Jasminka/Orchidea

Jasminka/Orchidea
Akhir


__ADS_3

"Midea". desis Justin geram mengingat perbuatannya yang tidak bisa di maafkan.


ia melihat Dea tertidur di sofa panjang dengan begitu tenang. lalu ia duduk di atas meja yang berhadapan dengan sofa yang Dea tiduri.


Justin menepuk pipi kanan Dea agar terbangun dari tidurnya. sebelum di bawa kemari Alan menceritakan jika Dea sempat memberontak dengan menyemprotkan bius ke mereka. tetapi Alan dan anak buahnya memang sudah mempersiapkan diri, jika hal seperti tadi terjadi. sehingga bius yang Dea niatkan untuk mereka berakhir dengan senjata makan tuan bagi Dea.


tak lama kemudian Dea membuka matanya, meskipun rasa kantuk masih terasa di pelupuk matanya. Dea melihat Justin di hadapannya dan tersenyum.


"Justin". panggil Dea pelan seraya membangunkan tubuhnya untuk duduk menyenderkan punggungnya ke sofa.


Justin memandang Dea dengan penuh kebencian. Justin melupakan kisah indah satu malam mereka. perbuatan licik Midea terus terbayang di benaknya. bahkan penderitaan Namira menambah keyakinan Justin untuk menggugat cerai dan menghukumnya dengan hukuman yang sama dengan perbuatan Dea.


"kenapa Midea?. kenapa kamu melakukan itu Dea? "tanya Justin geram.


Dea tersenyum samar. lalu tertawa kecil. karena memikirkan rencananya yang berhasil. Justin yang mendengar tawa Dea, semakin jijik melihat Dea.


"akhirnya berhasil juga. aku pikir aku gagal lagi". kekeh Dea berkata tanpa beban


"cukup Dea. perbuatan kamu sudah banyak memakan korban". Ucap Justin geram.


"kenapa kamu tidak pernah mendengar kata kataku. aku bilang jangan mengusikku". Justin berujar dengan penekanan


"aku tidak mengusikmu, Justin. aku hanya sedikit bercanda dengan istri kecilmu". Dea berkata dengan senyum mengejek.


"hanya menguji sayang. seberapa besar kau mencintainya, jika dia ternoda oleh orang lain. sama seperti aku yang kau katakan j*l*ng!!! ". pekik Dea sedikit emosi.


Justin mengepal kedua tangannya. Justin begitu marah atas ucapan Dea. ia memanggil Alan. Alan yang mengerti akan maksud dari Bossnya, mengeluarkan sebuah botol parfum milik Namira penyebab insiden satu malam yang lalu. Alan menyerahkan ke Justin.


Justin menghela nafasnya, lalu menunjukkan ke botol tersebut ke Dea.


"Namira. tentu saja berbeda denganmu. dia terlalu suci untuk kamu sentuh oleh tanganmu yang kotor ini". hina Justin ke Dea


"dia wanitaku. dan selamanya akan tetap jadi milikku". Justin menarik napas dalam.


"lihat ini. bukankah ini senjatamu selama ini?". menjebakku dengan ini. melukai orang dengan ini. ckckckck.. Midea. malam ini aku ingin kau merasakan hasil karyamu ini ya sayang". ucap Justin seraya membuka tutup botol tersebut.


Dea terus memandang Justin tanpa takut sedikitpun. jika pun memberinya obat perangsang tak masalah baginya. ia rela di gagahi Justin beberapa kali. Justin memakai masker diikuti Alan. sementara ia membiarkan Dea yang terus memandanginya.

__ADS_1


"kamu ga pakai masker? ". tanya Justin mengejek


"sayangnya aku hanya membawa satu masker.dan aku belum mau berbagi denganmu. wanita sampah". ejek Justin


lalu ia menyemprotkan parfum tersebut ke wajah Dea sekali. Dea mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"mungkin kamu bercinta dengan banyak pria sebelum aku itu sudah biasa kamu jalani bukan? ". sekarang aku memberimu kebebasan memilih siapa saja yang kamu mau". ucap Justin seraya bangun dari duduknya.


"Midea Hasxander. having fun for tonight dear" Justin menutup pembicaraan nya. berdiri sejenak dan pergi dari ruangan yang menyekap Dea.


"biar dia memilih prianya sendiri malam ini. kalian tau kan apa yang harus kalian lakukan". titah Justin ke Alan.


Alan mengangguki perintah bosnya. lalu ia menyuruh anak buahnya masuk dan berbaris seperti yang di perintahkan Justin.


