Jasminka/Orchidea

Jasminka/Orchidea
Badai


__ADS_3

Justin memperhatikan botol parfum milik istrinya. lalu ia mengambilnya dan membawa nya keluar. Justin ke ruangan Indra dan mencari keberadaan babynya.


"tidur di kamar sama Meyriska". ujar Indra yang langsung tau jika Justin mencari anaknya.


"maaf tin. tadi ia kehausan dan menangis. gue ga mungkin ganggu lu apa lagi kondisi istri lu ga memungkinkan buat nyusui. jadi lu tau sendirilah. anak lu sama anak gue udah jadi saudara sesusuan". Jelas Indra sedikit takut.


"tenang aja punya bini gue top markotop deh. insya Allah aman." lanjut Indra sedikit bercanda.


Justin menarik sudut bibirnya. lalu mengeluar kan seuah botol.


"Indra. bisa lu tolong selidiki ini?". pinta Justin dan memberikan botol tersebut ke Indra.


"memangnya ini apa? ". bukannya ini parfum perempuan?".tanya Indra penasaran seraya memperhatikan sebuah botol yang berada di tangannya.


"oh ya. siapa perempuan itu Justin? ". tanya Indra yang masih penasaran.


Justin terdiam. sekelebat pertanyaan bertumpu di otaknya. ia masih terus mencari solusi. atas permasalahan rumitnya ini.


tring.. bunyi ponsel berbunyi milik Indra. tak lama Indra menerima telpon dan menutupnya.


raut wajah nya berubah masam.


"tin. masalah baru."Indra berucap panik


Justin melihat Indra dengan mengerutkan keningnya.


"produk kita bermasalah. konsumen yang baru membeli dan menggunakannya kemarin kini mengidap alergi parah ". Jelas Indra


"bagaimana bisa?. selama ini kita memang selalu mengecek bahan bakunya dan bahan yang lain bukan? ". tanya Justin heran.


"sial. Indra sekarang lu berangkat ke Jkt. lu selidiki kenapa ini bisa terjadi". titah Justin.


"fine. gue pamit ke Meyriska dulu". sahut Indra.


...----------------...


Jasmine melipat mukenanya setelah menunaikan maghribnya. entah kenapa sedari pagi perasaannya tidak enak. walaupun siang tadi Jasmine melakukan video call dengan mamanya. tetapi tetap saja hatinya tidak tenang. dan masih kepikiran akan sang mama.


suara pintu di ketuk dari luar. Retha yang baru saja bersiap siap dengan bahan presentasi nya membuka pintu. Satria muncul dan memberitahu jika Jadwal mereka untuk tampil dua puluh menit lagi. mereka harus segera berkumpul di Aula Hotel yang berada di lantai tengah dari gedung tersebut.


"yuk. Jasmine". ajak Retha bersemangat.


Mereka berdua mengikuti Satria menuju acara yang menentukan masa depan mereka. jika tim mereka berhasil maka bukan hanya nama saja yang di kenal dalam dunia sains. tetapi hasil penelitian mereka akan di jadikan buku oleh salah satu penerbit. dan perusahaan yang membiayai mereka juga terdongkrak popularitasnya, dan semakin di percayai oleh investor di seluruh dunia.


...----------------...

__ADS_1


"Midea". desis Justin geram setelah melihat rekman CCTV dari kedua kantornya.


Justin tak menyangka jika seorang perempuan yang bernama Dea akan senekat dan segila itu. Justin terus memperhatikan gelagat Dea yang sedang menyuntikkan sesuatu di seluruh produk yang akan di pasarkan. setelah melihat seluruh rekaman CCTV milik kedua kantornya. ia menelpon Alan agar membawa Dea ke gudang produksi yang berada di pinggir kota.


baginya saat ini tidak ada kata maaf untuk sseorang yang telah menghancurkan perusahaan yang ia bangun dengan susah payah. di tambah lagi orang yang ia cintai hampir celaka.


ponsel Justin berdering. suara kepanikan terdengar di telinganya. Justin bergegas ke rumah sakit dimana Namira di larikan kerumah sakit oleh mamanya.


Justin tiba di rumah sakit dalam hitungan menit karena kecepatan mengemudinya melebihi rata rata. Justin syok mendengar kabar Namira. ia mondar mandir di ruang IGD.


"bagaimana bisa produk kamu membuat alergi banyak orang Justin?". mamanya bertanya setengah marah.


Justin duduk di bangku di ruang tunggu. ia tertunduk lesu.


"ma". panggil Justin


"aku akan menuntut Dea ke polisi dan mengajukan cerai". ucap Justin seraya memandang mamanya


mona melihat raut dan sorot matanya terlihat sedih.


"apa ini semua perbuatannya? ". tanya mona


"maafkan mama Justin. jika mama ga memaksa kamu buat nikahi dia, mungkin hal ini ga akan terjadi". isak Mona dengan penuh penyesalan.


