Jasminka/Orchidea

Jasminka/Orchidea
Identitas baru ( Revisi )


__ADS_3

"Midea Hasxander?" desis wanita itu pelan.


Wanita yang baru di pulangkan dari rumah sakit itu memandang Evan dengan seribu tanya seraya memegang sebuah kartu Id yang di berikan Evan untuknya barusan.


"Hmm..., " gumam pria itu malas.


"Itu kartu Id lo yang baru. Jangan sampai hilang," jelas Evan yang tengah sibuk dengan ponselnya.


Sudah lebih dari satu bulan ini, semenjak Ia di pulangkan dari rumah sakit. Dea tinggal di salah satu flat mewah milik Evan. Evan memang sengaja memiliki banyak flat untuk bisa di tempati calon modelnya.


Evan adalah seorang Ceo dari agensi model sexy miliknya. Ia bekerjasama dengan berbagai merek perusahaan lingerie dan juga produk-produk yang berhubungan dengan dunia malam. Dimana setiap model miliknya harus melakukan serangkaian pemotretan dan bahkan show-out di atas catwalk menggunakan segala macam produk dan properti milik perusahaan-perusahaan tersebut.


Alhasil selain ketenaran dan penjualan yang meningkat bagi perusahaan tersebut, para Big Boss pun juga mendapat kenikmatan dari model-model yang membuka B.O.


Tapi Evan juga tidak pernah memaksa kehendaknya jika ada beberapa wanitanya yang tengah mengalami bad mood untuk melakukan pekerjaan sampingan tersebut.


Ia akan menunjukkan ke model lainnya yang memang memiliki birahi tinggi dan juga beberapa model yang rela melakukan apapun demi uang.


Selama ini Evan memang begitu banyak mengoleksi wanita dengan segala kecantikan yang dimilikinya. Kulit putih nan mulus serta tubuh yang begitu menggoda bagi setiap lelaki yang melihatnya.


Akan tetapi, saat ini sebuah perusahaan lingerie dan juga produk kecantikan terbesar di dunia meminta Evan mencarikan mereka seorang model lain dari biasanya. Mereka meminta seorang model dengan kulit mulus tapi tidak hitam, dan juga tidak putih. Lebih kepada coklat terang ataupun kuning langsat.


Selama di rumah sakit, Evan memperhatikan Dea. Ciri-cirinya mendekati sempurna yang di cari oleh perusahaan tersebut. Saat ini Evan tersenyum puas menatap tubuh Dea yang telah masuk dalam kategorinya.


Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. la membukanya dan berkata kepada Dea, "Sekarang kau bersiaplah, karena aku akan mengajakmu keluar".


Dea tanpa banyak protes segera bersiap dan mengikuti Evan kemana pria itu pergi.


Evan memarkirkan mobilnya di salah satu gedung mewah. Pria itu meminta Dea keluar setelah selesai membuka safebealtnya. Evan menunggunya di sisi pintu mobil seraya menelpon seseorang. Sementara Dea memutar lehernya ke kanan dan ke kiri sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya.


Sesaat Evan memperhatikan tingkah Dea yang terlihat bingung, lalu ia menutup telponnya dan mengajak Dea masuk ke gedung tersebut.


"Hai tampan, welcome back " sambut seorang pria bertulang lunak.


Ia mendekati Evan dan hendak menciumnya. Tetapi Evan langsung menghindarinya dengan meletakkan satu jarinya di kening pria tersebut serta mendorongnya pelan seraya bertanya kepada pria itu.


"Dimana tante Sonya?".


Pria itu cemberut karena merasa di abaikan. lalu ia setengah berlari memanggil sebuah nama yang di cari Evan.


Evan mengikutinya masuk ke dalam sebuah ruangan. Sedangkan Dea di tinggalnya sendirian di depan resepsionis.


"Dari mana kau mendapatkan barang sebagus itu?" tanya Sonya penasaran begitu Evan tiba di ruangannya.


Sonya yang sedari tadi telah mengetahui Evan datang dan memperhatikan gadis yang di bawa Evan dari balik dinding two ways Mirrorsnya.


Evan mengikuti arah tatapan Sonya ke dinding kaca dua arah tersebut.


"Ini namanya pucuk di cinta ulam pun tiba" jawabnya dengan kekehan.


"Aku mencari perempuan seperti ini sungguh sulit. Tante taukan model yang kita miliki hampir rata-ratanya berkulit sama. Aku tak mengerti kenapa mereka mencari yang seperti dia," jelas Evan seraya menatap Dea yang masih kebingungan.


"Sekarang lakukan tugas tante. Buat dia semekilau mungkin dari pada yang lainnya," lanjut Evan.


"Tinggalkan dia bersamaku selama satu bulan,"pinta Sonya yang masih terpaku menatap Dea.


Evan menatap sonya dengan raut penuh tanya. Karena selama ini Sonya tidak pernah meminta hal seperti ini padanya.


Evan hanya membayar sonya untuk melatih model barunya agar terlihat lebih menawan di hadapan kamera, dan juga mempesona di atas catwalk tanpa di minta untuk tinggal bersama dengan wanita itu.


