Jasminka/Orchidea

Jasminka/Orchidea
Ancaman


__ADS_3

Hampir tiga bulan lamanya Namira mengalami morning sicknessnya. terkadang ketika ia kelelahan dalam mengeluarkan seluruh isi perutnya ia menangis terisak isak.


"huaaaaaa kaaaaak". Namira memanggil Justin dalam tangisnya


"iya.. sayang... ". Justin menenangkan istrinya


"capek kaaaaak". Isak Namira seraya menyenderkan kepalanya di dada Justin


"iya.. sayang. kakak tau. sabar ya..? ". Justin mengelus rambut lembut Namira dan mengecup ubun ubun istrinya.


"sabar... sabar.. kakak sih enak ga ngerasain". dumel Namira dalam tangisnya


Justin mengangkat tubuh mungil Namira dan merebahkan di ranjang berukuran size king tersebut. ia merapikan rambut Namira yang berantakan dan menyelipkan di belakang telinganya.


"sabar ya.. sayang.. kita hadapi sama sama morning sicknessnya ". ucap Justin seraya menggenggam tangan istrinya


"ntar kalau anak kedua kakak aja yang hamil sekalian muntah muntahnya". dumel Namira


"loh kok aku sih sayang.. aku mana bisa hamil". Justin berucap seraya tertawa kecil mendengar omelan istri kecilnya


"tuh kan tertawa. kalau ga mau ya udah. ga usah buat anak lagi". ancam Namira dan membalikkan tubuhnya


Justin menggelengkan kepalannya. ia geli melihat tingkah istrinya.


Astrid datang membawakan teh hangat dan meminumkan pada putrinya untuk mengisi kembali perut Namira yang kosong. lalu ia pun kembali ke dapur menyiapkan sarapan untuk anak dan mantunya.


sementara Justin tersenyum dan terus membujuk istrinya yang masih merajuk.


...****************...


Midea tak pernah bisa menghubungi Justin. ia mencari Justin ke rumah dan kantornya pun tetap saja ia gagal menemui Justin. dan selama itu pula Dea sengaja menghabiskan duit Justin yang bermilyaran, yang ia dapat dari platinum card milik Justin ketika ia minta secara paksa.


ia memang sengaja menghamburkan uang Justin. ia hanya ingin Justin menemuinya meskipun pastinya dengan kemarahan yang besar terhadap dirinya. Dea tak perduli.


ia hanya ingin melihat lelaki yang ia rindukan. lelaki yang hanya boleh menjamah tubuhnya. lelaki yang masih berstatus suaminya. ia tau jika suaminya lebih perduli pada istri mudanya ketimbang dirinya. yang penting untuk saat ini ia masih bisa mempertahankan status nyonya dari Justin Kehl Ardiansyah di daftar KUA dan kartu keluarga.

__ADS_1


...****************...


Andra sudah terbiasa dengan kesibukan barunya selama tiga bulan bulan belakangan. meskipun terkadang kesal mendera lantaran hampir setiap hari di hadapkan pada tingkah Bety la peak alias Ningsih.


seperti saat ini tanpa di suruh, Ningsih seenak udelnya membuat daftar rapat dadakan hanya untuk membuat kontrak baru pada salah satu perusahaan advertising. pada hal sebelumnya Andra membuat janji untuk lunch bareng pada salah satu model iklan pada produk perusahaan mereka.


"ga bisa. saya udah janji sama Gracia siang ini" tolak Andra cuek tanpa melihat Ningsih


"tapi ini lebih penting pak dari pada Gracia". protes Ningsih


Andra menatap tajam Ningsih. tetapi di balas cuek oleh Ningsih. Andra berfikir jika Ningsih sudah mulai berani membantahnya.


"kamu berani membantah saya?!. hah! ". ujar Andra sembari mengatupkan giginya


Ningsih yang melihat perubahan di wajah Andra menjadi ciut nyalinya. ia menelan kasar salivanya. dan menundukkan kepalanya. lalu ia teringat pesan ibunya Andra. ia menegakkan kepalanya kembali dan menarik sedalam mungkin napasnya.


"pak. jadwal meting sama grup advertising itu lebih penting. karena menyangkut masa depan perusahaan. jika bapak ga bisa ya udah. saya tinggal hubungi pak Justin untuk menggantikan bapak" ucap Ningsih dengan lantang


Andra yang mendengar nama Justin seketika itu juga menghentikan aksinya pada tuts keyboard laptopnya. ia memandang Ningsih dan menarik napas kasar.


begitu ia keluar dari ruangan Andra ia memegang dadanya.