"ga. ma jangan nyalahin diri mama. kita memang terpaksa waktu itu kan ma? ". aku tau mama mau menyelamatkan aku." Justin berujar lirih dan menggenggam tangan mamanya.


Dokter keluar dan meminta keluarga untuk menjenguknya satu persatu. Justin pun masuk ke ruangan di mana Namira masih di rawat. ia melihat kedua tangan hingga ke lengan sang istri di balut menggunakan perban khusus luka bakar.


Justin duduk di samping brankar sang istri yang masih terlelap karena efek obat anti nyeri dan peradangan. ia tertunduk lesu dan sedih melihat keadaan sang istri. ia pun menitikkan air matanya dan menangis di sisi sang istri.


Namira mendengar samar orang menangis, membuka matanya. ia melihat suaminya dengan mata yang sendu. ia begitu takut jika kedua tangannya tak bisa pulih kembali, itu artinya ia tak bisa melayani dan merawat suami dan bayinya.


"kak". Namira memanggil pelan


Justin mendongakkan kepalanya melihat Namira. ia tidak bisa menyembunyikan rasa takut dan bersalahnya. karna dirinyalah Namira selalu mendapat kecewa dan celaka bahkan terluka. ia memeluk sang istri dan mencium keningnya.


"maaf". satu kata terucap di bibir Justin dalam isaknya


"kak. its ok. I am fine. jangan sedih lagi ya? ". Ucap Namira menenangkan.


"aku yang seharusnya minta maaf karena selalu aku yang merepotkan kakak". Ucap Namira tulus dengan sorot mata yang sendu.


Justin menggelengkan kepalanya. mereka saling senyum dan menangkup haru dengan perasaan campur aduk.


...----------------...

__ADS_1


"siap siap ya ga lama lagi giliran kita. keep spirit oke? ". ujar Satria menyemangati.


berbeda dengan Jasmine yang mulai kehilangan fokus ketika membaca sebuah pesan dari tante Alma. ia mengabaikan panggilan Retha


"Jasmine. ada apa? ". tanya Retha curiga yang melihat perubahan di raut wajah Jasmine.


Jasmine menunjukkan ponselnya ke Retha, dengan perasaan takut. Jantungnya berdetak hebat.


sementara Retha melihat isi pesan di ponsel Jasmine. juga ikutan syok. lalu ia menarik lengan Satria. Satria yang masih fokus pada presentasi peserta di depannya teralihkan oleh sentuhan di lengannya.


"ada apa? "tanya satria yang melihat sikap Retha yang murung.


ia pun memandang Jasmine yang mulai berkaca kaca di bola mata hitamya.


"kamu mau pulang sekarang? "tanya Satria prihatin.


Jasmine menganggukkan kepalanya. Satria menghela nafasnya. ia di hadapkan pada situasi yang sulit. dimana satu sisi ia membutuhkan Jasmine, tetapi satu sisi lain ada seorang ibu yang menantikan kepulangannya dengan segera. ia tersenyum mengangguk menyingkirkan egonya. satria mengalah bukan berarti menyerah. ia memutar otak mencari jalan lain.


"pulanglah. saya akan memesan tiket pesawatnya sekarang. sekarang kamu siap siap ya? ". ujar Satria menenangkan Jasmine. dan membuka sebuah aplikasi pemesanan, dan memesan tiket dengan penerbangan tercepat.


"keberangkatan kamu satu jam lagi Jasmine. bersiaplah saya akan meminta supir perusahaan mengantar kamu ke Bandara sekarang".


Jasmine pun pamit kepada Retha dan Satria. ia setengah berlari menuju kamar penginapan mereka untuk membereskan barang barangnya bersiap pulang.


"Jasmine". panggil Retha


"kalau ribet beresin baju. ga usah beresin. biar ntar kopernya aku yang bawa pulang aja. kamu cukup bawa mini ranselnya aja". saran Retha


"terimakasih banyak tha". ucap Jasmine dengan bibirnya dan memeluk sahabatnya.


ia pun pamit pada dosen dan sahabatnya. keluar dari gedung menuju kamar mereka. Jasmine hanya cukup membawa pulang tas ransel kecilnya.


Jasmine keluar dari lift menuju kamarnya. tetapi tiba tiba seluruh lampu hotel bahkan seluruh kota mengalami pemadaman total akibat badai hujan dan cuaca buruk yang terjadi malam ini.


Jasmine meraba dalam kegelapan mengikuti cahaya lampu emergency yang berada di ujung koridor. ia menemukan kamarnya. tetapi ketika tangannya hendak menyentuh gagang pintu. sebuah tangan menyekap mulutnya dan memeluk tubuhnya dari belakang. Jasmine berteriak tetapi nihil, sedikitpun tak ada suara yang keluar dari mulutnya.


..."tolong... aku.. ". suara seorang pria yang berasal dari belakang tubuhnya...


..."who is he??? "...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa untuk like


vote

__ADS_1


komen ❤❤❤


__ADS_2