
"mana rekaman Video dan foto foto milik Justin".Arfan membuka suara.
Dea terdiam membisu.
"kamu pilih serahkan sendiri atau diambil paksa oleh pihak kepolisian". ucap Arfan pelan dengan nada mengancam
Justin yang melihat Dea hanya diam tanpa menggubris pertanyaan dari papanya semakin geram melihatnya. ia pun menarik kasar mini bag Dea dan mengambil ponselnya.
malam ini adalah malam penghakiman bagi Dea. Dea benar benar kehabisan akal untuk mengelak. fikirannya sekarang terasa kalut. ia mengandai andaikan dari setiap peristiwa dan ingatannya. bahkan ia pun dengan sangat keras mengingat ingat masa lalunya. tetapi kosong itu yang di dapatkan. ia mencoba kembali untuk mengingat bahkan berulang kali. hingga akhirnya kepala Dea semakin berdenyut nyeri. ia memeluk kepalanya sendiri. sakit. itu yang dirasakannya.
Justin Arfan dan Mona. awalnya heran melihat Dea seperti ini. ada muncul sedikit rasa iba untuknya. tetapi masing masing mereka menepisnya.
mereka tanpa perduli dengan keadaan Dea yang kesakitan dan berteriak, meninggalkan Dea begitu saja. diawali Justin yang berlalu dari hadapan ortuanya dan Dea. disusul Mona dan Arfan. mereka menganggap Dea seorang drama queen.
"dasar ratu drama"ejek Mona dan memilih masuk kamar.
setelah bergumul cukup lama dengan rasa sakitnya. tanpa ia sadari Dea menghantam kepalanya sendiri ke sandaran kursi kayu. seketika itu juga Dea pingsan dengan luka memar serta darah yang mengalir dari dahi hingga pipinya.
...----------------...
Dea melihat Justin menggendong dirinya ke sebuah kamar yang besar dan menempatkan dirinya di sebuah ranjang berukuran king size.
Justin dengan lembut mengobati lukanya dan membalutnya dengan perban. tampak dari wajahnya ia begitu khawatir akan keadaan dirinya sekarang ini.
setelah selesai Justin merawat luka di kepala Dea. Ia merebahkan separuh badannya di samping Dea dengan kepala yang menyender di headboard. lengan kanannya di gunakan untuk mengusap usap ubun ubun Dea. dengan sesekali mengecup pelan kening yang di balut perban tersebut.
Dea hanya menikmati perlakuan manis Justinnya saat ini. hingga ia tertidur pulas di samping Justin yang menggenggam erat tangan kirinya.
...----------------...
Dea membuka matanya perlahan. dengan kedua bola matanya ia memperhatikan seluruh ruangan dimana ia berada kini.
Dea mencoba bangkit dan bersandar di headboard. ia menyentuh kepalanya yang sedikit nyeri. kepalanya kini telah di balut dengan perban putih.
seorang pembantu masuk membawa sebuah nampan yang berisi segelas air dan semangkuk bubur. dan juga terdapa beberapa pil diatasnya.
"udah bangun non?".tanya wanita tua tersebut
"ibu nyuruh saya ngasih ini buat non. dimakan ya non. sekalian obatnya juga". lanjutnya
__ADS_1
"saya ada dimana bi? ".tanya Dea penasaran
"dikamar tamu bu Mona".ucap wanita yang biasanya dipanggil bi Muna
"tadi malam non terluka. terus di angkat mang Udin sama pak Maman ke kamar sini. kita juga yang hubungi dokter setelah ibu tau kalo non beneran terluka". jelas bi Muna
"mas Justin kemana? ". tanya Dea
"ga tau non. sampai sekarang belum pulang". jawab bi Muna.
Dea terdiam. pupus harapannya saat ini. ia fikir semalam Justinlah yang menggendongnya ke kamar ini dan mengobati lukanya. ia fikir Justin begitu khawatir padanya karena lukanya semalam.
ternyata dirinya hanya mimpi. yah.. perlakuan manis yang di terimanya semalam hanya mimpi.
Dea menarik dalam napasnya.
"dimakan non".pinta bi Muna seraya menyodorka nampan tersebut ke Dea.