Dea yang mulai terasa aneh di tubuhnya, ia mulai ketakutan ketika melihat Justin pergi. ia bangun dari duduknya. ia merasa gerah pada tubuhnya. ia berulang kali memanggil Justin. tetapi percuma.


jalan keluar dari ruangan besar ini sudah tertutup oleh para bodyguard yang menunggu dirinya untuk memilih menghabiskan satu malam dengannya.


tubuhnya mulai berasa panas dan bergairah. ia menggigit dalam bibir bawahnya. otaknya terus berusaha berfikir mengalihkan rasa nafsu yang mulai mengendalikannya.


prang....


bunyi kaca berhamburan. lalu dengan sisa tenaga yang ada ia melempar kursi tersebut ke arah bodyguard yang mulai mendekatinya.


tanpa berfikir panjang Dea melompat ke luar melalui Jendela yang telah ia pecahkan kacanya tersebut. dan mendarat tepat di atap mobil Justin dengan penuh bersimbah darah.


Dea memandang Justin yang berjarak dua meter dari mobilnya. nafasnya tersengal sengal. titik airmata jatuh menetes di sudut matanya. Dea membuka mulutnya mengucapkan satu


..."Justin"...


...lalu kedua matanya perlahan menutup. ...


...----------------...


Jasmine di bawa ke dalam suatu ruangan yang gelap. tubuhnya di lemparkan ke sebuah ranjang yang berukuran king size tersebut. ia berusaha bangun untuk berlari keluar. tetapi tubuh kekar pria tersebut begitu cepat menindihnya, dan memaksanya. hingga entah bagaimana bagian bawah penutup Jasmine terlepas.


Jasmine berusaha memberontak hingga ia kehilangan kekuatannya. sementara pria tersebut terus berusaha memasuki Jasmine. hingga akhirnya, sesuatu yang berharga milik Jasmine pun hilang begitu saja.

__ADS_1


Jasmine berteriak dan menangis tetapi percuma. tak sedikitpun suara yang keluar dari kerongkongannya.


satu jam berlalu bersamaan jadwal keberangkatan pesawatnya pun terlewati. pria tersebut merebahkan tubuhnya di samping Jasmine yang bersimbah air mata.


"terima kasih". ucap pria tersebut lalu tertidur karena kelelahan.


dengan sisa tenaga yang ada Jasmine berusaha bangun, ia memungut dan memakai kembali pakaiannya yang berserak di lantai, dengan bantuan lampu ponselnya. ia berjalan keluar dengan tubuh menahan sakit di bagian bawahnya.


ia melihat ke arah lelaki tersebut dengan penuh takut. dan menutup pintu kamar dengan cepat.


ia membuka aplikasi di ponselnya. memesan tiket penerbangan dengan jadwal yang ada.


badai hujan masih mendominasi malam ini. Jasmine bergegas keluar hotel mencari taksi. di kepalanya saat ini adalah mamanya. ia terus berfikir bagaimana ia pulang segera untuk bisa bertemu dengan mamanya.


tidak satupun taxi yang lewat di depan hotel.


ia keluar dan berjalan kaki menuju halte yang berada empat blok dari hotel tersebut. tepatnya di ujung jalan yang mulai terdapat banyak taman bermain dan lapangan olahraga. jalan begitu sepi karena seluruh penghuni lebih nyaman tinggal di rumahnya dengan menikmati cemilan hangat.


tubuh Jasmine mulai menggigil kedinginan bahkan blazer tebalnya tak mampu menutupi hawa dingin yang menusuk kulit lembutnya. ia memeluk erat ranselnya. melindungi isi di dalamnya agar tidak basah.


ia terus berjalan menyebrangi persimpangan, tetapi tiba tiba sebuah mobil menghantamnya dengan kecepatan tinggi. Jasmine terlempar beberapa meter ke sisi jalan yang dimana air mengalir deras di selokan. sehingga tas yang ia pelukpun turut menghilang dan hanyut di bawa air.


Jasmine tergeletak di sisi Jalan dengan tubuh yang terluka. nafasnya tersengal sengal. dalam penglihatannya ia melihat sang mama yang memanggilnya. Jasmine membuka mulutnya ia mengucapkan satu kata


..."MAMA"...


...lalu matanya perlahan menutup. ...


...----------------...


Alma beristigfar menuntun Naminka dalam hembusan nafasnya terakhir. Naminka sempat membuka matanya sesat. ketika Alma sedang membaca surah yasin. hanya hitungan detik matanya terbuka lalu perlahan menutupnya kembali. seiring ElectroKardioGraft berbunyi.


Alma terus menyebut kalimah Lailahaillallah dalam tangisnya. hingga dokter dan suster datang memeriksa Naminka. dan menetapkan jadwal kematiannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


hai readers trimakasih ya yang udah mau singgah. jangan lupa like vote n komen..

__ADS_1


__ADS_2