
Seminggu berlalu setelah wisuda. mahasiswa yang lulus hanya tinggal merevisi kembali skripsinya dan menunggu Ijazah mereka keluar.
Cindy, Merry, dan Retha menghabiskan satu harian di kampus mereka meskipun tidak ada lagi tugas yang menanti seperti mahasiswa yang di bawah mereka.
"kapan kau rencana menikah Cindy. kata mamamu habis wisuda ya? ". Merry membuka pembicaraan siang itu.
Cindy tersenyum kecut. hatinya paling malas jika sudah berbicara menyangkut pernikahan dirinya.
Retha yang mengerti arti senyum Cindy. langsung menyerang Cindy dengan pertanyaan yang menohoknya.
"kau keberatan menikah dengannya bukan? ".
Cindy gelagapan mendengar pertanyaan dari Retha yang langsung to the point pada perasaannya.
Merry menyenggol Retha, yang menatap ke arah Cindy tanpa berkedip. Retha memalingkan wajahnya melihat Merry.
Cindy menatap Retha dengan satu pertanyaan "bagaimana Retha bisa tau tentang isi hatinya saat ini".
"kenapa kau tak mengungkapkan perasaanmu pada keluarga yang memaksamu menikah dengan orang yang tidak kau suka". tanya Retha secara gamblang.
"kamu tau dari mana kalau aku keberatan dengan pernikahan ini". tanya Cindy dengan bibir bergetar.
Retha menghela nafasnya.
"semua tampak jelas dari kau bersikap Cindy. senyum kau, mata kau. semua menjelaskan jika hati kau itu tidak bahagia jika berbicara tentang pernikahan yang di rencanakan oleh keluargamu."
"bahkan ketika pertunangan yang di adakan di rumah kau yang besar itu. kau malah tidak mengundang siapapun dari kampus ini. termasuk kami". sambung Retha.
"kita taunya pas di hari ulang tahun yang kau buat di club calon suamimu itu. itu pun calon laki kau yang kasih tau.". omel Retha.
Merry mencubit lengan Retha, agar mengecilkan suaranya ketika dia mengomeli Cindy, yang sekarang tampilan Cindy semakin sendu dan terus menunduk kan wajahnya. Merry menjadi iba melihat sahabatnya itu.
"apaan sih Mer? ". dumel Retha.
"udahlah. kasian dia". mohon Merry
"aku tak marahin dia. aku cuma kasih tau. kalau perempuan juga harus punya keberanian untuk mengungkapkan apa yang kita mau. contoh itu Jasmine. ga punya suara. tapi mampu mengungkapkan apa yang dia mau dan menunjukkannya pada dunia. kalau perempuan juga punya cita cita, impian dan cinta". omel Retha panjang lebar.
meskipun setelah menyebutkan nama Jasmine, hatinya terasa sedih kembali.
__ADS_1
dan tanpa Retha sadari jika seseorang yang menyukai nya secara diam diam, tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. pidato Retha terdengar lucu baginya meskipun itu memang benar adanya.
"terus aku harus apa tha? ". tanya Cindy meminta solusi.
"yah kau bilanglah sama keluargamu. kalau kau menolak perjodohan ini. carilah alasan yang masuk akal. mau lanjut studi lah. apa lah". saran Retha yang mulai terdengar sesat bagi Merry.
"Retha! ". tegur Merry.
"apa! ". Retha melihat Merry.
Merry menggelengkan kepalanya untuk melarangnya agar jangan berlebihan.
sementara Cindy yang mulai termakan dengan kata kata Retha, otaknya mulai berfikir bagaimana caranya agar pernikahan ini bisa di hindarinya sebisa mungkin.
...----------------...
"awww". pekik Retha ketika seseorang menarik lengannya dan mengurungnya di sebuah ruangan lab.
Satria menutup mulut Retha dengan tangan kanannya, sementara jari telunjuk kirinya meletakkan di bibir Satria. mengisyaratkan agar jangan berisik.
"pak Satria". Retha memanggilnya heran.
"katakan. Kenapa kamu memprovokasi orang. apa lagi itu teman kamu sendiri? ". Satria menatap Retha tanpa mengedipkan matanya sedikitpun.
"ga ah. saya ga merasa gitu kok pak". protes Retha.
