Jasminka/Orchidea

Jasminka/Orchidea
kembali berjuang


__ADS_3

"ceritakan kenapa kamu menjebakku?" tanya Justin tanpa senyum.


"aku kasih kamu kesempatan tapi jawab pertanyaanku yang tadi". lanjut Justin.


Justin menepis tangan Dea dengan kakinya. ia bangkit dari duduknya. menuju pintu keluar apartemen


"aku terpaksa".jawab Dea spontan


Justin menghentikan langkahnya. dan berbalik memandang Dea dengan mengernyitkan kan dahinya


"terpaksa? ". Justin mengulang perkataan Dea bernada tanya


"ya. aku terpaksa Justin. karena sejak di awal aku melihatmu. aku memang langsung menyukaimu".jawab Dea jujur.


Justin melihat intens ke dalam bola mata Dea yang hitam pekat untuk mencari sesuatu yang lain. dan memang tak ada kebohongan disana.


"kamu tau apa yang kamu lakukan adalah salah?. keterpaksaan konyol kamu membuat semua orang menderita karena kamu".ucap Justin.


"Dea . itu bukan cinta Dea tapi obsesi. kalau kamu memang beneran suka. kamu ga akan biarin aku masuk dalam permainan konyolmu. yang bisa menghancurkan reputasi aku dan keluarga". ucap Justin seraya sedikit membungkuk dan mencengkeram dagu Dea.


"Justin". panggil Dea pelan


Justin tak bergeming.


"maafkan kesalahanku. kasih aku kesempatan Justin. aku mohon".isak Dea


"tinggallah disini sesukamu. aku akan tetap menafkahimu. tapi jangan pernah mengusikku". kau dengar itu".ucap Justin dan melepas kasar dagu Dea.


Dea mengangguk angguk kan kepalanya. "baik. aku akan mematuhinya".


Justin membuka pintu apartemen dan berlalu begitu saja.


setelah kepergian Justin. Dea menarik napas lega. setidaknya untuk saat ini dia selamat. paling tidak Justin tidak menceraikannya. dan ia akan tetap di jamin hidupnya oleh Justin.


...----------------...


sudah dua bulan Dea dan Justin tidak pernah bertemu satu sama lain. Justin memenuhi Janjinya menafkahi Dea. tetapi Justin tidak pernah lagi singgah ke apartemen yang di tinggali Dea.


Justin lebih memilih menghabiskan waktu di kantor cabangnya. dimana ia sering suka memperhatikan Namira secara diam diam.


hingga suatu ketika


Justin melihat Namira di antar pulang oleh seorang laki laki yang jauh lebih muda darinya. kerumah.


Justin yang melihat Namira tersenyum manis pada laki laki tersebut mencengkeram setirnya. entah kenapa ia tak suka pada pemandangan yang terjadi di depan matanya. hingga lelaki itu pergi.


ia keluar dari mobilnya dan langsung menggenggam tangan Namira.


"aww.. Kak Justin??? ".Namira teriak kaget.


"siapa laki laki tadi? ".tanya Justin menginterogasi

__ADS_1


"apaan sih. bukan urusan kakak. lagian terserah aku mo jalan sama siapa". jawab Namira


"ochi. jawab. siapa tadi?".tanya Justin


"dia temen ku. satu kelas". jawab Namira tanpa memandang Justin


"o.. iya?.. beneran cuma temen?. tanya Justin sumringah


"iya! ".puas!. ketus Namira dan langsung masuk rumah dan menutup pintu tetapi Justin menahan pintu tersebut dengan kakinya.


Justin melihat dua koper besar di sudut lemari. sepertinya ada yang ingin berkemaa pergi. ia langsung menunjuk Namira


"kamu mau pergi? ". tanya Justin penasaran


Namira tak menyahut.


"ochi. kakak tanya. kamu mau pergi? ". tanya Justin kembali


"hmmm". jawab Namira malas.


"kemana. nyusul orang tua kamu ke Malaysia? ". tanya Justin.


"kepo amat sih". jawab Namira dan bergegas masuk kamar dan mengunci kamarnya.


sementara selama satu jam Justin menunggu Namira turun kembali. tetapi tidak ada pergerakan tanda Namira akan turun ia pun pergi meninggalkan rumah Namira.


Justin memasuki mobilnya. ia melihat sebuah bayangan Namira yang mengintipnya dari balik jendela kamar tidurnya.


Justin tersenyum. lalu ia menelpon seseorang.


"baik. siapkan saya tiket besok pagi ke malaysia. pastikan tempat duduknya sama dengan Namira". jawab Justin


keesokan paginya..


