
setelah di rasa cukup puas ia menangis dalam pelukan sang asdosnya. Retha memanggilnya.
"Bang". kali ini Retha memanggilnya lain.
sementara Satria mendengar suara Bang di telinga mengendurkan pelukannya.
"Bang". Retha memanggilnya kembali dan berbalik menghadap Satria.
kini mereka saling bersitatap. jantung keduanya saling bergemuruh. sementara Satria yang sedari tadi menahan rasa gejolak. akhirnya memajukan langkahnya lebih dekat ke bekas mahasiswa nya.
"Tha". ia memanggil Retha yang mematung menatapnya.
"jadilah istriku". pinta Satria. lalu ia merosotkan tubuhnya dan berdiri dengan kedua lututnya. ia mengambil kedua tangan Retha dan memohon untuk menerima dirinya sebagai suaminya.
awalnya Retha tersenyum samar, lalu semakin lebar dan tertawa kecil dengan bola mata yang mengkristal, akhirnya runtuh juga pertahanan Retha. ia pun mengangguk senang dan setuju menerima pinangan asdosnya itu.
Satria bangun dan langsung memeluk Retha dengan erat, sembari mengecup pucuk kepalanya. akhirnya ruang lab tersebut menjadi saksi bisu jika di tempat ini pernah menjadi ajang lamaran antara dosen dan mahasiswa nya.
...--------------...
Di kediaman Cindy..
"Cindy.. jangan lupa baju hangatnya sayang. karena disana dingin". ucap sang mama
"Cindy.. setelah ini ikut mama lakukan perawatan di spa langganan mama ya". titah sang mama.
"tapi ma.. hari ini Cindy mau ke kampus ada perlu. sekalian ambil ijazah ma. lain kali aja ya ma". sahut Cindy.
"ya sudah. begitu selesai langsung pulang. jangan keluyuran". titah sang mama.
"iya ma". sahut Cindy.
"beresin dulu packingnya". titah sang mamanya lagi.
__ADS_1
"iya ma". sahut Cindy malas.
Cindy terus saja membenahi pakaiannya dan memasukkannya di dalam koper. jadwal hari pernikahan nya semakin dekat. Keluarga Cindy merencanakan pernikahannya di italia tempat kelahiran dan keluarga mama.
bahkan Mr. Alexander telah mengumumkan pesta pernikahan nya akan di adakan di hotel termegah dan mewah di negara itu. konsep yang akan di buat berdasarkan keinginan kedua keluarga. mereka ingin semua bergaya glamour dan mewah.
para tamu Undangan hanya untuk kalangan elit saja. tak terkecuali Ceo dan wakil Ceo dari KBC pun turut di undang.
Andra membolak balikkan kartu undangan tersebut, hanya ingin mengetahui calon istri mr. Alex yang menjadi salah satu investor di perusahaan mereka. karena ia mengingat sebaris nama di undangan tersebut persis sama dengan nama mahasiswi yang datang bersama Jasmine ketika meneliti produknya.
Andra tak mau ambil pusing. ia meletakkan kembali undangan tersebut di atas mejanya. ia keluar mencari udara segar di siang yang dingin karena hujan gerimis sedari pagi menyelimuti kota yang biasanya panas ini.
Andra berjalan kaki dengan santai menuju kafe yang menjadi favoritnya. setelah kepergian Jasmine, gadis yang di kaguminya. Andra jarang menikmati kopi di senja hari. ia lebih suka ketika gerimis seperti ini. karena suasana kafe akan lebih terasa syahdu dengan lantunan musik dari channel radio favorit di kota tersebut.
Andra mengambil tempat duduk di balkon atas dari kafe tersebut. ia menikmati kopinya dengan perasaan hambar. tanpa Andra tau seorang gadis yang duduk sendiri di sudut kafe sedari tadi terus memperhatikan Andra dari semenjak Andra berjalan santai dari kantor menuju kafe.