Sonya melirik Evan dengan ujung matanya. dan memutar lehernya menatap Evan.


"Tenang saja, aku akan membuat dia lebih berbeda dari yang lainnya, jika gadis itu aku latih selama 24 jam bersamaku di setiap harinya," jawab Sonya meyakinkan Evan

__ADS_1


"Tidak hanya kemilau, tetapi dunia akan menatap pada dirinya. Dan kita akan untung besar," kekeh sonya.


Ia membayangkan jika perusahaan lingerie mencari gadis seperti Dea, maka sudah pasti para Big-boss akan mengincar dirinya agar bisa berkencan dengan Dea. Tentu saja Sonya akan memanfaatkan peluang ini mencari keuntungan lebih besar untuk dirinya.


"Baiklah tante, lakukan yang terbaik. Aku percayakan hal ini padamu," pinta Evan seraya bangkit dari duduknya.


"tentu saja dear".jawab sonya memberi kepastian pada Evan.


mereka berdua keluar dari ruangan sonya. Evan menghampiri Dea yang sedari tadi hanya duduk memandangi orang orang yang tengah sibuk dengan kegiatannya masing masing, tanpa ada yang memperdulikannya.


Evan memperkenalkan Dea pada tante Sonya.


"Mulai sekarang kau tinggallah dengan Tante Sonya. Ia akan mengajarimu banyak hal," kata Evan seraya menunjuk ke arah Sonya.


Dea menatap Evan dengan raut wajah penuh tanya.


Evan mengerti akan tatapan Dea, lalu ia memberi ultimatum padanya seraya mengangkat setengah lengannya menunjukkan satu jari ke hadapan Dea.


" Turuti saja perintahnya dan jangan pernah berfikir untuk melawan. Kau dengar itu!" titah Evan.


Evan menatap Dea dengan sorot mata sedikit tajam. Seolah perintahnya adalah mutlak harus di patuhi. Dea hanya mengangguk pelan.


Sonya tersenyum menyeringai mendengar perkataan Evan. Itu artinya apa yang akan ia lakukan terhadap gadis itu, Evan tidak akan marah dan melarangnya.


Setelah itu Evan pergi meninggalkan Dea dengan tante Sonya. sedangkan Dea hanya menatap bingung atas kepergian pria yang telah menampungnya selama ini. Lalu sonya mengajak Dea untuk ikut dengannya. Dea masih mematung melihat punggung Evan yang semakin menjauh lalu menghilang di balik beberapa mobil yang terparkir rapi.


Sonya sedikit kesal melihat Dea tidak beranjak dari tempatnya. lalu ia kembali beberapa langkah dan menarik lembut tubuh Dea seraya memberikan senyum palsunya.


"Ayok, sayang" ucapnya dengan gombalannya seperti biasa.


...----------------...


hujan deras sedari pagi terus berlanjut hingga sore. Jasmine menuju halte bus dekat kampusnya. ia berjalan cepat sambil memeluk tasnya agar tidak basah karena payung yang ia gunakan sekarang pun tidak bisa melindungi keseluruhan tubuhnya dari hujan sore itu.


seiring tanpa Jasmine tau. teman teman Jasmine yang se unit bahkan berbeda unit pun belajar agar bisa berkomunikasi dengan baik kepada Jasmine. awalnya mereka lakukan demi Jasmine tetapi seiring waktu berjalan mereka pun melakukannya demi diri mereka sendiri.


karena bukannya tidak mungkin sesuatu hal terjadi diluar dari yang mereka kira. mereka justru belajar dan memetik hikmah dari kehidupan dan musibah yang dialami jasmine.


"bahwa ketika kita diberi masalah Allah juga menyiapkan kita Solusi" .


"begitu juga rasa sedih. Allah juga menyiapkan kebahagiaan buat kita".


hanya kitanya saja mau bersabar apa enggak yang disiapin Allah itu. jadi jangan ngeluh entar Allah mencabut nikmat kita separuh. (kutipan ceramah ust Adi Hidayat dan Alm. Ustad Zulkarnain) ~♥~


tiba di pelataran halte. Jasmine mencoba menutup payung putihnya agar tidak mengganggu orang lain yang ikut berteduh disitu.


baru juga ia merapikan payungnya. tiba tiba sebuah suara bariton terdengar di telinganya.


"dek tolong antarkan saya ke sebrang jalan".


Jasmine mencari cari ke sumber suara. dan tampaklah seorang lelaki tampan blasteran berhidung mancung dengan rahang yang tegas. serta beralis tebal berada di samping kanannya.


lelaki itulah yang meminta dirinya untuk mengantarkan nya ke seberang jalan. sementara Jasmine hanya terdiam dan terpana memandangi wajah lelaki tersebut.


sedangkan lelaki itu melihat gadis manis yang ia mintai tolong hanya berdiri mematung menatap dirinya pun segera menjentikkan jemarinya ke wajah Jasmine.


yang akhirnya seketika itu juga membuyarkan Jasmine dari lamunannya. dan ia pun langsung menunjukkan arah ke sebrang jalan.


