Jasminka/Orchidea

Jasminka/Orchidea
protes


__ADS_3

Dari hari kemarin Cindy menunggu Andra di cafe favorit yang biasa Andra datangi ketika waktu senggang. tetapi entah kenapa dua hari ini juga Andra tidak kesini, menurut pekerja kafe yang bertugas hari ini.


ini adalah hari ketiga. berarti besoknya Cindy dan keluarga berangkat ke Itali. yang artinya mulai besok Cindy tidak bisa lagi menjadi perempuan bebas pada umumnya. apa apa semua terikat pada pernikahan yang tak pernah dia inginkan.


bahkan untuk bisa melanjutkan studynya entah bisa atau tidak, apa lagi bekerja. karena yang ia dengar calon suaminya seorang yang posesif terhadap apa yang di milikinya, bahkan dulu pun ketika calon suaminya memiliki pacar.


tunangannya terlalu mengekang sang pacar. bahkan selalu mengikuti secara diam diam kemana sang pacar pergi dan melaporkan kegiatan apa saja yang di lakukan oleh sang pacar melalui asistennya.


Cindy bergidik ngeri membayangkan jika ia menikah dengan lelaki dewasa seperti tunangannya. baru pacaran saja posesif nya seperti itu, apa lagi menjadi istrinya. Cindy menutup matanya seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"aduh jangan sampe deh aku punya suami seperti itu. ya tuhan tolong aku bagaimana bisa terbebas dari pernikahan ini". bathin Cindy.


Cindy sudah menghabiskan dua lattenya. itu berarti lebih dari dua jam Cindy disini dan waktu istirahat kantor pun berlalu. Cindy menghela nafasnya. tiga hari menunggu Andra di sini tanpa ada yang menemani.


getaran di ponsel Cindy sedari tadi bergetar tanpa henti. sedari tadi Cindy memang sengaja mensilentkan ponselnya. ia tau jika itu adalah telpon dari rumah. mereka sibuk mewanti wanti Cindy agar jangan meninggal kan rumah hari ini. karena menurut orang tua jaman katanya pamali jika calon pengantin keluar rumah ketika akan menikah. apa lagi kepercayaan tersebut berasal dari keluarga papanya yang masih memegang teguh adat dan istiadat daerah.


tetapi tetap saja Cindy tak perduli. baginya itu hanya mitos yang tak mendasar. ia hanya percaya jika takdir yang terjadi di hidupnya cuma tuhan yang memiliki kuasa atas apa yang terjadi.


tiga jam berlalu, bahkan waktu menunjukkan waktu ashar tetapi Cindy masih saja sabar menunggu. ia masih berharap Andra datang mampir di kafe seperti biasa.

__ADS_1


hingga mendekati maghrib pun tetap saja keadaannya tak berubah. akhirnya Cindy bangun dari duduknya. ia berjalan ke arah kasir dan membayar. lalu berjalan pulang melewati kantor Andra yang mulai tanpak sepi. karna para karyawan telah meninggal kan kantor selepas ashar tadi.


kecewa. itu yang di rasakan Cindy hari ini. rasa sesak menyeruak di dada. niat di hatinya hari ini hanya melihat pujaan hatinya meskipun sebentar saja, tetapi hanya rasa kecewa yang di dapati nya. sesampainya dirumah Cindy habis habisan di omeli oleh keluarga besarnya.


"kau tau kan pamali calon pengantin keluar malam malam hari". salah satu opung Cindy mengomelinya.


"ini belum malam opung". sahut Cindy.


"maghrib itu sudah masuk malam. jaman dulu tidak ada satu pun yang keluar jika sudah mendekati maghrib. bahaya". omel opungnya Cindy.


"itu kan jaman dulu pung. sekarang kan beda. udah canggih". protes Cindy yang sudah jengah mendengar omelan keluarga nya.


"kenapa sih keluarga ini selalu saja suka mengatur ngatur pernikahan anaknya. kenapa anaknya ga bisa nyari jodohnya sendiri". Cindy membantah untuk pertama kali.


"Cindy!! ". pekik sang mama.


"aku punya impian sendiri ma tentang pernikahan. dengan siapa, kapan dan di mana aku juga punya keinginan sendiri ma??. kenapa kalian ga pernah ngasih kepercayaan pada anak nya untuk menentukan sendiri pernikahannya". ujar Cindy memelas.


"ini pernikahan aku. aku yang jalani bukan kalian". lanjutnya meminta pengertian.

__ADS_1


"Cindy kenapa baru protes sekarang dek. itu pernikahan kamu seminggu lagi. besok kamu udah harus berangkat ke sana. jangan seperti anak kecil gitu dek". sang kakak pertama memberi nasehat.


"anak kecil?". Cindy membuang nafasnya kasar.


"mungkin kakak kakak aku ga ada yang protes dulunya. aku ga tau kenapa?. tapi aku yakin sebelumnya kalian juga punya keinginan dan harapan kalian sendiri sebelum di jodohkan oleh suami kalian". Cindy mengutarakan pendapat nya.


"kita bahagia kok sekarang. karena perjodohan ini. ya kan kak? ". sahut kakak Cindy yang kedua.


"ya syukur. kalau kalian bahagia atas perjodohan kalian. tapi ga setiap anak mau seperti kalian. dan ga setiap anak merasa bahagia di atur atur dalam pernikahannya". Cindy mematahkan perkataan sang kakak.


"kamu maunya apa sayang?". kita hanya ingin memberikan yang terbaik buat kamu". tanya sang mama.


"aku ingin pernikahan ini di batalkan". sahut Cindy mantap. dan memandang lurus ke depan dengan percaya diri.


"apa?? . di batalkan?!!. pekik semua yang ada di situ.


*ketika anak perawan sudah mulai berontak apa perkataan orang tua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


tunggu di next bonus chapter. dan jangan lupa buat nge like, komen and rate ya.... 😍


__ADS_2