
Sorenya...
Merry menemui Retha setelah ia mengambil motor maticnya di parkiran club yang ia datangi semalam. Retha yang sudah menunggu Merry yang akan datang kerumahnya untuk menemuinya sore itu, menyambut Merry dan mengajak nya ngobrol di kamar miliknya. ia meminta Merry menjelaskan tentang mengenai sambungan telpon nya yang terputus tadi pagi.
di sinilah Merry menjelaskan semua permasalahan yang terjadi padanya belakangan ini. hingga ia harus membayar keonaran yang terjadi di sebabkan karena dirinya.
"Apa!!! ". seratus juta!!". teriak Retha kaget.
"aduh jangan besar besar suara kau. malu aku sama mamamu". Merry mengingat kan Retha seraya mencoba menutup mulut Retha, tetapi di tahan oleh Retha.
"kaget aku kau ngomong seratus juta". gila kau. dari mana duit segitu banyak Merry??? ". dumel Retha.
"kalau aku tau tak payah aku minta tolong sama kau". sahut Merry.
"masalah nya mana ada aku duit tabungan segitu. lima juta mau kau. pakailah. ni ku kasih terus atm nya. kau ambillah sendiri.". Retha mengambil dompetnya yang di atas nakas. dan mengeluarkan kartu atm miliknya.
"itu duit yang ada di situ lima juta lima ratus ribu rupiah. kau ambil lima juta. kau sisakan untuk aku lima ratus ribu. nah". Retha menyodorkan Atm nya ke Merry.
"masih kurang banyak Retha. ini cuma se upil saja Tha". sahut Merry seraya membolak balikan kartu Atm milik Retha.
Retha yang mendengar ucapan Merry sontak mendelikkan matanya, menatap kesal pada temannya yang mulai terlihat tak tau diri ini.
"hey.. girls.. sadar apa yang kau ucapkan. hah". tanya Retha kesal.
"iya. maaf.". sahut Merry yang menyadari kesalahan nya.
"makanya. jangan sukak kali kau dugem dugem an. entah apa lah itu. terus kau pakek mabuk lagi. sekarang udah kejadian cem gini. kau juga yang repot". omel Retha
"sekarang di mana mau di cari duit seratus juta dalam waktu singkat. sehari pulak. emang gilla tu orang. kau pun bodoh. seharusnya kau bernegoisasi dulu, sebelum mengiyakan tentang waktunya.". lanjutnya.
"kalau kau tidak mendapatkan uang seratus juta hari ini bagaimana?!". apa kau bakalan dituntut penjara? ". tanya Retha kembali, seraya menahan emosinya.
"ihh. jangan lah kau doakan itu". mendengar kata penjara. sontak membuat Merry bergidik ngeri.
"bagaimana tidak. emosi aku dengar nya!. ini kau jadikan pelajaran. menjauhlah dari tempat tempat haram tersebut. tak ada manfaatnya sama sekali. tau kau!! ". omel Retha kembali.
"iya tha". sahut Merry menundukkan wajahnya.
"iya.. iya... besok kau buat lagi. dari dulu kau sudah ku ingatkan. ngapain kau ikuti gaya gaya orang kaya seperti Cindy". omel Retha kembali.
"aku kan di ajak. mana ada duit aku keluar sepeserpun. semuanya Cindy yang bayar. malah aku di kasih kartu Vip lagi untuk maen kesana". Merry membela dirinya.
__ADS_1
"iya. untuk senang senang saja. sekarang kau susah dia kemana? ". tanya Retha kesal.
"dia kabur. satu kota jadi heboh".lanjutnya.
"dia kabur karena kau juga". sungut Merry pelan.
Retha melirik Merry dan mendesah kasar.
"aku suruh dia ungkapkan perasaan nya. bukan kabur. menghindari masalah". ucap Retha mencoba membela diri. meskipun rasa bersalah kembali menyelimuti nya.
"dia itu tak berani. coba seandainya dia berani bilang sama papa dan mamanya kalau dia tak mau menikah. dan dia juga punya keberanian buat mengungkapkan rasa cintanya sama pak An....". sahut Merry yang tiba tiba menghentikan kata katanya seraya melipat kedalam bibirnya.