Namira telah bersiap siap berangkat ke Bandara. begitu pun Justin ia sengaja menunggu Namira setengah jam sebelum kedatangannya.


Ia melihat Namira dari kejauhan tiba dengan taxinya. Justin tersenyum. ia terus memperhatikan gadis kecilnya hingga masa boarding pun tiba.


seluruh para penumpang di wajibkan naik dan menunggu di pesawat yang telah ditentukan sesuai tiket yang di belinya.


Namira duduk bersisian jendela pesawat. netranya melihat sendu kota yang akan di tinggalinya sebentar lagi. dimana kenangannya bersama dengan pria yang ia cintai.


"good bye my city. good bye my love Justin". I love u ". ucap Namira dengan bola mengkristal.


sementara tanpa Namira tau dan ia sadari. bahwa sedari tadi Justin telah mengambil posisi duduk di sampingnya. ia memperhatikan tingkah Namira dan menguping ucapan Namira barusan. Justin tersenyum dengan hati yang berbunga bunga.


"I love you too. my Ochi". balas Justin di telinga Namira dan tersenyum.


Namira yang seperti mendengar seseorang membalas ungkapan cintanya. akhirnya menoleh ke samping kanannya. ia begitu terkejut dan matanya terbeliak lebar melihat pria yang ia sebutkan namanya tadi ada di hadapannya dengan jarak yang cukup dekat.


"kak Justin". Namira bergumam pelan

__ADS_1


Justin tersenyum. dan mengangguk pelan


"kakak ngapain disini? ".tanya Namira


"ga mungkin kakak ke malaysia juga kan? ". tanya Namira kembali dengan curiga.


"terus kakak harus turun di mana? ". kalau bukan bareng sama kamu


"kakak ngikutin aku? ".tanya Namira kembali


Justin mengidikkan bahunya. lalu ia menyenderkan punggungnya ke kursi sofa pesawat tersebut. ia mengambil headsetnya dan menyetel music kesukaannya. ia menutup matanya menikmati alunan music yang terus mendayu di telinganya.


sementara Namira yang di tinggal cuek seperti itu mendengus kesal dan ia pun melakukan hal yang sama. hingga keduanya larut dan terbuai pada masing masing mimipi


...----------------...


tiga hari selama Justin berada di malaysia. ia mencoba memperjuangkan kembali apa yang telah hilang. dalam dua hari itu tak henti hentinya Justin memberi perhatian kepada Namira.


ia yakin jika ia berusaha terus Namira akan kembali ke sisinya. apa lagi Justin telah mengutarakan niat untuk menikahi Namira dalam waktu dekat ini.


Bahkan Mona dan Arfan telah membicarakan langsung mengenai masalah pernikahan dengan keluarga Namira.


"jadi gimana pernikahan mereka di percepat kan?".tanya Mona antusias


"aduh mbak tanya anaknya dulu mau apa ndak? ".jawab Astrid


"anak gadis mah memang malu malu. kayak ga pernah muda aja ni si bunda?".seloroh Mona


"bi. mana si Namira suruh turun kemari ya? ". titah Astrid pada wanita tua yang bekerja di rumahnya.


tak lama kemudian Namira turun dari lantai dua. di sambut Mona dengan pelukan


"duh awewek geulis mah.. kok diem di kamar aja sih. sini duduk sama mama". ucap Mona


Namira mengangguk malu dan menunduk.


"jadi gini sayang.. mama mona sama papa Arfan dan kami semua. pinginnya kamu sama Justin menikah bulan ini juga.


"hah. apa? ".tanya Namira kaget


"iya. biar jangan masuk angin entar hubungan kalian." ucap Mona


"tapi kak Justin kan udah.. ". Namira tak melanjutkan kata katanya


"kita udah tau cerita yang sebenarnya sayang. itu bukan salah kak Justin. mereka juga lagi proses cerai". jawab Astrid


"lagian pernikahan kak Justin itu juga terpaksa untuk menyelamatkan harga diri kak Justin dan seluruh keluarga". timpal Jason ayah Namira.


"bunda sama ayah ga masalah kalau Namira dapat duda?". tanya Namira polos


sontak empat orang tua tersebut tertawa lucu mendengar kepolosan anak yang di hadapannya.

__ADS_1


"aduh kamu itu polos banget sih. gemesin deh". ucap Mona yang seraya mencubit pelan pipi Namira yang chubby.


hari itu adalah peresmian lamaran untuk Namira. dan pernikahan mereka akan di adakan bulan itu juga.


__ADS_2