya.


"kakak dimana?". tulis Namira kembali yan mengetikkan pesan untuk Justin dari dua jam yang lalu.


setelah ia menunggu Justin lebih dari satu jam. ia melihat kembali pesannya untuk Justin yang masih bercentang satu. bahkan ia mencoba mendial nomor Justin. operator memberitahukan bahwa nomor itu di luar jangkauan atau tidak aktif.


hatinya mulai cemas. dan bertanya apakah kak Justin nya akan pergi dan kembali untuk waktu yang lama?.


Namira terus menatap pintu lift tersebut tanpa menggubris perutnya yang sudah lama berbunyi. karena ia memang sengaja tidak menyentuh makanan yang tersedia di hadapannya. ia hanya ingin menikmati hidangan istimewa tersebut berdua dengan lelaki yang selalu di nantinya sejak kecil.


ia melihat kembali jam tangannya. waktu mulai berakhir dalam hitungan menit. matanya mulai berkaca kaca. ia semakin cemas dan takut jika kak Justinnya tidak bisa kembali malam ini.


Namira berniat mencari tau apa yang terjadi dengan menyusul nya ke kantor. ketika ia bangun dari duduknya. tiba tiba......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


like, vote n komennya ya.. please... biar updatenya semangat ni..


__ADS_2