"udah salah. ngaku. kamu tau ga. yang kamu saranin ke Cindy tadi itu bakalan merusak rencana seseorang yang telah menunggu Cindy cukup lama dalam sebuah pernikahan". omel Satria.
"bapak nguping pembicaraan kita?! ". tanya Retha bernada protes.
"ga sengaja nguping. karena pidato kamu cukup terdengar satu kantin". ucap Satria.
"kamu liat dong dari sisi prianya. bayangkan jika Cindy sampai menolak melakukan pernikahan, gara gara termakan omongan kamu Retha?? ". lanjut Satria.
"gimana hancurnya perasaan tunangannya Cindy. bahkan keluarganya.??" tanya Satria.
sementara Retha terus menundukkan wajahnya, ia mulai diliputi perasaan merasa bersalah sekarang.
"liat saya kalau saya lagi berbicara". ujar Satria yang seraya mengangkat dagu Retha.
__ADS_1
Satria menarik kecil sudut bibirnya. entah kenapa ia ingin sekali mengecup bibir Retha yang berwarna peach tersebut. Satria membuang pandangannya. berlama lama dengan Retha dalam satu ruangan sepi seperti ini. bisa memporak porandakan bentengnya.
"ya udah kamu boleh pergi. lain kali hati hati kalau kasih saran ke temannya". Satria menutup kalimatnya.
Retha mengangguk kan kepalanya. ia bergegas pergi. karena jika lama lama berdiri disini pun bisa bisa jantung dan hatinya rontok kemana mana.
"tunggu! ". panggil Satria.
"tadi saya sempat mendengar kamu berbicara. perempuan sudah pasti punya cita cita, impian dan cinta. boleh saya tau siapa Cinta kamu? ". tanya satria berharap Retha menjawab jujur perasaannya.
Retha yang mendapat pertanyaan yang begitu menohok dirinya. jadi terpaku menatap Satria. ia tidak menyangka jika dosennya bisa bertanya yang menyangkut dirinya pribadi yaitu tentang perasaannya.
"apa harus saya jawab sekarang pak? ". saya jawab pun bapak ga akan mengerti. maunya saya apa.". ujar Retha seraya berlalu untuk membuka pintu.
pintu yang baru saja membuka setengahnya. tiba tiba menutup rapat kembali karena sebuah tangan kekar menahannya kembali.
seketika itu juga Satria menyerang bibir Retha dan menarik pinggangnya agar lebih rapat ke tubuhnya. sementara Retha begitu syok dengan apa yang dilakukan oleh dosennya.
ia mendorong kuat tubuh satria agar menjauh dari nya. bola matanya mengkristal dan rontoklah air bening miliknya, mengalir deras ke pipinya yang putih merona merah karena malu. ia menutup bibirnya yang baru saja di sentuh dosennya. baginya ini adalah pengalaman ciuman pertamanya. juga sekaligus yang terburuk yang ia dapatkan.
Satria menatap Retha dengan tatapan sendu dan nafas yang memburu. sementara Retha berbalik arah menghadap pintu. ia ingin segera keluar . tetapi seseorang menahan tubuhnya dan memeluknya dari belakang.
"maaf".ucapnya pelan.
"maafkan abang Tha". ucapnya lagi.
"abang ga sanggup lagi tha. untuk lmenyimpan ini lebih lama. abang suka sama kamu dari pertama melihatmu. sampai sekarang perasaan itu semakin dalam Tha? ". abang jatuh cinta sama kamu tha.. ".Satria terisak mengungkapkan isi hatinya saat itu juga.
sementara Retha semakin menangis deras. ia tak menyangka jika dosennya juga menyukai dirinya sampai sedalam itu. sementara dirinya hanya menyukai dosennya sebatas ambisi untuk memiliki suami hebat seperti dosennya.
Retha memang mengagumi Satria semenjak ia tau jika Satria memiliki jabatan penting di sebuah perusahaan terbesar dan terkenal di dunia. semenjak itu fikirannya penuh halu jika bersuamikan Satria. tetapi semua di tepiskannya kembali jika semuanya percuma. karena dirinya hanya perempuan biasa dan terlahir dari keluarga yang biasa biasa juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
berikan cinta kalian untuk yang nulis ya..
ga banyak kok. cuma tekan
like, vote, komen dan rate trus di jadiin favorit dech..
__ADS_1