
Jasmine telah menyelesaikan penulisan karya ilmiahnya, ia menyerahkan kepada Satria untuk di revisi. Jasmine, Retha dan Rendi menyimak dan mencatat setiap detail kekurangan dari makalah tersebut.
"mmm.. sejauh ini hasilnya cukup bagus. hanya tetap saja yang menentukan hasilnya ya bukan saya". ujar Satria
"terus selanjutnya gimana pak? ". tanya Retha
"aku tinggal memperbaiki yang kurang. nanti Rendi yang cari data tambahannya di lapangan". ucap Jasmine dengan bibir dan jarinya
"oke gue setuju ide lu Jasmine. si Retha tinggal minta fotokopi berkas hasil penelitian kita yang di lab".ujar Rendi
Satria yang mendengar ucapan Rendi tersenyum dan ia langsung menyetujui usulan Rendi
"baik. nanti Retha biar pergi sama saya untuk ngambil berkasnya yang di lab". ucap Satria memandang Retha.
"mungkin besok saya baru bisa kesana. gimana Retha?. kamu bisa kan besok setelah jadwal kuliah selesai? "tanya Satria
Retha yang mendengar ucapan kakak letingnya dan juga asisten dosennya langsung terdiam kaku seraya menelan salivanya kasar. bagaimanapun ia membayangkan suasana yang canggung jika pergi berduaan dengan Assdosnya.
Jasmine menyenggol Retha dengan bahunya serta meminta Retha untuk menjawab pertanyaan Assdos mereka
"hah... iya... iya bang.. eh pak." jawab Retha dengan gelagapan
Satria tersenyum tanpa yang lain tau jika ia melirik Retha.
besoknya ...
setelah jadwal kuliah usai Satria mengirim pesan ke Retha agar menunggunya di parkiran.
Retha menuju parkiran dan berdiri di samping mobil Satria. lalu ia memainkan ponselnya. Satria membuka mobilnya dari jauh, ia mendatangi Retha yang sedang asyik dengan ponselnya.
"udah lama? ". ayok masuk. "ucap Satria di telinga Retha
Retha yang mendengar suara Satria begitu dekat di telinganya langsung terdiam kaku. sementara Satria tersenyum melihat reaksi Retha ia langsung membuka pintu mobilnya untuk Retha. dan menyuruhnya masuk mobil dan menutup pintunya kembali setelah Retha berada di dalam mobilnya.
Satria mengemudikan mobilnya menuju pabrik yang menjadi tanggung jawabnya. selang beberapa menit perjalanan Satria menepikan mobilnya di salah satu tempat makan favoritnya.
"kita makan dulu. saya lapar belum makan dari tadi siang soalnya". Satria memberi penjelasan sebelum Retha bertanya
Retha mengikuti Satria ke dalam restonya. mereka mengambil tempat duduk di sudut ruangan, di samping jendela kaca menghadap taman samping dari resto tersebut.
dering ponsel Retha berbunyi. ia melihat panggilan tersebut dan menerimanya.
"halo ma". sapa Retha
"dimana kamu?. kenapa belum pulang ?. mama liat daftar jadwal kuliah kamu seharusnya ini sudah selesai. kalo sudah siap langsung pulang sekarang. sebentar lagi papa pulang. atau mama suruh bang Reza jemput kamu sekarang". omel mama Retha di telponnya.
sontak membuat Retha gusar dan menggigit bibir bawahnya. bagaimana tidak, belum juga ia menjelaskan duduk perkaranya. mamanya ngomel ngomel tanpa memberi Retha kesempatan buat ngomong.
sedangkan Satria memperhatikan tingkah Retha yang tampak gusar. ia sempat mencuri dengar omelan mamanya sekilas meskipun tidak jelas. tetapi Satria tau jika yang menelpon Retha adalah mamanya.
pesanan mereka yang sedari tiba di biarkan sesaat oleh satria. ia menunggu Retha hingga selesai.
__ADS_1
"iya ma. iya aku pulang sekarang. udah ya". Retha langsung menutup telponnya dan menjadi salah tingkah di depan Satria.
"kita makan dulu. nanti kita bahas". saran Satria yang mengerti gelagat Retha
setelah menyelesaikan makannya dan membayar. Satria langsung meminta nomor ponsel mamanya Retha
"buat apa pak?.". tanya Retha curiga
"saya mau ngobrol sebentar sama mama kamu". ujar Satria seraya menyodorkan ponselnya
"jangan pak. nanti saya... ".
"saya jamin kamu ga bakalan di omelin lagi kalau saya yang memberi penjelasan langsung sama mama kamu. apa lagi ini menyangkut tugas kampus". potong Satria
"dan terlebih calon menantu yang ngomong". Desis Satria.
"apa pak? ". tanya Retha penasaran
"oh ga ada.". jawab satria kikuk.
"ya udah sini nomornya". pinta satria yang mengalihkan pembicaraan.
Retha dengan berat hati menyebutkan nomor ponsel mamanya. ia pun menjadi serba salah karenanya. tetapi yang di katakan Satria ada benarnya juga.