"makasih bi". ucap Dea. dan memakan bubur tersebut tanpa protes.
selang beberapa menit kemudian..
hingga akhirnya ia terdengar suara Justin, Mona dan Arfan sedang berdiskusi mengenai dirinya.
"apa kamu yakin mas. kalau si Dea berbuat nekat seperti tadi malam karna dia memang beneran Cinta sama si Justin. Cinta tapi kok maksa ya". cibir Mona
"kamu sendiri gimana sama si Dea. nyaman ga?". tanya Mona ke anaknya
"ya ga lah ma". ucap Justin mantap
"kamu ga ga tapi kamu tiduri juga anak orang".cibir Mona
"ma aku di jebak ma. mama kan tau sendiri. dan semalam kebongkar semua kan kebusukannya dia". ucap Justin
"sekarang langkah selanjutnya apa? ".tanya Arfan
"ya cere lah". jawab Mona dan Justin bersamaan.
Dea yang mendengar kata cerai sontak berlari memeluk lutut Justin. iya memohon ampun dan meminta Justin mempertahankan ini. bahkan Dea tanpa berfikir panjang pun menyebut kata poligami dan sudi berbagi apa yang dimilikinya saat ini.
__ADS_1
Dea tak perduli tentang harga diri. baginya harga dirinya telah mati sejak dua tahun lalu. ia hanya ingin punya satu keluarga yang bisa melindungi dirinya. jika ada laki laki nakal yang mengganggunya. ia hanya butuh satu pengakuan dari keluarga Ardiansyah. agar orang tak memandang rendah dirinya lagi.
jika selama ini Dea tak ambil pusing dengan cap wanita nakal, liar atau pelakor sekalipun. tetapi lama kelamaan hal tersebut membuat Dea risih di tambah pria pria tua yang nakal yang selalu men DM dirinya untuk mengajak kencan.
Dea hanya ingin seperti Celine. menikah dan bahagia. dan di lindungi seutuhnya oleh suaminya. hanya itu yang dia mau saat ini.
"ma.. aku mohon.. ma.. . aku minta maaf. kasih aku kesempatan ma... "ucap Dea berurai air mata.
mona tak bergeming. dari sudut hatinya yang paling dalam ada terselip rasa iba untuk seorang Dea. tetapi jika mengingat kelakuan Dea tempo lalu. membuat Mona menjadi jengkel kembali.
"apa lagi yang Justin harapkan dari kamu Dea...??? ".tanya Mona
"kamu sendiri aja ga bisa ngasih kita cucu. sedari awal kamu nikahi Justin secara maksa dan ngancam. gimana sih ga tau diri banget kamu.! ".cibir Mona
"terus kamu bilang apa tadi?. poligami?. memangnya gampang buat poligami. kamu itu ya bikin nambah nambahin beban si Justin aja dengan dua istri.". lanjut Mona meremehkan Dea.
"ahh pusing mama.. hei Justin urus tu istri kamu. terserah kamu mau di apain tu si Dea". ucap Mona dan berlalu pergi dari sana. di susul Arfan
Justin melihat Dea yang tertunduk di lantai menghampirinya
"ayok pulang. kita bicarakan dirumah". ucap Justin ketus.
ia berlalu dari hadapan Dea begitu saja. Dea dengan sendirinya ikut bangun tanpa di bantu oleh siapapun
...----------------...
Justin dan Dea tiba di apartemen Justin. justin merebahkan dirinya di sandaran sofa. serta mengangkat satu kakinya ke atas meja.
"buka sepatuku".titah Justin untuk Dea
"hah" suara Dea yang mendengar perintah dari Justin tersebut.
Justin yang mendengarnya mendengkus kesal. seketika ia menggoyangkan sepatunya seraya menatap tajam Dea dan memerintahkan melalui sorotan matanya yang menuju sepatunya.
Dea yang mengerti maksud Justin akhirnya menuruti perintah Justin. ia membungkuk dan melepas sepatu Justin
"ceritakan kenapa kamu menjebakku?" tanya Justin tanpa senyum
...----------------...
__ADS_1
jangan lupa like vote n komen