Dialah Cindy yang baru saja pulang dari kampusnya untuk pengambilan ijazah dan sertifikat lainnya. ia sengaja tak pulang dulu dan berbohong pada keluarganya agar supir keluarga nya tak menjemputnya.
awalnya niat Cindy hanya melihat kantor Andra. lalu tanpa sengaja ia melihat Andra keluar dari kantornya. Cindy mengikuti Andra yang berjalan santai menuju ke kafe favoritnya. ia duduk di sudut kafe. sebenarnya ia berharap Andra melihatnya dan mengajaknya ngopi bareng. tetapi hampir lima belas menit berlalu disini, tak ada tanda tanda jika Andra melihatnya dan menyapanya.
"siang pak Andra". Cindy memberanikan diri menyapa.
Andra menoleh ke sumber suara. ia melihat seorang gadis yang baru tadi pagi ada dalam fikirannya.
"kamu.. Cindy kan?" tanya Andra.
Cindy tersenyum senang dan mengangguk. baginya seorang Andra yang memiliki jadwal sibuk yang tak terduga bisa mengingat namanya, yang hanya seorang mahasiswi yang baru saja menerima ijazah, adalah hal yang paling luar biasa yang ia rasakan. Cindy merasa jika Andra memikirkan dirinya juga, selama ini.
"boleh saya duduk sini pak? ". tanya Cindy ragu tetapi berharap penuh.
"silahkan." jawab Andra. ia menyesap kopinya lalu mematikan rokoknya. ia melihat ke arah Cindy.
"kamu habis dari mana hujan hujan gini. entar sakit lho". tanya Andra basa basi.
__ADS_1
"habis ngampus pak". jawab Cindy senang.
"oo. masih belum beres juga. tapi seharusnya kamu udah di wisudakan.". tanya Andra berbasa basi lagi.
"udah kok pak. ini baru aja ngambil ijazahnya". sahut Cindy.
"oo. apa planing kamu ke depannya?". tanya Andra.
"mmm. saya.. belum tau pak. menurut bapak bagusnya gimana? ". tanya Cindy serius.
Andra menarik sudut bibirnya.
"yah saya juga ga tau. kamu kan perempuan yang lebih ngerti maunya apa". ntar saya saranin lanjut kuliah, ntar alasannya belum ada biaya. kalau saya nawarin kerja jadi OB. kamunya mending milih kawin sama konglomerat. kan bingung saya mau ngasih saran apa? ". jawab Andra asal.
sedangkan Cindy terhenyak mendengar penuturan Andra siang ini. bagaimanapun pernikahannya adalah rahasia yang ingin ia tutupi saat ini. itulah mengapa ia memilih menikah di luar negeri.
"bapak bagaimana bisa tau jika saya akan menikah?" tanya Cindy penasaran.
"jadi calonnya mr. Alex itu kamu? " Andra balik bertanya.
"Cindy Allesia Harahap, adalah calon istri mr. Alex? ". wah selamat ya? " saya ga nyangka lho. kamu bersuamikan mr. Alex. beliau itu adalah rekan bisnis kami yang paling solid. saya akan usahain datang ke pernikahan kamu". Andra mengucapkan selamat untuk Cindy.
sementara hati Cindy berubah menjadi bad mood. ia terdiam dengan wajah yang di tekuk.
netranya terus menatap Andra yang tersenyum senang memberi selamat kepadanya.
"pak".panggilnya pelan.
"saya boleh menanyakan hal pribadi?". tanya Cindy yang masih menatap Andra.
"ya silahkan". Jawab Andra.
"bapak pernah mencintai seseorang? " Cindy memberanikan dirinya untuk bertanya lebih dalam tentang perasaan Andra.
__ADS_1
Andra yang sedang tersenyum. menarik kembali senyumnya. tatapannya kini berpaling ke arah lain. tepat di seberang jalan dimana Halte yang sering di kunjungi Jasmine sebagai shelter di hari hujan dan panas jika ingin pulang dari kampusnya.
Cindy mengikuti pergerakan tatapan Andra. dan netranya juga ikut terpaku pada Halte yang ada di hadapannya kini. kini ia mengerti jika lelaki pujaan hatinya menyimpan rasa cinta untuk Jasmine selama ini. meskipun Jasmine kini tiada, Cindy pesimis jika Andra akan membuka hati untuknya. apa lagi Andra tahu jika dirinya adalah calon istri dari rekan bisnisnya. pupus. itu yang di rasakan Cindy sekarang.