Jasmine mengikuti arah telunjuk lelaki tampan tersebut. lalu ia mengangguk pelan. dan lelaki tampan itu akhirnya mengambil payung Jasmine untuk di pakaikan ke dirinya dan jasmine.


ketika lelaki itu mulai melangkah. tiba tiba ia berhenti dan menyerahkan payung yang di pegangnya ke Jasmin. Jasmin mengambilnya bingung.


"lets go follow me". lelaki tersebut mengajak Jasmine.

__ADS_1


Jasmine memayungi lelaki tersebut dengan kikuk. pasalnya baru kali ini Jasmine sepayung berdua dengan laki laki. setelah tiba di cafe seberang. lelaki itu langsung meloncat ke teras caffe. sedangkan Jasmine berniat membalik kan tubuhnya untuk kembali ke Halte seberang.


baru juga ia menggerakkan tubuhnya untuk berbalik. tiba tiba lelaki tersebut mengeluarkan suaranya.


"nih ambil kembaliannya".ucap lelaki tersebut seraya menyodorkan uang seratus ribu ke pada Jasmine.


Jasmine terdiam bengong melihat uang yang di berikan padanya. lalu lelaki tersebut mengambil tangan kanan Jasmine dan meletakkan uang seratus ribu tadi pada telapak tanganya.


"udah pergi pulang sana. entar lu sakit". usir lelaki tersebut.


Jasmine pun menuruti kata kata lelaki itu. tetapi ketika Jasmine hendak melangkah balik ke halte. tiba tiba suara bariton itu mencegah dirinya kembali.


"eeehhhh tunggu". ucap lelaki tersebut meminta Jasmine menunggu.


ia masuk ke dalam cafe dan mengambil hot coffe cup milik temannya yang baru saja tiba.


belum pun temannya protes atas kelakuan lelaki tersebut. lelaki itu telah mengeluarkan titahnya duluan


"pesan lain sana. kasian tuh bocah ntar kena flu gara gara gue". pinta lelaki tersebut. seraya menunjuk ke arah Jasmine yang tengah menunggu diteras cafe sambil menghadap jalan yang masih di basahi hujan.


"ini. buat hangatin badan". lelaki tersebut menyerahkan hot coffe cupnya ke jasmine.


Jasmine menerimanya dan menganggukkan kepalanya seraya menggerakkan bibirnya mengucapkan terima kasih. lalu pergi meninggalkan lelaki tersebut kembali ke Halte. menaiki bus yang membawanya pulang ke kostnya.


sepeninggalnya Jasmine lelaki tersebut mengernyitkan dahi memikirkan ucapan Jasmine yang tidak terdengar. lalu ia masa bodo dan kembali ke dalam bergabung dengan teman temannya.


sesampainya di dalam cafe ia langsung di sambut ejekan oleh kedua temannya.


"baik banget lo tin tin..semenjak pulang dari Aussie". enyek Andra.


"diakan udah jadi Tin tin versi realnya". atau dia ini memang Tin tin asli yang udah bosen di dunia kartun. jadi dia memilih keluar dari dunianya buat masuk ke dunia digital". kekeh Indra menimpali di sambut tawa Andra yang hampir keselek kopi tubruknya.


"syukurin lu. kualat ". umpat si Tin tin ke Andra.


" lu pikir gue Vaneloppe". lanjut nya kembali dengan nada sebal.


"kesambet jin mukmin makanya dia berubah seratus delapan puluh derjat gini." lanjut Indra Menimpali kembali.


"emang tu siapa sih". tanya Andra penasaran.


"kepo lu". Ejek Indra. lalu tertawa melihat Andra melototkan matanya yang tanpa dia melotot emang udah mau keluar tu biji mata bak ikan yang di asinin.


"cuma joki payung". jawab si Tin tin.


" kasihan gue tangannya mulai pucat gitu. sampe segitunya nyari duit". jelas lelaki yang di sebut Tin tin oleh personel dra 2 dra itu.


alhasil mereka ber dua cuma memberi komentar huruf bulat dengan nada panjang. selesai membicarakan joki payung. mereka pun mulai membahas maksud pertemuan mereka saat ini.


...----------------...


Jasmine menggenggam erat hot coffe cupnya seraya menyeruputnya. Lalu ia meletakkan duit seratus ribu tadi hasil jerih payahnya untuk yang pertama kali ke dalam selipan buku diarynya.


ia menempelkan duit tersebut di lembaran baru Diarynya beserta guntingan stiker tutup cup hot coffe tadi yang di sertakan tulisan tangannya yang rapi.


"Hasil jerih payahku buat pertama kali menjadi Joki payung".


Jasmine pun tak lupa untuk menyertakan hari, tanggal, bulan serta tahun di bawahnya. Jasmine tersenyum senang. lalu ia pun merebahkan dirinya di kasur dan tak lama ia pun tertidur dibawa mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


berikan dukungan kalian buat yang nulis berupa like, vote, komen, rate, fav and poin.


sukriya

__ADS_1


__ADS_2