Satria melakukan video call ke mamanya Retha yang langsung di buka oleh mamanya Retha.
Retha yang melihat sang mama di ponselnya Satria sontak menjadi gelagapan. ia takut jika mamanya mengira ia kelayapan sama cowok.
"Waalaikumsalam. siapa ya? ". ucap mama Retha. yang terus memandanng lelaki tampan di ponselnya
"saya Satria . salah satu dosen dari kampusnya Retha". jelas Satria
"iya pak. ada apa ya?. apa anak saya ada masalah di kampus?. apa anak saya bolos ngampus pak? " mama Retha mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
"ohhh tidak ma.. justru itu dia sangat aktif di kampus. maksud saya menghubungi mama. saya meminta ijin untuk melamar anak mama". satria menjeda kalimatnya..
sedangkan Retha memelototkan matanya.
"iya pak maksudnya gimana pak? ". tanya mama Retha meminta kejelasan
satria tersenyum melirik Retha. hatinya senang melihat sikap Retha yang terlihat panik karena kejahilannya.
"maksud saya. saya mau melamar anak mama menjadi salah satu tim penelitian saya. sekarang dia bersama saya untuk mengambil data di lab". ujar satria dan menyorotkan kamera ponselnya ke Retha.
"bagaimana mama? ". apa boleh Retha ikut bersama saya. nanti saya antar pulang langsung kerumah begitu selesai".lanjut Satria
"oo.. kalau begitu tidak ada masalah pak". asalkan untuk menunjang kuliahnya saya mendukung 1000 persen". Mama Retha memberi dukungan
"baik mama. terima kasih. saya mohon ijin dulu mama". Satria pamit
"baik pak sama sama". mama Retha menutup ponselnya
__ADS_1
"udah bereskan? ". ucap Satria yang langsung memandang Retha.
"iiya pak. terimakasih". ucap Retha seraya menganggukkan kepalanya
"lets go". ajak Satria ke mobilnya dan diikuti Retha.
...----------------...
"Astafirullah..". Andra beristigfar.
karena ia dikejutkan oleh seseorang yang ga pernah ada dalam fikirannya selama ini. bahkan hampir seminggu setelah pulang dari jgj ia membuang jauh jauh bayangan bersama gadis yang di jodohkan oleh ibunya bahkan kenangan terakhir membuat dia ilfeel, siapa lain kalau bukan bety la peak alias Ningsih.
tetapi sekarang dia mengucek matanya berkali kali untuk memastikan penglihatannya. dan tetap saja matanya melihat seseorang yang selama ini ia hindari.
"sore pak Andra". sapa gadis itu
"Ningsih? ".tanya Andra memastikan kembali
"iya pak. saya Ningsih yang dari jgj". yang kerja di pabrik jamunya bapaknya pak Andra. yang sama ibunya bapak kalau kita mau di... " Ningsih menghentikan kata katanya karena Andra membentaknya.
"stop!!!". bantak Andra
"awas kalau kamu ulangi lagi kalimat itu". ancam Andra
"maaf pak". Ningsih menundukkan kepalanya
"katakan.mau ngapain kamu kemari?". tanya Andra
"mau melamar bapak". ucap Ningsih
"apa?" coba yang keras suaranya. saya ga dengar". tanya Andra kembali
"saya melamar pekerjaan dan di terima jadi asisten bapak. ini rekomendasinya". ucap Ningsih dan menyerahkan berkas
Andra mengambil map berwarna coklat dari tangan Ningsih. ia melihat jelas disitu tertera tanda tangan Justin sebagai ceo di kantor pusat ini. dan surat rekomendasi dari pabrik bapaknya untuk memperkerjakan Ningsih sebagai asisten pribadinya disini.
akhirnya Andra mengerti jika ini adalah akal akalan dari si ibu. yah.. pasti ibunyalah yang membujuk Indra untuk memperkerjakan Ningsih sebagai asisten pribadinya.
Andra langsung menelpon Indra saat itu juga.
sementara Indra dan Justin yang masih sibuk dalam satu ruangan tidak terkejut lagi oleh telpon dari Andra. indra langsung mengangkatnya. tanpa ba bi bu. Indra langsung menjelaskan duduk perkaranya
"ya.. ibu lo nelpon gue memohon panjang lebar tiga hari yang lalu. untuk meminta Ningsih jadi asisten lu sekalian lu lebih dekat sama calon bini lu. yah gue ga tega aja jadinya gue minta si Justin untuk menandatangani sekalian berkas yang gue titip melalui Ningsih." jelas indra panjang lebar dan langsung menutup telponnya.
Indra senyam senyum melihat Justin. dam mereka tertawa cekikikan.
sementara Andra, begitu Indra menutup telponnya ia terduduk di lemas di sofa dan memandang Ningsih yang masih berdiri menunduk
"alaaahhh maaaaakkkk". Desis Indra
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
jangan lupa like vote n komennya ya... jangan sampai penulisnya jadi alaaaahhhh maaaaakkkkkk.... 😬