"aduh jantungku rasanya mau copot tiap kali ngadepin pak Andra". ucapnya dengan nafas yang belum teratur


sementara Andra yang di tinggal pergi oleh Ningsih di ruangannya hanya mendesah pasrah jika sudah menyangkut dengan Justin. bukan karena ia takut dengan Justin tetapi ia lebih takut jika Justin bakalan terus menahannya di sini jika ada sesuatu yang ga beres di kantor ini.


seharusnya menurut perjanjian awal Andra hanya membantu Justin minimal dua bulan. tetapi ini melebihi dari yang di tentukan. lantaran satu bulan yang lalu Andra pernah salah dalam pengiriman laporan untuk di tandatangani Justin. bukan karena ia ceroboh. tetapi ia memang ogah berurusan dengan Ningsih. makanya semuanya dia coba handle sendiri tanpa melibatkan Ningsih.


"laporan lu salah bro. beresin dulu baru lu kirim lagi ke gue" ucap Justin


"lu kenapa sih apa apa semua mau lu handle sendiri. lu minta bantuan Ningsih dong. kalo begini terus gue bakalan nahan lu di sana. biar lu cepat paham ngurusin kerjaan di kantor pusat. ". lanjut Justin


"sorry bro.. gue ngelakuin ini biar lu belajar gimana kerjasama dalam tim. karena keberhasilan seseorang bukan karena diri kita sendiri tetapi karena adanya tim yang mendukung penuh usaha kita". jelas Justin seraya menepuk bahu sahabatnya


semenjak itu ia terpaksa melibatkan Ningsih dalam pekerjaannya. dan setiap hari pula ia berdebat dengan Ningsih jika menyangkut jadwal. karena baginya ia merasa Ningsih seperti sengaja merusak jadwal pribadinya jika menyangkut pertemuan dengan seorang wanita.

__ADS_1


...****************...


"ambo sudah siapkan semuanyo. jadi besok pagi tinggal di mulai kemonya sajo. nanti sore kita kerumah sakit". tutur Alma seraya memasukkan handuk kecil ke dalam tas sedang milik Inka.


Inka menarik dalam napasnya dan membuangnya kasar. sebenarnya ia cukup malas jika harus tidur kembali di rumah sakit. tetapi karena beberapa hari sebelum jadwal kemo yang ke duanya tiba. hanpir setiap hari Jasmine menelponnya hanya untuk sekedar mengingatkan dirinya untuk terus mau di kemo.


bunyi ponselnya kembali berdering. satu sisi ia bahagia melihat senyum putrinya setiap hari meskipun hanya melalui video call seperti ini.


"Assallmualaikum ma... ".Jasmine menyapa mamanya


"waalaikumsalam nak... ".balas Inka


"mama jadikan sore ini ke rumah sakit? ". tanya Jasmine


Inka menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Sementara Jasmine tau jika melihat mamanya tak bersemangat jika sudah menyangkut dengan kemo. lalu ia mengalihkan pembicaraan nya ke hal yang lain


"ma.. KTI aku udah selesai lho. mama doain ya agar bisa mendapatkan salah satu karya dengan nilai terbaik". mohon Jasmine pada mamanya


"oiya... cepat amat sayang selesainya.terus gimana gimana kelanjutannya. katanya kamu mau di ajak dosen kamu ke JKT untuk neliti di sana". tanya Inka antusias


Jasmine yang melihat perubahan mood pada mamanya merasa ikut bahagia. lalu ia pun semakin bersemangat pula menceritakan tentang dirinya, kuliahnya dan hari harinya di kampus.


hatinya benar benar senang melihat mamanya yang masih memiliki semangat jika menyangkut tentang dirinya. yah mungkin itulah harapan mamanya. terletak pada dirinya. untuk itu ia berjanji sebisa mungkin tak membuat mamanya kecewa.


"ehem.. sudah waktunyo inka nanti keburu maghrib di jalanan". Alma mengingatkan lalu mengintip ke ponselnya Inka


"Jasmine... nanti lagi yo ngobrolnyo. sudah mau maghrib. tante harus membawa mamamu kerumah sakit sekarang. selagi mau. jika indak. tau sendirilah mamamu. jika bukan karena ancaman dari anak tercintanyo. mungkin sampai lebaran monyet pun indak juga dia beranjak untuk kemo". jelas Alma seraya tersenyum.


Jasmine tersenyum lebar mendengar penuturan Alma. sedangkan Inka melirik Alma sedikit kesal


"oke tante. terimakasih banyak ya tante udah mau nemenin mama selama ini". ucap Jasmine haru


" tidak usah begitu Jasmine. kamu sama Inka itu sudah tante anggap saudara sendiri". ucap Alma tulus


Inka memandang Alma kagum. sementara Jasmine tersenyum haru. dan mereka menutup Video callnya setelah saling mengucapkan salam.

__ADS_1


jangan lupa like vote n komen....


__ADS_2