Retha melirik Merry curiga.
"pak An? ". pak An.. siapa? ". tanya Retha penasaran.
"tak ada tha. aku cuma main main saja tadi". elak Merry.
"bohong!!". ucap Retha menghakimi.
"ayok jawab. kalau tak mau. jangan harap kau ku tolong besok besoknya". ancam Retha.
"ternyata Calon ibu dosen kepo juga hehehe". kekeh Merry.
"terserahlah. coba kau jelasin ke aku mengenai si Cindy. siapa itu pak An? ". kepo Retha.
"mmm... itu.. wakil dari pemilik yang produknya di bikin untuk bahan skripsi nya si Cindy". sahut Merry.
"Cinlok? ". gumam Retha, seraya menatap Merry meminta keyakinan.
"iya. tapi seperti nya cinta bertepuk sebelah tangan bagi Cindy". sahut Merry.
"maksudnya? ". tanya Retha seraya mengernyitkan dahinya.
"si Cindy pernah bilang seperti nya pak Andra itu sukak kali sama si Jasmine". sahut Merry.
"hah. masa?!". pekik Retha penasaran. seraya mendekati Merry.
"iyalah. dia pernah mergoki pak Andra meletak kan bunga ke halte dekat kampus kita dulu, yang biasanya si Jasmine nunggu bus kalau pulang ngampus.
"kalau bukan ada perasaan ngapain juga ia ciumi buket bunga melati sebelum dia letakkan di antara bunga bunga yang lainnya. menurut pandangan kau cem mana tu lakik?". sahut Merry.
__ADS_1
"mungkin cuma simpati kali". timpal Retha.
"hei bu.. banyak yang simpati sama si Jasmine. tapi ga ada laki laki yang sikapnya seperti pak Andra". bantah Merry.
"Cindy pernah cerita juga. waktu pertama kali Cindy di temani si Jasmine untuk menemui pak Andra. Dia sempat memperhatikan sikap pak Andra ke Jasmine, dan terus dia juga memperhatikan kalau matanya pak Andra itu sering ngelirik si Jasmine. menurut kau itu pertanda apa coba? ". lanjutnya.
Retha menggigit bibir bawahnya seperti memikirkan sesuatu.
"si Cindy juga pernah berusaha pedekate sama pak Andra. pulang ngampus dia sering cari alasan ngerjain tugas kuliah buat skripsinya. aku di jadikan nya tumbal. di suruh bohong aku sama si Cindy tiap kali supirnya jemput, atau mama nya nanya. parah tak? ". lanjut Merry.
"dan kau mau mau saja ya kan? ". cibir Retha.
"yah demi persahabatan". Merry membela dirinya.
"hmmm.. persahabatan yang menyesat kan itu namanya". bantah Retha.
"jadi yang benar macem mana pulak. macem kau sama si Jasmine". timpal Merry.
"aku tak ngomong begitu ya. kau yang nilai sendiri". sahut Retha.
"persahabatan yang baik itu minimal saling mendukung cita cita dan harapan temen, saling mengingat kan kalau temennya udah mulai salah langkah. saling bantu kalau ada yang kesulitan. bukan sebaliknya". Retha memberi nasehat ke Merry.
"tapi kan si Cindy sering bantuin aku juga Tha". Merry membela Cindy.
"aku tak menjelekkan Cindy lho Mer". bantah Retha.
"maksud aku. kalian berdua tu aku liat dulu banyak kali maen dari pada belajar. apa lagi kalau udah malam minggu. banyak kali cakap kalian bikin rencana ini itu untuk habisin waktu. bukannya istirahat kek. atau belajar gitu. ini tak joget sana joget sini. untung tak patah pinggang kalian itu". omel Retha kembali.
sementara Merry hanya terdiam, membenarkan semua perkataan Retha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa untuk like, vote, komen, rate, favoritnya ya.
biar yang nulis semangat buat nge up Bonchap nya.
tetap baca session ke dua ya di Novel ke duaku.
She is My Dea ( mengejar istri gila)
__ADS_1